Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Intan yang tersimpan


__ADS_3

"Sejak kapan pandai berduel?" tanya Zaid saat mengoles lengan Zia krim pereda pegal.


"Dari kelas satu SMA." jawab Zia


'"Pernah terluka parah seperti mereka?"


"Tidak, hanya lebam."


"Kenapa tidak mengalah dan menghindar dari perkelahian seperti ini?"


"Mereka yang minta, ini duel terakhir."


"Bagaimana jika Zia mendapat luka seperti mereka?"


Zia diam tidak berani membayangkan jika dirinya bonyok, Jika Zia kalah sudah pasti mereka akan semakin menindas Zia.


"Kenapa lutut celana bisa kotor seperti ini?"


"Tadi sempat jatuh, bokong Zia ditendang."


Zaid membuang napasnya, Zaid tidak menyangka Zia akan senekat ini. berani menyerang lawan yang lebih banyak darinya.


"Nanti abang obati bokongnya."


Zaid memasang kembali baju Zia yang dilepas.


"Berbaringlah." ucap Zaid sambil menepuk pahanya.


Zia patuh dan berbaring, menidurkan kepalanya di atas paha Zaid.


Dua jam menunggu Dodi kembali bersama Rianti dan teman-temannya. mereka telah di obati dan segera pulang ke rumah masing-masing.


Tugas Harun menjaga motor Rianti dan teman-temannya selesai. Harun kembali ke mobil, Harun melihat Zia dan Zaid tertidur di mobil.


Harun menemui Dodi yang duduk didalam mobil perusahaan.


"Kamu punya video perkelahian Zia tadi?" tanya Harun.


"Tidak." jawab Dodi.


"Sayang sekali." ucap Harun


"Kita sudah boleh pulang?" tanya Dodi.


"Jika kau ingin pulang silahkan. Kami juga akan pulang."


Dodi menatap Harun.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Harun.


"Bantu lah aku, uang di ATM ku terkuras gara-gara mengobati mereka." ucap Dodi bersedih.


"Salah sendiri kenapa tidak menghentikan atau menggantikan Zia bertarung, kau malah jadi juri. jika Zia terluka aku yakin Zaid akan menghajar mu."


"Tangan ku gatal, Jiwa tarung ku bergelora saat mereka menantang Zia. Aku lihat Zia melakukan gerakan pemanasan ilmu bela diri. dari situ aku yakin Zia pasti bisa memenangkan duel ini dan karena itu aku tidak menghentikan Zia."


"Aku tidak yakin hukuman mu hanya itu. apa kau lupa, kau tadi mengendong Zia? bersiaplah menunggu hukuman mu selanjutnya." ucap Harun menakuti Dodi.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa. tadi aku terlalu senang dan reflek menggendong Zia. Habis la karir ku." ucap Dodi sambil memegang keningnya.


"Kau pulanglah dan hati-hati, tunggu panggilan dari kami."


Dodi dengan wajah murung berangkat meninggalkan Harun. Dodi sangat menyesal dengan kejadian sore ini. Dodi takut tidak bisa bekerja menjaga Zia lagi karena kesalahannya.


Harun melihat kepergian Dodi, Harun segera ke mobil menyalakan mesin dan berangkat meninggalkan lokasi duel Zia.


Zaid terbangun.


"Nanti singgah di klinik." ucap Zaid


"Siapa yang sakit?" tanya Harun.


"Aku rasa suhu tubuh Zia Naik."


"Oh, Baiklah."


Harun melihat klinik pengobatan, Harun memarkirkan mobilnya. Zaid keluar dan mengendong Zia.


Petugas klinik tanggap melayani dan mengecek suhu tubuh Zia.


"Suhu nya 37.03." ucap perawat.


Zia dibawa masuk ke ruangan dokter. Zaid ikut mendampingi Zia. Dokter menyarankan Zia untuk istirahat kemudian minum obat yang diresepkan dokter.


Zaid membayar biaya pengobatan Zia dan kembali mengendong Zia masuk kedalam mobil.


"Kemana kita?" tanya Harun


Harun mengangguk dan langsung berangkat menuju rumah Orang tua Zaid. mereka sampai. Harun segera pulang kerumahnya membawa mobil Zaid.


