
Melani semakin gelisah karena Zaid tidak kunjung memperlihatkan dirinya di kantor. Melani ingin memulai semuanya dari awal, berteman seperti dulu lagi dan mengharap sedikit cinta yang mungkin masih tersisa untuk dirinya.
Melani mendengar dari rekan kerjanya, Zaid tidak pernah terlihat bersama perempuan dan menjaga jarak dari semua karyawan wanita di perusahaan.
Pagi ini pemotretan untuk memperkenalkan produk baru perusahaan berupa gelas pasangan. bagian produksi hanya memproduksi sebanyak sepuluh ribu dengan target pasar habis dalam waktu enam bulan.
Serly datang bersama asistennya bernama Boy. mereka menunggu juru foto perusahaan datang bersama petinggi perusahaan.
"Pemotretan hari ini dihadiri Zaid?" tanya Boy
"Entah la, susah sekali bertemu dengannya. paling asistennya yang datang."
"Jangan putus asa, kontrak kerja kita masih ada satu tahun lagi, semoga kamu bisa mendapatkan CEO dingin itu."
"Tidak pernah bertemu langsung, bagaimana bisa mendapatkannya."
"Bagaimana jika kamu mendekati asistennya lagi? usahakan agar asisten itu membawa mu ke ruang kerja Zaid. gunakan tubuhmu saat bertemu dengannya."
"Jangan mengajari ku, aku masih pintar dalam menggoda." jawab Serly tersenyum nakal.
"Lihatlah, ternyata masih Asisten yang datang ." ucap Boy
Boy melihat kedatangan Harun bersama Keke.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Serly
"Pura-pura menyesal saja, telah membuat asisten itu marah."
"hm, baiklah."
Serly berjalan mendekati Harun.
"Harun, kenapa tidak pernah menelpon ku lagi? apakah kamu masih kesal dengan kejadian malam itu?"
"Malam itu, aku ingin melamar mu. tapi ego mu telah menghancurkan semuanya. sekarang saatnya bekerja secara profesional."
"Benarkah kamu ingin melamar ku? kenapa tidak memberitahu ku? selama lima hari ini aku menunggu telpon dari mu, aku merasa malu untuk menelpon mu. sekarang aku ingin minta maaf untuk semuanya. tolong maafkan aku."
Serly memeluk tubuh Harun, menempelkan semua organ tubuhnya, membuat Harun goyah dan tidak bisa konsentrasi dengan niat awalnya.
Keke yang sudah diberi tugas untuk menyadarkannya mencubit pinggang Harun.
"Auu,. sakit,. kenapa mencubit ku Keke?"
"Bekerjalah secara profesional pak."
"Oh, iya. maaf Serly sekarang bukaan saatnya bermanja, Fotografer sudah dekat, kamu bersiaplah. produk yang akan dipasarkan sudah di atas meja."
Harun menunjuk gelas terbuat dari kaca kristal, memiliki motif hati di bagian tengahnya. cocok untuk hadiah pasangan dan koleksi di rumah.
"Wah gelasnya cantik sekali. Harun bisakah memberikannya untuk ku?"
"Tentu saja, aku akan kirimkan paketnya ke rumah mu."
"Ah, Harun kamu memang laki-laki baik, bahkan sangat baik. terimakasih."
Serly mencium pipi Harun, membuat Harun semakin tergoda dan ingin selalu berada di samping Serly.
"Harun, temani aku selama pemotretan. setelah itu aku ingin melihat kantor mu, aku ingin menebus semua kesalahan ku."
"Oh, Baiklah. dengan senang hati aku akan menunggu dan membawa mu melihat kantor ku."
"Dasar Laki-laki bodoh, percuma saja aku disuruh menyadarkan dia, kalau sudah sebodoh ini Dukun mana pun tidak akan sanggup menolongnya." batin Keke.
"Pak saya duluan." ucap Keke pamit, malas melihat kebodohan Harun.
