
"Bagaimana perut Zia, masih terasa sakit?" tanya Zaid saat mereka berhenti dipinggir jalan hampir sampai di rumah Keke. ini ketiga kalinya Zaid bertanya.
"Sedikit."
"Sebaiknya jangan diabaikan, ayolah kita ke klinik, kita berobat."
"Baiklah." jawab Zia.
Zia akhirnya luluh dan tidak menolak lagi ajakan Zaid untuk membawanya berobat. Zia sudah dua kali menolak ajakan Zaid untuk pergi berobat.
Mereka sampai di klinik, Zia memperlihatkan bagian ruas jarinya yang terluka, Zaid kaget baru mengetahui jari Zia terluka. Zaid lupa melihat kondisi seluruh tubuh Zia sebelum dibawa pulang, beruntung Zia mau dibujuk untuk dibawa berobat.
"Dokter bisa periksa perut istri saya?" tanya Zaid.
"Periksa, maksudnya memakai alat USG?" tanya dokter
"Iya." jawab Zaid.
"Baiklah."
Zia masih dalam posisi berbaring di tempat tidur pemeriksaan, Zia mengingat ucapan Zaid seminggu lalu, Zaid ingin punya anak dan tidak ingin Zia berkelahi lagi. Minggu ini Zia kembali berkelahi, Zia merasa sedih karena belum bisa menjauh dari hal yang dilarang suaminya.
"Belum terlihat pembuahan di rahim istri bapak, nanti saya berikan obat oles dan obat minum pereda sakit. ada keluhan yang lain lagi?" tanya dokter.
"Tidak. terimakasih dokter." ucap Zia.
Zaid dan Zia keluar dari ruang dokter menunggu obat yang sudah diresepkan.
"Kenapa sulit sekali membawa Zia berobat? maaf abang baru tahu tangan Zia terluka." ucap Zaid sambil memeluk bahu Zia.
"Zia takut di suntik."
"Tidak semua pengobatan dengan cara di suntik, tubuh kita semakin lama semakin rapuh. jangan abaikan kesehatan."
"Abang kecewa Zia belum hamil?"
"Tidak, justru abang khawatir jika Zia hamil. abang tidak ingin Zia dan anak kita terluka. maaf abang lalai melindungi Zia." ucap Zaid menyandarkan kepala Zia di dadanya.
"Zia terpaksa berkelahi lagi, serangan Melani mengagetkan dan membuat Zia kesakitan. Zia membalasnya habis-habisan apa dia terluka parah?"
"Abang tidak tahu dan abang tidak peduli dengannya, yang penting Zia tidak terluka parah."
Zia dipanggil petugas klinik untuk mengambil obat yang sudah selesai disiapkan. Zaid mewakili Zia dan menyimak penjelasan petugas klinik aturan meminum dan cara menggunakan obat oles yang telah diresepkan dokter.
Setelah mengambil obat, Zia meminta Zaid untuk langsung ke rumah Mama Keke.
Mereka sampai di rumah Keke, mereka disambut hangat oleh Keke dan kedua orang tuanya.
"Zaid malam ini tidur disini ya, kamar kalian sudah Mama siapkan." ucap Mama Keke.
Zaid merasa tidak enak menolak tawaran Mama keke yang sudah menjadi ibu angkat bagi Zia.
__ADS_1
"Kita tidur disini saja bang." ucap Zia yang sudah merasa lelah dan ingin segera kekamar untuk minum obat. mereka sudah selesai makan malam, Zia tidak ingin Keke dan kedua orang tuanya tahu dirinya berkelahi.
Zaid melihat perubahan wajah Zia yang terlihat lelah. Zaid ingat setelah makan tadi Zia belum meminum obatnya.
"Baiklah, boleh kami kekamar sebentar?" ucap Zaid pamit.
"Iya, silahkan. kalian pasti lelah setelah pulang kerja, istirahatlah. kami menonton tv dulu." ucap Papa Keke.
Zaid mengiringi Zia kekamar yang sudah disiapkan Mama Keke, kamar yang dulu ditempati Zia saat Zaid keluar Negeri.
Zaid kembali keluar kamar, pergi ke dapur dan membawa air minum ke kamar nya.
"Ayo minum obat." ucap Zaid sambil menuang air minum ke gelas yang sudah ia ambil dari dapur.
Zia membuka tas kecilnya, mengambil obat dan segera meminum obat.
"Badan Zia sakit semua." ucap Zia mulai merasakan reaksi tubuhnya setelah berkelahi.
"Abang ke mobil dulu, ambil krim anti pegal, Zia berbaring dulu." ucap Zaid sambil melangkah pergi keluar dari kamarnya.
Zaid kembali melewati Keke dan kedua orang tuanya yang sedang menonton tv diruang keluarga. Zaid keluar rumah dan kembali ke rumah. Keke, Mama dan Papa memperhatikan apa yang dilakukan Zaid.
Zaid mengunci kamarnya dan meminta Zia membuka semua pakaiannya, Zaid ingin memijit seluruh tubuh Zia, agar tubuh Zia kembali fit. Zia patuh dan merasa nyaman dengan pijitan Suaminya.
