Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Kerumah Zia


__ADS_3

Setelah menandatangani kontrak kerja, Zia pulang kerumah dan mentransfer uang pemberian Om Zaid melalui agen BRI link yang tidak jauh dari komplek perumahannya.


Zia sempat menangis haru saat menghitung uang dari Om Zaid. setelah mentransfer uang, Zia kembali kerumah untuk membawa motor metiknya ke bengkel. Zia mengantarkan motor metiknya ketempat servis resmi.


"Ini harus bongkar mesin dek, Oli juga harus di ganti "


"Berapa lama baru selesai diperbaiki dan berapa biaya perbaikannya?"


"Silahkan adek kebagian kasir, biaya perbaikan akan dijelaskan olehnya."


"Baiklah."


Zia pergi kebagian kasir menanyakan biaya perbaikan motornya.


"Biaya perbaikan keseluruhan 2.750.000."


Zia masih memiliki uang lima juta ditangan.


"Baiklah, tolong diperbaiki."


Zia membayar lunas uang perbaikan motornya dan besok sore motor Zia bisa diambil. petugas bengkel hanya bisa mengecek kerusakan dan belum sempat melakukan pembongkaran dan penukaran alat.


Sebelum pulang Zia menyempatkan membeli Nasi bungkus untuk dirinya.


Zia pulang kerumah dan makan, Zia makan dengan lahap dan menghabiskan nasi bungkus yang dibelinya.


Sudah jam lima sore, Zia mandi. selesai mandi Zia berbaring di kasur untuk menghilangkan rasa lelah seharian ini. Zia tertidur. Zia terbangun saat azan isya.


Zia teringat pesan Om Zaid yang melarangnya meninggalkan sholat, Zia segera mengambil wudhu dan sholat isya.


Selesai sholat Zia melihat Hp nya, ada panggilan tidak terjawab dari Om Zaid.


"Apa dia kesepian dan menghubungi ku? nasib jadi wanita cadangan. dapat kerjaan juga cadangan." Zia berucap sendiri dan mengabaikan Hp nya.


Zia merasa lapar dan memutuskan pergi keluar untuk membeli makan malam. Zia tidak membawa Hp.


Zaid menggunakan mobil Harun menunggu Zia di gapura. Zaid terus menghubungi ponsel Zia. Zaid melihat Zia yang keluar area perumahan dan berjalan kearah mobilnya. Zaid memiliki ide untuk mengerjai Zia.


"Mm"


Mulut Zia dibekap, Zia dimasukkan secara paksa kedalam mobil bagian belakang kemudi. Tubuh Zaid yang tinggi tegap tentu saja tidak terkalahkan oleh Zia. Zia berusaha melepaskan tangan Zaid yang menyekap mulutnya. tangan Zaid satu lagi menahan tubuh Zia agar Zia tidak bisa kabur dari dekapan Zaid.


Mereka sudah duduk di kursi belakang, Zaid menutup pintu mobil dan melepaskan tangannya dari mulut Zia.


"Hahaha, apa kau takut Zia?"


"Om!"


Zia memukul-mukul dada Om Zaid. Zaid menahan tangan Zia dan membawa Zia dalam pelukannya.


"Maafkan aku, aku sudah berulang kali menelpon, tapi tidak kau angkat. dimana ponsel mu?"


"Ponsel ku tinggal di rumah, aku berencana hanya keluar sebentar."


"Kamu pergi keluar tanpa membawa Hp?"


"Ya, aku hanya ingin membeli Nasi Uduk. tidak jauh dari sini."


"Ayo aku antar."


"Tidak usah Om, hanya beberapa meter dari mobil Om ini."


"Kita jalan kaki, kamu sudah merasa baikan?"


"Sudah, besok jangan buat kejutan seperti ini lagi, Aku takut. jantung ku hampir copot."


"Iya, aku janji tidak akan mengulang perbuatan seperti ini lagi."

__ADS_1


Zaid segera melepas pelukannya dan merapikan rambut Zia.


"Ayo." Zaid mengajak Zia keluar mobil dan menggenggam tangan Zia. Mereka berjalan seperti sepasang kekasih. Kepala Zia hanya sebatas bahu Om Zaid.


Mereka sampai di ditempat yang Zia maksud. Zaid melihat menu dan proses memasak lauk nasi uduk. lumayan banyak pelanggan yang datang dan makan ditempat itu.


"Om mau?"


Zaid melihat minyak goreng ditempat penggorengan yang tidak jernih.


"Lihat minyak nya." Zaid berbisik ditelinga Zia.


Zia tahu Om Zaid geli melihat minyak yang tidak jernih itu.


"Zia pesan yang dibakar Om."


"Oh, oke."


Zia memesan nasi uduk dengan lauk ayam bakar dua bungkus, lengkap dengan tahu, tempenya. Mereka menunggu dan duduk di bangku yang kosong. dari pertama datang sampai duduk Zaid tidak melepaskan tangan Zia.


"Nasi uduk disini enak Om."


Zaid hanya mendengar dan melihat Zia bicara.


"Om sudah pernah makan Nasi uduk?"


"Belum."


"Nanti kita coba, dijamin Om pasti ketagihan." Zia tersenyum cantik.


Sekitar sepuluh menit menunggu, pesanan mereka selesai dibungkus.


Zia membayar pesanannya.


Mereka kembali gandengan tangan dan berjalan menuju mobil yang diparkir. Zia ingat belum menyapu rumah dua hari ini, rumah Zia juga berantakan.


Mereka menaiki mobil untuk kerumah Zia.


"Om di mobil dulu ya. Zia mau menyapu rumah. hanya 10 menit. mau ya Om?"


