Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Mengenang awal pertemuan


__ADS_3

Zia merasa lega setelah mengetahui kemana semua barang dirumahnya dipindahkan. Pelaku dan bagaimana barang itu bisa keluar dari rumahnya juga sudah diketahui Zia.


Kali ini Zia pulang lebih cepat, karena Dodi yang menjadi supir. kecepatan Dodi dalam membawa kendaraan tidak sebanding dengan Zia. Zaid bahagia Zia pulang lebih cepat dari biasanya, walaupun karyawan kantor sudah sepuluh menit yang lalu meninggalkan perusahaan. mereka segera mandi dan bersiap untuk jalan-jalan sore mengisi perut.


"Abang, tadi Zia bertemu paman." ucap Zia saat menikmati ayam Kfc.


"Bagaimana kabarnya?"


"Paman sepertinya kurang sehat, tadi kami bertemu di warung sarapan pagi. akhirnya Zia tahu kemana semua barang di rumah Zia dipindahkan."


"Semuanya barang Zia dibawa ke rumah kontrakan Rianti."


"Bagaimana abang tahu?"


"Ali sudah memberi tahu abang, abang juga sudah tahu mereka baru dua minggu ini kembali ke perumahan dan sedang sibuk dengan persiapan pernikahan Rianti."


"Kejutan yang akan abang berikan itu, renovasi rumah Zia kan? karena itu abang melarang Zia datang ke perumahan."


Zaid tersenyum.


"Iya, Paman yang memberitahu tentang renovasi rumah itu?"


"Iya, kata paman rumah Zia akan cepat selesai dibangun karena suami Zia kaya."


"Abang tidak kaya, buktinya abang tidak memiliki rumah sendiri, yang kaya itu Zia. baru kerja sudah bisa renovasi rumah."


"Itu karena biayanya dari suami Zia." ucap Zia sambil mencubit pipi Zaid, gemas dengan ucapan Zaid yang menyebut dirinya kaya.


Zaid tertawa melihat Zia memperlakukannya seperti anak kecil.


"Paman menyuruh Zia datang kerumahnya, Zia tidak bisa datang ke rumah paman, karena sudah janji melihat perumahan akhir bulan depan ."


"Abang bisa bawa Zia ke rumah paman, asalkan Zia mau menutup mata dan tidak melihat ke rumah yang sedang direnovasi."


"Mana bisa, mending Zia tahan diri." ucap Zia manyun membuat Zaid tertawa.

__ADS_1


"Ada rencana membeli kado untuk Rianti?"


"Dia sudah mengambil semua barang Zia, anggap saja itu kado dari Zia."


Zaid tersenyum mendengar ucapan Zia.


"Oh iya, Paman sudah tidak memiliki Hp, jika Zia belikan Paman Hp boleh?"


"Boleh, setelah makan kita cari Hp untuk paman."


Selesai makan mereka melanjutkan perjalan menuju Mall yang banyak menjual Hp dan bisa melaksanakan sholat magrib di sana.


"Abang, Hp ini Zia yang bayar ya." ucap Zia saat sudah memilih Hp untuk paman dan tinggal membayarnya.


"Boleh, jika Zia belanja sendiri atau jika tidak ada abang." ucap Zaid tersenyum.


Zaid mengeluarkan dompetnya, membayarkan Hp yang di pilih Zia, Hp paman masih dengan menu untuk menelpon dan sms, Zia sengaja memilih itu karena selama ini memang itu yang digunakan paman. ukurannya yang kecil mudah disimpan didalam saku saat Paman bekerja. tidak lupa Zia membelikan kartu prabayar untuk paman.


Hp yang sudah dibayar Zaid dimasukkan Zia kedalam tas selempang nya.


"Ayo ke mushola." ucap Zaid sambil meraih tangan Zia. mereka sholat masing-masing di mushola yang disediakan Mall.


"Main di atas yok." ajak Zia, main diarea permainan game di Mall.


Zaid mengikuti kemauan Zia, baru kali ini Zaid masuk arena permainan mall itu, sangat berisik dan kebanyakan pengunjungnya anak-anak bersama orang tuanya. Zia membeli kartu berisi saldo untuk dapat menikmati permainan yang ia suka yang disediakan pengelola game.


