
Semakin sore kendaraan semakin padat. Zia dengan sabar membawa mobil yang sudah tidak bermuatan lagi.
ini pengalaman pertama Zia membawa mobil dalam kondisi macet.
Pintu mobil Zia diketok. Zia membuka kaca mobilnya.
"Nona turun lah, biar aku yang membawa mobil perusahaan ini, Nona pulang duluan pak Zaid sudah menunggu. ada ojek di seberang sana yang akan mengantar Nona pulang." ucap laki-laki kurus tinggi berpenampilan rapi.
"Siapa kau?" tanya Zia sedikit takut karena laki-laki itu menyebut nama suaminya.
"Aku Dodi, aku suruhan pak Zaid. lihatlah kartu pengenal ku."
Dodi menyerahkan kartu pengenalnya. Zia mengambil kartu pengenal itu, terpajang foto Dodi, identitas dan logo perusahaan Zaid dikartu itu.
Zia menelpon Zaid melalui video call.
"Abang, ada yang mau menggantikan Zia membawa mobil perusahaan, ini kartu pengenalnya. abang mengenalnya?" ucap Zia sambil mengarahkan kameranya ke kartu pengenal Dodi.
"Iya, dia bekerja untuk abang. serahkan saja mobil itu padanya dan ikuti perintahnya."
"Baiklah, Zia akan pulang menggunakan ojek."
"Ya, hati-hati. abang tunggu di perusahaan."
Zia dan Zaid mengakhiri video call mereka. Zia membuka pintu kemudi dan bergeser duduk ke kiri. Dodi naik dan menyuruh Zia pulang dengan ojek yang sudah menunggu diseberang jalan.
Zia turun dari mobil dan berjalan menyeberangi jalan. supir ojek yang dicarikan Dodi sangat mahir, ia tahu jalan pintas yang membuat mereka tidak terjebak macet dan cepat sampai ke perusahaan.
karyawan di kantor sudah pulang semuanya. hanya ada satpam yang menjaga perusahaan.
Zaid menunggu Zia diparkiran, Zaid melihat kedatangan Zia dan tersenyum, merasa lega Zia pulang dengan selamat.
"Abang sangat merindukan Zia. Zia lelah?"
ucap Zaid sambil memeluk Zia yang sudah turun dari ojek.
Zia merasa bahagia kepulangannya disambut Zaid.
"Zia bau, Zia keringatan."
"Tidak masalah, kita bisa mandi sama-sama." Ucap Zaid sambil melepaskan pelukannya.
Zaid mengendong Zia, membawa Zia memasuki lift. Mereka sampai diruang kerja. Zaid tetap mengendong Zia hingga mereka memasuki kamar kerja Zaid.
"Kita segera mandi." ucap Zaid mengarahkan tubuh Zia ke lemari untuk mengambil handuk. Zia mengambil dua helai handuk. Mereka sama-sama mandi sore itu. Zia keramas karena rambutnya dibasahi keringat apalagi seharian ini kepala Zia ditutupi jilbab. Zaid menggosok tubuh Zia menggunakan spons yang sudah dilumuri sabun begitu juga sebaliknya.
Mereka selesai mandi.
"Sayang, kita sholat jamaah?" tanya Zaid.
"Zia belum boleh sholat, Zia keramas karena rambut Zia sudah bau keringat."
"Oh, ya sudah. Abang sholat sendiri." ucap Zaid sambil memasang pakaiannya.
__ADS_1
Zia merasa bersalah, Zia tahu Zaid pasti sangat menantikan dirinya untuk cepat menunaikan kewajibannya sebagai istri.
Selesai berpakaian Zaid sholat sendiri, Zia juga sudah selesai berpakaian. Zia mengeringkan rambutnya menggunakan pengering rambut yang sudah ia beli bersama Zaid.
Zia mendekati Zaid yang baru selesai sholat diruang santai.
"Abang, maaf ya. membuat abang kecewa."
"Abang tidak kecewa dan itu bukan kesalahan Zia. sini, duduk dipangkuan abang."
Zia patuh dan duduk dipangkuan Zaid.
"Malam ini kita tidur dimana?" tanya Zaid sambil memeluk Zia yang duduk dipangkuan nya.
"Terserah abang, besok Zia masih ada jadwal pengantaran barang."
"Kalau begitu malam ini kita tidur disini saja. mau makan apa?"
"Ikut selera abang saja, tapi Zia merasa sangat mengantuk."
