
Zaid menelpon Melani dan mengajaknya untuk bertemu. mereka janjian bertemu di restoran yang tidak jauh dari perusahaan Zaid.
Zaid segera meluncur menuju tempat yang sudah mereka janjikan.
Melani merasa bahagia, karena Zaid menelpon dan mengajaknya untuk bertemu. Melani merasa Zaid masih menanti kehadirannya. Melani segera bersiap.
Zaid tiba lebih dulu di restoran. Zaid memesan minuman dan makan siang untuknya.
lima belas menit menunggu, Zaid melihat kedatangan Melani menggunakan taksi. Zaid tidak menghampiri Melani. Zaid melihat Melani yang tampil modis dan anggun. Melani masih dengan tubuh langsing dan tinggi semampai. Melani terlihat seksi dengan rok span di atas lututnya. rambut melani yang panjang dibuat bergelombang dan dibiarkan begitu saja.
Melani memasuki restoran dan mencari keberadaan Zaid. Melani melihat Zaid dan tersenyum. Melani menghampiri Zaid.
"Hay, apa kabar? kamu sudah lama menunggu?"
Melani menjulurkan tangannya. Zaid tidak menjabat uluran tangan Melani.
"Aku baik, aku baru sampai lima belas menit lalu. silahkan pesan makan siang mu."
"Kamu sudah pesan?"
"Sudah."
"Kenapa tidak langsung pesan dua porsi? aku menyukai selera mu."
Zaid tersenyum.
"Maaf aku lupa jika kita memiliki selera yang sama."
Melani merasa tertusuk mendengar ucapan Zaid. Melani merasa Zaid berubah dan menjaga jarak darinya. Melani duduk di samping Zaid.
"Kenapa memilih bekerja di perusahaan ku?"
"Aku tidak tahu itu perusahaan mu. aku hanya melihat peluang yang ada. terimakasih sudah menerima ku bekerja."
"Bekerjalah sebagai seorang karyawan, jangan pernah mengungkit masa lalu."
"Baiklah. aku sudah bercerai. maaf aku harus menyebutkan masalah pribadi, semoga kamu tidak keberatan karena sekarang kita berada diluar kantor. bisa kah kita kembali berteman saat diluar kantor?"
"Aku sudah tahu kamu bercerai, carilah teman yang bisa membuatmu nyaman. kita tidak mungkin seperti dulu lagi."
"Kamu berubah, kamu masih belum memaafkan ku?"
"Aku sudah memaafkan mu dan mengikhlaskan semua masa lalu yang kita lalui."
"Aku dengar kamu belum memiliki seorang kekasih. apakah...."
"Ingat perkataan ku tadi, kamu adalah karyawan dan jangan mengganggu kehidupan pribadi ku."
Melani merasa Zaid begitu tegas terhadap dirinya. Zaid tidak memberi peluang untuk Melani menyudahi ucapannya.
Melani sadar dan sekarang merasakan sakit yang ia gores kan di hati Zaid. Suami Melani juga bermain cantik dan menikah diam-diam bahkan suaminya sudah memiliki anak bersama selingkuhannya, anaknya berusia sama dengan lama pernikahan mereka.
Melani merasa malu menceritakan permasalahan hidup yang dihadapinya. Melani butuh teman untuk berbagi dan Melani ingin Zaid mengetahui kepahitan hidupnya.
Pesanan mereka datang.
"Segeralah makan, kamu harus kembali bekerja setelah ini."
"Baiklah."
Mereka makan dalam kesunyian. Zaid merindukan Zia, Zaid ingat bagaimana Zia makan dengan lahap dan sangat menikmati makannya.
Mereka selesai makan.
"Boleh aku ikut kekantor bersama mu?"
"Baiklah."
__ADS_1
Mereka segera ke parkiran, Zaid tidak membukakan pintu mobil untuk Melani. Selama diperjalanan Zaid juga tidak banyak bicara dan tidak melihat Melani.
Mereka sampai di perusahaan, Harun Melihat Melani keluar dari mobil Zaid. Harun segera menghampiri mereka.
Melani masuk kekantor, Zaid mengajak Harun untuk masuk ke mobil. mereka pergi keluar.
***
Sampai di rumah Zia langsung mengecas Hp nya, Zia menghidupkan Hp dan melihat pesan masuk dari Om Suryo.
"Kenapa nomor mu tidak aktif?."
"Ada tawaran pekerjaan untuk mu."
"Tawaran ini batal jika kamu tidak sampai di kantor sebelum jam istirahat siang ini"
Begitu banyak pesan yang dikirim Om Suryo, ada panggilan tidak terjawab juga dari Om Suryo.
Zia bergegas mengganti baju dan mencari ojek yang bisa mengantarnya langsung ketempat Om Suryo bekerja. Zia membawa charger dan beberapa lembar uang yang diberikan Om Zaid.
Zia sampai sebelum jam istirahat dan berhasil menemui Om Suryo.
"Ternyata kamu datang juga, ayo ikut Om menemui kepala Gudang."
Zia mengangguk dan mengikuti Om Suryo.
Mereka menemui kepala gudang dilantai lima.
"Ini yang akan kita jadikan supir cadangan?" tanya kepala Gudang.
"Iya, namanya Zia. dia bisa membawa mobil dan juga memiliki SIM. dia hanya punya SIM A."
