Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Gajian


__ADS_3

Pagi ini Zia lebih bahagia dari biasanya, Zia masak sarapan lebih awal.


"Kenapa tidak menunggu abang?" tanya Zaid yang baru datang di dapur.


"Zia mau buat sarapan sendiri. abang duduk dan tunggu Zia diruang makan." ucap Zia sambil mendorong tubuh Zaid agar tidak menemaninya masak.


Zaid memutar badannya dan berbalik mengangkat tubuh Zia dan menggendongnya membuat wajah mereka sejajar.


"Abang lihat pagi ini Zia sangat bahagia, apa ada sesuatu yang tidak abang tahu?" ucap Zaid sambil mengecup singkat bibir istrinya.


"Zia gajian." ucap Zia sambil tersenyum dan membalas kecupan Zaid.


"Pantas sangat bahagia." ucap Zaid.


"Setelah sarapan temani Zia ke bank ya, Zia mau print out buku tabungan. Zia mau, gaji pertama Zia tercatat dibuku tabungan."


"Oke." ucap Zaid, sambil menurunkan Zia dari gendongannya.


"Sekarang tunggu Zia diruang makan, sebentar lagi sarapan kita selesai dimasak." ucap Zia


"Karena Zia sudah masak, biar abang yang angkat dan hidangkan sarapannya." ucap Zaid sambil mengendong Zia dan membawanya ke ruang makan.


"Duduk dan tunggu abang." ucap Zaid sambil meninggalkan Zia diruang makan.


Zia tersenyum dan melihat Zaid yang pergi ke dapur menggantikan dirinya melanjutkan pekerjaan dapur.


Zaid membawa sarapan pagi yang sudah selesai dimasak ke ruang makan, mereka sarapan bersama.


"Abang hari ini bisa libur kerja?" tanya Zia saat mereka selesai sarapan.


"Zia mau kemana?" tanya Zaid.


"Setelah dari bank, Zia mau mengunjungi makam kedua orang tua Zia."


"Ya, nanti abang kosongkan jadwal kekantor. abang akan temani Zia seharian."


"Terimakasih." ucap Zia tersenyum.


Selesai sarapan mereka merapikan meja makan dan mencuci piring. Zaid ikut membantu pekerjaan rumah, juru masak di rumah Zaid hanya datang saat diperlukan. jika senggang Zia dan Zaid lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah berdua tanpa ada Pekerja di rumah. Zia juga bebas memakai pakaian rumah tanpa harus memakai jilbab.


Selesai urusan dapur mereka bersiap untuk mandi dan berangkat ketempat yang sudah direncanakan Zia.


"Ayah ibu. lihat, Zia akhirnya bisa gajian. Sekarang Zia tahu rasanya memiliki gaji. jika ayah dan ibu masih bersama Zia, Zia akan ajak ayah dan ibu makan sate langganan kita." ucap Zia saat berada diantara makam ayah dan ibunya sambil memperlihatkan buku tabungannya.


"Bagaimana caranya agar ayah dan ibu merasakan gaji Zia?" tanya Zia menatap Zaid.


"Banyak caranya, berbuat baik kepada keluarga ayah dan ibu. menyumbangkan uang Zia untuk mereka. terserah Zia mau yang mana, semuanya akan sampai kepada mereka." jawab Zaid.


"Zia sudah lama tidak bertemu paman, menanyakan kabar pak Ngah. bisakah kita menemui paman?"


"Tentu saja. Zia juga sudah bisa lihat rumah."


"Rumah kita sudah selesai dibangun? kita akan pindah rumah?" tanya Zia bahagia.


Zaid tersenyum mendengar Zia menyebut rumahnya dengan rumah "kita".


"Baru selesai dibangun. belum ada apa pun di rumah. kita beli peralatan rumah duru baru pindah."


Zia memeluk Zaid.


"Ayah Ibu, rumah peninggalan kalian sudah selesai direnovasi. Zia dan bang Zaid akan menempati rumah itu. doakan Zia dan bang Zaid terus bersama, bahagia dan bisa memiliki anak yang banyak." doa Zia.


Selesai dari pemakaman Zia dan Zaid mampir ke rumah makan membeli nasi kotak untuk mereka dan paman, mereka berencana melihat rumah dan mengunjungi paman siang ini.


"Abang sudah pernah lihat rumah kita?" tanya Zia saat mereka dalam perjalanan.


