
"Abang, bangun. temani Zia masak."
Zia bangun dari tidur siangnya melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.10
"Tidak usah masak, kita makan diluar saja."
"Gak boleh sering makan diluar, uang kita akan cepat habis."
"Bahan masak di rumah ini gak ada sayang."
"Ooh,.. abang belum sholat, udah tidur nya."
"Iya, tolong siapkan baju abang. abang mandi dulu nanti setelah sholat kita pergi keluar jalan-jalan sore."
"Zia gak mau jalan-jalan sore, Zia mau lihat rumah."
"Oke, nanti kita ke rumah Zia. siapkan pakaian abang ya."
"Mau pakai apa? atau terserah Zia?"
"Iya, terserah istri abang mau siapkan pakaian apa. nanti Zia juga mandi ya."
"Ya."
Zaid segera turun dari kasurnya, pergi ke kamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu. selesai mandi Zaid melihat pakaian yang disiapkan Zia di atas tempat tidur. Zaid tersenyum karena Zia tidak menyiapkan pakaian dalamnya.
"Sayang, kenapa cuma ada baju dan celana. dalaman abang mana?"
Zia tersenyum.
"Maaf Zia lupa." ucap Zia yang sedang memilih pakaian untuk ia pakai sore ini.
Zia kembali membuka lemari mengambil pakaian dalam untuk suaminya. setelah mengambil dalaman Zaid, Zia segera masuk kekamar mandi dengan membawa pakaian gantinya.
Zia keluar dari kamar mandi dengan memakai rok dan baju koas. Zia memakai bedak dan lipstik tipis memasang jilbab dan mengambil tas kecil yang ia miliki satu-satunya untuk menyimpan dompet dan Hp yang ia miliki.
Zia melihat sekeliling kamar mencari keberadaan Zaid, Zaid tidak berada dikamar. Zia keluar mencari Zaid diruang tamu.
"Bang Zaid mana ya, jangan-jangan Zia ditinggal lagi."
Zia berlari keluar, melihat mobil Zaid masih terparkir. pintu pagar juga tertutup.
"Abang?" ucap Zia dengan suara lantang.
"Kemana sih, selalu ninggalin Zia sendirian di rumah. tau kek gini mending Zia tinggal di rumah Zia sendiri."
Zia duduk di kursi santai depan rumah menunggu Zaid datang.
"Ternyata disini, udah gak sabar mau berangkat?" tanya Zaid.
"Abang kemana sih, selalu menghilang. Zia cari dikamar dan ruang tamu abang gak ada." ucap Zia dengan wajah cemberut.
"Ya ampun sayang, kenapa cemberut sih. gak ingat tadi jemur kain? abang tadi kebelakang angkat kain yang di jemuran."
"Oh iya Zia lupa ada jemuran. Zia kira abang pergi keluar."
"Abang gak mungkin ninggalin istri abang di rumah sebesar ini sendirian. maaf ya, tadi abang gak bilang kalau angkat jemuran."
"Zia juga minta maaf, udah berpikiran buruk maaf juga karena Zia lupa angkat jemuran."
Zaid meraih tangan Zia, membawa Zia dalam pelukannya.
"Pekerjaan rumah kita kerjakan bersama, abang gak mau Zia kecapean."
"Zia udah biasa mengerjakan pekerjaan rumah, Zia gak akan capek, abang jangan khawatir."
"Abang sudah niat untuk membantu pekerjaan rumah. kita makan dulu atau langsung ke rumah?"
"Zia mau makan sate dulu sebelum ke rumah, sete sebelum perumahan Zia enak."
"Baiklah, ayo kita ke sana."
Zaid melepaskan pelukannya, menahan wajah Zia dan mencium pipi Zia. Mereka tersenyum, Zaid meraih tangan Zia membawa Zia menuju mobil.
Jarak yang cukup jauh antara rumah orang tua Zaid dan rumah kedua orang tua Zia. mereka singgah di Mesjid karena sudah azan maghrib.
"Tunggu abang di mobil." ucap Zaid melihat Zia.
"Ya." ucap Zia membalas tatapan suaminya.
Zaid turun dari mobil dan segera mengambil wudhu ikut sholat berjamaah di mesjid itu. Zia merasa rindu untuk sholat. semenjak bertemu Zaid, Zia tidak pernah lagi meninggalkan sholatnya, Zia selalu ingat ucapan Zaid yang pernah menasehatinya untuk tidak meninggalkan sholat.
"Semoga kami selamanya menjadi keluarga bahagia, jauh dari marabahaya dan saling mencintai sampai maut memisahkan. Aamiin." ucap Zia berdoa di dalam mobil.
Zaid selesai sholat dan masuk ke dalam mobil.
"Abang." ucap Zia sambil menjulurkan tangannya.
Zaid menoleh dan melihat tangan Zia, Zaid membalas uluran tangan Zia. Zia meraih tangan Zaid dan menciumnya. Zaid tersenyum dan membalas dengan mencium pipi Zia.
__ADS_1
"Masih tetap ingin makan sate?" tanya Zaid
"Iya, itu sate langganan Zia bersama kedua orang tua Zia. dulu jika Ayah atau Ibu gajian kami akan makan sate. satenya lumayan mahal satu porsinya 15.000."