"Baiklah. tolong rapikan kantor ku."
"Baiklah."
Keke keluar dari ruang pemotretan.
Bruk
"Aduh."
__ADS_1
Keke menabrak Melani yang lebih tinggi darinya, membuat Keke terpental dan terhenyak dilantai.
Melani tanpa ekspresi dan suara meninggalkan Keke begitu saja seolah tidak terjadi apa pun.
"Sialan, Bos dan Asisten dikelilingi wanita jahat dan sombong, menyebalkan. semoga saja Zia bisa bertahan dengan Bos." ucap Keke dengan suara pelan.
Keke segera bangkit dan mengusap pantatnya, Keke segera kelantai 26, merapikan ruang kerja Harun, sekaligus rumah kedua bagi harun. ruang Harun tidak sebesar ruangan Zaid, hanya ada meja kerja dan kamar tidur yang dilengkapi dengan kamar mandi.
Keke nekat masuk melihat kamar tidur Harun, merapikan tempat tidur yang sedikit berantakan dan menutup lemari kecil yang dibiarkan terbuka oleh Harun.
"Wah, ruangan asisten ada kamar tidurnya. pantas saja saya tidak tahu kapan Pak Harun pulang dan datang kekantor. ternyata dia memiliki kamar ditempat kerjanya.
ruang kerja asisten saja begini, apalagi ruang kerja BOS. tapi perasaan ruang kerja Bos tidak ada kamarnya, hanya ada ruang santai. enak sekali jadi asisten bisa tidur siang di kantor." ucap Keke seorang diri.
Setelah merapikan kamar dan ruang kerja Harun, Keke segera kembali keruang kerjanya. yang terletak di antara dua ruangan Bos dan asistennya, hanya ada meja kerja dan telpon kantor dimeja Keke, jika ingin ke kamar mandi Keke harus berjalan di ke kiri disebelah pintu lift.
Telpon kantor dimeja Keke berbunyi.
"Halo selamat pagi, dengan saya sekretaris.."
"Ruangan saya sudah rapi?" tanya Harun.
"Sudah."
Harun mematikan telponnya.
"Ternyata si bodoh, aku jadi penasaran apa yang mereka lakukan nantinya." ucap Keke seorang diri.
pemotretan sudah selesai, Harun merangkul Serly mengajak Serly mengunjungi ruang kerjanya. ini pertama kali Serly mendatangi ruang kerja Harun, Selama ini Harun tidak berani membawa Serly kelantai atas karena dilarang Zaid.
Hari ini Zaid tidak berada di kantor dan dalam masa cuti, Serly juga sudah meminta maaf dan ingin memperbaiki kesalahan nya. Harun yang masih mencintai Serly tentu saja masih memberinya peluang, bahkan mengabulkan permintaan Serly untuk mengunjungi ruang kerjanya.
Bagi Serly Harun bukan tipe dan targetnya, sewaktu menandatangani kontrak model perusahaan dua tahun lalu, Serly tanpa sengaja ber pas-pasan dengan Zaid dan Harun. Serly melihat Zaid yang begitu tampan dan juga tinggi, sangat sesuai dengan tipenya. Serly terus memandangi Zaid yang sudah berlalu dari hadapannya.
Bagian pemasaran menyebutkan jika yang tinggi itu adalah CEO perusahaan dan yang disampingnya adalah asistennya. sewaktu pemotretan berlangsung hanya Harun yang terus di utus untuk melihat pekerjaan pemotretan.
"Kamu bekerja dilantai paling tinggi?" ucap Serly saat keduanya berada didalam lift.
"Iya."
"Ada siapa saja dilantai 26?"
"Kalian satu ruangan kerja?"
"Tidak, tempat kerja kami terpisah."
pintu lift terbuka.
Serly melihat Keke yang duduk di kursi kerjanya.
"Pengamanan dilantai ini tidak ketat, aku pasti bisa bertemu si ganteng." batin Serly.
