
"Bisa antar aku ke rumah orang tua ku?" tanya Melani tanpa berani melihat Zaid.
"Dimana orang tua mu tinggal?" tanya Zaid yang tetap fokus menyetir.
"Meraka tinggal di kota x, aku tidak memiliki uang jika kau antar ke terminal."
"Kenapa meminta ojek tadi mengantar ke terminal?"
"Tadi aku memiliki uang dua ratus ribu, uang itu aku berikan kepadanya, aku tahu kau orang baik. karena itu aku tidak ragu memberikan uangku kepadanya."
Zaid tersenyum.
"Kau terlalu cepat menilai, aku bukan orang baik seperti yang kau pikir." jawab Zaid sambil menoleh kesamping melihat wanita yang berbicara dengannya.
"Kau!" ucap Zaid kaget mengenali wanita yang berada disampingnya.
Zaid segera menepikan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan.
"Jangan usir aku, aku baru saja kabur dari sekapan laki-laki jahat. tolong antar aku pulang. aku tidak memiliki apa pun. lihat penampilan ku." ucap Melani mengiba dengan air mata berlinang.
Zaid memperhatikan wajah dan pakaian Melani. Melani terlihat kurus dari yang terakhir kali mereka bertemu. pakaian yang dipakai Melani kusut dan tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya.
"Aku memakai pakaian laki-laki biadab itu." ucap Melani meneteskan air matanya.
Zaid merasa prihatin dengan kondisi Melani. tanpa bertanya dan menyela ucapan Melani Zaid melanjutkan perjalanan mereka mengantar Melani ke toko pakaian.
"Silahkan pilih pakaian untuk kau pakai." ucap Zaid tanpa menatap Melani.
"Aku tidak punya uang."
"Kau cari dan pakai saja pakaian yang kau suka, aku akan membayarnya. turunlah." ucap Zaid.
Melani mengangguk dan turun dari mobil. Melani memasuki toko pakaian itu dan memilih pakaian untuk ia pakai.
Melani memilih gaun cantik dengan bagian leher sedikit terbuka. Melani ingat, dulu Zaid akan memujinya jika ia memakai gaun.
Melani mencoba gaun itu dan melihat dirinya di kaca, ia terlihat kurus dan kurang cantik menggunakan gaun itu.
"Ya ampun, aku kurus dan pucat sekali. ini semua karena Kevin, dia membuat ku kelelahan dan jelek begini." ucap Melani dengan suara pelan.
"Pantas saja Zaid tidak melihat ku saat bicara. padahal Ini kesempatan yang bagus untuk mendekatinya, apalagi si pendek itu tidak bersama Zaid. kenapa nasib ku seburuk ini?" ucap Melani sambil melihat dirinya di kaca.
Melani kembali memilih baju, kali ini ia memilih baju kaos dan celana jins. Melani lebih percaya diri menggunakan pakaian itu.
Satu jam menunggu Melani belanja, Zaid keluar dari mobil dan menunggu Melani di kasir.
Setelah membayar pakaian yang dipilih Melani, mereka kembali ke mobil, kali ini Zaid menghentikan mobil nya di salon kecantikan.
"Zaid kau berlebihan. kenapa membawa ku ke salon?" tanya Melani
"Bukan kah kau ingin menemui orang tua mu? kau ingin mereka melihat mu seperti ini? semua terserah pada mu." ucap Zaid berbicara tanpa menatap Melani.
"Baiklah, aku akan masuk ke salon. terimakasih." ucap Melani sambil turun dari mobil dan memasuki salon.
Zaid kembali menunggu Melani didalam mobil. hampir dua jam Melani menghabiskan waktu di salon. Melani keluar dari salon dengan penampilan lebih segar dan terlihat cantik.
Tok..tok.. " Zaid"
"Zaid"..tok.. tok
__ADS_1
Melani mengetuk kaca mobil Zaid, membangunkan Zaid yang tertidur. Zaid terbangun dan membuka kaca mobil.
"Kau sudah selesai?" tanya Zaid
"Ya,." jawab Melani, Melani merasa Zaid masih seperti dulu, baik dan perhatian.
"Masuk lah." ucap Zaid sambil membuka pintu mobilnya. Zaid keluar dari mobil dan masuk kedalam salon untuk membayar biaya salon Melani.
Setelah membayar salon Zaid kembali masuk kedalam Mobil. kali ini Zaid membawa Melani ke restoran.
Melani sangat bahagia dengan perhatian dan kebaikan Zaid. ini dinner pertama Melani dan Zaid setelah sekian lama.
"Terimakasih Zaid, kau memang laki-laki baik. Zia beruntung memiliki mu." ucap Melani sebelum memakan hidangan yang sudah disajikan.
"Siapa yang menyekap mu?" tanya Zaid mengalihkan pembicaraan.
"Kevin, dia pemilik grosir besar yang ada dijalan x."
"Kenapa kau bisa mengenalnya?"
"Setelah dipecat dari perusahaan mu, aku bekerja ditempatnya."
"Oh, jadi selama ini kau masih tinggal di kota ini?"
"Ya, seminggu lalu aku memutuskan untuk berhenti bekerja, Kevin marah dan tidak mengizinkan ku berhenti. dia menyekap ku dan membuat ku seperti ini."