"Sudah, abang sering meninjau proses pengerjaannya. semoga Zia suka dengan gaya rumah baru Zia."


"Bukan rumah baru Zia, Itu rumah kita. abang yang membangunnya."


"Itu hadiah dari abang, Zia punya hak seratus persen atas rumah itu. selama status kita suami istri abang akan tinggal di rumah Zia. maaf ya abang tidak membelikan Zia rumah baru."


"Zia akan selamanya mengikat abang jadi suami Zia, awas kalau abang selingkuh."


"Hahaha,.insyaallah hati dan raga abang hanya untuk Zia."

__ADS_1


Mereka tersenyum dan saling menatap sebentar, Zaid kembali fokus menyetir.


Mereka sampai di kawasan perumahan.


"Zia tutup mata dulu, nanti setelah abang suruh buka, baru Zia buka mata."


"Oke, Zia deg-deg kan. abang jangan ngerjain Zia ya." ucap Zia sambil menutup matanya


"Tenang saja." ucap Zaid melihat Zia yang sudah menutup matanya.


Zaid menghentikan mobilnya. membuka pintu mobil dan mengendong Zia keluar dari mobil.


mereka berada tepat didepan pagar rumah Zia.


"Sekarang Zia buka matanya." ucap Zaid masih mengendong Zia.


Zia membuka mata dan melihat rumah barunya yang sangat cantik, lebih besar dari rumah lama dan dibuat bertingkat. Zaid menghabiskan semua lahan perumahan Zia untuk rumah mereka.


Zia meneteskan air matanya dan memeluk Zaid. Zaid tersenyum dan membawa Zia masuk ke area rumah, yang dilengkapi dengan taman kecil dan tempat parkir mobil.


"Selamat datang pasangan mesum." ucap Ali saat membuka pintu rumah, Ali yang menjaga rumah Zia selama proses pengerjaan hingga selesai dibangun.


"Kami bukan pasangan mesum lagi, kami pasangan halal dan romantis." jawab Zaid.


Zia merasa mengenal suara itu dan melihat siapa yang memanggil mereka dengan sebutan mesum.


"Kenapa ada Ali di rumah kita?" tanya Zia saat masih dalam gendongan Zaid.


"Aku bekerja untuk pak Zaid, aku mengawasi pembangunan rumah ini dan aku juga akan ikut tinggal bersama kalian." jawab Ali.


"Tidak boleh, Kami tidak mau diganggu." jawab Zia ketus.


Zaid tersenyum mendengar jawaban Zia.


"Kau dengar, pemilik rumah ini tidak memberi mu izin untuk tinggal disini. jadi bersiaplah untuk pindah kembali ke rumah kontrakan mu. istri mu pasti juga sudah menunggu kedatangan mu." ucap Zaid lembut menatap Ali.


"Abang, turunkan Zia."


Zaid segera menurunkan Zia dari gendongannya.


"Kenapa kalian tidak saling bertahan dan memperbaiki diri?" tanya Zia.


"Mantan pacarnya sudah bercerai, dia sengaja mengabaikan ku dan hanya menuntut uang dari ku. aku yakin dalam waktu dekat dia akan kembali dengan mantan pacarnya." jawab Ali.


Zia menatap Zaid, merasa sedih dengan kehidupan rumah tangga Ali.


"Jangan samakan abang dengan mantan istri Ali. abang tidak tertarik untuk kembali pada masa lalu." jawab Zaid.


"Jika itu terjadi?" tanya Zia.


"Jika itu terjadi, biar aku yang menggantikan pak Zaid, biarkan pak Zaid makan sampah." jawab Ali.


"Tidak mau." ucap Zia


"Jangan Harap." ucap Zaid


Zia dan Zaid bersamaan menyanggah ucapan Ali dan menatap Ali dengan tatapan tajam. Zaid bahkan memeluk Zia.


"Pamer kemesraan terus, bikin gerah." ucap Ali sambil berlalu dari mereka.


"Jangan dengarkan Ali dan jangan meragukan abang." ucap Zaid masih memeluk Zia.


"Iya, Zia juga tidak mau berpisah seperti Ali." ucap Zia


"Aku lapar, aku mau cari makan keluar." ucap Ali yang sudah jauh dari mereka.


"Makan disini saja, kami sudah membeli nasi." jawab Zaid.


"Sayang, kita ke rumah paman dulu mengantar nasi untuk mereka." ucap Zaid sambil melepaskan Zia dari pelukannya.


