
Zaid dan Zia lebih memilih jalan kaki berkunjung kerumah paman. jarak rumah Zia dan paman hanya 5 rumah. mereka jalan kaki sambil menjaga jarak. Zaid membawa bingkisan yang ia beli untuk paman.
"Abang beli apa untuk paman?"
"Ini roti, semoga paman suka."
"Paman memang suka roti. apa lagi dari toko kue terkenal."
"Maaf abang tidak belikan untuk Zia."
"Tidak apa-apa. buah yang abang bawa tadi pagi belum Zia makan."
"Nantik dimakan ya."
"Tentu saja."
Mereka sama-sama tersenyum. Mereka sampai di rumah paman.
"Assalamualaikum." Zaid mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah paman.
"Waalaikummussalam, Zia?" paman membuka pintu dan melihat Zia datang bersama seorang laki-kaki berwajah arab.
"Silahkan masuk." ucap paman.
Zia dan Zaid masuk kerumah paman. Mereka duduk di kursi tamu, Zia duduk bersebelahan dengan Zaid, paman duduk menghadap mereka.
Zaid meletakkan bingkisan yang ia bawa di atas meja tamu.
"Dimana tante dan kak Rianti?" Zia berusaha untuk menghormati Rianti.
"Mereka belum pulang, tadi sore mereka pergi keluar."
Sudah kebiasaan Tante dan Rianti keluar sore hari dan pulang malam.
"Paman perkenalkan ini bang Zaid."
Zaid menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan paman.
paman menyambut uluran tangan Zaid, mereka bersalaman.
"Ada keperluan apa datang kerumah?"
"Kami mau minta restu dan izin paman, kami berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini." ucap Zaid
"Kenapa mendadak dan terburu-buru sekali?"
"Saya ingin menjaga dan bertanggung jawab sepenuhnya untuk kehidupan Zia. bagi saya ini tidak mendadak dan terburu-buru, karena saya sudah berusia 28 tahun. saya harap paman memberi izin dan merestui niat baik kami."
"Saya tidak akan menghalangi niat baik kalian, saya bersyukur keponakan saya bisa menemukan kebahagiaannya. apa kalian berencana menikah sirih?"
"Tidak paman, dalam waktu dekat kami akan berkunjung kerumah adik dari almarhum ayah Zia. kami berencana menikah di sana" jawab Zaid.
"Baguslah, saya mohon maaf tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, saya bekerja dan tidak lama lagi anak saya Rianti juga akan menikah kami harus melakukan persiapan dari sekarang."
"Tidak masalah paman, doa dan restu paman sudah sangat membuat kami senang. ini ada sedikit buah tangan dari kami, semoga paman suka."
"Iya, terimakasih. boleh tau apa pekerjaan dan dimana orang tua mu?"
Zia dan Zaid saling melihat.
"Saya bekerja membantu meneruskan usaha Keluarga. orang tua saya saat ini berada di Qatar mereka merawat kakek saya yang sedang sakit."
"Oh, usaha apa yang kalian miliki?"
"Usaha dagang."
"Baguslah, setidaknya kalian bisa memenuhi biaya hidup berdua, saya hanya seorang buruh tidak bisa menolong kalian dalam hal ekonomi."
__ADS_1
"Zia nanti juga bekerja paman. insyaallah kami bisa membiayai kebutuhan hidup kami." jawab Zia
"Kamu sudah dapat pekerjaan?"
"Sudah paman, mungkin ini rezeki kami berdua, saat Zia akan menikah tawaran pekerjaan datang dan bang Zaid sudah memberi izin untuk Zia bekerja."
"Baguslah."
Sekitar empat puluh menit mereka berada di rumah paman. Tante dan Rianti belum juga datang.
"Paman kami pamit, tolong Sampaikan maksud kedatangan kemi kepada Tante dan Kak Rianti." ucap Zia
"Ya, nanti paman sampaikan."
Zaid dan Zian segera pulang kerumah Zia.
Zaid dan Zia merasa bahagia mendapat restu dari paman, Zaid berharap Pak Ngah Zia juga akan merestui mereka dan memberikan mereka izin untuk menikah dirumahnya.
Mereka sampai di rumah Zia.
"Sayang tolong siapkan tempat sholat, abang mau sholat di sini, kita sholat jamaah."
"Iya."
Zaid segera kekamar mandi, Zia menyiapkan tempat sholat untuk mereka.
Mereka sholat isya.
Selesai sholat Zaid duduk di kursi tamu. Zia mengganti bajunya dengan baju tidur. Mereka duduk berhadapan di kursi tamu.
"Sayang bisa buat kan abang minum?"