"Ini tidak sesuai dengan standar kerja driver kita."
"Jadikan dia supir cadangan saja, Hanya untuk mengosongkan barang yang menumpuk di gudang, saya rasa tidak masalah." jawab Om Suryo.
"Baiklah. Kemana saya harus mengantar barang?
"Tidak jauh, hanya perlu mengantar ke toko langganan lebih kurang 30 menit perjalanan, Kamu juga pergi bersama driver yang sudah dikontrak perusahaan, kamu hanya perlu menggantinya jiga dia kelelahan."
"Baiklah, saya bersedia."
Zia segera menandatangani perjanjian kerja dan upah yang akan diterimanya.
"Ingat untuk standby, jangan sampai Hp mu mati atau tidak bisa dihubungi. kamu hanya bekerja saat ditelpon saja."
"Kemana saya datang jika ada panggilan kerja?"
"Kamu isi absen kehadiran dulu dilantai dua. setelah itu kamu akan berangkat bersama supir perusahaan. mobilnya dilantai satu, ingat. jangan mengemudi jika supir kontrak kami tidak meminta mu mengemudi. barang yang akan diantar berada di gudang tiga puluh menit dari sini. untuk tempat pengantaran barang sesuai petunjuk dari bagian Gudang. kamu mengerti?"
"Ya, saya mengerti."
"Baguslah, waktu istirahat sudah lewat, perut ku juga lapar. ayo teman kita makan siang bersama." Kepala gudang mengajak Om Suryo untuk ikut bersamanya.
"Baiklah. duluan saja. aku masih harus bicara dengan Zia."
"Baiklah aku tunggu dibawah."
Kepala Gudang segera turun kebawah menggunakan Lift.
"Om bekerja di bagian apa?"
"Aku bagian keuangan, bagian pembayaran gaji karyawan. ruang kerja ku ada dilantai 20."
"Wah hebat sekali. pantas saja Om bisa punya istri dua."
Om Suryo tertawa mendengar ucapan Zia.
__ADS_1
"Om sudah memenuhi janji untuk mencarikan mu pekerjaan, kedepannya tergantung usaha mu. sekarang kamu boleh pulang."
"Baiklah, terimakasih Om. Om sangat baik dan perhatian."
Mereka menaiki lift bersama dan sampai dilantai satu area parkiran.
Zia melihat kedatangan mobil Om Zaid. Zia sembunyi dan melihat Om Zaid keluar dari mobil bersama Melani.
"Om Zaid bohong, katanya tidak punya pacar. sudahlah, untuk apa aku peduli? Om Zaid juga bukan pacar ku. aku tidak diduakan."
Zia keluar dari persembunyiannya dan melihat Om Zaid yang pergi bersama laki-laki.
Zaid merasa melihat Zia. Zaid menghentikan mobilnya. keluar dari mobil dan melihat kebelakang.
"Sepertinya aku hanya berhalusinasi. lagian gadis kecil itu tidak mungkin sampai di kantor ku."
Zaid kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanannya.
"Apa yang kau lihat?"
"Tadi aku seperti melihat seseorang yang baru aku kenal."
"Wauu, baru dikenal? Siapa namanya? dia cantik?"
"Dia yang menjadi saksi pertengkaran mu malam itu, itu jas ku."
Harun melihat ke kursi belakang.
"Wah ternyata serius, bagaimana dengan cincin ku? apa dia bersedia mengembalikannya?"
"Tentu saja, dia tidak memakainya. dia menyimpan cincin itu."
"Sepertinya dia berhasil mencuri hati mu. bibir mu tersenyum menceritakannya. apa karena dia, kamu tidak menghabiskan masa cuti mu?"
"Ya, dia sudah melihat rumah ku. kami juga sudah tidur satu kamar."
"Apa? kamu.. bagaimana mungkin kamu melakukan hal gila itu?"
"Kami hanya tidur, tidak terjadi apa-apa. aku tahu batasan, dia juga."
"Aku tidak percaya, apa lagi yang sudah kau dapatkan darinya?"
"Aku mendapatkan ciuman pertamanya, mendapatkan pelukan darinya saat tidur."
"Hahaha. ini gila.. Wauu.. kamu benar-benar bukan Zaid yang dulu. aku jadi tidak sabar bertemu calon istri mu."
"Aku belum menyatakan cinta kepadanya. setelah bertemu Melani, aku yakin dia adalah wanita yang akan aku jadikan istri."
"Syukurlah, aku kira kau kembali mendekati Melani. aku sempat khawatir. makanya aku menghampiri mu tadi."
"Aku tidak sebodoh itu, aku juga ingin memiliki pasangan hidup yang masih original, penurut dan bisa aku manjakan."
"Sepertinya bukan dari kalangan kantoran."
"Ya, dia tidak bekerja. dia tidak kaya. pokoknya sangat sesuai dengan tipe ku."
"Selamat Bos, akhirnya kamu bisa juga memiliki wanita yang baik dan sesuai harapan mu."
"Kamu juga, hati-hati memilih pasangan hidup. jangan sampai dapat sampah. selidiki Serly, aku tidak yakin dia masih perawan."
Harun terdiam.
"Baiklah, aku akan mencari tahu tentang Serly."
Mereka sampai di restoran yang sudah menjadi tempat langganan mereka. Zaid menemani Harun makan.
...----------------...
__ADS_1