Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Cemburu


__ADS_3

"Besok supir perusahaan akan mengantar barang ke toko ini?" tanya Zia setelah pertemuan mereka dengan pemilik toko dan keluar dari toko menuju parkiran.


"Ya." jawab Zaid.


"Wah, berarti Zia akan sampai ke kota ini mengantar barang." ucap Zia senang karena bisa mengantar barang keluar kota.


"Zia tidak akan diberi rute ke kota ini. Zaid sengaja mengajak Ali kesini karena Ali yang akan ditugaskan mengantar barang kesini." jawab Harun.


"Semua mobil perusahaan sudah dipakai dan memiliki pengemudi tetap, mana mungkin Ali bisa mengantar barang." jawab Zia berdebat.


"Zia tidak tahu?" tanya Harun


"Apa?"


"Sebaiknya kalian pulang, kami akan melanjutkan perjalanan." ucap Zaid memotong pembicaraan Zia dan Harun dan melanjutkan langkahnya menuju mobil yang tidak jauh dari tempat mereka bicara.


Zia menahan Harun, memegang lengan baju Harun.


"Tunggu sebentar, bang Harun mau ngomong apa? apa yang Zia tidak tahu?" tanya Zia masih penasaran dengan ucapan Harun.


"Perjalanan kita masih jauh Zia, ayok." ucap Zaid yang berada tidak jauh dibelakang Zia.


Zia masih melihat Harun dan menahannya.


"Zia tanya Zaid saja, sepertinya dia melarang abang mengatakannya." ucap Harun.


Zaid tersenyum mendengar ucapan Harun dan melanjutkan langkahnya memasuki mobil.


"Kenapa bang Harun tidak ikut kami?" tanya Zia masih menahan Harun.


"Jangan bertanya lagi, pergilah. Zaid sudah masuk ke mobil. nikmati liburan kalian." ucap Harun sambil membalikkan badannya menuju mobilnya membuat pegangan Zia terlepas.


"Liburan? Zia besok harus kerja." ucap Zia seorang diri.


Zia segera menyusul Zaid yang sudah duduk di mobil mereka.


"Abang, kita mau liburan kemana?" tanya Zia sambil menutup pintu mobil.


"Ketempat yang belum pernah Zia datangi."


"Besok Zia bekerja. jika Zia tidak isi absensi, gaji Zia akan dipotong."


"Mulai besok Zia tidak mengantar barang lagi, tugas Zia mengantar abang." ucap Zaid tersenyum melihat Zia.


Zia menatap Zaid menganalisa ucapan Zaid.


"Maksudnya?"


Zaid mendekatkan diri dan mencium bibir Zia yang dari tadi sangat menggodanya.


"Abang cemburu, melihat istri abang selalu bersama Dodi saat bekerja. abang ingin ditemani juga saat bekerja. Posisi Zia diganti Ali dan itu dimulai besok pagi." ucap Zaid yang berbicara dengan jarak yang sangat dekat dengan Zia.


Zia tersenyum, Zia tidak menyangka Zaid akan cemburu dengan kedekatannya bersama Dodi.


Dodi sering membantu Zia membawa mobil bermuatan, mengantarnya sampai ke toko langganan. jika lelah Zia bisa tidur dan mempercayakan Dodi membawa mobil sampai kembali ke perusahaan tanpa takut diganggu Dodi saat dirinya tidur.


Mereka seperti teman sebaya. sering bergurau dan tertawa bersama tanpa melampaui batas. hal itu yang membuat Zaid cemburu dan bertekad memisahkan Zia dan Dodi.


"Trus, Dodi kerja apa?" tanya Zia

__ADS_1


"Dodi bekerja di gudang C, bagian keamanan. ada pertanyaan lagi?"


"Tidak." ucap Zia membalas mengecup bibir Zaid sebentar.


"Baiklah Zia akan mengantar CEO sinar Abadi kemana pun dan tidak akan membuatnya cemburu lagi." ucap Zia


"Terimakasih." ucap Zaid tersenyum, Zaid bersyukur Zia mau menerima keputusannya.


Mereka segera berangkat menuju provinsi X, enam jam perjalanan yang akan mereka tempuh. selama diperjalanan Zia tidak tidur dan terus menemani suaminya menyetir.


Jalan yang mereka lalui jarang mereka tempuh membuat Zaid tidak bisa laju dalam membawa kendaraannya.


"Masih jauh?" tanya Zia


"Sebentar lagi kita sampai di penginapan." ucap Zaid


"Kita tidak menginap di hotel?" tanya Zia yang melihat bangunan disepanjang jalan tidak ada yang lebih dari dua tingkat.


"Tidak, Abang sengaja cari tempat yang sunyi."


Mobil yang dibawa Zaid berbelok ke jalan yang agak sempit. Zia terus memperhatikan jalan yang mereka lalui. terlihat rumah penduduk yang sedikit padat, kemudian sepi karena mobil mereka melewati persawahan yang luas. akhirnya mereka sampai diarea perbukitan, yang diterangi dengan cahaya lampu dan rumah-rumah panggung kecil. hampir setiap rumah terparkir mobil.


