Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Berangkat


__ADS_3

Jadwal berangkat yang direncanakan sore kemaren terpaksa di undur. Harun menyarankan agar Zaid tidak menyetir sendiri karena belum pernah melakukan perjalanan jauh dan tidak tahu kondisi jalan. Harun mencarikan supir handal yang sudah biasa melakukan perjalanan ke propinsi X. Zaid menyetujui saran Harun. mereka berangkat pagi ini menggunakan mobil baru Zaid.


Setelah barang Zaid masuk kedalam mobil, mereka segera ke rumah Zia, Zia sudah siap dan tinggal menunggu jemputan Zaid.


Paman Zia ikut mengantar keberangkatan Zia, tadi malam Zia menemui paman dan menyampaikan keberangkatannya pagi ini, paman sengaja libur kerja untuk melihat Zia pergi. Tante dan Rianti tidak ke rumah Zia untuk melihat Zia pergi. Tante marah karena Zia lebih dulu menikah dari Rianti dan membuat rencananya berantakan. niatnya untuk menempatkan Rianti di rumah Zia setelah menikah gagal sudah.


Zaid sampai di rumah Zia, menyalami paman dan berbicara sebentar didepan rumah. Supir Zaid memasukkan koper Zia kedalam bagasi mobil.


Zia pamit dan menitipkan kunci rumah kepada paman. Zaid duduk didepan menemani supir dan Zia duduk sendiri dibelakang. mereka segera berangkat menuju rumah Pak Ngah.


Dua kali mereka berhenti dijalan untuk minum, makan dan merilekskan tubuh. selama dalam perjalanan mereka sholat dengan cara sholatnya seorang musafir.


Jam 21.00 mereka singgah di penginapan yang mereka temukan dipinggir jalan, dari penginapan mereka masih harus menempuh 5 jam perjalanan lagi untuk sampai ke rumah Pak Ngah. mereka berencana melanjutkan perjalanan besok pagi.


Zaid memesan tiga kamar dengan posisi yang berdekatan. sopir pilihan Harun sangat cekatan, tanpa diminta dia menurunkan koper Zia dan Zaid, membawanya kekamar penginapan.


Zaid masuk kekamar Zia memastikan keamanan jendela kamar dan kunci pintu kamar Zia.


"Masih lama bang? Zia mau mandi."


"Mandi saja, abang gak ganggu."


"Abang keluar dulu, Zia mau kunci pintu."


"Zia mandi saja, bawa baju ganti kekamar mandi."


Zaid tidak mau keluar, Zaid ingin memastikan keamanan Zia selama Zia mandi.


"Oke, jangan ngintip dan jangan ganggu Zia."


"Oke."


Zia segera kekamar mandi untuk membersihkan badannya. Zaid dengan setia menunggu Zia selesai mandi. Zia selesai mandi dan melihat Zaid yang masih duduk di salah satu tempat tidur.


"Buruan mandi abang, biar bisa cepat tidur."


"Nanti setelah mandi, abang tidur disini ya."


"Nggak, tidur dikamar masing-masing."


"Kita baru pertama menginap disini, bagaimana jika ada sesuatu yang terdengar tapi tidak terlihat oleh mata? kalau abang sudah tidur abang sulit dibangunkan. abang gak akan dengar kalau Zia memanggil."


"Jangan nakuti Zia, sekarang abang buruan mandi. Zia mau tidur."


"Abang gak mau mandi kalau Zia gak mau tidur sekamar sama abang."


"Kenapa tadi pesan tiga kamar?"


"Biar petugasnya gak banyak tanya."


"Nanti kalau ada pemeriksaan dari Satpol PP atau Polisi gimana?"

__ADS_1


"Abang jamin gak akan ada pemeriksaan. boleh ya."


Kamar penginapan memiliki dua tempat tidur. posisi tempat tidur juga terpisah.


"Ya sudah, tapi jangan memindahkan posisi kasur dan abang gak boleh tidur di kasur Zia."


"Oke, abang setuju. abang ambil baju ganti dulu, abang mau mandi disini."


"Terserah, Zia mau tidur duluan."


Zaid segera ke kamar nya, membawa kopernya kekamar Zia. Zaid mengunci pintu kamarnya dan membawa kunci kamar itu kekamar Zia.


Zia berbaring membelakangi Zaid, Zaid segera kekamar mandi. segera mandi dan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk.


Zia masih membelakangi Zaid. Zaid memakai celana hawai dan baju kaos ketat tanpa lengan.


Zaid melihat Zia yang masih membelakanginya, Zia memakai baju tidur dengan celana selutut. Zaid mendekati tempat tidur Zia menarik selimut yang berada dibawah kaki Zia. Zia bergerak merubah posisi tidurnya menjadi telentang.


"Ternyata sudah tidur."


Zaid mengecup bibir Zia.


"Semoga Pak Ngah mu merestui kita, abang tidak sabar untuk memeluk mu saat tidur. abang sangat mencintai mu."


