
"Bagaimana tidur mu Ali?"
Ali merupakan supir bayaran yang dicari Harun untuk Zaid. Ali lebih muda dari Zaid.
"Saya tidur dengan nyenyak Pak. Nona Zia tidak ikut sarapan?"
"Sebentar lagi Zia akan datang."
Ali dan Zaid sudah duduk di tempat sarapan penginapan.
Zia datang dan berjalan kearah mereka.
Ali melihat Zia tanpa berkedip, Pagi ini Zia memakai jilbab yang melilit dilehernya tidak seperti pagi kemaren hanya memakai baju kaos dan celana jins.
Zaid melihat Ali yang menatap Zia.
"Dia Zia ku." ucap Zaid, berdiri dari duduknya dan menyusul Zia, Zaid merangkul pundak Zia.
"Kenapa lama sekali?"
Zia tersenyum melihat Zaid. bibir Zia tampak menggoda dengan olesan lipstik merah yang tipis.
"Kenapa memakai lipstik?"
"Zia mau kelihatan cantik saat bertemu Pak Ngah."
"Besok cantik Zia hanya untuk abang."
Zia tertawa mendengar ucapan Zaid.
"Iya abang, ayo segera sarapan."
Zia menurunkan tangan Zaid yang memegang bahu nya. memegang tangan Zaid membawanya ketempat sarapan.
Ali melihat kemesraan keduanya dan mengalihkan pandangannya.
Mereka segera sarapan.
***
Pagi ini di kantor, Melani mendatangi lantai 26.
"Mau bertemu siapa mbak?" tanya Keke.
"Aku ingin menemui Zaid."
"Maaf Pak Zaid tidak berada di ruangannya, Bos sedang melakukan perjalanan bisnis."
"Kapan dia berangkat?"
"Kemaren."
"Kapan dia kembali?"
"Maaf saya tidak bisa memberitahu mbak, apa mbak sudah buat janji? atas nama siapa?"
Keke membuka catatan pertemuan Zaid yang ia catat dibuku agenda pertemuan.
"Saya belum membuat janji, saya datang untuk bertemu langsung."
"Maaf mbak, tidak ada yang bisa masuk dan bertemu langsung dengan pak Zaid. mbak harus membuat janji dulu."
"Ya sudah, tolong kamu tulis."
"Atas nama siapa? keperluan apa? mau bertemu kapan?"
"Bagaimana aku bisa menyebutkan kapan mau bertemu, kamu saja tidak memberitahu ku kapan Zaid akan pulang." Melani meninggikan suaranya.
"Maaf saya bekerja sesuai prosedur, saya akan konfirmasi untuk pertemuan yang mbak atur dengan pak Zaid."
"Apa-apaan ini, aku teman dekatnya Zaid. kenapa mempersulit ku untuk bertemu seorang teman."
"Mbak sedang mengunjungi kantornya. artinya mbak harus mengikuti aturan kantor. jika mbak memang temannya hubungi saja nomor pribadinya, jangan datang kekantor."
"Kau."
Melani tampak geram dengan ucapan Keke, hampir saja Melani melayangkan tangannya ke wajah Keke.
__ADS_1
"Jika tidak bisa menyebutkan yang saya tanyakan, Silahkan mbak keluar dari ruangan ini." jawab Keke.
"Aku! tidak akan memaafkan mu. jika aku berhasil menemui Zaid. aku pastikan kau akan dipecat!"
"Yang mempekerjakan aku bukan pak Zaid, tapi pak Harun. aku tidak takut." jawab Keke
"Awas kau!" ancam Melani
Melani pergi meninggalkan Keke dengan kesal.
Harun yang berada di ruangannya keluar karena mendengar keributan.
"Siapa teman mu bicara?" tanya Harun melihat Keke sendirian ditempat kerjanya.
"Saya tidak kenal, dia tidak menyebutkan nama katanya dia teman pak Zaid."
"Apa dia tidak memakai kartu pengenal?"