Harun memeluk pinggang Serly, membawanya ke ruangan kerja melewati Keke begitu saja tanpa mengucapkan sesuatu.
"Kamu mau minum apa?" tanya Harun.
"Aku tidak Haus, Aku ingin ini." jawab Serly sambil menyentuh bibir Harun dengan jarinya.
"Jangan, aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? kita sudah lama kenal, bukankah kau ingin melamar ku?"
"Iya, tapi aku ingin melakukannya setelah kita menikah."
"Aku tidak ingin terikat pernikahan. aku masih ingin berkerja dan meniti karir. aku masih muda."
"Bukankah usia mu sudah 25 tahun?"
"Iya, tapi aku belum mau untuk menikah."
Harun kecewa dengan pernyataan Serly, usia Harun sudah 28 tahun, Harun ingin memiliki keluarga baru dan menjadi penanggung jawab dari seorang gadis yang dinikahinya.
"Aku sudah membawa mu melihat ruang kerja ku, sekarang saatnya aku mengantar mu turun."
"Tapi aku masih ingin disini."
__ADS_1
"Maaf, aku memiliki pekerjaan yang mendesak."
Harun meraih tangan Serly membawa Serly keluar dari ruangannya, memencet Lift dan memasukkan Serly kedalam lift.
Serly kesal dengan perbuatan Harun, yang tega mengusir dirinya.
"Saya kira bapak akan lama bersamanya." ucap Keke.
"Berapa umur mu?" tanya Harun
"22 tahun."
"Kamu siap menikah jika ada pria yang mencintai mu?"
"Tentu saja."
"Sudah pernah ciuman?"
"Belum, masih bersegel. kenapa bapak bertanya?"
"Kamu mau memberikan ciuman pertama mu untuk siapa?"
"Orang yang saya suka."
Harun masuk keruangan nya meninggalkan Keke, jawaban Keke membuat Harun teringat ucapan Zaid, yang melarangnya mendekati Serly.
"Aku penasaran seperti apa wajah calon istri Zaid, apakah kami seumuran? Serly yang sudah berumur 25 tahun masih belum ingin menikah. Keke usia 22 tahun siap untuk menikah. berapa usia calon Zaid, kenapa hanya berkenalan seminggu mereka bisa memutuskan untuk menikah?"
Harun duduk di kursi kerjanya, menelpon Zaid menggunakan video call.
"Halo Bos."
"ya, ada apa?"
"Berapa usia calon istri mu?"
"20 tahun."
"Apa! kau sengaja mencari anak kecil untuk dijadikan istri? pantas saja kau mudah merayunya dan mengajaknya menikah."
"Jangan asal tuduh, kami saling mencintai. kenapa menanyakan umur calon ku?"
"Serly tidak mau diajak menikah, dia masih ingin berkarir."
"Kenapa masih Serly? dekati Keke saja. dia cantik dan pintar."
"Aku belum bisa melupakan Serly, Serly lebih menggoda."
"Keke juga, coba perhatikan dia dengan baik."
"Sepertinya kau sudah melihat Keke dengan baik."
"Tentu saja, setiap hari bertemu dan hanya dia yang selalu kita lihat."
"Kau menyukai Keke?" tanya Harun.
"Jika aku menyukainya untuk apa aku menikahi Zia, Zia lebih menggemaskan dan membuatku selalu merindukannya."
"Sialan, aku semakin penasaran dengan wajah Zia mu. boleh aku menghadiri pernikahan mu?"
"Tentu saja, datanglah."
"Baiklah, aku akan datang, jemput aku di bandara."
"Ali yang akan menjemput mu, Kapan kesini?"
"Hari sabtu saja, nanti aku kabari jika sudah berangkat."
"Baik."
Mereka mengakhiri pembicaraan dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
...----------------...
jangan lupa klik tanda 👍🏼 setiap episode
__ADS_1
dan tanda ♥️ sekali. ingat hanya sekali
🙏🏻🙏🏻