Zaid segera menyiapkan air panas untuk mandi Zia. Zaid menyuruh Zia melepas semua pakaiannya. memeriksa seluruh tubuh Zia. setelah memastikan tidak ada tubuh yang tergores atau lebam Zaid mengendong Zia kekamar mandi. merendam tubuh Zia dalam bak mandi yang sudah berisi air hangat kuku. Zaid membantu Zia memakai shampo dan membilas rambut Zia sampai bersih.


Zia selesai mandi tubuhnya terasa segar dan ringan kembali. Zaid mengambil makan malam untuk Zia.


"Makan dulu, setelah itu minum obat. abang mau mandi." ucap Zaid.


Zia mengambil piring yang disodorkan Zaid dan makan, selesai makan Zia minum obat dan mengeringkan rambutnya.


Zaid selesai mandi, mereka segera sholat magrib.


Zaid mengecek suhu tubuh Zia.


"Syukurlah sudah stabil." ucap Zaid.


Zia duduk dipangkuan Zaid menyandarkan kepalanya di dada Zaid. mereka masih menggunakan pakaian sholat.


"Kenapa tidak beritahu Zia jika pulang hari ini?"


"Abang mau buat kejutan."


"Kenapa jarang membalas pesan Zia?"


"Abang sengaja, butuh waktu lama untuk menyudahi percakapan dipesan. membuat pekerjaan abang terbengkalai dan itu akan membuat abang lebih lama di sana."


"Zia sangat merindukan abang." Zia memeluk tubuh Zaid.

__ADS_1


"Abang juga, Zia masih kuat berduel?"


"Ya." Jawab Zia tersenyum yang masih memeluk tubuh Ziad.


"Kita lakukan dikamar ini?"


"Ya."


"Baiklah. mari kita mulai."


Mereka memulai pergulatan yang didasari cinta itu, mereka bergulat dengan hati-hati dan pelan, diawali rasa sakit dan berujung kenikmatan bagi keduanya.


Istirahat sebentar dan mengulang kembali pergulatan itu, banyak tanda yang diberikan Zaid ditubuh Zia. bercak darah yang mengenai seprai membuat mereka semakin memperlancar kemahiran masing-masing dan saling memuaskan.


"Zia lelah." ucap Zia setelah menyelesaikan ronde kedua


"Abang juga, perut abang terasa lapar." ucap Zaid. yang masih dalam posisi melepas lelah.


"Biar Zia ambilkan makan malam untuk abang." ucap Zia mengambil posisi untuk bangun dari berbaring nya.


Baru saja Zia akan berdiri lutut Zia terasa bergetar ************ Zia juga terasa ngilu.


"Aduh."


Zaid tanggap menahan tubuh Zia dan menuntun Zia agar duduk kembali.


"Jangan kemana-mana dulu, biar abang yang mengambil makan malamnya. berbaringlah." ucap Zaid.


Zia patuh dan kembali berbaring, Zaid segera memakai pakaian dan menutup tubuh polos Zia dengan selimut. Zaid mengecup kening Zia.


"Abang ke dapur dulu."


Zia mengangguk, Zaid pergi ke dapur mengambil makan malam untuknya, air hangat kuku untuk mereka minum dan dua gelas air putih dicampur madu yang diberi sedikit asam jeruk.


Zaid memberikan minuman madu untuk Zia minum, setelah itu mereka makan, Zaid menyuapi Zia, mereka makan hingga menghabiskan semua yang ada di piring.


"Abang tidak merasa sakit saat berjalan?" tanya Zia.


"Tidak, Karena milik abang tidak ada yang robek. lihatlah."


Zaid menunjuk tisu dan seprai yang terkena darah.


"Karena itu Zia sulit berjalan." ucap Zaid memberikan perbedaan rasa antara dirinya dan Zia.


Zia tersenyum.


"Jadi Zia masih perawan?"


"Tentu saja, kenapa bertanya seperti itu?"


"Dulu saat SMA Rianti dan gengnya menyebar isu jika Zia tidak perawan, mereka juga bilang Zia perempuan nakal yang suka berkelahi. mungkin karena itu tidak ada laki-laki yang mau mendekati Zia."


"Ha..ha.. dan akhirnya abang mendapatkan Intan yang tersimpan dengan baik ini." ucap Zaid mengecup bibir Zia.


Zia tersenyum dan merasa bahagia karena ucapan Rianti tidak benar. Zia bisa memberikan semua miliknya untuk Zaid, cinta pertamanya dan suami yang ia sayangi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2