******
Harun datang ke rumah Keke bersama Ibunya. Orang tua Keke terkejut dengan kedatangan Harun dan Ibunya. mereka membawa buah tangan.
"Ada perlu apa datang ke rumah kami?" tanya Papa.
Keke dan kedua orang tuanya sangat terkejut dengan ucapan Harun.
"Oh, mendadak sekali. kami tidak menyiapkan apapun." jawab Mama.
"Jika Bapak sama ibu mengizinkan, saya ingin mengikat Keke malam ini. ibu saya akan memasang kan cincin dijari Keke." jawab Harun.
Keke terharu dan merasa bahagia, karena Harun menepati janjinya. Keke tidak menyangka Harun akan datang malam ini setelah apa yang mereka lakukan menjelang subuh tadi.
"Papa dan Mama mengizinkan. bagaimana dengan mu Ke?" tanya Papa.
Keke mengangguk dan tersenyum.
Ibu Harun mengeluarkan cincin yang sudah diberikan Harun kepadanya. Ibu Harun memasangkan cincin itu dijari manis Keke.
"Terimakasih Nak, sudah menerima pinangan dari anak Ibu. ibu sempat khawatir jika kamu menolak Harun." ucap ibu Harun setelah memasang cincin ditangan Keke.
"Keke juga terimakasih buk, Ibu belum pernah bertemu Keke tapi sudah bersedia mengabulkan dan memberi izin untuk pak Harun meminang Keke." ucap Keke tersenyum.
"Ibu sudah lama menanti kabar bahagia ini, ibu percaya pilihan Harun. ibu harap kalian tidak memperlama jangka waktu untuk pernikahan kalian. kasian Harun sudah tua. sahabatnya sudah menikah duluan." jawab ibu Harun.
"Selamat Harun, akhirnya kita bertemu di rumah orang tua angkat Zia." ucap Zaid yang beru keluar dari kamar.
__ADS_1
"Loh, kamu disini Zaid. kamu sudah lama tidak mengunjungi kami ternyata kita bertemu disini." ucap Ibu Harun.
Papa dan Mama Keke sedikit kaget dengan keakraban Zaid dan ibu Harun.
Zaid duduk bersama mereka.
"Dimana Zia?" tanya Mama
"Zia mau tidur buk." jawab Zaid.
"Kenapa bisa tidur begitu cepat?" tanya Mama
"Zia kurang enak badan." jawab Zaid.
"Zia demam? kenapa tidak bilang?" ucap Mama terlihat panik dan berdiri dari duduknya ingin melihat Zia.
"Zia sudah minum obat buk. sebaiknya tidak usah dikunjungi, Zaid hanya keluar sebentar." ucap Zaid langsung berdiri dan bersiap meninggalkan semua yang ada diruang tamu.
"Oh, jika Zia butuh sesuatu jangan sungkan beritahu Mama." ucap Mama.
"Iya buk, saya pamit kembali kekamar." ucap Zaid pamit pada semuanya.
"Ibu belum pernah bertemu istri mu, kamu tidak pernah datang ke rumah membawa istri mu. boleh ibu menemuinya?" tanya ibu Harun.
"Besok saja, saya kami akan datang ke rumah bibi." ucap Zaid menolak ibu Harun.
Jawaban Zaid membuat semuanya berpikir dengan pikiran masing-masing. Zaid tidak mau keluarga Keke kembali mengetahui Zia berkelahi, apa lagi jika ibu Harun tahu.
Zaid kembali kekamar dan mengunci kamarnya, Zaid melihat Zia yang sudah memejamkan matanya. Zia sudah memakai baju tidur yang sengaja ditinggal di rumah Keke.
Zaid mengusap pipi Zia dan mengecup keningnya.
"Abang pikir Zia belum pakai pakaian." ucap Zaid. Zaid menutup kaki sampai dada Zia. Zaid kembali keluar dan bergabung dengan yang lainnya.
"Zia sudah tidur." ucap Zaid saat semua mata tertuju padanya.
"Ooh." ucap semuanya.
"Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Zaid melihat Harun.
"Kalau bisa secepatnya, bagaimana pak, buk?" tanya Harun melihat Mama dan Papa Keke.
"Jangan terlalu cepat, kami harus mengabari keluarga yang jauh. kalau bisa tiga bulan setelah ini baru kita buat acara pernikahannya." jawab Papa.
"Bagus juga, kami juga bisa bersiap-siap dari sekarang." jawab Ibu Harun.
"Kalau bisa menikah saja, pestanya besok bersamaan dengan kami." jawab Zaid.
"Kita masih ada waktu tiga bulan, kita bisa mematangkan pikiran untuk acara pernikahannya." jawab Papa, belum bisa menjawab bagaimana untuk acara Keke dan Harun.
Semua setuju dengan ucapan Papa. Harun dan Ibunya pamit pulang, Mereka bersyukur kunjungan mereka malam ini membuahkan hasil.
__ADS_1
Zaid kembali ke kamarnya, mengusap kening Zia memastikan suhu tubuh Zia tidak naik, syukurlah suhu tubuh Zia masih normal. Zaid ikut berbaring dan tidur memeluk Zia.
...----------------...