"Iya, ayok." ucap Zia langsung menarik tangan Zaid pergi keluar rumah untuk mengambil nasi kotak yang sudah mereka beli.


Zaid membuka kunci mobil dan mengambil nasi kotak untuk mereka dan untuk paman.


"Kami mau ke rumah paman dulu, kau makan saja duluan." ucap Zaid saat menyerahkan nasi kotak kepada Ali.

__ADS_1


"Oke, terimakasih bos." jawab Ali.


Ali masuk ke rumah dan makan duluan.


Zia dan Zaid berjalan kaki ke rumah paman.


Tante membukakan pintu dan tersenyum melihat kedatangan Zia dan Zaid.


"Masuk lah." ucap tante.


"Paman di rumah?" tanya Zia.


"Iya, paman mu kurang sehat tapi dia masih kuat untuk duduk dan berjalan di rumah." jawab tante.


Mereka duduk diruang tamu, Paman mendengar ada tamu dan keluar dari kamarnya.


"Zia Zaid, Ada perlu apa?" tanya paman yang terlihat lesu dan pucat.


"Kami datang untuk berkunjung paman, kami juga bawakan nasi untuk paman dan tante. ini." ucap Zia sambil meletakkan nasi kotak di atas meja


"Terimakasih." jawab Paman dan duduk di kursi tamu.


"Paman juga ucapkan terimakasih atas Hp yang Zia belikan dulu, maaf paman tidak mengatakannya dari dulu." ucap paman.


"Tidak apa-apa paman, Zia senang mengetahui paman sudah menerima Hp itu." jawab Zia


"Waktu itu pernikahan Rianti, Ali datang dan Memberikannya kepada paman. tiga hari setelah pernikahan Rianti baru Paman membuka titipan yang diberikan Ali. paman lupa menelpon mu dan mengucapkan terimakasih." ucap paman.


"Tidak apa-apa paman, Rianti sudah pindah rumah?" tanya Zia.


"Iya, setelah menikah dia langsung pindah kerumahnya. tante mu sibuk bolak balik mengajari nya masak sampai sekarang." jawab paman.


"Iya, Rianti terbiasa manja, setelah menikah baru dia mau belajar masak. karena itu tante hampir setiap hari datang ke kontrakan nya." jawab Tante.


"Sayang sekali sudah menikah masih memberatkan orang tua." jawab Zaid.


"Paman sudah lapar, boleh paman makan sekarang?" tanya paman.


"Tentu saja paman, makanlah." jawab Zia sambil mengeluarkan nasi dari bungkusnya. memberikan pada Paman dan Tante.


Mata paman dan Tante terlihat berbinar melihat nama Rumah Makan yang tertera di kotak nasi yang diberikan Zia.


Zia ke dapur mengambilkan air putih dan gelas untuk paman dan Tante.


"Kapan kalian akan pindah?" tanya paman sambil makan bersama Tante.


"Dalam waktu dekat ini." jawab Zaid.


"Paman, kami pulang dulu." ucap Zia pamit.


"Iya, terimakasih nasinya, ini enak sekali." ucap paman yang masih belum menyelesaikan makannya.


"Syukurlah Paman suka." jawab Zia.


Zia dan Zaid pulang ke rumah mereka, Ali telah selesai makan dan bersiap untuk pergi keluar.


"Kau akan keluar?" tanya Zaid saat mereka ber pas-pasan didepan rumah.


"Ya Bos, calon pacar ku ingin kami bertemu." jawab Ali.


"Bertemu dimana?" tanya Zia.


"Rahasia." jawab Ali.


"Jangan macam-macam." ucap Zia.


"Aku belum pernah bertemu dengannya, jika dia cantik dan penurut seperti mu, akan aku bawa dia bertemu kalian." jawab Ali.


"Semoga berjodoh dan kalian cepat menikah, jadi kau tidak perlu menggoda Zia ku lagi." ucap Zaid.


"Aku yakin Zia tidak akan meninggalkan mu Bos. kau memiliki segalanya, mana mungkin Zia meninggalkan mu." ucap Ali segera naik ke motor nya dan pergi.


"Semoga Zia tidak seperti Melani." ucap Zaid dihatinya.


"Ayo bang kita makan. Zia sudah lapar." ucap Zia menarik tangan Zaid agar cepat masuk ke rumah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2