
"Melani dan Ibunya ingin abang memiliki dua istri, Melani bersedia menjadi istri kedua. bagaimanapun abang memiliki masa lalu bersamanya. apa yang harus Zia lakukan?" tanya Zia
"Kenapa Zia bertanya jika Zia memiliki jawabannya sendiri." jawab Zaid
Keduanya berbaring di atas kasur kamar penginapan.
"Apa hati abang hanya untuk Zia?" tanya Zia menatap Zaid dan keduanya berhadapan.
"Saat kita bertemu saat itu juga Melani bekerja di perusahaan, setelah kita pulang dari Vila abang menemui Melani untuk memastikan hati ini, jujur pertemuan abang bersama Melani saat itu tidak menimbulkan perasaan dan kesan apa pun walaupun kami sudah hampir empat tahun tidak bertemu.
justru saat bertemu Melani abang teringat Zia, padahal kita baru satu jam berpisah. setelah memastikan hati ini hanya untuk Zia, abang menemui Zia malam itu dan menyatakan perasaan yang abang rasakan. abang tidak pernah bermain-main untuk urusan hati." jawab Zaid
"Zia hanya mencintai bang Zaid, Zia harap bang Zaid tidak berubah dan tidak memiliki dua istri." ucap Zia.
"Percayalah abang hanya mencintai Zia dan tidak berniat memiliki banyak istri. jangan pikirkan ucapan Melani dan ibunya." jawab Zaid.
Zia mengangguk.
"Mau menemani abang keluar." ucap Zaid.
"Baiklah."
Zaid tahu Zia tidak akan mudah tidur malam ini dengan kejadian dan pembahasan mereka barusan. Zaid mengajak Zia jalan kaki menghirup udara malam untuk menenangkan pikiran.
Zaid terus menggenggam tangan Zia selama mereka berjalan kaki. puas berkeliling Zaid mengajak Zia mengunjungi restoran yang ada di penginapan, menikmati minuman hangat sambil melihat keindahan langit. setelah menghabiskan minuman hangat Zaid Menggendong Zia di punggungnya. berjalan lambat menuju penginapan.
Zia merasa nyaman dan menyandarkan kepalanya di bahu Zaid.
"Kenapa berjalan sangat lambat?" tanya Zia.
"Abang ingin Zia tidur dipunggung abang."
"Zia berat, Zia juga belum ngantuk."
"Abang akan tetap mengendong Zia sampai Zia tertidur."
"Lebih baik kita segera kekamar."
"Bukankah Zia belum mengantuk?"
"Iya, Zia tidak ingin abang kelelahan sendiri." ucap Zia dan mencium telinga Zaid.
Zaid tersenyum dan mengerti maksud ucapan Zia. Zaid mempercepat langkahnya menuju penginapan, membuka kunci rumah dan segera menunaikan permintaan Zia.
__ADS_1
Keduanya memilih lelah bersama dan tidur dengan nyenyak.
***
Sore hari Zaid dan Zia sudah berada di rumah mereka. mereka segera membersihkan rumah dan merawat taman yang tidak dirawat selama mereka pergi.
"Sayang apa tidak sebaiknya kita mencari pekerja paruh waktu untuk membersihkan rumah?" tanya Zaid.
"Zia masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah. Zia masih trauma dengan ulah Tante dan Rianti. Zia tidak mau kejadian itu terulang lagi." jawab Zia.
"Baiklah, abang hanya ingin yang terbaik untuk Zia. kita tidak usah masak, kita makan diluar saja."
"Boleh Zia minta sesuatu?"
"Apa?"
"Zia mau beli motor."
"Tidak suka kemana-mana naik mobil?"
"Zia rindu naik motor, melewati jalan tikus dan tidak terkena macet."
"Baiklah, besok pagi kita beli motornya. tapi jangan pergi kemanapun tanpa izin abang."
"Iya, janji." ucap Zia tersenyum senang.
"Zia, paman minta maaf untuk Rianti." ucap paman saat mereka selesai makan.
"Kenapa Paman yang minta maaf?" tanya Zia.
