Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Melihat Paman


__ADS_3

Zaid sudah rapi dengan pakaian kantornya, Zia masih memakai jilbab di depan kaca.


"Sayang kita sarapan dulu ya, baru turun." ucap Zaid.


"Zia belum pesan sarapan bang, Zia pasti telat kalau nunggu pesanan datang. kita sarapan masing-masing saja."


"Abang sudah pesan, sebentar lagi pesanan kita datang."


"Kok bisa cepat datangnya?"


"Abang pesan di kantin perusahaan yang ada dilantai 13."


"Oh."


Walaupun sudah berstatus karyawan dan menjadi istri Zaid, Zia masih belum mengetahui fungsi setiap lantai yang ada di perusahaan.


Zia hanya tahu lantai satu tempat parkir khusus mobil perusahaan dan lantai dua untuk mengisi absensi setiap karyawan yang datang bekerja.


Pesanan mereka datang, Zaid mengambil pesanan itu dan membayarnya.


Mereka sarapan pagi.


"Abang antar Zia ke mobil." ucap Zaid saat mereka sudah selesai sarapan.


"Abang tidak malu mengantar Zia kerja?"


"Kenapa harus malu, abang justru bangga punya istri yang berpendirian."


"Baiklah, ayo kita turun." ucap Zia tersenyum.


Zaid menggenggam tangan Zia, turun menggunakan Lift khusus dan berhenti dilantai satu.


"Abang Zia harus ke lantai dua dulu untuk absensi. Zia keatas dulu ya." ucap Zia pamit dan berencana meninggalkan Zaid.


"Abang ikut." ucap Zaid yang masih memegang tangan Zia. mereka menggunakan lift umum berbaur dengan karyawan yang sudah datang pagi itu.


Lima orang Karyawan yang satu lift dengan mereka melihat Zaid yang memegang tangan Zia, genggaman yang sangat erat. membuat para karyawan yang ada didalam lift saling melirik dan saling bertanya dalam bahasa isyarat.


Zaid dan Zia keluar dari lift bersama karyawan yang lain. Zaid mengantar Zia untuk absensi.


"Abang tunggu disini." ucap Zaid melepas tangan Zia, memberikan peluang untuk Zia berjalan sendiri ketempat absensi.


Zia mengangguk dan pergi.


"Pagi pak." sapa satpam dilantai dua.


"Pagi juga, sudah sarapan?" tanya Zaid.

__ADS_1


"Belum, sebentar lagi shift jaga saya habis. apa saya bisa mendapatkan sarapan gratis?" tanya satpam itu yang sudah biasa berdialog dengan Zaid.


"Tentu saja. aku akan mentraktir mu sarapan saat pergantian shift mu. hubungi kantor ku, aku akan menemani mu makan di kantin."


"Serius pak? Bapak akan menemani saya makan?" tanya satpam itu.


"Ya. "


"Sudah selesai absensi?" tanya Zaid melihat Zia datang mendekatinya


Zia mengangguk.


"Pak, ponakannya cantik. boleh kenalkan?" ucap satpam yang masih muda itu.


Zaid tersenyum, merangkul pundak Zia dan mencium pipi Zia. membuat Zia salah tingkah dan merasa malu karena Zaid mencium pipinya didepan satpam.


"Ini istri ku." ucap Zaid tersenyum dan pergi meninggalkan satpam itu.


Ucapan Zaid membuat satpam itu tertegun dan merasa malu. beberapa karyawan yang melihat perbuatan Zaid langsung mendekati satpam itu. mereka menanyakan siapa yang dirangkul pak Zaid. satpam itu menjawab. "Itu istri pak Zaid."


jawaban satpam membuat karyawan yang bertanya kaget dan mulai saling mengeluarkan pendapat dan pertanyaan diantara mereka.


"Katanya pak Zaid akan menikah dengan Melani karyawan baru bagian perencanaan."


"Iya, aku juga dengar infomasi seperti itu."


"Istri pak Zaid cantik dan terlihat masih muda."


"Beruntungnya jadi istri pak Zaid, pak Zaid baik dan terlihat sangat menyayangi istrinya."


"Kenapa mereka tidak membuat pesta?"


Setiap mereka berkomentar dan saling bertanya yang jawabannya tidak bisa mereka dapatkan.


Zaid membukakan pintu mobil untuk Zia. Zia naik dan duduk di bagian kemudi.


"Zia berangkat kerja dulu ya bang." ucap Zia pamit sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman bersama Zaid.


Zaid memberikan tangannya, Zia menunduk dan mencium tangan Zaid. Zaid menahan kepala Zia memberikan kecupan singkat di kening dan bibir Zia.


"Abang akan susul Zia untuk makan siang, nanti kita makan siang sama-sama."


