
Jam delapan pagi, Zia dan Zaid keluar dari penginapan. Pagi ini Zaid mengajak
Zia bersepeda mengelilingi area penginapan.
"Yakin bisa pakai sepeda sendiri?" tanya Zaid.
"Ya bisa la, waktu kecil Zia hobi main sepeda. sepeda Zia rusak karena Zia sering jumping, dulu Zia sering dimarahi ayah karena hampir tiap minggu memperbaiki sepeda. Ibu capek mendengar omelan ayah dan kasihan lihat Zia yang sering dimarahi, diam-diam ibu menjual sepeda Zia. semenjak itu Zia tidak pernah main sepeda lagi."
"Haha, dasar cewek degil." ucap Zaid sambil mengusap kepala Zia.
"Nanti jangan jumping dan pilih jalan yang bagus biar gak cepat lelah." ucap Zaid.
"Oke bos."
Zaid tersenyum mendengar jawaban Zia.
Mereka segera ketempat penyewaan sepeda, Zaid menyewa dua sepeda gunung. mereka memakai helm dan membawa minuman mineral masing-masing.
"Zia ikuti abang dan jangan mengambil jalan lain." ucap Zaid.
"Oke." jawab Zia.
Mereka segera mengayuh sepeda melewati jalan menurun, datar dan mendaki.
"Abang berhenti dulu yok." ajak Zia yang merasa lelah.
Zaid tersenyum dan menghentikan sepedanya.
"Kehabisan tenaga?" tanya Zaid.
"Iya, Zia lelah."
"Kuat di ranjang tapi gak kuat di alam." jawab Zaid
"Yang selalu ketagihan di ranjang siapa?" jawab Zia tidak mau kalah.
"Gendong." ucap Zia sambil mengangkat kedua tangannya.
Zaid tersenyum dan turun dari sepedanya, menghampiri Zia yang masih di atas sepedanya.
Zaid mengendong Zia dan membawanya duduk di atas dedaunan, terlihat bentangan sawah yang luas dan angin bertiup dengan lembut.
"Nyaman sekali berada di desa ini." ucap Zia.
Zaid tersenyum dan membuka helm nya.
"Berapa lama kita libur kerja?" tanya Zia
"Selama yang Zia mau." jawab Zaid
"Jangan ajari Zia jadi karyawan pemalas."
"Jika Zia malas itu akan menguntungkan abang, abang tinggal buat surat pemecatan."
"Sabar ya abang sayang, tinggal tiga bulan lagi kontrak kerja Zia akan berakhir dan jangan pernah Pecat Zia." ucap Zia sambil memegang kedua pipi Zaid, gemas dengan ucapan Zaid yang selalu memintanya tidak bekerja. Zaid mengambil kesempatan itu untuk mencium Zia.
"Abang nyosor mulu, ini tempat umum." ucap Zia manyun.
"Biarin, sama istri sendiri bebas dong mau ngapain aja."
"Bebas, tapi pada tempatnya." ucap Zia.
"Gak ada orang lain disini, cuma ada malaikat yang mencatatnya sebagai ibadah." ucap Zaid sambil tersenyum.
Zia tersenyum dan tidak membantah lagi ucapan suaminya. Zia membuka helm dan menyandarkan kepala di dada Zaid. menikmati keindahan alam dan menikmati segarnya angin yang bertiup.
__ADS_1
Selesai beristirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju penginapan.
"Malam ini masih mau nginap disini atau tidak?" tanya Zaid.
"Kita mau kemana lagi?"
"Abang mau ajak Zia melihat laut."
"Wah,. tempatnya jauh?"
"Tidak, sekitar dua jam dari tempat ini."
"Setelah melihat laut, kita kemana lagi?" tanya Zia
"Pulang, untuk bekerja."
"Kalau gitu kita tetap tidur disini saja."
"Oke, selesai makan siang kita langsung berangkat."
"Zia bawa pakaian ganti ya, mana tau air laut membuat pakaian Zia basah." ucap Zia
"Dasar nakal, bilang aja mau main air laut." ucap Zaid menyentil kening Zia.
"Haha, tau aja maksud Zia." ucap Zia girang, Zia segera menyiapkan pakaian ganti untuk dibawa ke pantai, handuk kecil. semuanya ia letakkan di kursi belakang mobil.
Mereka segera ketempat makan yang sudah disediakan oleh tempat penginapan. menu yang disajikan terasa nikmat apalagi tempat makan mereka bersebelahan dengan tanaman padi.
Sesuai ucapan Zaid, setelah makan mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata laut. Zia menikmati perjalanannya selama di propinsi X, mengamati alam dan kehidupan penduduk setempat.
"Suka ke propinsi ini?" tanya Zaid
"Suka, Alamnya bagus dan jalanan nya tidak macet."
"Dulu karyawan abang ada yang berasal dari propinsi ini, dia yang awalnya mengajak abang kesini. kemudian abang ajak keluarga dan rekan kantor lainnya untuk liburan kesini."
"Tidak tahu, Dia mengundurkan diri karena menikah dan ikut suaminya."
"Mulai deh,." jawa Zia.
"Mulai apa?"
"Abang mau nyindir Zia lagi kan?"
"Gak lah, dari awal kita kan udah komitmen. tadi abang hanya bermaksud untuk cerita."
"Oh,. masih jauh?"
"Gak, tapi kita ke mesjid dulu ya, setelah dari mesjid baru ke laut."
