
Zaid duduk diruang tamu memainkan ponselnya. Zia datang menghampiri.
"Kamu tidak jadi pulang?" Zaid melihat Zia yang masih menggunakan baju tidur.
"Jadi Om, aku sudah selesai mandi. baju yang kemaren masih basah, jadi aku pakai baju ini lagi."
Zaid tidak tahu jika Zia hanya memesan satu baju. pelayan yang disuruh Zaid untuk belanja keperluan Zia juga tidak berinisiatif membelikan Zia pakaian lebih.
"Kenapa tidak memesan banyak perlengkapan? kamu juga tidak memakai riasan wajah, kamu tidak terlihat seperti orang yang sudah selesai mandi."
"Ya, aku memang jelek Om, tidak secantik pacar Om."
"Pacar? aku tidak punya pacar."
"Aku lihat Om kelahi malam itu, Om putus dengannya?"
Zaid ingat cerita Harun, mereka berkelahi dan membuang jas yang ia pinjam.
"Jadi kamu berada ditempat jadian? dan memungut jas ku?"
"Ya. aku hampir mati ditabrak. Om sepertinya tidak sadar jika aku jalan kaki dan Om langsung berhenti didepan ku."
"Kamu melihat jelas wajah ku malam itu?"
"Tidak, aku hanya ingat wanita yang keluar dari mobil Om, dia seksi dan cantik."
"Bagaimana jika aku berkata, bukan aku yang berkelahi malam itu. apa kamu percaya?"
"Aku tidak peduli, sudah waktunya Om mentransfer uang ku. jangan bilang Om lupa."
"Oh iya, maaf. untung kamu mengingatkan ku. berapa nomor rekening mu?"
"Aduh, aku lupa. Hp ku juga kehabisan baterai." Batin Zia
"Tunggu sebentar Om."
Zia meninggal Om Zaid yang duduk di kursi tamu. Zia menemui pelayan yang masih sibuk memasak sarapan.
"Mbak, ada kertas dan pena?"
"Tidak ada. untuk apa Nona?"
"Aduh, penting mbak. ya sudah, aku ke depan dulu. maaf mengganggu mbak."
Zia kembali ke ruang tamu menemui Om Zaid.
"Om, aku tidak ingat nomor rekening ku, Hp ku juga kehabisan baterai. bagaimana saat sampai di kota Om menarik uang tunai?"
"Baiklah."
"Zia, yang berkelahi malam itu bukan aku, itu sahabat ku. namanya Harun. dia meminjam jas ku dan karena kesal dia membuang jas itu."
"Ternyata Om Zaid pintar berbohong juga. apa gunanya menjelaskan ini padaku." Batin Zia.
Zaid melihat ekspresi wajah Zia yang tidak mempercayai ucapannya.
__ADS_1
"Sepertinya percuma aku menjelaskan, Zia tidak mempercayai ku. aku juga tidak bisa berbuat banyak. aku harus bertemu Melani. aku ingin memastikan hati ku. aku tidak ingin mengecewakan Zia." Batin Zaid.
"Tuan, Nona sarapan sudah siap. silahkan ke ruang makan."
Zia yang dalam posisi berdiri langsung mengikuti pelayan itu ke ruang makan. Zaid merasa Zia mengabaikannya.
"Apa Zia tersinggung dengan ucapakan ku tadi? maaf Zia, walaupun kamu tidak memakai riasan wajah, kamu tetap imut dan cantik." Zaid bicara sendiri dan segera menyusul Zia yang sudah berada diruang makan.
Selama sarapan Zia tidak bersuara dan hanya fokus dengan sarapannya. Zia menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan meninggalkan Ziad yang masih makan sarapannya.
Zia masuk kekamar tamu dan mengambil tas tempat baju kotornya.
Zia menemui pelayan rumah yang berada di dapur, melawati Zaid yang masih duduk diruang makan.
"Mbak aku pamit pulang, sampaikan salam ku untuk kedua mbak yang berada di rumah sakit."
"Baiklah, akan saya sampaikan. besok kesini lagi ya. saya senang Nona datang kerumah ini."
"Aku jelek dan tidak akan pernah kerumah ini lagi mbak" Batin Zia.
Zia tersenyum dan memeluk pelayan itu.
Zaid melihat dan mendengar percakapan mereka. Zaid tersenyum melihat Zia yang akrab dengan pelayannya. Zaid berdiri tidak jauh dari mereka.
Setelah memeluk pelayan Zia segara pergi dan lagi-lagi melewati Om Zaid begitu saja.
