Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Menghindar dari Melani


__ADS_3

Zaid mengendong Zia, membawa Zia masuk kedalam lift langsung menuju ruang kerjanya. Zaid menempatkan Zia atas tempat tidur. Zia masih diam dan larut dalam pikirannya. Zaid kekamar mandi untuk megambil wudhu dan menunaikan sholat isya.


Selesai sholat Zaid duduk di samping Zia.


"Sayang, katakan sesuatu jangan diam. bicaralah." ucap Zaid mengusap kepala Zia.


Zia menoleh dan duduk, Zia memeluk Zaid dan menangis. mengeluarkan rasa sakit dihatinya yang dari tadi ia tahan.


Zaid mengusap kepala dan menahan punggung Zia, memberikan rasa aman dan nyaman untuk Zia.


"Abang mereka jahat." ucap Zia terbata-bata karena masih menangis.


"Kita akan mencari mereka sampai ketemu." jawab Zaid.


"Zia tidak akan menangis jika bisa beradu mulut atau adu kekuatan dengan mereka. mereka menghilang membuat Zia sakit hati dan tidak bisa mengeluarkan amarah Zia." ucap Zia menyampaikan apa yang ia rasakan.


Zaid tersenyum mendengar ucapan Zia, ternyata Zia wanita tangguh yang sanggup adu mulut dan adu kekuatan.


"Mereka tidak akan pergi jauh, suatu hari Zia pasti bertemu dengan mereka. kita tidak tahu alasan mereka melakukan semua ini."


"Pasti Tante dan Rianti yang membawa semua barang Zia. Awas saja mereka."


"Jangan asal tuduh, kita cari kebenarannya dulu. Hp Zia sudah rusak, boleh abang yang belikan Hp? abang tidak bisa menunggu Zia gajian untuk membeli Hp. itu terlalu lama."


"Baiklah, tapi belikan Zia yang harga standar saja."


"Baik, Besok kita belanja pakaian Zia juga. libur kita tinggal besok hari. setelah itu kita akan sibuk dengan urusan pekerjaan."


"Zia ingin ke pasar loak, siapa tau pakaian Zia, Ayah dan Ibu mereka jual di sana."


"Jangan dicari lagi. mulailah semuanya dari awal bersama abang. abang akan memenuhi semua keperluan dan keinginan Zia."


"Zia ingin menemukan pakaian Ayah dan Ibu, Jika rindu mereka Zia bisa mencium dan memeluk pakaian mereka."


"Kirimkan Ayah dan Ibu doa, serta sedekah atas nama mereka maka rasa rindu Zia akan tersampaikan, mereka lebih membutuhkan itu. atau jika rindu mereka Zia bisa peluk abang."


Zia tertawa mendengar ucapan Zaid. Pelukan dan nasehat Zaid membuat hati Zia cepat membaik, tidak merasakan sakit lagi dan mulai menerima keadaan.


"Terimakasih sudah mendengar keluhan Zia."


"Kita harus saling terbuka dan berbagi dalam segala hal, baik suka maupun duka."


Zia melepaskan diri dari pelukan Zaid dan mencium pipi Zaid.


"Zia mau kekamar mandi, Zia mau cuci muka."


"Baiklah abang temani, abang juga mau sikat gigi."


Zaid merangkul pundak Zia berjalan beriringan kekamar mandi. Zia membasuh muka dan ikut menggosok gigi bersama Zaid.


Selesai menyikat gigi Zia minta digendong. Zaid menurunkan badannya memberikan peluang untuk Zia naik ke punggung nya.


"Enak ya bang bertubuh tinggi."


"Enakan bertubuh pendek, lincah dan mudah mencari pakaian."


"Abang menyesal punya tubuh tinggi?"


"Tidak, abang bersyukur memiliki tubuh tinggi karena digemari perempuan pendek."


"Hahaha,.. apa sangat jelas jika Zia menyukai abang?"


"Boleh abang tahu sejak kapan Zia menyukai abang?"


"Semenjak kita bertemu di toko baju, saat Zia mau jual Jas abang."


Zaid tersenyum mendengar jawaban Zia, sekarang Zaid mengetahui jawabannya kenapa saat itu Zia mau di ajak ke vila padahal mereka baru kenal.


Zaid membuka tirai kamarnya melihat pemandangan kota yang disinari lampu berwarna warni. Zia tetap dalam gendongan Zaid.


"Cantiknya." ucap Zia kagum melihat pemandangan malam yang ada diluar jendela.


"Abang lebih suka suasana di vila, hanya melihat kegelapan di temani suara jangkrik."


"Zia suka keduanya karena kedua alam ini Zia nikmati bersama abang, suami yang Zia sayangi."


Zia menempelkan pipinya ditelinga Zaid.


"Kita bulan madu kemana?"


"Terserah abang."


"Tidak punya target khusus?"

__ADS_1


"Tidak."


