
Zia, Zaid dan Ali tengah menikmati teh hangat yang dibuat Zia. Pak Ngah dan keluarganya belum juga datang.
"Pak nanti malam kita tidur dimana?" tanya Ali.
"Belum tahu, mungkin saja di mobil."
"Jangan, abang dan Ali bisa tidur di rumah Mak Cik. nanti Zia antar kerumahnya."
"Syukurlah, bisa tidur di rumah." jawab Ali
Zaid tersenyum melihat Zia yang terlihat mengkhawatirkannya.
Teh yang menerka nikmati hampir habis.
Pak Ngah bersama keluarganya datang, ada Mak Cik dan suaminya juga.
Zia, Zaid dan Ali segera berdiri dan menyalami mereka.
"Pantas saja pak Ngah lama, ternyata membawa semua keluarga." ucap Zia
"Kami menyelesaikan panen jagung dulu, Mak cik mu ikut membantu. makanya bisa langsung bapak bawa kesini."
"Aduuh, Zia kita sudah besar. yang mana calonnya?" tanya mak cik.
Zia tersipu malu, belum diberitahu tapi mak cik sudah tahu maksud kedatangan Zia dan Zaid.
"Ini mak cik, namanya bang Zaid." ucap Zia sambil memegang lengan tangan Zaid.
Semuanya tersenyum merestui pilihan Zia.
"Duduk dulu semuanya biar Zia tuangkan minum."
Zia menuangkan teh kedalam gelas yang sudah dari tadi ia siapkan.
"Banyak panennya Pak Ngah?" tanya Zaid
"Hanya 2 ton."
"Semuanya dijual pak Ngah?" tanya Zia
"Ia semua nya pesanan agen tetap bapak, kalau Zia mau jagung nanti panen sendiri, ajak Zaid juga, masih ada jagung yang belum bapak panen."
"Oke Pak Ngah, nanti Zia akan panen jagung."
"Saya mau ikut, Kalau hanya mereka berdua yang pergi pasti lama baru selesai panen." ucap Ali
Zia dan Zaid melihat Ali dengan tatapan penuh tanya.
Ali tersenyum melihat keduanya.
"Dasar pasangan mesum, jika mereka tahu aku melihat perbuatan mereka di dapur, pasti mereka malu. mereka hebat juga waktu di penginapan memilih pisah kamar. padahal mereka bisa saja tidur sekamar dan melakukannya." batin Ali.
"Iya, nanti kami ajak. biar Ali gak nangis ditinggal." jawab Zia membuat semuanya tertawa.
"Pak Ngah, nanti Zia mau buat jagung bakar? ada tempurung kelapa?"
"Ada, nanti malam kita bakar jagung nya. sore ini Zia bantu Bundo masak dulu, buat makan malam untuk kita semua, kita makan sama-sama di rumah ini"
"Tak usah dibantu Zia la bang, aku dan dik Arin saja yang masak." jawab istri Pak Ngah.
Zia sudah terbiasa memanggil istri pak Ngah dengan sebutan Bundo. Arin adalah adik kandung Pak Ngah, yang Zia panggil Mak Cik.
"Betul itu, nanti Aku pulang dulu untuk mandi, baru ke rumah kakak untuk tolong masak." jawab Mak cik
"Iya, kakak pun nak mandi dulu."
__ADS_1
"Ali dan Zaid ni tinggal di rumah siapa?" tanya Bundo
"Zia tinggal di rumah kita, kalau Zaid dan Ali di rumah dik Arin saja. sekalian lah bawa mereka pulang mana tau mereka juga nak mandi." jawab pak Ngah.
"Baiklah, Zaid, Ali ikut ke rumah Mak cik ya, kita habiskan minum ni dan segera pulang. badan mak cik dah gatal-gatal, sebentar lagi juga sholat ashar."
"Ya mak cik." jawab Ali dan Zaid bersamaan.
Ali dan Zaid mendengarkan dengan fokus apa yang keluarga Zia bicarakan, karena mereka menggunakan logat bahasa daerah yang kental tapi masih bisa dimengerti oleh Zaid dan Ali.
Zia tersenyum melihat Zaid, akhirnya Zaid memiliki tempat untuk ditinggali dan tinggal tidak jauh dari Zia, hanya 5 menit berkendaraan untuk ke rumah Mak Cik.
Setelah teh di gelas masing-masing habis Mak cik pamit untuk pulang.
"Mak cik, ikut kami saja." ucap Zaid
"Tak lah, mak cik kotor. nanti siap sholat asar mak cik naik mobil baru kalian."
Mak cik dan suaminya tersenyum melihat Zaid.
Mak cik dan suami pulang menaiki motor butut yang dipakai untuk bekerja, Zaid dan Ali membawa mobil mengikuti Mak cik.
Mereka sampai di rumah Mak cik, rumah Mak cik berbentuk minimalis dan terlihat cantik, sangat berbeda dengan kondisi rumah Pak Ngah.
"Masuk lah, bawa barang kalian." ucap Mak cik.
Zaid dan Harun mengambil koper mereka dan membawanya memasuki rumah Mak cik.
"Rumah Mak cik kecil dan hanya ada tiga kamar, dua kamar kosong. kalian mau tidur sekamar atau pisah kamar?"
"Pisah kamar." jawab Zaid dan Ali bersamaan
Mak cik dan suaminya tertawa melihat kedua tamu mereka.
Zaid dan Ali berjalan kekamar masing-masing. Mak cik dan suami memasuki kamar mereka. mereka sama-sama mandi, bersiap untuk sholat ashar dan kembali ke rumah Pak Ngah.