Zia bermain game balap motor, Zaid memperhatikan permainan Zia. Zia benar-benar seperti pembalap arena membuat Zaid tertawa. dengan gayanya membawa motor game.


Selanjutnya Zia dan Zaid bermain bola basket, Zia hanya memasukkan 3 bola, Zaid 13 bola. mereka tertawa selama permainan apa lagi melihat aksi Zia yang berusaha memasukkan bola basket kedalam Ring.


Setelah puas bermain diarena game, Zaid mengajak Zia pulang. sebelum meninggalkan Mall Zia membeli makanan yang ada di stand Mall tak lupa dengan minumannya.


"Abang kita makan makanan Ini di taman kota dulu ya." ucap Zia yang sudah menenteng belanjanya.


"Baiklah." ucap Zaid tersenyum.

__ADS_1


Mereka sampai di taman kota, yang ramai dikunjungi pasangan muda-mudi dan keluarga. Zia mencari tempat yang tidak ramai diduduki pengunjung. mereka menemukan tempat duduk yang belum ditempati.


"Zia sering kesini?" tanya Zaid.


"Tidak, Zia hanya sering lewat daerah ini."


"Abang pernah kesini?"


"Belum pernah, main game tadi juga belum pernah."


"Ha,,Ha,,abang kemana saja waktu kecil?"


"Jalan-jalan menikmati alam persawahan, laut. bukit, salju dan gurun. Abi dan Ibu sekali setahun akan membawa abang liburan. mereka menyukai alam bebas."


"Wah, seru nya. Zia belum pernah ke laut. besok jika Zia gajian kita lihat laut ya, dulu ayah dan ibu Zia sering mengajak Zia bermain game, atau ke taman untuk hiburan keluarga, naik sepeda motor. itu hanya sampai Zia tamat sekolah dasar. semenjak SMP dan SMA kami tidak pernah lagi liburan. Ayah sibuk kerja, ibu juga. terakhir perjalanan kami saat Zia libur naik kelas 3 SMA, Ayah dan Ibu membawa Zia ketempat Pak Ngah bertemu Mak cik juga. kami sudah sangat lama tidak bertemu. ternyata itu pertemuan terakhir ayah bersama keluarganya."


"Jangan bersedih lagi, abang akan selalu ada untuk Zia. kita akan bersama selamanya. mengukir kebahagian dan menjalani kebahagian bersama. abang akan bawa Zia melihat laut, di provinsi X. alamnya indah dan tidak terlalu jauh, hanya 9 jam perjalanan."


"Kadang Zia merasa mimpi memiliki suami seperti abang, kita bertemu saat Zia dalam kesulitan. Kita bertemu juga secara tidak sengaja."


"Mungkin ini cara tuhan menyatukan kita, saat itu abang melihat Zia memakai Jas abang, Zia terlihat lucu dan entah mengapa hati abang tergerak untuk mengikuti Zia. akhirnya kita bertemu dan abang berhasil mendapatkan cinta Zia."


"Zia juga terpana saat melihat abang, jantung Zia berdetak kuat saat abang membawa Zia masuk ke mobil dan ciuman dadakan itu."


Keduanya sama-sama tertawa mengenang awal pertemuan mereka, begitu singkat dan sekarang mereka sudah terikat dalam hubungan yang kuat.


"Seru juga ya, menikmati malam yang bertabur bintang diarea terbuka seperti ini." ucap Zaid


"Iya, Zia sangat jarang melihat langit. ternyata langit malam ini indah sekali, dihiasi ribuan, mungkin jutaan bintang." ucap Zia sambil melihat langit.


Zaid merangkul Zia, membawa Zia dalam pelukannya. menikmati malam dengan udara sedikit dingin.


keduanya berdoa didalam hati, agar selalu berikan kebahagian dalam rumah tangga mereka, kebahagian yang tidak di ukur dengan materi dan tidak mengutamakan materi. kebahagian yang tidak di usik orang lain.


Zia membuka makanan yang ia beli, ini makanan yang dibayar Zia dengan uang yang ada di dompet nya. Zia meminta Zaid jalan duluan dan Zia berhenti di stand makanan. Zaid tersenyum melihat Zia yang tidak kehabisan akal untuk membayar makanan yang bisa mereka nikmati berdua.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makanan, mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.


...----------------...


__ADS_2