Zaid tersenyum dan mengangguk. Zia segera turun dan memasuki rumahnya. Zia mencari sapu dan menyapu seluruh ruangan. Zia memeriksa kamar mandi, merapikan peralatan mandi dan menyikat WC. Zia masuk ke kamar nya dan memasukkan baju kotor yang berserakan kedalam keranjang kain.


Setelah rumah terasa rapi dan bersih, Zia keluar rumah dan mengajak Om Zaid masuk kerumah.


Zia membiarkan pintu rumahnya terbuka, kain jendela juga tidak menutup jendela.


"Om, kita makan diruang tamu saja ya. Zia gak punya meja makan."


"Oke."


Zaid segera duduk di kursi tamu, Zia mencari piring, sendok, mangkok cuci tangan, gelas dan teko kecil berisi air minum, semuanya disusun dimeja tamu.


Zia menaruh nasi uduk bersama bungkusannya di piring, untuk sayur Zia menempatkan dalam satu piring, sambal juga dimasukkan dalam piring kecil.


"Zia pintar juga melayani ku untuk makan." batin Zaid.


mereka duduk berhadapan.


"Silahkan dimakan Om." Zia mulai membuka bungkus nasi uduk nya. Zia makan dengan lahap. walaupun sambal nasi uduk terasa pedas Zia tetap memakannya.


"Om tidak makan?" Zia melihat Zaid tidak menyentuh nasi yang masih terbungkus.


"Bisa suap kan?"


Deg, Zia merasa grogi dengan permintaan Om Zaid.


"Zia lapar Om. Om makan sendiri ya."

__ADS_1


"Aku tidak lapar,"


Zia meneruskan makannya. Zia semakin salah tingkah karena Zaid terus menatapnya dan tidak mau makan sendiri. Zia mengalah dan pindah duduk di samping Om Zaid. Zia menyuapi Om Zaid. jantung Zia tidak berhenti berdebar kuat. apa lagi saat tangan Zia menyentuh bibir Om Zaid yang terasa lembut. Zaid juga sengaja menjilat tangan Zia. membuat Zia benar-benar tidak bisa melanjutkan makannya.


Zia terus menyuapi Om Zaid sampai nasi di piringnya habis. Zia mencuci tangannya dan minum. Zaid mengambil gelas minum Zia yang masih bersisa dan meminumnya.


"Om jangan lakukan hal ini lagi. kita tidak memiliki hubungan apa pun. aku tidak mau jadi wanita pelampiasan kesepian Om."


"Aku bukan laki-laki kesepian, aku tulus menyukai dan mencintai mu."


"Om bohong."


"Bagaimana cara ku untuk membuktikan kebenaran ucapan ku?"


Zaid menatap Zia dengan tatapan yang penuh harap.


"Tadi siang aku melihat Om keluar dari mobil bersama wanita cantik."


Zaid memikirkan ucapan Zia.


"Tadi siang kamu datang ke perusahaan Sinar Abadi?"


"Ya."


"Ternyata aku tidak berhalusinasi. kenapa tidak mendatangi ku? wanita yang bersama ku bukan orang yang aku cintai lagi."


"Wanita itu mantan Om?"


"Ya, kami pacaran selama kuliah, dia meninggalkan ku dan menikah dengan laki-laki lain. sekarang mereka sudah bercerai dan baru kemaren diterima sebagai karyawan."


"Aku tidak mau berada diantara Om dan Wanita itu. apalagi Om satu kantor dengannya. dia cantik dan ..."


"Bagi ku dia hanya masa lalu, kamu lah masa depan ku."


"Maaf Om, Zia tidak bisa bersama Om."


"Kenapa? apa kamu takut aku kembali kepadanya?"


"Apa Om satu ruangan kerja dengannya?"


"Tidak. Kenapa kamu bisa sampai di perusahaan Sinar Abadi?"


"Bertemu Om Suryo."


"Sayang sekali kamu tidak mendatangi ku. aku harap kamu bisa melihat kebenaran dan ketulusan cintaku."


"Zia sebenarnya juga mencintai Om, tapi Zia malu dan takut bersaing dengan mantan Om, berikan Zia waktu Om." Zia berucap didalam hati nya.


"Boleh numpang kekamar mandi?"


"Ya."


Zia mengantar Om Zaid kekamar mandi. kamar mandi berada di samping kamar Zia didepan kamar mandi ada kamar orang tua Zia.


"Untung sudah aku rapikan."


Zia tersenyum mengingat banyaknya gantungan kain dalam yang terpajang di dinding kamar mandi. semua nya Zia masukkan kedalam mesin cuci. Zia mencuci pakaian jika sudah banyak yang kotor, Zia tidak mau sering mencuci karena bisa menyebabkan boros listrik.


Zaid keluar dari kamar mandi, Zia masih menunggu tidak jauh dari kamar mandi.


Zaid mendekati Zia dan mencium bibir Zia. Zia tidak menolak bahkan Zia menikmati ciuman yang diberikan Om Zaid. Zaid tersenyum dan menghentikan aksinya.


Zaid tahu Zia juga mencintainya, Zia hanya perlu waktu untuk mencari kebenaran ucapan Zaid.


"Aku pulang." Zaid tersenyum


Zia mengangguk dan membalas senyuman Zaid.

__ADS_1


"Dasar bodoh, padahal tadi aku menolak ucapan cinta dari Om Zaid. tapi kenapa aku pasrah dan menikmati ciuman darinya..Aaa... dasar bodoh." Zia meratapi kebodohannya Saat Om Zaid sudah pulang.


...----------------...


__ADS_2