"Saya tidak lihat."
"Bagaimana ciri-ciri fisiknya?"
"Perempuan itu tinggi setinggi pak Zaid, badannya ramping, rambut panjang. makeup nya tebal dan terlihat menor. katanya dia teman pak Zaid."
"Teman? wanita? Baiklah, saya akan ke ruangan keamanan melihat wanita yang kamu sebutkan."
Harun segera ke ruangan keamanan untuk melihat CCTV yang memantau semua ruangan yang ada di kantor.
"Pagi pak" sapa pihak keamanan.
"Pagi, saya ingin lihat kejadian dilantai 26, 10 menit yang lalu."
"Baiklah." pria itu segera ke ruangan kecil bersama Harun dan memutar kejadian yang terjadi barusan.
Harun melihat Melani yang mendatangi Keke pagi ini. Harun tersenyum sinis. Melani juga tidak memakai tanda pengenal sebagai karyawan kantor.
"Mau apa kau Melani? Zaid tidak menginginkan mu lagi, aku juga tidak." batin Harun.
"Sudah cukup, terimakasih. kembali kunci ruangan dan ingat untuk tidak mengizinkan siapapun masuk ruangan ini."
"Baik pak."
"Assalamualaikum, ada apa Harun?"
"Waalaikummussalam, sudah sampai dimana Bos?"
"Masih ditempat penginapan, baru selesai sarapan, lima jam perjalanan lagi insyaallah sampai."
"Oh, syukurlah sudah dekat."
"Kenapa menelpon?"
"Apa ada orang lain yang tahu tentang hubungan mu dan Zia?"
"Aku pernah memperkenalkan Zia kepada Keke, tapi Keke tidak tahu jika aku pergi untuk menikah. kenapa?"
"Pagi ini Melani ingin menemui mu, Keke menghalanginya, Melani datang tanpa memakai kartu pengenal. dia juga bukan Melani yang dulu, tadi aku dengar dia dan Keke beradu mulut. Melani mengancam Keke dan Nada suaranya juga tinggi."
"Mungkin mantan suaminya yang membuat dia bisa bicara kasar dan bernada tinggi. kita tidak tahu karma apa yang dia terima karena membohongiku, tolong terus awasi gerak-geriknya."
"Baiklah, jaga Zia mu. aku takut jika dia menyakiti nya."
"Tidak akan aku biarkan dia menyakiti Zia. ingatkan Keke untuk tidak menceritakan hubungan ku dengan Zia kepada siapa pun."
"Baiklah. kabari aku jika kau sudah sampai."
"Ya."
Zaid teringat, dulu Melani sosok orang yang pendiam, penurut dan bicara lembut kepada semua orang kerena itulah Zaid menyukai Melani dan ingin menjaga Melani saat di Negeri orang. ternyata niat baik Zaid hanya untuk persinggahan, dimanfaatkan hingga Melani meninggalkan Zaid karena merasa dirinya tidak pantas untuk Zaid.
Zia dan Ali sudah didalam mobil menunggu Zaid. selesai menelpon Zaid segera masuk kedalam mobil, kembali duduk didepan bersama Ali.
"Kenapa lama bang?" tanya Zia
"Tadi Harun menelpon menanyakan kita sudah dimana."
"Hanya itu?" tanya Zia.
__ADS_1
"Ya." jawab Zaid
"Maaf Zia aku tidak bisa memberitahu mu saat ini. aku janji akan selalu menjaga mu dan tidak membiarkan Melani hadir diantara kita." batin Zaid.
Mereka kembali melakukan perjalanan, mereka lebih banyak diam dan menikmati pemandangan alam yang ada disepanjang jalan.
Tiga jam berjalanan Zia mengingatkan Ali untuk tidak terlalu laju, karena Zia perlu mengingat jalan masuk menuju Desa Pak Ngah.
Zia melihat pasar buah, Zia ingat Desa Pak Ngah tidak jauh dari pasar buah itu. Zia meminta Ali menghentikan mobilnya, singgah di pasar buah.
