Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Masalah dengan Rianti selesai


__ADS_3

"Geng, kumpul lagi yok,. aku mau kita pesta." Rianti mengirim pesan digrup WhatsApp teman masa SMA nya. sudah dua tahun tidak pernah berkumpul lagi. tapi tetap saling menyapa digrup.


"Pesta? bukannya kau akan menikah lima hari lagi?" balas teman 1.


"Karena itulah aku ingin pesta." balas Rianti.


"Bagaimana jika Zia membuat mu babak belur lagi?" tanya teman 2.


"😀😀😀, kali ini aku tidak akan kalah." balas Rianti.


"Aku tidak bisa ikut pesta, aku sedang hamil. tapi aku akan menyaksikan pesta kalian." balas teman 3.


"Oke bumil, mana ni teman satu lagi?" balas Rianti.


"Aku bekerja, masuk pagi pulang sore. aku hanya bisa menyaksikan jika pestanya sore." balas teman 4.


"Oke, berarti hanya 3 orang yang bisa pesta. 2 lagi jadi penonton. kalian sudah siap teman 1 dan 2?" balas Rianti.


"Siap." balas teman 1


"Siap." balas teman 2


"Oke, aku akan mengajak Zia ketemuan, menentukan tempat yang bagus untuk memberinya pelajaran." balas Rianti.


"Kenapa masih memusuhi Zia?" tanya teman 3.


"Aku ingin pesta terakhir dengannya, dia mengalahkan aku dalam urusan cinta. dia sudah menikah." Balas Rianti.


"Wah, dia memang selalu lebih unggul dari mu." balas teman 1.


"Aku ingin, ini pesta terakhir kita bersama Zia. setelah itu aku tidak akan ikut lagi untuk memusuhinya. kita sudah dewasa dan Zia juga tidak terbukti pacaran dengan idola kita semasa SMA." balas teman 4.


"Aku setuju." balas teman 3


"Aku juga." balas teman 1


"Aku sangat setuju." balas teman 2


"Baiklah, aku juga setuju. aku tidak akan mengganggu Zia lagi. kalah atau menang dalam pesta ini tidak masalah. asal impian ku terwujud." balas Rianti.


"Kau tentukan hari, waktu dan tempatnya kami akan datang." balas teman 1.


"Sip." balas Rianti tersenyum puas.


Rianti selalu mengajak gengnya untuk mengeroyok Zia, mereka menggunakan istilah pesta untuk menghajar Zia.


Rianti kesal melihat Zia di pasar bersama Mama Keke, tertawa dan terlihat sangat bahagia. walaupun Rianti tidak melihat keberadaan Zaid bersama Zia.


Ditambah lagi rumah Zia sedang dibangun ulang, walaupun Rianti ragu rumah itu direnovasi masih atas milik Zia atau bukan. membuat hati Rianti semakin sakit, iri dan benci dengan apa yang didapatkan Zia.


Rianti masih menyimpan nomor Zia yang ia dapat dari ponsel ayahnya sebelum ia jual.


"Zia, paman ingin bertemu dengan mu." Rianti mengirim pesan ke nomor Zia


Zia sedang bekerja menunggu muatan mobilnya penuh. Zia membuka pesan yang dikirim dari nomor baru.


"Bertemu dimana paman?" balas Zia. Tanpa curiga dan Zia merasa sangat bahagia paman menghubunginya.


Rianti tersenyum, ternyata Zia mudah terpancing dan cepat membalas pesan darinya.


"Bertemu di lapangan yang tidak jauh dari perumahan kita. dibawah pohon ketapang, jam 4 sore ini." balas Rianti.


Zia tahu lokasi itu sangat sepi dan pohon ketapang ditanam di bagian belakang lapangan dan lapangan itu hanya di kunjungi saat ada perayaan saja.


Zia menelpon nomor baru itu.


Telpon di angkat, tapi sangat berisik.


"Zia, paman masih bekerja. disini sangat ribut. paman ingin membicarakan pernikahan Rianti, Paman ingin Zia ikut membantu." balas Rianti.


"Suami Zia belum kembali dari Qatar, Zia tanya suami Zia dulu. jika di izinkan, Zia akan menemui paman." balas Zia.


