Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo

Sopir Cantik Pemikat Hati Ceo
Ketahuan Ali


__ADS_3

Zaid sudah selesai mandi untuk yang kedua kalinya. Zaid kembali ke rumah Pak ngah.


Zaid melihat pak Ngah duduk di kursi rotan bersama suami Mak cik. Zaid ikut duduk bergabung bersama mereka.


"Nak Zaid, kamu serius dengan Zia?" tanya Pak Ngah.


"Iya pak, kami sudah mendaftarkan tanggal pernikahan, tepatnya hari jum'at depan. kami sengaja cepat datang menemui Pak Ngah dan Mak cik agar kami bisa mempersiapkan pernikahan kami disini. Zia tidak memiliki nomor Hp pak Ngah makanya kami memutuskan untuk segera menemui pak Ngah."


"Oh, jadi kalian sudah mengurus syarat nikah. apa kalian tidak malu menikah di rumah Pak Ngah yang jelek ini?"


"Tidak, kami tidak mempermasalahkan tempat. asalkan pak ngah merestui dan mau menikahkan kami itu saja sudah sangat membuat kami bahagia."


"Acara seperti apa yang kalian inginkan?"


"Kami akan ikut aturan yang ada di desa ini. kami ingin pernikahan kami di hadiri orang desa sini."


"Artinya kalian menikah disaksikan orang banyak, bukan keluarga inti saja?"


"Iya."


"Baiklah, jika kalian ingin pesta artinya ada acara tunangan. sekarang hari kamis, kapan kamu bisa menyiapkan cincin tunangan?"


"Saya sudah beli pak Ngah."


"Wah persiapan mu matang juga, kemudian untuk pesta tentu perlu dana yang banyak, seperti tempat pelaminan, sewa baju pesta, menu hidangan untuk pesta. apa kamu siap menanggung semua biayanya?"


"Saya sudah siapkan pak, berapapun biayanya akan saya tanggung, asalkan pernikahan kami berjalan lancar."


"Baiklah, berarti kita harus menetapkan hari pertunangan kalian. kami juga harus memanggil orang-orang yang patut menghadiri acara lamaran kalian."


"Kami juga sedang menunggu pelatihan pranikah dari kantor urusan agama disini pak Ngah, agar tidak mengganggu bagaimana jika lamaran nya kita buat hari minggu ini?"


"Baiklah. kami setuju."


Zaid merasa lega setelah bicara dengan Pak Ngah, ternyata Pak Ngah sangat santai dan tidak terlalu formal menanyakan maksud kedatangannya bersama Zia.


Ali yang dari tadi memegang kamera Zaid, diam-diam memotret, Zaid, Pak Ngah dan suami Mak cik yang asik mengobrol di kursi rotan depan rumah.


Azan magrib dikumandangkan, mereka bersiap untuk sholat berjamaah. Pak Ngah menjadi imam sholat mereka.


Setelah sholat, semua perempuan di rumah itu sibuk menyiapkan makan malam, mulai dari menyiapkan piring makan, gelas, nasi yang disalin dalam beberapa mangkok, menata beberapa lauk dalam piring karena mereka makan membentuk lingkaran dan duduk dilantai.


Zia mengenakan baju tidur pendek tangan, sedikit lebar bagian lehernya dan panjang baju itu hanya melewati lutut Zia. belahan dada Zia sedikit terekspos ketika Zia menundukkan badannya. Zaid tidak rela ada orang lain yang melihat miliknya.


Zia ke dapur menuang air kedalam teko untuk dibawa ketempat makan. Zaid menghampiri Zia.


"Sayang, kenapa pakai baju seperti ini?"


"Kenapa? apa baju ini terlihat jelek?"


"Iya, karena tidak menutupi si kembar dengan baik."


"Maksudnya?"


"Segeralah ganti baju. pakai baju yang lehernya tidak lebar."


Zia mengerti maksud ucapan Zaid.


"Baiklah, Zia akan ganti baju."