"Rianti tidak hamil, maaf dia menyusahkan mu malam itu." ucap paman merasa bersalah karena Rianti masih berniat mengganggu Zia setelah semua yang ia perbuat.
Zia dan Zaid saling menatap, Zaid mengusap punggung Zia.
"Bagaimana paman tahu Rianti tidak hamil?" tanya Zia
"Dua hari lalu Paman pergi berkunjung ke bengkel suaminya, saat itu Rianti dan Ujang sedang beradu mulut. Ujang marah dan menyebut Rianti pemalas dan dia tidak hamil. Paman ikut memarahi Rianti malam itu, karena dia sudah berbohong dan masih ingin menyusahkan mu. semenjak malam itu Tante mu tidak tidur di rumah dan memilih tinggal bersama Rianti." jawab Paman
"Tante membela Rianti?" tanya Zia.
"Iya, dia juga memarahi Paman karena paman tidak membela Rianti." jawab Paman
"Jadi selama dua hari ini Tante tidak pulang?" tanya Zaid.
__ADS_1
"Iya, dia juga tidak menelpon. terimakasih kalian sudah mengajak paman makan malam ditempat mewah ini. selama Tante pergi Paman tidak selera makan. malam ini Paman sangat kenyang dan bahagia." ucap Paman dengan mata berbinar.
"Apa setiap kali Paman memarahi Rianti Tante akan membela Rianti dan memarahi paman?" tanya Zia.
"Iya, Rianti sangat dimanja oleh ibunya. semua keinginan Rianti pasti ia kabulkan. bahkan Tante mu rela berhutang demi mengabulkan keinginan Rianti."
"Maaf paman, apakah untuk acara pesta pernikahan Rianti Tante juga berhutang?" tanya Zia.
"Iya, hutang itu bahkan belum lunas sampai sekarang." jawab Paman.
"Berapa lagi hutang nya Paman?" tanya Zia.
"Sepuluh juta lagi."
Zia menatap Zaid dan tidak lagi menanyai paman. Paman tidak bisa tegas terhadap istri dan anaknya karena itulah almarhum mah Ibu Zia sering tidak akur dengan Paman dan Tante. mereka memiliki prinsip hidup yang berbeda.
"Sudah saatnya kita pulang." ucap Zaid
Setelah membayar makan malam mereka pulang dan mengantar paman kerumahnya.
***
"Boleh Zia membantu paman melunasi hutang nya?" tanya Zia saat mereka sudah berada dikamar.
"Boleh, gunakan saja uang yang ada di rekening Zia."
"Lain kali jangan berbaik hati lagi kepada Rianti dan Tante. Zia tidak menyukai mereka. mereka jahat dan tidak akan pernah berubah." ucap Zia.
"Baiklah, mereka juga perlu diberi pelajaran. abang merasa prihatin dengan kondisi Paman. dimasa tuanya dia ditinggal istri dan anaknya."
"Paman sudah sering diperlakukan seperti itu. paman juga salah, tidak bisa tegas kepada anak dan istrinya. dulu Ibu sering memarahi Paman karena tidak bisa mengarahkan istrinya. tapi Paman malah memusuhi Ibu dan memilih menjauhi Ibu." jawab Zia mengingat semua kejadian masa lalu yang membuat dirinya juga ikut berkelahi dengan Rianti karena masalah orang tuanya.
"Ambil pelajaran dari hubungan paman dan Tante, semoga kelak kita menjadi orang tua yang tegas dan saling mendukung."
"Ya, seperti almarhum ayah dan ibu Zia. jika ayah memarahi Zia ibu diam dan tidak membela Zia. kita sudah lama tidak ke makan ayah dan ibu. kapan kita mengunjungi mereka?"
"Hari minggu pagi saja, Tidurlah besok pagi kita harus kerja." ucap Zaid. karena sudah hampir larut malam.
"Baiklah, Zia lupa besok harus membawa Bos kekantor."
"Dasar nakal." ucap Zaid memencet hidung Zia.
"Sakit." ucap Zia manja.
__ADS_1
Zaid tertawa dan mencium seluruh wajah Zia, membuat Zia gemas dan membalas perbuatan Zaid.
...----------------...