Zaid sedikit terkejut dengan ucapan Zia yang menyebut harga 15.000 kategori mahal.
"Jadi Zia makan sate hanya saat Ayah atau Ibu gajian?"
"Ya, tanggal gajian Ayah dan Ibu beda, jadi dalam sebulan bisa dua kali makan sate. ayo bang buruan berangkat, Zia makin lapar."
Zaid tersenyum melihat wajah bahagia Zia yang menggemaskan.
Mereka segera berangkat menuju tempat sate yang Zia maksud. tempat sate yang dimaksud Zia ramai pengunjung. parkiran hampir penuh oleh roda empat dan roda dua.
Zia turun dari mobil dan meninggalkan Zaid yang belum keluar dari mobil. Zaid sedikit kaget melihat tingkah Zia yang tega meninggalkannya.
"Buk sate dua porsi." ucap Zia tersenyum melihat penjual sate.
"Beres Zia. sudah lama tidak kemari. Ibuk kira kamu sudah pindah."
"Zia cari duit dulu biar bisa makan sate buk."
"Oh jadi sekarang duitnya sudah banyak?"
"Belum banyak, tapi bisa untuk makan sate lebih sering." jawab Zia tersenyum.
Zaid datang dan melihat Zia berbicara dengan penjual sate. Zaid menghampiri mereka.
"Ayo bang, kita tinggal cari tempat duduk." ucap Zia sambil menarik tangan Zaid.
mereka duduk dipojokan, dengan meja panjang.
Zia duduk duluan disusul Zaid, masih terdapat kursi kosong di samping Zaid. didepan mereka juga terdapat kursi kosong.
"Yang kita makan di rumah aja." ucap Zaid
"Kenapa?"
"Gak enak kalau ada yang datang duduk didepan atau di samping abang."
Zia berdiri dan mengumpulkan kursi kosong yang ada didepan dan di samping Zaid. meletakkan kursi yang ia susun kebelakang.
Penjual sate datang membawa pesanan Zia.
"Takut pacarnya diganggu?" ucap Ibu penjual sambil tersenyum melihat Zia yang sudah duduk di samping Zaid.
"Ini suami Zia buk."
"Nikahnya dikampung Pak Ngah, belum seminggu. dapat dijalan." jawab Zia sambil tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja. masa ganteng begini dapat dijalan. kalau dia ngerti ucapan mu dia pasti marah." ucap penjual sate.
"Saya mengerti apa yang ibu dan Zia bicarakan." jawab Zaid yang merasa malu dengan jawaban Zia yang mengakui jika dirinya didapatkan dijalan.
Zia dan Ibu penjual itu tertawa mendengar jawaban Ziad.
"Silahkan dimakan, semoga kamu suka dan menjadi pelanggan kami." ucap penjual itu.
Zaid tersenyum dan menatap Zia dengan tatapan yang susah diartikan.
"Ayo bang segera dimakan. dijamin abang akan ketagihan." ucap Zia tidak mempedulikan yang lain lagi.
Mereka makan tanpa bersuara dan menghabiskan porsi sate masing-masing. Zia berdiri dan berjalan bermaksud membayar sate yang mereka makan. Zaid menahan tangan Zia menyuruh Zia untuk duduk kembali. setelah minum dan membersihkan mulutnya Zaid meraih tangan Zia mengajak Zia keluar dari tempat itu.
Zaid membayar makan sate mereka.
"Kenapa tidak menunggu abang saat keluar mobil? dan tadi juga mau meninggalkan abang yang belum sempat minum." ucap Zaid saat mereka sudah duduk didalam mobil.
"Zia tadi mau cepat pesan satenya, trus mau bayarkan sate kita."
"Besok tunggu abang, kita jalan beriringan dan jangan pernah membayar makanan saat pergi bersama abang."
"Zia mau traktir, masa abang terus yang bayar."
"Zia, Kita bukan teman. kita suami istri. semua kebutuhan Zia abang yang tanggung. uang Zia pakai buat yang lain saja, saat Zia tidak bersama abang."
"Iya." ucap Zia tidak mau membantah lagi.
"Abang masih lapar, temani abang makan." ucap Zaid tanpa mendengarkan jawaban Zia langsung melajukan mobilnya mencari rumah makan yang bisa memadati perutnya.
Zia melihat Zaid membuka pintu mobil baru Zia membuka pintu dan keluar berjalan menemui Zaid. Zaid mengandeng tangan Zia berjalan beriringan ke rumah makan.
"Mau makan apa?" tanya pelayan rumah makan saat keduanya sudah duduk.
"Zia udah kenyang." jawab Zia saat Zaid melihatnya.
"Makan satu porsi saja, lauknya rendang daging, gulai udang dan kerupuk kulit yang tidak diberi kuah."
"Baik tunggu sebentar." ucap pelayan itu
__ADS_1
"Abang, Zia mau gulai udang nya."
Zaid tersenyum mendengar ucapan Zia.
"Nanti Zia saja yang makan udang nya." ucap Zaid memegang kepala Zia sebentar.
