Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Menunggu Zaid pulang


__ADS_3

Sore hari Rianti kembali meminta suaminya mengantar dirinya ke rumah Zia, malam ini Rianti ingin kembali tidur di rumah Zia.


"Jangan menginap di sana lagi, mereka bekerja dan tidak mungkin selalu melayani mu. kita punya rumah sendiri, kamu juga tidak hamil." ucap Ujang suami Rianti yang sudah tahu kebenaran Rianti tidak hamil.


"Aku bosan tidur dengan kipas angin, di rumah Zia aku tidur dengan nyaman, dingin dan kasur nya empuk."


"Sabar dan berhemat lah, kita pasti bisa membeli Ac." ucap Ujang.


"Mumpung ada yang gratis, apa salahnya aku nikmati." jawab Rianti.


"Itu bukan gratis, mereka hanya segan menolak permintaan mu."


"Bagus lah, itu akan menguntungkan ku."


"Jika alat bengkel kita dipinjam orang apa kau mau meminjamkannya?"


"Alat bengkel itu dibeli, mana bisa dipinjamkan begitu saja."


"Begitu juga dengan peralatan yang ada di rumah Zia. semua mereka beli dan kau bukan satu-satunya orang yang ingin mereka bantu. jangan menginap di sana lagi. aku tidak mau mengantar mu."


"Aku tidak peduli, mana kunci motor? aku pergi sendiri."


"Kenapa kau keras kepala sekali? aku suami mu." jawab Ujang mulai meninggikan suaranya.


"Kau tidak akan bisa membuatkan aku rumah seperti yang dimiliki Zia. berikan aku kunci motor, aku ingin pergi sendiri." jawab Rianti tidak mau mengalah.


"Baiklah, aku akan mengantar mu." jawab Ujang mengalah


Mereka hanya punya satu motor. jika Rianti membawa motor itu maka Ujang akan sulit untuk pergi ke bengkel.


Mereka segera berangkat, Rianti membawa tas yang berisi baju tidur. Rianti berencana meninggalkan pakaiannya di rumah Zia di kamar yang ia tempati.


Mereka sampai dan melihat pagar rumah Zia tertutup. Suami Rianti turun dari motor dan memeriksa pagar rumah Zia.


"Pagar rumahnya masih dikunci, mungkin mereka belum pulang." ucap Ujang.


"Sudah jam lima sore, mungkin mereka masih dijalan" jawab Rianti.


"Sebaiknya kita pulang."


"Aku yakin mereka sebentar lagi sampai, antar aku ke rumah ibu. aku akan menunggu mereka di rumah ibu."


Mereka kembali menaiki motor dan pergi ke rumah orang tua Rianti.


Paman dan Tante menyambut anak dan menantunya dengan ramah. menyuruh mereka masuk dan berbicara didalam rumah.


suami Rianti hanya mampir sebentar kemudian kembali pulang, meninggalkan Rianti di rumah orang tuanya.


Satu jam menunggu di rumah Ibu nya, Rianti pergi keluar rumah memastikan kedatangan Zia dan Zaid.


"Apa mereka tidak pulang?" ucap Rianti seorang diri.

__ADS_1


Rianti kembali masuk kedalam rumah.


"Ayo siap-siap untuk sholat magrib." ajak ayah Rianti.


Mereka sholat magrib berjamaah. Setelah selesai sholat Rianti kembali keluar rumah melihat rumah Zia. Lampu rumah Zia belum menyala.


"Dasar pelit, Pasti mereka sengaja pulang larut malam. kalian pikir aku akan menyerah? jam berapapun kalian pulang aku akan membuat kalian membuka pintu untuk ku." ucap Rianti seorang diri.


"Hei, kau masih mau menginap di rumah Zia lagi?" tanya Ibu mengagetkan Rianti.


"Ya ampun ibu.. buat aku kaget saja. Iya aku mau tidur di rumah Zia lagi. sepertinya mereka belum pulang." jawab Rianti.


"Kamu nginap di rumah ibu saja. kamu juga sudah lama tidak tidur di rumah ini."


"Gak enak buk, kamar itu panas dan buat aku gerah."


"Sejak kapan kamu ganti kulit? dari kecil sampai menikah kamu selalu dikamar itu. kondisi rumah kontrakan mu juga sama dengan rumah kami." ucap Tante kesal karena Rianti seperti kacang lupa kulitnya.


"Bukan ganti kulit buk, ada kamar kosong dan bagus, apa salahnya jika aku jadi penghuni kamar itu.


dikamar rumah Zia dingin, bersih, kasur nya empuk." ucap Rianti sambil membayangkan dirinya dikamar rumah Zia.