"Oke."
Jam empat sore mereka sudah berada di pantai, disepanjang pinggiran pantai banyak penjual minuman dan makanan khas laut. para penjual mendirikan payung pantai dilengkapi meja kursi untuk ditempati pengunjung.
"Abang kita Ke bebatuan itu yok. lihat ombak di sana ganas sekali saat menghantam batu nya." ucap Zia sambil menarik tangan Zaid.
"Oke, ayok." ucap Zaid mengikuti Zia
Puas merasakan terjangan ombak di bebatuan mereka pindah lokasi, duduk dibawah payung pantai sambil menikmati makanan laut dan minuman segar. setelah mengisi perut keduanya berjalan dipinggiran pantai menikmati suasana senja dan air laut yang membasahi kaki mereka.
"Lihat matahari akan terbenam." ucap Zia menunjuk matahari yang akan menghilang.
Zaid memeluk Zia dari belakang. menyaksikan matahari yang akan terbenam.
"Aku merindukan mu." ucap seseorang sambil memeluk tubuh Zaid dari belakang.
__ADS_1
Zaid segera menolah dan melihat Melani berada dibelakangnya.
"Apa yang kau lakukan Melani?" tanya Zaid dengan nada marah, mereka saling berhadapan. Zaid tetap merangkul Zia di sisi nya.
"Sudah hampir satu bulan kita tidak bertemu, akhirnya kita dipertemukan ditempat yang indah ini. apa kabar?" tanya Melani.
"Kami baik." jawab Zia.
"Aku sangat senang bertemu dengan mu Zaid." ucap Melani menatap Zaid dan mengacuhkan Zia.
"Aku sebaliknya" jawab Zaid.
"Apa kau tidak menyukai perubahan ku?" tanya Melani.
"Bagi ku kau tetap Melani, perubahan mu tidak berarti bagi ku." jawab Zaid.
"Aku lihat kau sedikit kurus, apa kepergian ku membuat mu kesepian?" ucap Melani.
"Mungkin kau terkena rabun senja, berat badan ku bertambah semenjak menikah dan aku sangat bahagia setelah kepergian mu." jawab Zaid
"Ayo Kita pulang." ucap Zaid membawa Zia dan meninggalkan Melani.
Melani mengejar Zaid dan berteriak.
"Kau meninggalkan aku demi perempuan yang baru kau kenal? Apa kau lupa jika dia pernah membuat ku dirawat di rumah sakit?" ucap Melani mencari perhatian pengunjung pantai senja itu.
"Dasar wanita tidak tahu malu, kau menikah empat tahun yang lalu dengan selingkuhan mu saat masih menjadi pacar ku. setelah kau dicampakkan, kau mengejar ku lagi. kau sungguh tidak tahu malu." ucap Zaid dengan suara lantang membalas Melani.
Melani gelagapan sendiri. Melani tidak menyangka Zaid akan membalas ucapannya dan membuat hatinya terluka.
Zia mengepal tangannya ingin menghajar Melani.
"Jangan main kekerasan, ayo kita pulang." ucap Zaid yang merasakan perubahan tubuh Zia dan melihat wajah Zia yang menahan amarah.
Tanpa mempedulikan Melani Zaid membawa Zia kembali ke mobil. Mereka masuk kedalam mobil dan berencana meninggalkan pantai. Melani datang dan menghadang mobil Zaid. berdiri didepan mobil Zaid dengan kedua tangannya terbentang.
"Abang ayo keluar, Dia tidak akan mundur." ucap Zia.
"Sebaiknya Zia tetap di mobil. biar abang yang menghadapinya." ucap Zaid.
Zia mengangguk, Zaid keluar dari mobil dan menghampiri Melani.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Zaid.
"Aku akui aku salah, meninggalkan mu empat tahun lalu. tolong beri aku kesempatan. aku bersedia menunggu mu empat tahun lagi, anggap saja kau membalas perbuatan ku. setelah itu nikahi aku, aku ingin menjadi istri mu. aku rela menjadi istri kedua mu. tolong aku." ucap Melani mengiba.
Ucapan Melani didengar Zia. Zia teringat saat pertemuan mereka dengan ibu Melani yang juga berharap Zaid menjadi menantunya. Ibu Melani juga tidak mempermasalahkan jika Melani menjadi istri kedua Zaid.
"Aku saran kan kau untuk berobat dan jangan pernah mengganggu hidup ku lagi." ucap Zaid
Zaid meminta petugas parkir menahan Melani agar mereka bisa keluar dan pergi dari harapan Melani.
Melani meronta dan berharap bisa lepas dari pegangan petugas parkir yang menahannya Melani ingin mengetahui tempat Zaid menginap.
Petugas parkir baru melepaskan tangan Melani saat mobil Zaid sudah jauh.
Kevin datang dan mengajak Melani ikut bersamanya masuk kedalam mobil.
"Aku lihat petugas parkir itu memegang tangan mu, kau kenal dia?" tanya Kevin.
"Aku bertemu Zaid, Petugas parkir itu menahan ku agar tidak mengikuti Zaid."
"Hebat sekali, tanpa disengaja kalian bisa bertemu." ucap Kevin.
"Aku yakin pertemuan ini pertanda baik." jawab Melani.
__ADS_1
Melani bersyukur bisa menyentuh Zaid dan memeluknya sebentar.
...----------------...