"Pernikahan Rianti tinggal 5 hari lagi, Paman sangat memerlukan pertolongan Zia." balas Rianti.


"Nanti Zia kabari, jika suami Zia sudah memberi izin." balas Zia


"Idih,. sok alim,.sok manut sama suami,. jadi kalian tidak bercerai? dasar sialan." umpat Rianti, kesal setelah membaca pesan balasan dari Zia.


Sudah lebih dari seminggu Zaid berada di Qatar. pesan dari Zia juga kadang dibalas kadang tidak. kali ini Zia mengirim pesan berharap cepat dibalas Zaid.


"Abang paman ingin bertemu Zia, boleh Zia menemuinya?" pesan Zia sampai dan dibaca Zaid.


Zaid sudah sampai di indonesia dan masih harus bertemu dengan Robert, posisi Zaid masih baru turun dari pesawat.


"Kapan bertemu paman? dimana?" Zaid membalas pesan Zia.


"Hari ini jam 4 sore, di lapangan yang tidak jauh dari perumahan." balas Zia.

__ADS_1


Zaid melihat jam ditangannya saat ini masih jam 11, Zaid membuat janji bertemu Robert jam 12. Zaid memperkirakan waktu untuk bertemu Robert paling lama hanya satu jam. setelah bertemu Robert Zaid masih harus menempuh 3 jam perjalanan untuk sampai di lokasi yang Zia sebutkan.


"Baiklah, abang izinkan. hati-hati." balas Zaid.


"Ya, terimakasih bang." balas Zia


Zia tersenyum, Zia segera mengirim pesan ke nomor baru yang Zia percaya itu nomor paman nya.


"Paman, Zia akan menemui paman jam 4 sore ini." balas Zia


Rianti tersenyum puas. akhirnya Zia masuk dalam perangkapnya. Rianti segera mengirim pesan di grupnya.


"Final, pesta jam 4 sore ini, lokasi lapangan yang di tidak jauh dari perumahanku. tempat kita dulu sering makan dan minum dibawah pohon ketapang." Rianti mengirim pesan.


Pesan dari Rianti langsung mendapat empat jempol dari teman-temannya. Rianti tersenyum puas.


"Aku akan membuat kau habis Zia, jika kau sedang hamil, maka aku akan menjadi dukun untuk anak mu. akan aku buat dia tidak hidup dan kau tidak akan memiliki kebahagian dalam waktu dekat." ucap Rianti yang sudah sangat tersulut emosi.


Zia memberi tahu Dodi jika dirinya akan menemui paman setelah mengantar barang dan sudah mendapat izin dari Zaid.


"Biar saya yang bawa mobil muatan ini Nona. Nona duduk disebelah saya saja. nanti saya akan mengantar Nona ketempat pertemuan itu. saya tidak ingin Nona terlihat lelah oleh paman dan kita juga akan cepat sampai." ucap Dodi memberikan masukan.


Zia berpikir dan menerima saran Dodi. Zia mengizinkan Dodi menyetir dan duduk disebelahnya. mereka segera berangkat mengantar barang ke toko pelanggan.


Sebelum sampai di lokasi toko, Zia dan Dodi singgah untuk makan siang dan sholat di rumah makan yang menyediakan musholla.


Barang muatan mobil Zia sudah selesai di turunkan, Zia mencari tempat istirahat sebelum bertemu paman. Zia dan Dodi berhenti di rumah makan yang menyediakan mushola dan tempat istirahat para supir yang tidak jauh dari lokasi pertemuan Zia dan paman.


Zia sholat ashar baru menemui paman. Zia yakin pertemuannya dan paman akan memakan waktu yang lama, Zia juga ingin tahu kemana semua barang yang ada di rumahnya. Zia ingin penjelasan dari paman.


Sementara itu dilain tempat, Rianti sudah bersiap-siap akan pergi. Ibu Rianti tidak berada di rumah, sibuk mengundang dan belanja keperluan pernikahan Rianti. paman masih ditempatnya bekerja.


"Udah siap geng, mau otw nih." Rianti mengirim pesan ke grupnya.


"Oke, sama ni juga mau otw." balas teman 1


"Lanjut dulu, masih kerja." balas teman 4


"lagi nunggu ojek." balas teman 3


"Aku sudah di lokasi." balas teman 2.