Sekali lagi Zaid mengecup bibir Zia.


Zia tidak merespon, mungkin Zia terlalu capek dan tidur sangat dalam.


Zaid segera ke kasur nya, ikut menyusul Zia tidur.


Zia keluar dari kamar mandi dan melihat tubuh Zaid yang dibalut baju kaos ketat yang memperlihatkan otot lengan, dada dan perut Zaid, tubuh bagian pinggang kebawah ditutup selimut.


Zia mendekati Zaid yang tidur, Zia ingat ucapan Zaid yang menyebutkan dirinya sulit dibangunkan. Zia duduk dipinggir tempat duduk Zaid, menyentuh otot lengan dan dada Zaid, Zia tersenyum memainkan bagian tubuh Zaid dengan terus memencet-mencet otot Zaid.


Zaid dengan sekali gerakan menarik tubuh Zia, menempatkan Zia dibawahnya. Zaid dengan posisi push-up, mengunci Zia dengan kedua tangannya.


"Jangan benyak bergerak, jika tidak ingin tertimpa tubuh abang."


"Maaf tadi Zia ganggu tidur abang. sekarang lepaskan Zia kita harus siap-siap untuk sholat."


Baiklah. Zaid mengecup bibir Zia dan melepaskan Zia.


Zia segera lari kekamar mandi. Zaid ingat dirinya hanya memakai celana hawai pendek. Zaid segera memakai sarung dan pergi ke kamar nya untuk mencuci muka dan mengambil wudhu.


Dikamar mandi, Zia menetralkan debaran jantungnya yang masih kencang, setelah tenang Zia mulai membasuh muka dan segera mengambil wudhu.


Mereka sholat jamaah dikamar Zia. setelah sholat mereka duduk saling berhadapan, tanpa membuka perlengkapan sholat masing-masing.


" Nanti kita beli apa untuk Pak Ngah?"


"Kita beli buah saja, seingat Zia ada pasar buah sebelum ketempat Pak Ngah, kita harus beli untuk Mak Cik juga."

__ADS_1


"Iya, nanti kita beli banyak."


"Zia lihat, mobil yang kita bawa masih baru. apa abang membelinya?"


"Iya, mobil sport tidak bisa untuk memuat barang banyak."


"Kenapa tidak bawa mobil yang biasa abang pakai ke rumah Zia?"


"Itu bukan mobil abang, itu mobil Harun."


"Oh, apa cincinnya sudah abang berikan?"


"Sudah, Harun juga yang mencarikan supir untuk kita."


"Oh, sepertinya Harun itu sangat baik."


"Dia memang baik, dia sahabat abang saat kuliah hingga kami bekerja. dia banyak membantu abang."


"Zia tidak punya teman seperti itu, setelah lulus SMA kami tidak lagi saling komunikasi. di jalur perumahan Zia ada teman Zia yang satu lulusan tapi mereka tidak mau lagi kumpul dan diajak kerumah. mereka sibuk dengan kuliahnya."


"Kenapa Zia tidak kuliah?"


"Zia tahu kemampuan ekonomi keluarga Zia, Zia tidak mau memberatkan kedua orang tua Zia, Zia lihat anak perempuan hanya bisa bekerja sebentar, setelah mereka punya suami mereka kebanyakan mengalah untuk mengasuh dan membesarkan anaknya dan mereka baru bisa bekerja kembali saat anak mereka sudah besar."


"Abang juga hanya mengizinkan Zia bekerja sampai masa kontrak berakhir, setelah itu Zia tidak usah bekerja lagi."


"Baiklah, Zia akan ikut abang, Zia juga akan mengurus anak-anak Zia sendiri."


Zaid tersenyum mendengar jawaban Zia.


"Abang akan ikut mengurus anak-anak kita."


Zaid meraih tubuh Zia membawanya dalam pelukan Zaid.


"Semoga niat kita berjalan lancar." ucap Zaid.


"Aamiin." ucap keduanya


Zaid melepaskan pelukannya. mereka segera merapikan perlengkapan sholatnya.


Pagi ini mereka sarapan pagi di penginapan, setelah sarapan mereka akan kembali melanjutkan perjalanan.


Zaid mandi dikamar mandi kamarnya dan membawa baju ganti. koper Zaid sengaja ditinggalkan dikamar Zia.


Selesai mandi dan berpakaian, mereka segera turun. koper Zaid dan Zia kembali dibawakan supir.


...----------------...


Pesan dari author untuk pembaca setia. 😊😊😍😍


Dear, bagi yang sudah baca tolong bantu tekan tombol Like yaπŸ‘πŸΌ,. itu sangat membantu untuk karya author,. diharapkan untuk like setiap episode.. terimakasih.

__ADS_1


Ingat jempol ya,. πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ


jempolnya sangat author harapkan. πŸ˜ƒπŸ˜ƒ


__ADS_2