"Sadar Rianti, mana mungkin mereka menampung mu setiap malam. mending kamu minta belikan Ac sama suami mu. jangan sampai tetangga komplek ini membicarakan mu."


"Bantu aku mikir dong buk, biar aku bisa tinggal di rumah Zia."


"Sebaiknya kamu fokus dengan keluarga mu, jangan sampai Ujang marah dan meninggalkan mu."


"Terserah kamu, yang jelas ibu sudah mengingatkan mu. ayo masuk. ibu yakin Mereka tidak akan pulang."


Tante meraih tangan Rianti membawa Rianti ke rumah.


"Kenapa tidak berdoa dulu setelah sholat?" tanya Paman pada anak dan istrinya.


"Suami Rianti menelpon." jawab Tante berbohong.


"Oh, apa suami mu menyuruh mu pulang?" tanya Ayah Rianti.


"Tidak, Rianti sudah dikasih izin untuk tidur rumah Zia lagi." ucap Ibu Rianti.


"Apa kamu tidak malu Rianti? kamu sudah mengambil semua barang peninggalan orang tua Zia dan sekarang kamu masih ingin menumpang tidur di rumah Zia." ucap Ayahnya yang tidak habis pikir dengan sifat Rianti.


"Zia itukan adik ku, kenapa harus malu." jawab Rianti.


"Seharusnya kau jadi contoh yang baik untuk Zia. bukan jadi benalu baginya. Ayah tidak akan membiarkan mu mengganggu Zia lagi. ayah heran kenapa kamu bisa tidak memiliki rasa malu seperti ini." ucap Ayah dan meninggalkan Rianti yang masih berdiri diruang tengah bersama ibu nya.


"Kamu jangan suka membantah ucapan ayah mu, tidak baik. sekarang telpon suami mu, suruh untuk datang ke rumah ini. kita makan bersama, setelah itu kamu pulang ke rumah mu." ucap Ibu tidak mau suaminya marah karena Rianti menginap di rumah Zia lagi.


Rianti mengalah dan menelpon suaminya, meminta suaminya datang ke rumah orang tuanya.


***

__ADS_1


Zia sudah selesai mengantar barang dan menunggu Zaid pulang. Zia sudah bisa masuk kantor dan menggunakan lift khusus perusahaan Zaid.


Zia mandi dan mengganti pakaiannya, duduk dikamar sambil menonton tv.


Handphon Zia berbunyi.


"Sayang abang sudah pesankan makan malam untuk Zia, nanti satpam yang akan mengantar kekantor. Zia makan sendiri, abang dan yang lain masih di lokasi pabrik." ucap Zaid.


"Jika makan malamnya sudah Zia terima, boleh Zia pulang?"


"Jangan, tunggu abang di kantor dan tutup pintu kantor dengan baik."


"Abang masih lama?"


"Belum tahu, jika urusan disini sudah selesai abang akan segera pulang."


"Baiklah, Zia akan tetap di kantor."


Mereka mengakhiri pembicaraan ditelpon. Zia menunggu satpam datang membawakan makan malam untuknya. Zia duduk di ruang santai agar bisa mendengar satpam datang.


lima belas menit menunggu, satpam datang membawakan pesanan makanan malam untuk Zia. Zia mengambil pesanan itu dan kembali menutup pintu.


"Sunyi sekali, tidak bisa mendengar suara kendaraan. hanya bisa melihat keramaian jalan. dan cahaya lampu." ucap Zia saat melihat padatnya jalan dari jendela kantor.


Zia masuk kekamar dan menyalakan Tv menyetel volume Tv dengan nada tinggi.


"Begini lebih ramai." ucap Zia.


Jam satu dini hari Zaid pulang, melihat Zia yang sudah tidur dengan nyenyak. Zaid segera mandi untuk menyegarkan badannya.


Selesai mandi Zaid naik ketempat tidur dan memeluk Zia.


"Abang baru pulang?" tanya Zia terbangun karena tubuh Zaid yang terasa dingin.


"Iya, tidurlah. abang juga akan tidur." jawab Zaid.


"Kenapa badan abang dingin sekali?"


"Begitu sampai abang langsung mandi."


"Oh, Zia kira kehujanan."


Zaid tersenyum dan semakin erat memeluk Zia.


"Besok ikut abang ke kota X ya."


"Iya."


Zaid kembali tersenyum, Zia begitu penurut dan selalu bersedia menemani Zaid kemana pun. membuat Zaid semakin menyayangi dan mencintai istrinya yang masih sangat muda itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2