Zaid ikut turun menemani Zia membeli buah.
"Ibu, saya mau tanya Desa B apakah masih jauh?" Zia bertanya pada penjual buah tempat ia belanja.
"Sudah dekat Nak. posisi desa itu disebelah kanan, kalian tinggal melewati dua Desa lagi, jalan masuk ke Desa sudah dipasang gapura. sangat mudah menemukannya." jawab penjual buah.
"Oh, syukurlah. terimakasih buk." ucap Zia
Zaid membawa semua buah yang mereka beli, menaruhnya ditempat duduk di samping Zia.
"Taruh dibawah saja bang, jalan ke Desa B belum diaspal semua."
"Oh."
Zaid segera memindahkan buah kebawah. mereka kembali melanjutkan perjalanan, mereka dengan mudah menemukan Desa B. seperti yang di ucapkan Zia, jalan menuju Desa B masih tanah kuning yang sudah keras. satu jam perjalanan baru mereka menemukan jalan yang terbuat dari beton.
Baru saja mobil menaiki jalan beton Zia sudah menyuruh Ali berhenti.
"Ada apa Zia?" tanya Zaid
Zia tidak sempat menjawab, Zia buru-buru membuka pintu dan muntah. Zaid tanggap memapah Zia agak kepinggir jalan, mengusap punggung Zia.
Setelah Zia aman dan tidak mengeluarkan isi perutnya lagi. Zaid segera mengambil air minum yang ia siapkan di mobil beserta tisu. membuka tutup botol minum dan memberikannya kepada Zia beserta tisu.
"Kumur-kumur dulu." ucap Zaid.
Zia mengikuti arahan Zaid.
"Bagaimana? sudah bisa melanjutkan perjalanan?" tanya Zaid.
"Kepala Zia agak pusing, perut Zia juga gak enak."
"Nanti oleskan minyak kayu putih di perut, ayo kita ke mobil."
Zaid memapah Zia untuk berjalan menuju mobil. mereka duduk dibelakang. Zaid mengambil kotak obat dan memberikan minyak kayu putih kepada Zia.
"Bagaimana cara mengolesnya diperut? baju Zia panjang."
Zaid meminta Ali untuk keluar dari mobil. Zia segera mengoles minyak kayu putih ke perut nya. Zaid membantu mengoles minyak dipunggung Zia. setelah perut dan punggung Zia diolesi minyak, Zaid memijit kepala Zia, menyandarkan Zia di bahunya.
Zaid kembali memanggil Ali untuk masuk kedalam mobil dan mencari tempat singgah untuk mengisi perut, Zia juga perlu minum teh hangat.
Ali mengikuti perintah Zaid. tidak jauh dari tempat mereka berhenti, Ali menemukan Rumah makan kecil. Ali menghentikan mobilnya dan mereka turun.
Zaid kembali memapah Zia.
Mereka memesan makan siang dan memesan teh hangat untuk Zia, nasi Zia juga dipesan tanpa diberi Kuah. Zia menghabiskan teh hangatnya dan tidak selera makan nasi.
"Harus makan sayang, abang suapi ya."
Zaid dengan sabar menyuapi Zia makan, Zaid juga menyuapi dirinya sendiri.
"Udah bang."
Zia hanya menghabiskan setengah nasinya.
"Ya sudah tidak apa-apa tidak habis, tunggu abang habiskan makan ini ya, setelah makan kita numpang sholat disini."
"Ya."
Zaid menyelesaikan makannya, tidak lama setelah makan Zaid kembali mengandeng Zia untuk pergi sholat.
Ali melihat Zaid yang sangat perhatiaan dan memanjakan Zia.
Setelah sholat mereka melanjutkan perjalanan, Zaid memilih duduk dibelakang menemani Zia sambil memijit kepala dan jari tangan Zia.
...----------------...
__ADS_1
tolong jempolnya,. 😀😀😀