Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
pendek dan miskin


__ADS_3

Zaid melihat Zia yang tidur dengan nyenyak, Zaid duduk di samping Zia memandangi wajah Zia, cantik dan natural.


"Zia, Melani kembali. aku tidak tahu bagaimana rupanya sekarang, dulu dia orang yang sedikit bicara dan sangat pintar dalam belajar. aku mencintainya selama masa kuliah. kami selalu bersama saat di kampus, aku lengah dalam menjaganya. aku tidak tahu kapan dia berpaling dan tidak mencintaiku. harapanku dihancurkan olehnya. dia pergi dan menikah.


empat tahun berlalu, kau lah perempuan pertama yang berhasil mencuri perhatian ku, kau terlihat lucu dan menggemaskan mengenakan jas milik ku. semoga saja dalam waktu dekat aku bisa memutuskan kemana hati ini akan menetap."


Zaid mencium kening Zia.


Zaid segera berbaring dan ikut menyusul Zia yang sudah tidur dengan nyenyak.


Ini pertama kalinya bagi Zaid tidur satu ranjang dengan perempuan yang bukan mahramnya, entah apa yang membuatnya berani mengajak Zia untuk tidur satu ranjang dengannya, melihat Zia yang tidur nyenyak, Zaid yakin Zia mempercayai ucapannya dan Zia adalah tipe wanita penurut.


Zia merasa kedinginan dan mencari kehangatan. Zia lupa saat ini sedang tidur bersama Om Zaid. Kehangatan tubuh Om Zaid membuat tidur Zia kembali nyaman dan nyenyak. Zaid terbangun dan melihat wajah Zia yang sudah menempel di bahunya, tangan Zia juga memeluk perut Zaid. Zaid tersenyum dan memindahkan tangan Zia. Zaid mengusap pipi Zia, perbuatan Zaid membuat Zia terbangun dan langsung mendorong tubuh Om Zaid.


Zaid terjatuh kelantai. Zia duduk ditempat tidur.


"Om mesum, kenapa mengusap pipi Ku?"


"Itu karena kamu yang bergeser kearah ku. lihat posisi mu sekarang. bahkan aku sudah berada dipinggir tempat tidur."


Zaid mengusap pantatnya yang terasa sakit.


Zia menoleh kesamping mengingat dimana posisinya saat tidur. Zia merasa malu ternyata dirinya yang bergeser tidur dan menempel ditubuh Om Zaid.


"Maaf Om." Zia turun dari kasur dan membantu Zaid untuk berdiri.


"Kamu kira tangan mu sanggup menahan berat badan ku? aku bisa berdiri sendiri."


Zaid mengabaikan tangan Zia yang sudah terjulur kearahnya. Zaid berdiri dan duduk di atas kasur.


"Om aku pindah kekamar tamu."


"Sebentar lagi sholat subuh jangan tidur."


Zia terdiam, selama ini Zia selalu di ingatkan untuk sholat oleh ibu dan ayahnya. semenjak kedua orang tuanya meninggal Zia jarang sholat dan bahkan dalam satu hari Zia bisa meninggalkan semua kewajiban nya.


"Kenapa termenung? kamu bukan seorang muslim?"


"A..aku muslim, Aku tidak bawa mukenah."


"Pakai sarung ku. Jangan meninggalkan kewajiban, apa lagi kedua orang tua mu mem butuhkan doa dari mu. sering doakan mereka dan bersedekah untuk mereka."


"Baik." Zia menundukkan kepalanya, selama ini belum ada yang mengingatkan Zia untuk sholat. Zia bersyukur mengenal Om Zaid.


Zaid mencari kain sarung dan menyerahkan kain sarung ke tangan Zia.

__ADS_1


"Kamu bisa menggunakannya?"


Zia menggeleng. Zaid pernah melihat Ibu nya memakai sarung untuk dijadikan mukenah.


"Sini, aku tunjukkan cara memakainya."


Mereka berdiri berhadapan, Zaid mengikat sarung di kening Zia, mengambil satu sisi sarung untuk dinaikkan keatas kepala Zia menutupi kepala dan punggung Zia, sisi sarung yang satu lagi menutupi bagian dada hingga pinggul Zia.


"Sudah, kamu tinggal memakai sarung satu lagi untuk menutupi bagian pinggang hingga menutupi kaki."


Zia berjalan menuju kaca besar yang ada dikamar Om Zaid.


"Om, Aku seperti ninja kampung yang siap untuk ronda."


Zaid tertawa mendengar ucapan Zia. Zaid mendekati Zia mereka sama-sama berdiri didepan kaca.


"Kamu ninja pencuri hati."


