Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Permasalahan


__ADS_3

Selesai makan siang di kantor, Zaid dan Zia bersiap untuk sholat Zuhur, Zaid meminta Keke mengambilkan mukenah diruang sholat untuk Zia.


Ruang sholat berada dilantai 13, berdampingan dengan kantin khusus karyawan yang dikelola oleh pengusaha cafe bekerjasama dengan perusahaan Zaid. menyediakan aneka minuman, makanan ringan dan berat sesuai permintaan pelanggan.


Keke menjemput dan mengantarkan mukenah ke ruangan Zaid.


"Terimakasih kak." ucap Zia karena Keke memang lebih tua darinya.


"Sama-sama, dimana Bos?"


"Bos? maksudnya bang Zaid?"


"Iya."


"Kak Keke ada-ada saja, bekerja dilantai yang sama kenapa memanggil Bos?"


"Semua karyawan disini memang memanggil pak Zaid dengan panggilan Bos, dia CEO perusahaan ini."


"CEO? pekerjaan bagian apa itu?"


"Zia? kamu tidak mengenal calon suami mu?" suara Keke terdengar kesal.


Zia salah tingkah dan merasa disudutkan.


"Bos kakak sedang dikamar mandi. kami mau siap-siap untuk sholat. kak Keke ada perlu? biar aku panggilkan." Zia menjawab dan bertanya agar Keke tidak lagi menanyai nya.


"Tidak usah, aku hanya bertanya." Keke segera keluar dari ruang kerja Zaid.


Zia segera mengambil Hp nya, mencari arti dari Pekerjaan CEO. Zia membaca hasil penjelasan mbah google. Zia menutup mulutnya, kaget dengan apa yang dijelaskan mbah google.


Zia mendekati meja kerja Zaid. melihat nama lengkap Zaid dan dibawahnya tertulis CEO Sinar Abadi. Zia melihat foto yang tersusun rapi di dinding kerja Zaid. masing-masing foto berisi keterangan penghargaan dan foto kerjasama Zaid dengan beberapa pengusaha yang tidak dikenal Zia.


Zia mengingat ucapan Zaid saat mengantarnya pulang dari rumah jauh Zaid.


"Jika butuh pekerjaan telpon aku saja."


Zia menyesal tidak mengindahkan ucapan Zaid, kemaren siang Zia sudah menandatangani kontrak kerja untuk enam bulan ke depan sebagai supir cadangan.


"Mati aku, bagaimana jika bang Zaid tahu aku bekerja sebagai Supir cadangan di perusahaan yang ia pimpin? Aku tidak mungkin membatalkan kontrak."


Zia mengingat denda dan hukum dari pembatalan kontrak sepihak. Zia pusing sendiri memikirkan nasibnya.


Zia duduk di ruang santai menunggu kedatangan Zaid. Zia sudah mengambil wudhu dan memakai mukenah yang diberikan Keke.


Zaid keluar dari kamar, Zaid melihat wajah Zia yang seperti memikirkan sesuatu.


"Ada masalah?"


"Tidak, ayo segera sholat."


Zaid tersenyum dan mereka segera menunaikan ibadah wajibnya. selesai sholat Zia melipat mukenah.


Zaid kembali kekamar untuk mengganti baju sholatnya dengan baju kaos biasa.


Zia berencana memberitahu Zaid tentang kontrak kerja yang ia tanda tangani. Zia duduk diruang santai menunggu Zaid datang.

__ADS_1


Zaid datang dan duduk di samping Zia.


"Sayang, sebaiknya kita segera menemui adik ayah yang berada di propinsi X. sayang punya nomor Hp mereka? kabari mereka jika kita akan berkunjung kerumah mereka."


"Zia gak punya nomor Hp Pak Ngah, Zia tidak bisa berangkat dalam minggu ini, karena Zia menunggu panggilan kerja."


"Kerja? kerja apa? bukankah abang sudah bilang jika ingin bekerja hubungi abang. Zia bekerja dengan siapa?"


"Tiga hari lalu Zia minta tolong Om Suryo untuk mencarikan Zia pekerjaan, saat itu Kami membuat perjanjian, jika Zia mengantar Om Suryo selamat sampai ke tempat kerja dan tidak membuat mobilnya lecet. maka, Om Suryo akan mencarikan Zia pekerjaan. kemaren siang Om Suryo menepati janjinya. Zia mendapat pekerjaan dan sudah menanda tangani kontrak kerja untuk enam bulan ke depan."


"Pekerjaan apa yang dia berikan kepadamu?"


"Zia jadi supir cadangan."


"Supir cadangan? apa kamu punya SIM?"


"Punya, setelah memiliki KTP Zia ikut kursus mengemudi langsung mendapatkan SIM."