Rianti dan tiga orang temannya sudah datang ke lokasi. satu lagi dalam perjalanan karena baru pulang bekerja. Rianti mengatur siasat, Rianti akan mengenakan topi dan memakai baju ayahnya, duduk menunggu Zia. Jika Zia sudah dekat mereka akan langsung mengelilingi Zia dan memberi Zia pelajaran untuk yang terakhir kalinya.


Zaid merasa tidak nyaman, jantung Zaid juga berdetak tidak stabil, Zaid sudah selesai menemui Robert dan dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan Zia dan Paman.


"Kenapa?" tanya Harun


"Entahlah, tadi Zia memberi tahu ku jika dia akan bertemu paman nya. semenjak itu aku gelisah."


"Kau gelisah karena akan bertemu Zia, berat badan Zia bertambah dia semakin menggemaskan, aku yakin kau terlalu memikirkan istri cantik mu." jawab Harun.


"Entah lah, cepatlah. aku ingin melihat dan berada diantara mereka." ucap Zaid.


"Sabar, ini sudah laju, Zia juga ditemani Dodi. santai saja." jawab Harun menenangkan Zaid.


Zia sampai di lokasi janjiannya, Dari jauh Zia melihat seperti paman duduk di bawah pohon.


"Aku akan mengantar." ucap Dodi saat mereka sudah parkir di lapangan dan akan turun dari mobil.


"Baiklah." ucap Zia.


Mereka turun dari mobil dan berjalan mendekati orang yang duduk dibawah pohon.


Dodi mendapat panggilan telpon dari Zaid. Dodi memasang alat pendengar di telinga nya.


"Ya pak." sapa Dodi.


"Sudah dimana?" tanya Zaid.


"Sudah di lokasi pak, baru bertemu paman Nona." jawab Dodi


"Kau sampai Zia." Ucap Rianti yang langsung berdiri dari duduknya, Rianti membuka topi dan baju ayahnya yang ia pakai.


"Dimana paman?" tanya Zia.


"Aku yang ingin bertemu dengan mu, aku ingin pesta." ucap Rianti.


Zia tahu arti kata pesta dari mulut Rianti, karena Rianti selalu berucap begitu saat mereka akan bergulat.


"Aku rasa tidak ada masalah di antara kita. jadi aku tidak ingin pesta." jawab Zia.


"Kenapa? kau takut anak yang ada di rahim mu tewas di tangan ku?" ucap Rianti.


Teman-teman Rianti yang bersembunyi keluar dari persembunyiannya. mereka tertawa.


Zaid mendengar percakapan Zia dan Rianti.

__ADS_1


"Dodi, jaga Zia. jangan sampai Zia berkelahi apa lagi terluka." ucap Zaid dengan Nada tinggi, membuat Harun kaget dan sangat penasaran.


"Cepat Harun kita tidak ada waktu lagi. Zia dalam bahaya." ucap Zaid dengan wajah tegang dan terlihat marah.


Harun menambah kecepatan mobilnya.


"Ini pesta kami kau tidak boleh ikut." teman 1 Rianti menunjuk Dodi.


"Pesta apa? kenapa kalian terlihat akan berkelahi?" tanya Dodi memastikan keadaan.


"Mereka memang akan berkelahi. ini perkelahian terakhir kami. kami menang atau kalah tidak akan menggangu Zia lagi. itu janji kami." jawab teman 3 Rianti.


"Nona bagaimana?" tanya Dodi.


"Sialan kau Dodi, kenapa memberi mereka peluang untuk menyerang Zia." teriak Zaid yang masih terhubung dengan Dodi.


Zia tidak tahu jika Dodi sedang melakukan panggilan bersama Zaid.


"Baiklah, aku setuju dengan pesta ini." jawab Zia


Dodi melihat Zia melakukan gerakan pemanasan. sementara Rianti dan teman-temannya tidak.


"Aku ingin memastikan, jika kalian tidak memakai alat dalam pesta ini." ucap Dodi


"Kau bisa periksa kami, kami hanya bertarung dengan tangan kosong, kami tidak pernah curang dan tidak akan curang." jawab teman 4 Rianti.