"Aku tidak pernah mencuri hati Om, tidak ada laki-laki yang menyukai ku. semuanya hanya menjadi teman untuk bercanda gurau."


Zaid tersenyum mendengar jawaban Zia.


"Itu bagus, tunggu aku. aku akan menjadi laki-laki pertama yang menyatakan cinta dan akan menghalalkan mu." batin Zaid.


"Apa sudah bisa ambil wudhu Om?"


Zia tersenyum dan mengangguk. setelah sarung terlepas dari kepala Zia, Zia langsung kekamar mandi. Zia merasa gugup dan salah tingkah dengan perhatian yang diberikan Om Zaid.


"Sadarlah Zia, Om Zaid tidak mungkin menyukaimu. Dia pria keturunan Arab, selera nya tidak mungkin seperti mu. kamu pendek dan miskin."


Zia berdebat sendiri dengan pikirannya.


"Ya, Om Zaid tidak boleh tau jika aku menyukainya. aku harus fokus untuk mencari pekerjaan dan melunasi kredit rumah." Zia berucap untuk dirinya sendiri.


Zaid melihat Zia yang buru-buru kekamar mandi.


"Apa dia kebelet? aku pakai kamar mandi Ibu saja, Zia pasti lama dikamar mandi."


Zaid segera kekamar orang tuanya yang berada disebelah kamarnya. Zaid sudah selesai mengambil wudhu dan segera memakai pakaian sholat. Zaid juga membentang sajadah untuk nya dan Zia.


"Kenapa belum selesai? kamu baik-baik saja?"


Zaid menanyai Zia yang masih dikamar mandi.


Zia keluar dari kamar mandi dan tersenyum.

__ADS_1


"Segera pakai sarungnya, kita sholat sunnah fajar dulu."


Zia mengangguk dan segera memakai sarung untuk menutupi auratnya. mereka sholat sunnah dan dilanjutkan dengan sholat wajib.


Selesai sholat mereka tidak bersalaman.


Zia segera melipat sarung dan keluar dari kamar Om Zaid. Zia melihat satu pelayan memasuki rumah. Zia menghampiri pelayan itu.


"Mbak, bagaimana kondisi temannya?"


"Oh, Nona Zia tahu kejadian yang menimpanya?"


"Iya, tadi malam Om Zaid yang cerita."


"Dia sudah baikan. nantik siang sudah bisa pulang. nanti siang Nona mau makan apa?"


"Tidak usah masak Mbak, aku pulang pagi ini."


" Kenapa buru-buru? apa Nona tidak puas dengan pelayanan kami?"


"Aku harus bekerja, Oh ya, Mbak ada charger Hp? Hp ku kehabisan baterai."


"Ada. tunggu saya ambilkan."


"Aku ikut." Zia mengikuti pelayan itu.


Mereka sampai dikamar belakang. Zia melihat Fasilitas kamar pelayan sama elitnya dengan kamar tamu. Pelayan itu menunjukkan tempat charger berada. Zia mengeluarkan Hp yang ada disaku baju tidurnya.


pelayan itu kaget dengan kondisi ponsel Zia.


"Apa Hp Nona jatuh?"


"Hp ku sudah lama mengalami kerusakan layar. aku belum berani menukar Hp. tunggu dapat pekerjaan tetap dulu."


"Kenapa tidak minta pada tuan Zaid. apa lagi Nona adalah orang yang istimewa, tuan tidak mungkin menolak permintaan Nona."


"Mbak ini ada-ada saja. saya bukan siapa-siapa nya Om Zaid."


Zia tidak melanjutkan ucapannya, Zia tidak mungkin mengatakan jika dia adalah pemungut jas Om Zaid dan ketahuan menjualnya. Zia ingat pacar Om Zaid sangat cantik dan seksi.


"Aku lupa menanyakan perempuan yang malam itu bertengkar dengannya, apa mereka putus? apa karena itu Om Zaid mengajak ku pergi kerumah ini. kalau begitu aku hanyalah pelampiasan kesepian Om Zaid. Oh malangnya nasib ku. untung aku segera ingat tentang pacar Om Zaid. aku tidak boleh berharap lagi. terimakasih tuhan engkau telah menyadarkan aku yang bodoh ini." Zia bicara dihatinya.


"Mbak charger nya tidak cocok, aku tidak jadi pakai. aku kekamar dulu mau siap-siap."


"Baiklah, aku buat sarapan dulu."

__ADS_1


Mereka sama-sama keluar dari kamar dan menuju tempat masing-masing. Zia memasukkan baju nya yang basah kedalam kantong dan menyimpannya dalam tas belanja yang diberikan Om Zaid. Zia mandi dan kembali memakai pakaian yang tadi ia pakai.


...----------------...


__ADS_2