Zia mengumpulkan semua gelas minum yang sudah ditinggal diruang besar. Pak Ngah dan Bundo mandi di sumur sebelah dapur rumah. anak Pak Ngah hanya satu sudah berkeluarga dan pulang ke rumahnya, nanti setelah sholat magrib akan kembali ke rumah Pak Ngah untuk makan bersama membawa istri dan anaknya yang masih berusia 3 bulan.
Setelah sholat ashar Zaid kembali ke rumah Pak Ngah bersama Mak cik dan Suaminya. mereka menaiki mobil Zaid.
"Ini mobil mu Zaid?" tanya Mak cik.
"Alhamdulillah, iya Mak cik."
"Kamu beli kontan?"
"Iya."
"Syukurlah, setelah menikah nanti kalian tak payah mikir kan angsuran bulanan mobil."
Zaid tersenyum, Zaid dan Ali duduk didepan. Mak cik dan suami duduk dibelakang mereka.
"Berapa harga mobil ini Zaid?" tanya suami Mak cik.
"Saya kurang tahu pak, saya menyuruh asisten saya membelikannya."
"Wah, kamu percaya sekali dengan asisten mu." jawab suami Mak cik.
"Kami sudah seperti keluarga pak, kami sama-sama kuliah dan bekerja ditempat yang sama."
"Apa pekerjaan mu?" tanya Mak cik.
"Saya meneruskan perusahaan keluarga."
"Wah, berarti kamu memiliki jabatan tinggi. syukurlah Zia memiliki calon suami yang berpendidikan dan punya penghasilan tetap. anak kami ada dua, keduanya sudah berkeluarga. mereka merantau ke Propinsi N dan M, keduanya bekerja di PT. keduanya memiliki resiko dipecat saat bekerja. syukurlah mereka sudah memiliki tanah di desa ini dan saat ini disewakan kepada orang yang ingin berkebun, jadi mereka ada uang tambahan selain dari gaji." ucap Mak cik.
__ADS_1
"Pekerjaan saya juga memiliki resiko Mak cik, kami harus terus mempertahankan kinerja dan nama baik perusahaan, ada target yang harus terus dicapai agar perusahaan tetap beroperasi."
"Betul juga, semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menggoyangkannya." ucap suami Mak cik.
"Tapi setidaknya kamu dan Zia sudah memiliki modal untuk hidup berumah tangga, tidak seperti anak kami. mereka baru mendapat pekerjaan setelah memiliki istri, untungnya istri mereka orang desa sini juga. tidak banyak tuntutan saat melamar mereka."
Dari ucapan Mak cik Zaid menyimpulkan jika gadis di desa ini tidak dipinang dengan hantaran yang banyak. terkesan memudahkan pasangan muda untuk menikah tanpa memberatkan pihak laki-laki.
Mereka sampai di rumah pak Ngah. Mak cik segera masuk kedalam rumah menuju dapur untuk memasak makan malam bersama kakak iparnya.
Zaid dan Ali menemui Zia, mereka pergi ke kebun jagung di belakang rumah Pak Ngah untuk memetik jagung.
Zaid membawa kamera yang ia siapkan untuk memotret dan merekam kegiatan mereka selama dikampung Pak Ngah, Zaid ingin mengabadikan acara pernikahan mereka dengan kamera miliknya.
Mereka berjalan menelusuri kebun jagung Pak Ngah yang ditanam bertahap. bagian yang dipanen adalah bagian ujung tanah Pak Ngah. yang dekat dari rumah Pak Ngah masih baru berbuah, bagian tengah ada jagung yang sudah siap untuk dipanen walaupun harus dipilih.
Zia segera mencari jagung yang siap untuk dibakar nanti malam, Zaid memotret Zia yang sedang memanen jagung.
"Abang jangan difoto, Zia belum mandi."
"Kenapa gak mandi?"
"Zia mau panen jagung dulu, setelah panen baru mandi. abang udah mandi?"
"Udah. gak lihat baju abang udah ganti?"
Zia tersenyum melihat Zaid.
"Abang pegang jagung yang Zia panen ya, biar Zia yang memetiknya."
"Baiklah."
Zaid mengendong jagung yang siap dipanen Zia dengan menyatukan tangannya menahan jagung yang tersusun didepan perutnya.
Ali melihat kamera ditangan Zaid.
"Pak biar saya ambilkan foto bapak dan Zia."
"Kamu bisa gunakan kemera ini?"
"Bisalah. Saya juga punya kamera merek ini tapi tipenya beda. kamera bapak lebih mahal." ucap Ali.
Ali mengambil kamera yang ada ditangan Zaid. memotret Zaid yang mengendong buah jagung yang hampir memenuhi lingkaran tangannya.
"Sayang sini, kita foto dulu."
Zia segera mendekat dan memeluk lengan Zaid mereka berfoto dengan mesra.
Setelah mendapat banyak jagung mereka segera pulang. Zaid dan Zia meletakkan jagung di tempat duduk depan rumah Pak Ngah. kursi yang dibuat dari rotan.
"Sayang badan dan tangan abang rasanya gatal-gatal. gimana nih?"
"Segera buka baju dan mandi bang."
"Buka baju disini?
"Gak lah, abang pulang ke rumah Mak cik dulu."
Zaid segera mencari Mak cik untuk meminta kunci rumah, tadi saat mereka berangkat Mak cik mengunci rumahnya. setelah mendapatkan kunci Zaid segera pulang ke rumah Mak cik.
Zia juga bersiap untuk mandi.
...----------------...
jangan lupa like ya. ππΌππΌ
__ADS_1