Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Bertemu Melani dan Serly


__ADS_3

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi Zia memegang Hp dan melihat pesan masuk dari Zaid.


"Sayang abang sudah sampai, abang akan sibuk mempersiapkan pertemuan dengan calon investor. ingat pesan abang, jangan pergi kemana pun selain urusan pekerjaan." pesan itu dikirim Zaid jam dua pagi.


Zia tersenyum dan membalas pesan Zaid.


"Syukurlah abang sudah sampai, dua hari ini Zia tidak masuk kerja, Zia akan tetap di rumah kak Keke. jaga kesehatan abang, ingat untuk makan."


Setelah mengirim pesan Zia keluar dari kamar, membantu Mama Keke di dapur yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya.


Keke sudah rapi untuk berangkat kerja, Papa juga rapi.


Mereka sarapan bersama.


"Zia, kenapa tidak mengganti pakaian?" tanya Keke.


"Dua hari ini Zia libur kerja kak."


"Kamu kerja apa Zia?" tanya Mama.


"Zia bekerja sebagai supir pengantar barang."


"Loh, Kok bisa? bukannya suami mu CEO ditempat Keke bekerja?" tanya Papa.


"Iya, Zia lebih dulu tanda tangan kontrak kerja dari pada menjalin hubungan dengan bang Zaid."


"Kenapa tidak dibatalkan saja kontraknya? suami mu pasti sanggup membayar pembatalan kontrak." ucap Mama


"Zia belum pernah bekerja semenjak lulus SMA, Zia ingin merasakan gajian. Zia hanya bekerja untuk enam bulan."


"Oh,. bagus juga jika Zaid mengizinkan. Kalau Mama berhenti kerja semenjak Keke dilahirkan. dulu Mama bekerja sebagai Dosen, satu profesi dengan Papa Keke. sekarang Mama hanya di rumah, Mama kerja juga dari rumah. membuatkan kue pesanan pelanggan."


Zia kagum dengan Mama, yang rela mengundurkan diri dari pekerjaannya demi menjaga anaknya. sekarang memiliki kesibukan dan penghasilan juga.


Keke selesai sarapan begitu juga dengan Papa.


"Ma, Keke berangkat kerja dulu." ucap Keke sambil berdiri dari duduknya dan mencium pipi Mamanya.


"Hati-hati membawa kendaraannya." ucap Mama


"Ya, Ma.


Zia, Kakak kekantor dulu jangan pergi kemana pun apa lagi sampai kabur."


"Ya, kak. Zia tidak akan kemana-mana." jawab Zia


"Baguslah, Mama memiliki teman di rumah. jika tidak, Mama akan terus menelpon Papa, meminta Papa pulang cepat." ucap Papa


Ucapan Papa membuat semuanya tertawa. Papa pamit, mencium pipi Mama. Zia tersenyum melihat Kedua orang tua Keke. mereka sudah tua tapi tetap saling menyayangi dan romantis.


*****


Keke dan Harun sama-sama turun dari mobil. mereka parkir bersebelahan.


"Mau langsung ke kantor?" tanya Harun.


"Ya."


"Ayo ikut, kita naik lift khusus."


Keke mengangguk dan mengikuti Harun. Keke merasa beruntung bisa naik lift khusus bersama Harun, tidak berdesakan lagi dan berhenti tiap lantai.


Keke mencium aroma parfum Harun, sangat wangi.


"Bapak ganti parfum?"


"Tidak. mungkin terlalu banyak saat menyemprot."

__ADS_1


"Oh,."


"Apa bau nya menyengat?" tanya Harun.


"Tidak, saya suka aromanya."


Harun tersenyum. Mereka sampai dilantai 26.


Melani sudah didepan meja Keke. Keke dan Harun mendekatinya.


"Dimana Zaid?" tanya Melani.


Keke melihat Harun, memberikan kesempatan untuk Harun menjawab pertanyaan Melani.


"Dia sedang ada urusan, ada perlu apa?" tanya Harun.


"Dimana Zaid menyembunyikan istri bayarannya?" tanya Melani.


Keke kaget dengan ucapan Melani.


"Zaid tidak memiliki istri bayaran. Aku menyaksikan pernikahan mereka. kau ingin mengusik kehidupan Zaid? Zaid tidak pernah mengusik kehidupan mu. jadi jangan mengganggu kehidupannya."


"Aku tidak percaya dengan ucapan mu. Zaid tidak pernah menyukai wanita bertubuh pendek. aku yakin dia hanya ingin membuatku cemburu, dia ingin aku mengejar cintanya seperti dia mengejar cinta ku dulu."


"Apakah setelah kau menikah Zaid masih berkomunikasi dengan mu? Setau ku tidak. Zaid bahkan langsung membuang semua kenangan yang berhubungan dengan mu."


"Kau tahu apa tentang hati dan perasaan, kau tidak pernah merasakan cinta yang tulus. kau hanya sibuk dengan belajar mu. Aku akan menemukan istri bayaran Zaid, Aku akan beri dia peringatan karena sudah berani menampakkan wajah di kantor ini."


"Ruangan ini memiliki kamera pengawas dan perekam suara. ucapan mu bisa aku jadikan bukti untuk mencampakkan mu dari perusahaan ini. jika kau berbuat sesuatu terhadap istri Zaid aku tidak akan tinggal diam.


silahkan kembali ke ruangan mu dan jangan datang lagi ke ruangan ini."


"Aku tidak takut ancaman mu, Aku yakin Zaid akan membelaku dan meninggalkan perempuan pendek itu."


"Kau kira Zaid masih menyukai mu? Aku sarankan kau untuk berkaca dan lihat dirimu sekarang. kau seperti nenek sihir yang berdandan."


Harun tanggap menangkap tangan Melani. Menyeret Melani kedalam Lift khusus yang membawa Melani kelantai satu.