"Saya juga pulang, beritahu yang lain untuk pulang kerumah masing-masing."
Pelayan itu merasa heran dengan ucapan Tuannya. Zaid tidak pernah hanya menginap semalam di rumah ini. biasanya Zaid akan menghabiskan waktu paling sedikit satu minggu di rumah ini.
"Ya, begitulah. doakan saja aku bisa mengambil keputusan yang tepat."
Zaid meninggalkan pelayan itu dan segera menyusul Zia yang sudah berada dihalaman rumah. Zaid membukakan pintu mobil untuk Zia. mereka segera berangkat.
Selama diperjalanan Zia tidak bersuara dan tidak melihat Om Zaid. Zaid juga tidak bisa memulai percakapan. Zaid merasa sakit melihat Zia yang mendiamkannya.
Mereka sampai di kota, Zaid segera mencari ATM terdekat. Zaid tidak ingin membuat Zia semakin kesal kepadanya. Zaid juga berharap hati Zia segera baik dan kembali berbicara dengannya.
Zaid melihat ATM dan segera berhenti.
"Zia, tunggu disini. aku mau menarik uang untuk mu."
Zia melihat Om Zaid dan mengangguk. Zaid tersenyum melihat Zia yang melihat kearahnya. Zaid segera memasuki ruang ATM, Zaid melihat maksimal penarikan sepuluh juta rupiah. Zaid melakukan penarikan sebesar sepuluh juta dan semua uang itu akan Zaid berikan untuk Zia.
Zaid segera memasuki mobilnya. Zaid mengambil Amplop coklat yang selalu ia siapkan di laci mobilnya. Zaid memasukkan semua uang yang ia ambil kedalam amplop.
Zaid tidak langsung memberikan uang itu kepada Zia. Zaid ingin mengantar Zia pulang dan mengetahui tempat tinggal Zia.
mereka melanjutkan perjalanan.
"Om, antar aku sampai di gapura saja. aku tidak ingin menjadi gunjingan tetangga, apa lagi semalam aku tidak tidur di rumah."
"Baiklah, dimana alamat rumah mu?"
Zia menyebutkan alamatnya.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu hapal jalan, tolong berikan arahan agar tidak salah jalan."
"Baiklah. Om lurus saja. nanti akan aku pandu lagi."
Zaid menghapal jalan yang disebutkan Zia, Zaid tahu Zia sengaja mengajaknya berputar-putar dan melewati jalan yang sempit. Zaid menyukai Zia yang sengaja mengerjainya dan ini membuat mereka lebih lama didalam mobil.
Zia sengaja mengarahkan Om Zaid jalan berputar-putar. Zia tidak ingin Om Zaid mengingat alamatnya.
"Berhenti di gapura depan Om."
"Apa rumah mu masih jauh kedalam?"
"Tidak, hanya ada dua belokan."
"Blok apa? nomor berapa?"
"Blok C nomor 20."
Zaid menghentikan mobilnya. Zaid mengambil pena dan menulis nomor di amplop yang berisi uang untuk Zia.
"Ini nomor Hp ku, dan didalam amplop ini ada uang untuk mu. ambillah."
Zaid menyerahkan amplop itu kepada Zia. Zia menerimanya dan tersenyum. Zia menyimpan amplop itu kedalam tas belanja yang ia pegang.
"Terimakasih Om. Maaf aku meminta uang yang banyak dari Om."
Zia menatap Om Zaid, begitu juga dengan Zaid.
"Tidak masalah, aku Ikhlas dan menyukai caramu mendapatkan uang ku. jika butuh pekerjaan telpon aku saja."
"Om akan cepat bangkrut."
"Asalkan kamu tidak mencampakkan ku, aku tidak masalah menyerahkan semuanya untuk mu."
"Dasar Om mesum."
"Aku serius dan aku bukan pria mesum."
"Sudahlah, aku harus pulang. jangan jadikan aku pelampiasan kesepian Om."
"Aku serius, aku benar-benar tidak memiliki pacar."
"Tapi aku juga tidak akan jadi pacar Om, karena aku jelek."
"Jangan bicara seperti itu, tadi pagi aku hanya bermaksud bergurau. maafkan aku."
"Mm. baiklah. aku turun dulu."
"Hati-hati dijalan."
Zia mengangguk dan segera keluar. Zaid memperhatikan Zia sampai Zia tidak terlihat lagi.
"Tunggu aku Zia, aku akan segera mengunjungi mu." Zaid bermonolog.
...----------------...
__ADS_1