
Empat hari berlalu setelah acara lamaran, selama empat hari itu pula Mak cik dan suaminya bolak balik ke rumah pak Ngah mempersiapkan acara pernikahan Zia dan memanggil kaum kerabat serta kenalan mereka yang tinggal satu desa.
Selama empat hari itu Zaid banyak berada di dapur, menyibukkan diri membuat berbagai macam olahan menu makan dan sarapan. Ali dan Harun setiap hari mengunjungi pasar. sering bepergian membuat mereka hampir mengetahui seluruh desa yang satu kecamatan dengan desa tempat tinggal mereka. mereka mengunjungi pasar yang berbeda setiap harinya. Zaid selalu menyuruh mereka untuk membeli bahan masak yang berbeda setiap harinya. mereka dengan patuh mengikuti perintah Zaid. masakan Zaid semakin hari semakin sempurna dari segi rasa dan warna masakannya.
Malam ini mereka membuat ikan bakar nila. mereka membakarnya menggunakan bara api dari tempurung kelapa. sore tadi ikan sudah dibersihkan dan dilumuri bumbu, setelah sholat maghrib mereka tinggal membakar ikan. sambil menunggu ikan matang Zaid menyiapkan sambalnya, mengiris cabe rawit beserta bawang yang dicampur dengan saus, kecap dan sedikit asam jeruk. kemudian cabe merah yang sudah di giling halus diberi bumbu lainnya.
Mak cik dan suami dari tadi sore sudah berada di rumah. Kehadiran Zaid dan kedua temannya membuat Mak cik merindukan kedua anaknya yang berada propinsi lain. Melihat kebiasaan Zaid dan dua temannya, Mak cik yakin anaknya juga menjadi orang yang mandiri seperti Zaid dan teman-temannya.
"Mak cik, ayo makan. ikan bakar nya sudah siap. kita makan di teras." ucap Ali memanggil mak cik yang berada dikamar bersama suaminya.
"Ya." jawab mak cik
Mereka keluar dari kamar dan segera ke teras samping rumah. Semua persiapan makan sudah disediakan. ikan bakar juga sudah ditata di atas piring.
"Wah besar-besar sekali ikannya." ucap mak cik
"Sengaja mak cik, kalau kecil takut gak cukup apa lagi yang masak pak Zaid, masakannya selalu menggugah selera." jawab Ali.
"Ini sekaligus pesta lajangnya Zaid mak cik, besok statusnya akan berubah dari lajang menjadi suami." jawab Harun.
"Besok juga hari perpisahan kita. rumah mak cik akan sepi lagi, tidak bisa lagi mencicipi masakan Zaid dan Ali. mak cik pasti merindukan kalian. kenapa setelah menikah kalian langsung pergi?"
"Karena masa cuti kerja saya hampir habis, perjalanan dari desa ini ke kota kami juga jauh. insyallah kami akan menjenguk mak cik dan keluarga disini lain waktu." ucap Zaid.
"Kalian pemuda yang baik, selalu akur dan setia kawan.tidak pernah merepotkan mak cik, mak cik mohon maaf tidak bisa memberikan pelayanan yang baik selama kalian di rumah ini. semoga kalian tidak kapok untuk datang ke rumah ini. mak cik doakan semoga kalian terus bersama dan datang ke rumah ini nantinya dengan pasangan masing-masing." ucap Mak cik
"Aamiin." ucap Harun
"Insyallah mak cik." jawab Zaid dan Ali.
"Sering-sering menelpon kami Zaid, bagaimana pun Zia hanya punya kamu dan paman di kota itu. semoga Zia bisa menjadi istri soleha dan menyemangati mu dalam bekerja. jangan malas untuk menasehati Zia, dia masih labil, pemikirannya belum dewasa seperti kamu. jaga dia baik-baik." ucap Mak cik.
"Iya, mak cik. insyaallah saya akan jaga Zia dan menjadi suami yang baik untuk Zia."
"Kita doakan juga semoga acara ijab qobul besok pagi berjalan lancar." ucap Suami mak cik.
"Iya, itu yang penting." jawab mak cik.
__ADS_1
"Ayo kita makan, mumpung ikannya masih panas." ucap suami mak cik yang tidak mau melihat istrinya semakin larut dalam kesedihan.
Mereka segera makan, mereka menikmati ikan bakar dengan hembusan angin malam yang dingin. Meraka makan dengan lahap dan menghabiskan semua ikan bakar yang sudah terhidang.