Zaid tersenyum membayangkan malam panasnya bersama Zia, yang tinggal beberapa hari lagi. Zaid ingin membawa Zia ketempat yang sunyi dan tidak ada yang mengganggu mereka.


"Kenapa abang tersenyum?"


"Abang membayangkan malam panas kita, sepertinya suasana di vila sangat mendukung."


"Hahaha,. jangan bahas itu, Zia malu."


"Kenapa harus malu, abang ingin Zia merasa aman, nyaman dan rileks saat melakukannya."


"Dimana saja, Zia tidak masalah."


"Yakin?"


"Gak mau bahas ini lagi.. Zia mau tidur."


"Baiklah, ayo segera tidur."


Zaid kembali menutup tirai dan membawa Zia ketempat tidur. Zia turun dan mengambil posisi untuk tidur.


Zaid mendekat dan mencium seluruh wajah Zia berakhir dengan kecupan singkat dibibir Zia.


mereka tidur berdekatan dan Zaid memeluk tubuh Zia.


Zaid bersyukur Zia ceria lagi dan sudah tenang. Zaid menjadi sandaran dan orang terdekat Zia satu-satunya di kota ini. Zaid akan memberikan kebahagian untuk Zia, menjaga, menyayangi dan menjadikan Zia istri satu-satunya.


***


Pagi hari Zia dan Zaid sudah pulang ke rumah orang tua Zaid, untuk mandi dan berganti baju karena Zia tidak memiliki baju ganti di kamar kerja Zaid.


Mereka sampai di rumah orang tua Zaid, Ali menelpon Zaid.


"Bos, aku ingin menagih janji mu." ucap Ali.


"Baiklah datanglah ke rumah orang tua ku." jawab Zaid sambil memberikan alamat rumah orang tuanya.


"Baik bos, aku akan segera ke sana."


"Kenapa buru-buru sekali?"


"Aku bosan dicuekin, dia hanya butuh uang ku."


"Baik, terimakasih bos."


Ali segera menaiki motornya, mencari alamat rumah orang tua Zaid.


Ali benar-benar bingung dengan sikap istrinya yang hanya memerlukan uangnya, bersikap dingin dan tidak ramah terhadap dirinya. padahal mereka hampir 10 hari tidak bertemu dan tidak berkomunikasi. Ali pikir istrinya akan bahagia dengan kedatangannya dan uang yang diberikan Zaid. semenjak Zaid pamit pulang setelah mengantar dirinya, istri Ali tidak bersuara dan tidak melayaninya dengan baik. tidak menyiapkan makan siang dan malam untuk Ali. pagi ini sarapan juga tidak ada. istrinya hanya tidur dikamar tanpa memperdulikannya.


Ali sampai di rumah kedua orang tua Zaid. membuka pagar dan memarkirkan motornya didepan halaman rumah.


Zia dan Zaid sudah selesai mandi, pagi ini mereka mandi bersama. Zaid nekat ikut mandi bersama Zia karena Ali memberitahu akan datang pagi ini. pemandangan saat mandi pagi ini tidak akan terlupakan oleh keduanya. mereka saling mempertontonkan lekuk tubuh masing-masing.


Zaid membuka pintu, Menyuruh Ali masuk dan duduk diruang tamu. tadi malam Zaid menghubungi petugas kebersihan rumahnya untuk membuka semua penutup perabot. Zaid memutuskan mereka akan tinggal di rumah orang tua Zaid. juru masak di rumah itu juga sudah kembali bekerja.


Zia keluar dari kamar menghampiri Zaid dan Ali.


"Wah, pagi sekali tamu kita datang." ucap Zia


"Apa kehadiran ku mengganggu rutinitas pagi pengantin baru?" jawab Ali.


"Tidak." jawab Zia


"Apanya yang tidak, mata mu terlihat lelah bibir mu juga sedikit bengkak. aku tahu, serangan pagi itu memang menggairahkan. lebih nikmat dari pada malam hari. Apa pak Zaid bisa melakukan dua ronde?"


Zia dan Zaid sama-sama saling menatap mereka tidak berani menjawab pertanyaan Ali. apalagi keduanya masih belum melakukan yang dituduhkan Ali.


Zia merasa malu karena Ali melihat bibirnya yang sedikit bengkak, itu karena ulah Zaid yang tidak bisa mengontrol diri saat melihat Zia dikamar mandi tanpa memakai sehelai benang pun. Zia tidak menyangka Zaid akan masuk kekamar mandi yang memang tidak dikunci olehnya.


"Aku lapar, sayang coba lihat diruang makan apa sarapan kita sudah selesai dimasak?" ucap Zaid mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah." jawab Zia langsung pergi meninggal suaminya dan Ali.


"Bos, boleh aku ikut sarapan? aku belum sarapan." ucap Ali


"Ayo."