"Kita menginap di rumah panggung ini?" tanya Zia saat Zaid memarkirkan mobilnya disebelah rumah panggung.


"Iya, ayo turun." ajak Zaid.


Seorang penjaga lokasi mendatangi mereka.


"Sudah boking tempat ini pak?" tanya penjaga itu.


"Sudah, atas nama Zaid dan istri." ucap Zaid


Zaid membuka tas dokumen yang ia bawa, memperlihatkan kartu nikah dan KTP mereka berdua. Setelah memastikan dokumen, petugas itu memberikan kunci rumah kepada Zaid.


"Selamat menikmati liburan di desa kami pak." ucap petugas itu.


"Ya, terimakasih." jawab Zaid.


"Ternyata ada pemeriksaan dokumen juga, berarti tempat ini tidak bisa asal disewa." ucap Zia.


"Tentu saja, mereka tidak ingin tempat ini disalahgunakan." ucap Zaid.


"Abang pernah kesini?"


"Ya,"


"Dengan siapa?"


"Dengan Harun, Abi, Ibu dan adik." jawab Zaid tersenyum dan membuka kunci pintu rumah inap mereka.


Rumah panggung yang kokoh dan juga terawat, memiliki satu ruang kamar tidur yang hanya diberi tirai pembatas dari ruang utama. kamar mandi menyentuh tanah dan dibuat permanen dengan menuruni dua tangga dari ruang kamar tidur.


Dikamar tidur terdapat kasur empuk dan satu lemari untuk penyimpanan pakaian.


"Apa semua rumah ukurannya sama?" tanya Zia


"Tidak, ini blok khusus dua orang, untuk keluarga besar lain lagi."


"Masih jam sepuluh, kita mandi yok." ajak Zia.

__ADS_1


"Baiklah." Zaid mengunci pintu dan menutup tirai kamar. mereka melepas baju dikamar dan segera turun kekamar mandi.


"Airnya dingin." ucap Zia yang lebih dulu memasukkan tangannya ke bak penampungan air.


Zaid mengeluarkan sedikit air di bak dan mengisi kembali dengan air panas yang udah disediakan penginapan.


"Oh, kran yang satu ini berisi air panas?" tanya Zia


"Iya."


Setelah bak terisi penuh Zaid mencelupkan jarinya merasakan suhu air yang sudah bisa untuk dimandikan.


Mereka segera mandi untuk menghilangkan lelah berkendaraan.


selesai mandi dan sholat, Zaid berbaring di kasur, Zia mengeluarkan pakaian mereka dari koper menyusunnya di lemari.


"Ini punya siapa?" tanya Zia yang tidak pernah merasa memiliki pakaian seperti itu.


"Abang yang belikan, abang ingin Zia memakainya."


"Tapi ini tipis dan pendek sekali, lihat talinya kecil dan membentuk belahan dada. abang sengaja membawa ini saat liburan?"


"Tentu saja, suasana disini sangat mendukung dan abang tidak mau melewatkan kesempatan ini." ucap Zaid tersenyum.


Zia ikut tersenyum.


"Oke, Zia akan memakai baju ini. abang tutup mata dulu dan jangan melihat sebelum Zia minta."


"Oke." ucap Zaid tersenyum dan langsung menutup matanya.


Zia mulai membuka baju.


Tok, tok, tok.


terdengar pintu penginapan mereka diketok.


Zia kembali memakai bajunya, Zaid membuka mata dan melihat Zia masih belum memakai lingerie yang ia beli.


"Tetap dikamar dan jangan menyusul abang." ucap Zaid bangun dari rebahan nya dan segera ke depan untuk membuka pintu.


Zaid membuka pintu dan melihat dua orang petugas mengantar menu makan malam mereka, gelas minum dan teko berisi air hangat.


"Silahkan dinikmati dan jika mau memesan sesuatu silahkan hubungi nomor ini." ucap petugas pengantar malam itu sambil menyerahkan semua yang mereka bawa.


"Terimakasih." jawab Zaid dan mengambil yang diberikan petugas itu.


"Nomor untuk layanan kebersihan juga berada dikartu itu, silahkan hubungi jika memerlukan layanan kebersihan." ucap salah satu petugas itu.


"Terimakasih. besok akan saya hubungi." jawab Zaid.


Setelah kedua petugas itu pergi, Zaid mengunci pintu dan kembali kekamar.


Zaid tertegun dan mematung melihat Zia yang sudah memakai lingerie, berdiri dengan gerakan menggoda dan tersenyum menatap Zaid saat ini.


Zaid tertawa dan langsung memeluk tubuh Zia.


Suasana baru dan penampilan Zia yang menggoda membuat Zaid tidak menyia-nyiakan kesempatan malam ini.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2