"Hanya ada air putih, di rumah tidak ada gula, teh, kopi atau apa pun."
Zaid tersenyum.
Zia segera ke dapur mengambil minum untuk Zaid.
"Silahkan diminum bang."
"Terimakasih."
Zaid segera minum dan menghabiskan semua minumnya.
"Sini gelasnya, Zia isi lagi."
"Tidak usah. abang sudah tidak haus lagi. abang sangat grogi, untung kita bisa menyampaikan maksud kedatangan kita dan cepat pulang."
"Ha..ha..ha.. ternyata abang merasakan seperti yang Zia rasakan tadi siang."
"Iya, Semoga Pak Ngah juga merestui dan mengizinkan kita menikah dirumahnya."
"Aamiin."
"Abang bisa minta foto copy kartu keluarga dan KTP Zia? besok pagi abang berencana kekantor KUA, Menanyakan syarat pendaftaran pernikahan. kalau bisa sekalian mendaftar."
"Baiklah tunggu sebentar."
Zia memasuki kamar orang tuanya, mencari foto copy kartu keluarga, Zia menemukannya. Zia ke kamar nya untuk mengambil foto copy KTP.
Zia ingat, dia menyimpan barang yang bukan miliknya, Zia mengambil barang yang tersimpan itu dan membawanya ke ruang tamu.
"Ini foto copy yang abang minta dan ini barang yang Zia temukan di jas abang waktu itu. sekarang Zia kembalikan."
Zia meletakkan kotak cincin itu di atas meja.
Zaid mengambil kotak cincin itu dan melihat isinya. Zaid melihat cincin dan kertas.
__ADS_1
Zaid membuka kertas itu, ternyata berisi cek senilai 200juta.
"Zia ini bukan milik abang, cincin dan cek ini milik Harun. abang akan mengembalikan ini kepadanya."
"Iya, Zia percaya ucapan abang."
"Terimakasih. kedepannya kita memang harus saling percaya dan menjunjung tinggi kejujuran."
Zia mengangguk.
"Besok Zia mau kemana?"
"Besok Zia mau ke pasar belanja kebutuhan dapur, sudah tidak ada apa-apa di kulkas.
abang, Zia ucapkan terimakasih banyak, uang yang abang berikan waktu itu sangat membantu Zia, Zia bisa memperbaiki motor, mengisi tabungan untuk cicilan rumah ini dan besok Zia masih bisa belanja ke pasar. sekali lagi terimakasih."
Zia berkata tulus dari lubuk hatinya yang dalam, air mata Zia berlinang, Zia masih terharu dan bahagia.
Zaid mendekati tempat duduk Zia dan memeluknya.
"Jangan menangis, itu memang hak Zia. abang hanya perantara. besok jangan terlalu banyak belanja bahan masak, mungkin dalam waktu dua hari ke depan kita akan segera berangkat menemui Pak Ngah. belanja seperlunya saja."
"Baiklah."
Zaid mencium kepala Zia dan segera melepas pelukannya.
"Abang akan sibuk dalam waktu dua hari ini, Zia jaga diri dan jangan keluar rumah jika tidak penting."
Zia mengangguk.
"Abang pulang dulu. ingat untuk mengunci pintu dan sikat gigi sebelum tidur."
"Iya."
"Kabari abang apapun yang terjadi."
"Baiklah."
Zaid segera berdiri dan berjalan keluar rumah, Zia mengantar Zaid sampai ke teras rumah.
"Hati-hati dijalan bang, kabari Zia jika abang sudah sampai di rumah."
"Baiklah."
Zaid masih berada di teras bersama Zia. kaki Zaid sangat berat untuk melangkah menuju mobilnya. Zaid tidak ingin berpisah dan tidur sendiri lagi.
"Boleh abang tidur disini?"
"Belum boleh abang, sabar ya. lebih baik jika menikah dulu."
"Masuklah kerumah dan kunci pintu, abang tidak bisa pergi jika Zia menunggu disini."
Zaid menatap Zia dengan tatapan kerinduan.
Zia tersenyum.
"Baiklah. Zia masuk dan akan mengunci pintu. sabar ya, abang sayaaang besok kita akan tidur berdua."
"Abang tidak sabar menunggu itu terjadi."
Zia tertawa dan segera masuk kerumah. Jika Zia terus berada didepan Zaid maka Zaid akan menikam Zia.
Zia mengunci pintu dan mengintip dibalik jendela rumah, melihat Zaid berjalan dan memasuki mobilnya.
Setelah Zaid pergi, Zia kembali membuka pintu. memasukkan motor nya yang masih berada di teras rumah. motor Zia ditempatkan didepan pintu masuk ruang tamu.
...----------------...
__ADS_1