Selesai makan, Ali dan Harun mencuci piring. Mak cik, Suami dan Zaid membersihkan tempat makan mereka.
Setelah melakukan pekerjaan itu, mereka masuk kekamar masing-masing untuk
mengemas barang. besok setelah acara ijab qobul dan makan bersama mereka akan segera berangkat meninggalkan desa yang menjadi saksi pernikahan Zia dan Zaid.
Sementara itu di rumah Pak Ngah, mereka membuat acara bakar ayam. Selama di rumah pak Ngah Zia tidak di izinkan untuk masak oleh Bundo, Bundo selalu menyiapkan makan untuk keluarganya.
Malam ini mereka hanya menikmati ayam bakar tanpa makan nasi, Zia sangat senang karena Bundo sangat pandai membuat bumbu ayam bakar, mereka makan dengan lahap dalam ruang dapur Pak ngah.
"Barangnya Zia sudah di kemas?" tanya Bundo.
"Belum, besok saja setelah acara."
"Besok setelah sholat subuh jangan tidur lagi." ucap Pak ngah mengingatkan Zia.
"Iya, pak Ngah."
"Ingat untuk selalu ikut ucapan suami, jangan membantah jika itu ajakan yang baik. jangan tinggalkan sholat. sering hubungi kami." ucap Bundo.
"Iya, Bundo kapan semua bahan ini dimasak?" tanya Zia melihat dapur Bundo masih dipenuhi bahan untuk dimasak.
"Petugas masak yang Bundo panggil akan datang ke rumah ini jam empat subuh. setelah sholat subuh baru mereka mulai memasak."
"Nanti jika Zia sudah terima gaji, Zia akan kirim uangnya untuk mengganti biaya pernikahan Zia disini."
"Kamu ini bicara apa? kami hanya menyediakan tempat dan tenaga. biaya pernikahan mu ditanggung calon suami mu. kalau mengandalkan biaya dari kami, mana mungkin kami sanggup membuat acara sebesar ini. mengundang banyak tamu dan biaya sewa pelaminan." ucap pak Ngah.
"Kapan bang Zaid memberikan uang? Zia tidak pernah lihat bang Zaid datang ke rumah ini semenjak pulang dari belanja."
"Zaid itu kan tinggal di rumah mak cik mu, uang itu diberikan Zaid kepada mak cik dan mak cik memberi tahu kami, maka nya kami bergerak cepat." jawab pak Ngah.
"Dik Zia beruntung punya calon suami yang baik dan kaya." ucap Yudi, anak laki-laki pak Ngah.
__ADS_1
Zia tersenyum mendengar ucapan Yudi.
"Syukurlah ternyata bang Zaid sudah membiayai acara ini." batin Zia.
Hampir tiap malam Zia dan Zaid berkomunikasi melalui video call. saling menanyakan kabar dan mengucap rindu. malam ini Zia ingin menelpon Zaid mengucapkan terimakasih, atas semua pemberian dari Zaid.
Mereka telah selesai makan ayam bakar, Zia disuruh kekamar olah Bundo. Bundo dan menantunya yang membereskan tempat makan.
Zia masuk kekamar dan menelpon Zaid.
"Abang lagi apa?"
"Abang lagi mengemas barang, besok setelah acara tidak sempat lagi untuk berkemas. sayang sudah berkemas?"
"Belum, besok saja. barang yang mau dikemas hanya sedikit."
"Tumben menelpon abang, biasanya abang yang selalu menelpon duluan."
"Ini sudah hampir jam tidur Zia, abang belum menelpon makanya Zia telpon duluan."
"Oh, tadi kami makan agak lama setelah itu berkemas karena itu abang terlambat nelpon. sudah siap untuk jadi istri abang?"
"Insyaallah sudah."
"Syukurlah, tidur lah. besok pagi insyaallah abang akan datang dan mengikat Zia untuk selamanya."
"Baiklah, Zia tidur duluan. abang jangan begadang, apalagi besok kita langsung melakukan perjalanan jauh."
"Iya, selesai berkemas abang akan segera tidur."
"Assalamualaikum abang."
"Waalaikummussalam calon istri abang."
Zia dan Zaid sama-sama tersenyum setelah mengakhiri panggilan itu. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah acara lamaran Zaid dan Zia semakin romantis saat menelpon.
...----------------...
__ADS_1