"Tidurlah sebentar, nanti abang bangunkan." ucap Zaid sambil memijit tangan Zia.
Zia menyandarkan kepalanya di dada Zaid. tenaga dan pikiran Zia sangat terkuras di hari pertama ia bekerja. Zaid merasa kasihan melihat Zia yang kelelahan. baru sebentar Zaid memijit, Zia sudah ketiduran.
Zaid mengambil Hp yang berada di dekat nya, memesan makan malam untuk mereka.
"Zaid aku pulang." ucap Harun yang tiba-tiba menemui Zaid diruang santai.
Harun melihat Zia yang tertidur dalam pelukan Zaid. baru kali ini Harun melihat Zia yang tidak memakai jilbab.
"Maaf aku tidak tahu jika Zia disini, besok aku terlambat masuk kerja. aku membawa Ibu ku berobat." ucap Harun yang berbicara sambil membelakangi Zaid.
"Apa sakit Bibi parah?"
"Tidak, hanya perlu kontrol kesehatan setiap bulan."
"Oh, baiklah. hati-hati dijalan. lain kali kamu cukup masuk sampai di pintu atau didepan meja kerjaku. jangan ke ruangan ini."
"Baik." Harun segera pergi meninggalkan Zaid yang masing mengendong Zia.
Ruang santai Zaid diberi alas karpet lembut dan kursi empuk panjang. Zaid membaringkan Zia di atas karpet mengambil bantal kekamar dan memasang bantal di kepala Zia. Zaid juga menyelimuti tubuh Zia.
Pesanan makan malam Zaid datang. Zaid tidak tega membangunkan Zia. Zaid makan sendiri karena memang sudah lapar.
Jam sembilan malam, Zaid membangunkan Zia. mengingatkan Zia untuk makan. Zia bangun, mencuci muka dan membuka kotak makannya.
"Abang sudah makan?" tanya Zia
"Sudah."
"Kenapa tidak bangunkan Zia untuk makan sama-sama?"
"Tidur Zia sangat nyenyak, abang tidak tega membangunkan Zia. habiskan saja makan Zia, abang akan tunggu Zia selesai makan."
__ADS_1
"Suapi Zia." ucap Zia dengan suara manja.
Zaid tersenyum dan menuruti permintaan Zia. Zaid menyuapi Zia hingga selesai makan.
Selesai makan Zaid mengajak Zia duduk di kursi ruang santai. Zia menyandarkan kepalanya di lengan Zaid.
"Apa masih lelah?" tanya Zaid.
"Sedikit." jawab Zia.
"Masih sanggup untuk bekerja?"
"Harus sanggup, demi gaji bulanan."
"Bagaimana jika abang beri uang bulanan dan Zia tidak usah bekerja lagi."
"Izinkan Zia bekerja enam bulan saja. Zia masih sanggup untuk bekerja." jawab Zia dengan nada merengek dan memeluk Zaid.
"Baiklah, tapi jangan memaksa diri. abang tidak ingin Zia terlalu lelah dan sakit."
"Iya, ini karena hari pertama Zia bekerja, Zia harus ke gudang dan mencari alamat pengantaran barang. ternyata gudang perusahaan ada tiga tempat. kenapa gudangnya tidak dibuat satu tempat bang?"
"Kandungan bahan barang kita berbeda-beda, karena itu perusahaan harus memiliki beberapa gudang."
"Zia bekerja tiga hari dalam seminggu. besok setelah tahu lokasi gudang dan tujuan pengantaran Zia tidak akan kesulitan lagi."
"Besok ke gudang mana?"
"Besok ke gudang C."
"Biar abang yang mengantar Zia ke lokasi gudang."
"Jangan, Zia bisa sendiri, Zia bisa gunakan Google map."
"Baiklah, ayo kita nonton Film."
Zaid mengandeng tangan Zia, membawa Zia kekamar untuk menonton Film.
Zaid memutar Film aksi.
"Abang tidak suka film romantis?" tanya Zia
"Suka, tapi untuk saat ini sebaiknya tidak menonton film romantis." ucap Zaid sambil menatap Zia.
Zia tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. Zaid mengusap pipi Zia dan mencium bibirnya.
Keduanya saling serang, membuat Zaid semakin liar dan membuat banyak tanda dibawah leher Zia.
Setelah puas bergulat keduanya tertidur.
...----------------...
Terimakasih sudah klik jempol 👍🏼 di setiap episode,.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya dengan menjadikan novel ini bacaan favorit ♥️
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