"Kau ingin menuntutnya?"
Melani terdiam, Melani tidak mau Zaid mengetahui hubungan terlarangnya bersama Kevin selama ini.
"Aku belum tahu, aku ingin menenangkan diri dulu."
"Apa kau bisa mengantar ku pulang?" tanya Melani
"Maaf aku tidak bisa, Aku sedang menunggu Ali. Ali yang akan mengantar mu pulang." jawab Zaid.
"Oang tua ku pasti bahagia jika kau yang mengantar, Mereka juga tidak akan banyak bertanya tentang kepulangan ku tanpa membawa apa pun."
"Aku seorang suami, aku harus menjaga perasaan istri ku. apalagi hari ini aku melewatkan makan siang dan makan malam ku bersama Zia."
"Zia tidak tahu jika kau menolongku dan sedang bersama ku?"
"Hari ini pesta pernikahan Harun, Zia berada di sana seharian ini. Zia tidak mengangkat telpon dari ku."
"Ternyata hari ini hari keberuntungan ku. seandainya tadi aku memakai gaun yang cantik aku pasti bisa merayu Zaid. gara-gara Kevin sialan aku harus memakai pakaian seperti ini." batin Melani.
"Jadi hari ini pesta pernikahan Harun? sayang sekali aku tidak tahu dan tidak menyiapkan kado untuknya. aku turut bahagia atas pernikahan Harun. akhirnya kalian memiliki pasangan hidup. semoga kalian bahagia dan tidak berakhir seperti aku" ucap Melani setengah tulus dengan senyum terpaksa.
"Aku ke toilet dulu." ucap Zaid yang telah selesai makan.
Melani mengangguk dan meneruskan makannya.
Ali datang bersama Zia, Mereka sampai diparkiran Restoran dan melihat mobil Zaid yang terparkir. mereka segera masuk dan tidak menemukan keberadaan Zaid.
Zia menghubungi nomor ponsel Zaid. Zaid yang sudah selesai di toilet mengangkat telpon Zia.
"Halo sayang, kenapa tidak mengangkat telpon abang dari tadi?" tanya Zaid sambil berjalan keluar dari toilet.
"Maaf, tadi ditempat pesta sangat ribut. Zia tidak tahu jika abang menelpon. abang dimana?" tanya Zia.
__ADS_1
"Abang ada di restoran x." jawab Zaid yang tinggal beberapa langkah lagi sampai di meja makannya.
Zia melihat Zaid berjalan kearah meja. Zia setengah berlari mengejar Zaid.
"Halo,." ucap Zaid yang tidak mendengar suara Zia lagi.
Zaid mematikan Ponselnya dan memasukkan Hp nya ke saku.
"Abang?" ucap Zia saat sudah mendekati Zaid, Zaid kaget dengan kehadiran Zia didepannya. Zia langsung memeluk Zaid dan Zaid membalas pelukan Zia.
"Abang rindu sekali, malam ini istri abang sangat cantik." ucap Zaid memuji Zia.
Zia tersenyum.
"Ayo pulang, bang Harun dan yang lain sudah menunggu." ajak Zia
"Baiklah, temani abang kekantor dulu. abang belum mandi." jawab Zaid.
Zia mengangguk.
"Sudah pelukannya, malu dilihat orang." ucap Ali yang mendekati mereka.
Zaid dan Zia saling melepaskan pelukannya. Zaid mengecup bibir Zia sebentar.
"Dasar mesum. jika ingin bermesraan lakukan di rumah." ucap Ali.
Zaid tersenyum mendengar ucapan Ali.
"Ini kunci mobil, kau antar Melani pulang ke rumah orang tuanya." ucap Zaid sambil memberikan kunci kepada Ali.
"Dimana dia?" tanya Ali.
"Di belakang mu." jawab Zaid.
Zia dan Ali menoleh kebelakang, mereka hampir tidak mengenali Melani. Melani menatap mereka dangan senyum terpaksa.
"Melani, kami pulang dulu. Ali akan mengantar mu pulang. kalian hati-hati dijalan." ucap Zaid sambil menatap Ali.
"Oke bos." jawab Ali.
Zaid segera membawa Zia keluar dari restoran.
"Kenapa bisa bersama Melani?" tanya Zia saat keduanya berada didalam mobil.
"Tadi tidak sengaja bertemu, dia dalam kesulitan jadi abang tolong?" jawab Zaid.
"Bertemu dia mana?" tanya Zia
"Ceritanya panjang, nanti setelah pulang pesta abang ceritakan."
"Ya." jawab Zia dengan ekspresi sedikit kecewa karena masih penasaran.
***
Dalam perjalanan pulang Ali selalu mengajak Melani bercengkrama untuk mengusir rasa bosan saat diperjalanan.
dari cerita yang Melani sampaikan, Ali tahu jika Melani masih menyukai Zaid.
Ali menasehati Melani, meminta Melani untuk melepas masa lalu dan menata kehidupan yang baru.
__ADS_1
"Aku tahu, dimata Zaid aku bukan teman atau pun seseorang yang penting lagi. semua juga karena kesalahan ku. aku mengabaikan dan membuatnya kecewa. padahal dia laki-laki yang sangat baik." ucap Melani menyadari dan menyesali kebodohannya.