Mereka menyusul Zia ke ruang makan, Zia membantu juru masak menata sarapan pagi di atas meja. Juru masak Zaid seorang laki-laki yang sudah berkeluarga. tinggal tidak jauh dari rumah orang tua Zaid.


Selesai sarapan Zaid mengajak Ali membahas masalah penting yang tidak boleh didengar dan diketahui siapa pun. mereka bicara diruang privat yang sengaja disiapkan di bagian ruang tamu.


"Baiklah, aku akan mengawasi dan bekerja untuk mu. aku juga tidak ingin serumah lagi dengan istriku. aku ingin lihat bagaimana hidupnya tanpa ku. terimakasih bos sudah memberiku pekerjaan dan memberiku tempat tinggal."

__ADS_1


"Semoga kamu juga bisa menyelesaikan masalah keluarga mu."


Ali mengangguk.


"Aku ingin keluar bersama Zia."


"Biarkan aku yang menjadi supir untuk hari ini. aku tidak perlu digaji."


"Baiklah." ucap Zaid


Ali tersenyum, Ali bahagia bertemu Zaid karena Zaid mau mendengarkan ceritanya dan memberikannya pekerjaan.


Selesai bicara bersama Ali, Mereka segera berangkat menghabiskan waktu untuk belanja kebutuhan Zia, membeli semua yang diperlukan Zia.


Selesai berbelanja mereka menikmati suasana sore disebuah kafe sambil menikmati minuman segar.


"Hai, Zaid. apa kabar? hampir dua minggu aku tidak melihat mu di perusahaan. kamu kemana?"


"Zia, kenalkan dia Melani." ucap Zaid tidak menjawab pertanyaan Melani.


Zia dan Melani saling bersalaman.


"Apa dia adik mu Zaid?" tanya Melani.


"Dia istriku." jawab Zaid.


Telinga dan hati Melani terasa panas mendengar jawaban Zaid. tapi Melani tidak punya hak untuk marah atau pun cemburu. Zaid bukan kekasihnya. Zaid hanya mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan empat tahun lalu.


Melani melihat jari tangan Zia dan Zaid, tidak ada tanda atau bekas hena dijari keduanya. hanya ada cincin putih motif sama dijari Zaid dan Zia.


"Aku tidak percaya jika kalian sudah menikah. aku tahu kau hanya ingin menjauh dan berharap aku tidak mengganggu mu. tapi sayang, hati ku selalu bergetar saat melihat dan berdekatan dengan mu. aku yakin di hati mu masih ada aku dan perempuan kecil ini hanya bayaran mu untuk sebuah status." batin Melani.


"Bisakah aku ikut bergabung bersama kalian?" tanya Melani.


"Duduklah." jawab Ali menggeser kursinya memberikan peluang untuk Melani lewat dan duduk disebelahnya.


"Terimakasih." jawab Melani tersenyum


"Ali aku ada perlu ke sebelah, kalian bicaralah dan lanjutkan minumnya. ayo sayang." ucap Zaid meraih tangan Zia. membawa Zia pergi dari hadapan Melani.


"Abang, dia perempuan yang bersama abang waktu itu kan?" ucap Zia saat mereka sudah jauh dari Ali dan Melani.


"Iya."


"Kenapa menghindar dari nya?"


"Abang tidak mau dia mengusik kebersamaan kita dan abang takut jika Zia meragukan hati abang. dia hanya masa lalu abang dan abang harap Zia tidak meragukan cinta abang."


"Kita sudah menikah, Zia akan mempercayai abang."


"Terimakasih." ucap Zaid dan memeluk Zia.


Melani dan Ali melihat mereka. Melani tersenyum seolah Melani menemukan kebenaran dugaannya, jika Zia hanya wanita bayaran untuk sebuah status.


Ali melihat Melani yang tersenyum.


"Apa yang membuat mu tersenyum?" tanya Ali.


"Tidak ada, aku bahagia melihat mereka berpelukan." jawab Melani


"Mereka pasangan yang romantis dan sangat Hot. jangan dilihat lagi, aku takut jika kau tidak kuat dan melampiaskannya kepada ku."


"Ha..ha.ha. kamu humoris juga. siapa nama mu?"


"Nama ku Ali."


"Bisa kita berteman?"


"Tentu saja, kau mengenal pak Zaid dan aku juga mengenalnya. tidak ada ruginya jika kita berteman."


"Tentu saja. bisa minta nomor Hp mu?"


"Wah, baru kali ini ada perempuan yang meminta nomor ku. baiklah." Ali menyebutkan nomor Hp nya.


"Oke, aku masih ada urusan. aku pergi dulu." ucap Melani pamit meninggalkan Ali.


"Baiklah." ucap Ali.


Melani keluar dari cafe melihat Zaid dan Zia yang sedang belanja di super market.


...----------------...


ingat jempol nya ya.. 😀😀

__ADS_1


__ADS_2