"Wanita itu menyeramkan. syukurlah dua hari ini Zia libur." ucap Keke.


"Mulailah bekerja." ucap Harun meninggalkan Keke dan masuk ke ruangan nya.


Harun menghubungi Dodi, meminta Dodi menemuinya di kantor.


Tidak lama menunggu Dodi datang. Dodi dan Harun membicarakan keamanan untuk Zia selama Zaid pergi.


Harun ingin Dodi mengetahui keberadaan Zia dan saat darurat Zia bisa langsung menghubungi mereka.


"Pasangkan Zia jam tangan yang bisa menelpon, dengan begitu dalam keadaan darurat Zia bisa menelpon kita. ingatkan Zia untuk hati-hati. lebih baik jika Zia mengetahui musuhnya."


"Ide mu bagus juga, tolong belikan jam tangan yang kamu maksud dan berikan pada ku setelah kau beli. aku akan minta bantuan Keke agar Zia memakai jam tangan itu."


"Baiklah."


"Aku akan transfer uangnya saat kau sudah tahu harga barangnya."


Dodi mengangguk dan segera pergi meninggalkan Harun.


Harun duduk menyandarkan punggung dan kepalanya, Harun memikirkan perubahan sikap Melani yang keras kepala dan kasar. sangat berbeda dengan Melani saat kuliah dulu.


Harun menelpon Zaid menggunakan Video call.


"Ya ada apa?" tanya Zaid


Terlihat Zaid sedang duduk dan mengetik didepan laptop.


"Kau sibuk?" tanya Harun

__ADS_1


"Ya, dan aku belum sempat istirahat, ternyata ada lima calon investor yang akan aku temui. Mereka ingin melihat profil dan prospek perusahaan. jika aku berhasil meyakinkan mereka Kita bisa mengembalikan modal Robert dan membuka pabrik baru serta menambah gudang."


"Jangan terlalu lama di sana, ingat istri kecil mu. jangan sampai dia tambah kurus karena memikirkan mu."


Zaid menghentikan kerjanya.


"Aku akan cepat tuntaskan pertemuan disini. bagaimana keadaan Zia?"


"Saat kau pergi Zia sedih dan tertidur dipinggir jalan bersama mobilnya. untung Dodi cepat memberitahu kami, kami segera ke lokasi menjemput Zia."


Zaid terlihat khawatir dengan ucapan Harun. apalagi Zia sengaja tidak ia berikan uang. Zaid tidak ingin Zia kemanapun dan membeli peralatan rumahnya.


"Jika Zia terus di rumah Keke dan pergi keluar hanya untuk bekerja, Zia pasti tambah sedih dan bosan. apa keputusan ku sangat merugikan Zia?" Zaid berucap sendiri di hatinya.


"Aku akan cepat kembali, Aku tidak akan menunggu dan membujuk lima investor ini untuk menanam modal. aku lupa jika target awal ku hanya untuk mengembalikan modal Robert. Terimakasih telah mengingatkan Ku, dan tolong jaga istriku."


"Tentu, sekarang aku dan Keke seperti abang dan Kakak bagi Zia. kami akan menjaganya."


"Terimakasih."


"Ya, istirahatlah. jangan sampai sakit."


"Baik."


Mereka mengakhiri pembicaraan pagi itu.


Keke mengetuk pintu kerja Harun. Harun mempersilahkan Keke masuk. Keke masuk bersama Serly. Harun tersenyum ramah.


"Duduklah." ucap Harun mempersilahkan keduanya duduk.


Keke merasa tawaran Harun bukan untuknya, Keke memutar badannya hendak meninggalkan ruang kerja Harun.


"Keke, aku juga menyuruh mu duduk. duduklah, kursi didepan ku masih ada untuk kau duduki."


"Aku ada perlu dengan mu." ucap Serly seolah tidak setuju Keke ikut duduk.


Harun berdiri dan menarik tangan Keke. Keke mengikuti Harun. Harun duduk di kursi nya dan tetap memegang tangan Keke. Harun menarik tangan Keke lebih kuat, membuat Keke terjatuh dipangkuan Harun. Harun tersenyum melihat Keke yang sudah duduk di pangkuannya.


"Tempat duduk mu disini." ucap Harun saat Keke melihatnya dengan tatapan penuh tanya.


Serly merasa terganggu dengan apa yang mereka berdua lakukan, Serly merasa Harun berubah dan tidak ingin ditemui.


"Maaf lain kali aku akan datang, silahkan kalian lanjutkan." ucap Serly.


Serly berdiri dan pergi meninggalkan mereka. Serly menutup pintu ruang kerja Harun. Serly melihat pintu masuk ruang kerja Zaid. Serly tersenyum dan mendekat, mencoba membuka pintu. tapi pintu ruang kerja Zaid tidak bisa terbuka. Serly kesal dan meninggalkan lantai 26.


Jantung Keke berdetak kencang, Keke tidak menyangka Harun akan berbuat seperti ini untuk membuat Serly mundur.


"Masih ingin duduk lebih lama dipangkuan ku?" tanya Harun.


Keke segera bangkit dan berdiri.


"Bapak yang memaksa ku duduk." jawab Serly.


"Terimakasih kau sudah berhasil membuat Serly keluar dari ruangan ini." ucap Harun.


"Tumben bapak menghindarinya."


"Aku sudah tahu apa yang dia perbuat dibelakang ku."


"Oh,. ternyata ada yang patah hati." ucap Keke tersenyum dan segera keluar dari ruang kerja Harun.


Keke kembali ketempat kerjanya. Keke tersenyum.


"Akhirnya pak Harun putus juga dari Serly. semoga saja pak Harun bisa membuka hatinya untuk ku." batin Keke.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2