Dodi memeriksa mereka dan keadaan sekeliling, memastikan tidak ada kayu, atau benda tajam lainnya diarea mereka.


"Aman, hanya boleh satu lawan satu." ucap Dodi memimpin pertarungan sekaligus juri.


"Sialan kau Dodi." ucap Zaid. membuat Harun semakin penasaran dan semakin kencang.


Pertarungan dimulai, hanya satu teman Rianti yang menonton, empat lainnya bergantian menyerang Zia.


Zia unggul dan membuat mereka tersungkur. suasana makin panas mereka tidak lagi menyerang bergantian, mereka mengeluarkan tenaga yang ada, membuat Zia sedikit kewalahan dan salah satu diantara mereka menendang bokong Zia. membuat Zia tidak stabil dan jatuh ketanah.


Zia kembali berdiri, menyiapkan ilmu bela diri yang sudah lama tidak diasahnya. Dodi kagum dengan gerakan ilmu bela diri Zia. Dodi yakin Zia akan membuat mereka tepar.


Pertarungan berlanjut masing-masing musuh mendapat tonjokan di wajah mereka serta pukulan diperut. mereka kesakitan tapi masih ingin menyerang.


Zaid dan Harun sampai di lokasi. Zaid segera keluar dari mobil melihat perkelahian yang sedang terjadi. Harun kaget dengan pemandangan yang dilihatnya. Zia terlihat percaya diri dan berdiri kokoh diantara lawannya yang sudah mulai oleng.


Kali ini Zia tidak memberi ampun sampai lawannya mengucapkan kata "ampun." Zia membabi buta mereka semua. badan mereka terasa remuk dan wajah dipenuhi tinju ganas dari Zia.


"Ampun." ucap teman 1 Rianti yang sudah berdarah di bagian mulutnya.


"Ampun." ucap Teman 2 Rianti yang sudah tidak bisa melihat dengan jelas


"Ampun." ucap teman 4 Rianti yang sudah jatuh ketanah.


Rianti mendapatkan kayu dan memukul mengenai lengan Zia. Zia menendang Rianti mengenai Hidungnya. membuat hidung Rianti mengeluarkan darah. Zia mendekati Rianti dan menampar Rianti dengan kuat. lima jari Zia membekas di pipi Rianti.


"Ampun." ucap Rianti menangis menahan sakit.


"Sesuai perjanjian. tidak ada lagi perkelahian di antara kalian dan pemenang pertarungan terakhir ini adalah ZIA." ucap Dodi sambil mengangkat tubuh Zia dengan cara menggendongnya.


Dodi tidak tahu jika Zaid dan Harun sudah berada dibelakangnya menyaksikan keganasan Zia diarea terbuka.


Dodi segera menurunkan Zia saat pandangannya bertemu Zaid dan Harun.


Zia berlari memeluk Zaid dan menangis.


"Kenapa menangis?" tanya Zaid.


"Zia tidak akan kelahi lagi dengan mereka. kami sudah janji." Ucap Zia masih mengeluarkan air matanya.


Zia bahagia masalah mereka sudah selesai dan mereka akan memegang janji itu.


Zaid membalas pelukan Zia dan mencium kepala Zia yang tertutup Jilbab.


Harun mendekat dan mengusap kepala Zia.


"Ternyata adik abang sangat ganas. selamat atas kemenangannya." ucap Zaid tersenyum melihat Zia yang ikut tersenyum.


"Kau akan aku beri hukuman." ucap Zaid menatap Dodi dengan garang.


Dodi tidak berani menatap Zaid dan hanya menganggukkan kepalanya.


"Antar mereka semua berobat dan kau yang membayar biaya pengobatan mereka." ucap Zaid menunjuk Dodi.


Dodi mengangguk dan membawa semuanya naik ke mobil perusahaan empat orang duduk di belakang dan satu orang yang hamil duduk didepan menemani Dodi membawa temannya berobat.


Zaid menyuruh Harun tetap di lokasi untuk menjaga motor Rianti dan teman-temannya, Zaid membawa Zia ke mobil untuk di obati.


...----------------...


ingat Kasih jempol tiap episode ya,. terimakasih .

__ADS_1


__ADS_2