"Kerja sebagai supir pribadi?"


"Bukan, supir perusahaan."


"Perusahaan mana yang mempekerjakan seorang wanita sebagai supir? sudah tahu jenis kendaraan yang akan kamu bawa?"


"Bawa truk muatan barang."


"Kamu memiliki SIM apa?


"SIM A."


"Jangan, pembatalan kontrak kerja sepihak bisa didenda."


"Kamu diterima di perusahaan mana? kenapa hanya menjadi supir cadangan memakai sistem kontrak? apa mereka mengetahui surat izin mengemudi mu yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka tawarkan?"


"Mereka tahu, mereka juga tidak mengizinkan Zia membawa mobil jika tidak diminta oleh supir tetap. perjalanan kami juga tidak jauh."


"Kenapa sepertinya perusahaan ini hanya memerlukan bantuan Zia sebentar dan tidak bersifat memberatkan." batin Zaid.


"Zia bekerja dimana?"


"Zia,.Zia,. bekerja di perusahaan Sinar Abadi."


"APA?" Zaid mengusap wajahnya dengan kedua tangan, Zaid merasa malu dengan ulah karyawannya yang tidak selektif dalam memilih karyawan baru.


"Bagaimana dengan pernikahan kita?"


Zaid mengalihkan pembicaraan dan akan mencari tahu sendiri kenapa bagian gudang bisa membuat keputusan mempekerjakan Zia, sebagai Supir cadangan dan diikat dengan kontrak kerja.


"Boleh, Zia kerja dulu? Zia sudah lama ingin bekerja. Zia ingin merasakan yang nama nya gajian. hanya enam bulan."


"Abang tidak bisa menunggu selama itu, bagaimana jika kita menikah dalam minggu ini?"


"Tapi Zia tidak bisa pergi kerumah Pak Ngah, perjalan kerumah Pak Ngah memerlukan waktu 15 jam, Zia harus standby jika ada panggilan kerja."


"15 jam dengan kendaraan darat?"

__ADS_1


"Iya."


"Bagaimana jika menggunakan pesawat?"


"Kerumah Pak Ngah tidak ada kendaraan umum, daerahnya terpencil. waktu itu Kami kerumah Pak Ngah menggunakan Bus, ayah menelpon Pak Ngah untuk menjemput kami kejalan raya. dari jalan raya menuju rumah Pak Ngah menghabiskan waktu 2 jam. lebih baik menggunakan kendaraan pribadi untuk kerumah Pak Ngah."


Zaid menghembuskan nafasnya. Zaid tidak menyangka memiliki hambatan seperti ini diawal niat baik mereka. Zaid meninggalkan Zia duduk diruang santai. Zaid duduk di kursi kerja.


"Harun Segera ke ruangan ku."


"Baik."


Zaid menelpon Harun untuk membantunya menyelesaikan masalah.


Zia merasa bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Abang, Zia boleh pulang?" Zia memberanikan diri mendekati tempat kerja Zaid.


"Jangan pulang sendiri, Zia istirahat siang saja dikamar. Abang akan menyelesaikan masalah ini. tunggu abang dikamar. nanti malam kita kerumah paman Zia."


"Baiklah, Bisa kah Zia tetap bekerja?"


"Zia bersedia kita menikah dalam minggu ini?"


"Tapi..."


"Abang akan izinkan Zia bekerja, tapi pernikahan kita harus dipercepat. abang tidak mau menunggu enam bulan."


"Apa kita akan menikah sirih?"


"Tidak, abang ingin pernikahan kita tercatat oleh Negera. pernikahan sirih hanya akan merugikan mu. abang hanya ingin memiliki satu istri yang diakui negara dan direstui kedua orang tua abang."


"Apa orang tua abang akan menghadiri pernikahan kita?"


"Kemungkinan mereka tidak akan hadir. Kita berkunjung kerumah Pak Ngah dan Langsung menikah di sana, dokumen penting seperti kartu keluarga dan KTP Zia apakah disimpan dengan baik?"


"Iya, Kartu keluarga ada dikamar Ibu, KTP ada didalam dompet Zia."


"Dalam waktu dekat Abang akan kekantor KUA, mencari tahu syarat mendaftarkan pernikahan."


"Baiklah."


Zaid berdiri dan memeluk Zia yang hendak meninggalkannya.


"Maaf kita harus menikah secara sederhana."


"Zia juga tidak pernah membayangkan pernikahan yang mewah, Zia juga minta maaf karena tidak meminta pekerjaan kepada abang."


"Abang yang terlambat menemukan mu. Istirahatlah, tunggu abang dikamar."


"Iya."


Zaid melepas pelukannya dan melihat Zia masuk kedalam kamar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2