"Baiklah, abang yang semangat ya kerjanya."


"Tentu. Hati-hati dan jangan pergi kemana pun saat bekerja. selesai bekerja langsung pulang." ucap Zaid mengingatkan Zia.


"Baik Bos. Zia sudah boleh berangkat?" tanya Zia karena Zaid masih berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Sudah." ucap Zaid sambil menggeser posisinya dan Zaid menutup pintu mobil Zia.


Zia segera berangkat. Dodi yang bertugas mengawasi dan menjaga Zia juga berangkat menggunakan sepeda motor.


Zia berhenti karena bertemu lampu merah. Zia melihat ke seberang jalan. sepintas Zia melihat seperti paman nya lewat menggunakan sepeda motor memakai jaket dan helm yang tidak memiliki kaca pelindung.


Zia ingat pesan Zaid, untuk tidak pergi kemanapun saat bekerja. Zia menelpon Zaid memasang alat pendengar di telinga nya.


"Ada apa sayang?" tanya Zaid.


"Abang, Zia lagi di lampu merah jalan X, Zia seperti melihat paman. paman memakai sepeda motor dia hanya sendiri mungkin paman pergi bekerja."


"Zia ingat pesan abang?"


"Iya, Zia tidak akan kemanapun saat bekerja dan langsung pulang jika sudah selesai bekerja."


"Masalah paman, Tante dan Rianti biar abang yang mengurus. Zia fokus bekerja saja. jangan banyak pikiran saat menyetir."


"Iya. Zia masih di lampu merah. Zia hanya ingin cerita."


"Baiklah. jangan menelpon atau mengangkat telpon saat mengemudi. selalu hati-hati."


"Iya, Zia tutup dulu."


Zia kembali melanjutkan perjalanannya. saat di lampu merah dua orang wanita melihat Zia dan membicarakannya.


"Ternyata Zia bekerja menjadi supir truk angkutan barang." ucap Rianti yang sedang menikmati sarapan paginya di warung kecil pinggir jalan bersama Ibunya.


"Percuma dapat suami ganteng, ternyata tidak kaya. baru menikah Zia malah bekerja jadi supir." ucap Ibu Rianti.


"Itu takdir Zia Bu, dia memang ditakdirkan bernasib hidup susah. apa dia sudah tahu barangnya kita ambil?"


"Ibu rasa dia sudah tahu. jangan-jangan Zia ditipu pria arab itu. berpakaian rapi, memakai mobil saat berkunjung ke rumah Zia, membawakan Zia buah dan makanan jangan-jangan semuanya hanya setingan. sebenarnya dia tidak memiliki apapun." ucap Ibu Rianti.


"Benar juga, kita tidak usah mengurus hidup Zia. dia juga tidak pernah menganggap kita saudaranya."


"Ibu hanya sedikit merasa bersalah jika Zia ditipu. artinya dia masih membutuhkan barang-barang dirumahnya."


"Itu salah Zia bu, Zia meninggalkan kunci rumahnya, memperkenalkan suaminya kepada Ayah sebagai seorang yang memiliki pekerjaan, berpenampilan kaya. jadi wajar jika kita mengambil peralatan rumahnya. aku membutuhkannya. apa lagi calon suami ku tidak kaya. setidaknya kami tidak perlu memikirkan membeli perabotan rumah lagi."


"Kadang ibu kesal melihat calon suami mu yang tidak memiliki modal itu. seharusnya kamu cari laki-laki kaya. masa untuk biaya nikah lebih banyak kita yang memodali. sewa rumah mu juga kami yang bayarkan."


"Dia sedang membuka usaha Bu, saat ini dia sedang mengumpulkan modal. Pernikahan ini dipercepat karena permintaan ayah dan ibu juga."


Istri paman hanya bisa menghembuskan napasnya, percuma berdebat dengan Rianti. Rianti selalu mati-matian membela calon suaminya. sebelum menuju jenjang pernikahan Ibu Rianti sudah mengingatkan agar mencari suami yang mapan dan punya pekerjaan tetap. tapi Rianti keras kepala dan tetap menjalin hubungan bersama calon suaminya, bahkan Rianti sudah berani membawa calon suaminya masuk ke kamar nya. karena itu paman dan Tante meminta pernikahan mereka dipercepat walaupun Rianti bersikukuh tidak terjadi apa pun saat mereka berada dikamar.


Waktu pernikahan Rianti hanya tinggal dua minggu lagi. Rianti berencana menikah di rumah orang tuanya, dua minggu ini mereka sengaja menghilang agar tidak bertemu Zia. Semua benda layak pakai di rumah Zia mereka pindahkan ke rumah kontrakan Rianti. sementara yang tidak dipakai mereka jual dan uangnya mereka gunakan untuk biaya hidup sehari-hari.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2