Pesanan Zaid datang, udang yang disajikan lumayan besar berupa udang sungai yang terlihat masih segar.
"Bisa tambahkan udang nya lagi?" tanya Zia saat pelayanan menata hidangan.
"Baiklah, kebetulan udang nya tinggal satu ekor lagi." ucap pelayan itu kemudian pergi mengambilkan pesanan tambahan Zia.
"Kenapa abang bisa tahu disini ada udang?"
"Harun yang memperkenalkan rumah makan ini, udang nya juga tidak ada setiap hari. tadi abang hanya asal pesan."
"Oh, udang sungai sebesar ini sangat mahal. per-ons nya dihargai 15.000. Ibu sangat jarang membeli udang sungai karena mahal, kadang hanya dua ekor uangnya sudah hampir 50.000."
"Besok kita beli udang sungai biar Zia bisa makan dengan puas." ucap Zaid yang belum memulai makannya.
"Benarkah, wah seru sekali. Zia tahu dimana tempat membeli udang sungai ini. besok kita ke pasar ya bang."
"Baiklah."
Udang pesanan Zia datang, mereka sama-sama makan. Zia sesekali menyuapi Zaid dengan daging udang yang sudah ia dipotong.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Zia. lampu rumah Zia tidak dinyalakan. Zia meminta Zaid menghentikan mobil didepan rumahnya.
"Kunci rumah Zia sama paman, Zia ke rumah paman dulu." ucap Zia pamit.
"Baiklah, jangan lama." ucap Zaid.
Zia berjalan sendirian ke rumah paman, tetangga sebelah rumah Zia keluar dan menghampiri Zaid.
"Apa Zia yang datang?" tanya tetangga itu.
"Iya, Zia sedang menjemput kunci ke rumah paman nya." jawab Zaid
"Kami dengar dari tante Zia, kalau Zia pindah rumah dan ingin menjual rumah ini. semua barang Zia juga sudah dibawa." ucap tetangga itu
"Apa? kemana barang itu dibawa?" tanya Zaid kaget.
"Kami tidak tahu. saya rasa rumah Zia tidak kunci. coba saja kamu masuk." ucap tetangga itu.
Zaid mengeluarkan Hp nya, dan menghidupkan senternya. Zaid berjalan mendekati pintu rumah, terlihat pintu rumah dalam keadaan renggang.
"Kapan mereka memindahkan barang?" tanya Zaid sambil melihat tetangga itu yang berdiri ditempatnya.
"Dua hari lalu." jawab tetangga itu.
Zaid menunggu Zia datang dan memutuskan tidak masuk ke rumah Zia.
"Saya permisi dulu." ucap ibu itu pamit pulang kerumahnya.
"Ya." jawab Zaid yang masih berdiri didepan pintu menunggu Zia. Zaid melihat lampu teras yang sudah tidak terpasang.
Zia datang dan menghampiri Zaid.
"Paman tidak di rumah, kata tetangganya paman sudah dua hari pergi. mereka tidak tahu kemana paman pergi."
"Bukankah anaknya akan menikah?" tanya Zaid.
"Iya, Zia sudah pernah telpon sehari sebelum acara pernikahan kita tapi nomor paman tidak aktif. tadi saat nunggu abang sholat magrib nomor paman juga tidak aktif."
"Lihatlah." ucap Zaid mengarahkan senter Hp nya ke pintu rumah Zia yang terlihat renggang.
Zia mendorong pintu itu, terlihat rumah Zia sudah kosong tanpa ada yang tertinggal. Zia mengambil Hp nya dan menghidupkan senter. berlari ke kamar nya yang terlihat kosong. Zia melihat kamar orang tuanya yang juga kosong dapur Zia juga kosong seolah rumah itu belum pernah ditempati.
Zia tertegun dan merasa pusing. semua barang pembelian ibunya bahkan pakaian mereka juga tidak ditemukan.
"Abang."
Zia jatuh pingsan dan Hp Zia jatuh kelantai berceceran.
Zaid yang dari tadi mengikuti Zia tanggap menangkap tubuh Zia. Zaid membawa Zia ke mobil dan mengambil Hp Zia yang sudah tidak bisa digunakan lagi.
Zaid membawa Zia ke klinik terdekat. petugas klinik dengan tanggap membantu Zia agar capat sadar. Zaid menceritakan permasalahan yang di alami Zia.
"Dia shock dan semoga tidak mempengaruhi kejiwaannya." ucap dokter itu.
"Hibur dia, kalau bisa temukan keluarganya semoga ini bisa menjadi solusi untuk masalahnya." ucap dokter itu
"Baiklah, terimakasih atas saran dari dokter." ucap Zaid.
Zia sudah bangun dari pingsannya tapi Zia tidak mau bicara.
Zaid mengangkat tubuh Zia, membawa Zia pulang ke kantor nya. dalam hati Zaid bertekad mencari keberadaan paman, istri dan anaknya. agar masalah Zia cepat selesai.
...----------------...
__ADS_1
ingat klik gambar jempolnya ya,.. ππΌππΌ
biar author nya tetap semangat,. ππ»ππ»