Zaid meneruskan pekerjaan Zia, membawa teko yang sudah berisi air ketempat mereka makan.

__ADS_1


Zia kembali ketempat makan, memakai baju kaos yang berkrah dan sedikit ketat.


Selesai makan zaid ikut membantu merapikan tempat makan mereka. semua peralatan makan yang kotor dicuci Mak cik dan Bundo. Zia hanya disuruh membuang sampah- sampah sisa makanan kebelakang rumah.


Pak Ngah dan Suami mak cik berkumpul diruang besar, asik bermain dengan cucu mereka yang masih 3 bulan, ditemani menantu dan anak Pak Ngah.


Ali sibuk melihat hasil potretnya yang ada di kamera Zaid.


Zaid diam-diam mengikuti Zia membuang sampah kebelakang rumah. Zia menghidupkan senter Hp nya untuk penerang jalan. selesai membuang sampah Zaid langsung menarik tangan Zia, Hp ditangan Zia terjatuh.


Zaid memeluk tubuh Zia dengan erat.


"Abang, jangan begini. tidak enek jika ketahuan."


"Kenapa memakai baju ketat?"


"Zia tidak sempat mencari baju yang lain."


"Besok kita belanja baju untuk Zia, abang yang pilihkan. abang tidak mau lagi Zia memakai baju seperti ini."


"Baiklah, sekarang lepaskan Zia."


Zaid merenggangkan pelukannya dan meraih dagu Zia, menghisap bibir Zia dengan rakus. Zaid tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Zia. tidak seperti Melani yang hanya pernah diciumnya sekali, setelah hampir empat tahun pacaran.


Ciuman kali ini membuat Zia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya, ingin memberikan benda berharga yang selama ini dijaganya.


"Abang, Zia gak kuat lagi."


Zaid segera menghentikan aksinya. memeluk tubuh Zia yang bergejolak menahan sentuhan nakal tangan Zaid.


Keduanya menghirup udara melalui hidung dan membuangnya melalui mulut untuk menormalkan detak jantung mereka.


"Abang sudah bicara dengan Pak Ngah dan Suami Mak cik, tentang acara pernikahan kita. abang ingin kita pesta. menjelang hari pernikahan kita tunangan dulu."


"Tunangan? pakai cincin lagi?"


"Iya, abang sudah siapkan cincinnya."


"Trus cincin ini?"


Zia memperlihatkan cincin yang pernah dipasangkan Zaid saat mereka mengunjungi makam kedua orang tua Zia.


"Itu tetap untuk Zia, nanti Zia juga bisa menggunakan kedua cincin itu."


"Baiklah, bang, kenapa ya Bos Bagian gudang tidak menelpon Zia untuk bekerja?"


"Apa sudah sangat rindu untuk bekerja?"


"Tidak, rencananya kalau Bos nelpon Zia mau minta izin kerja dulu, sampai acara pernikahan kita selesai dan kita sudah kembali dari rumah Pak Ngah."


"Apa tidak ingin menambah libur?"


"Menambah libur untuk apa lagi?


"Bulan madu."


"Ha..ha..ha.. gak lah, kita bisa melakukannya malam hari, siangnya Zia pergi kerja."


"Bagaiman kalau Zia tidak kuat untuk bekerja? kata orang buka segel itu sakit."


"Zia gak percaya."

__ADS_1


"Siap untuk mencoba setelah halal?"


"Siap, abang jangan ganggu Zia seperti tadi lagi."


"Kenapa?"


"Zia gak kuat nahan diri. pertahan Zia hampir jebol."


Mereka sama sama tersenyum.


"Iya deh, abang akan menahan diri sampai kita halal. besok kita ajak Bundo dan Pak Ngah cari tempat belanja. abang gak mau lihat Zia pakai pakaian ketat dan terbuka lagi."


"Zia belum siap kalau harus pakai jilbab."


"Dicicil dulu, jangan memakai celana pendek lagi didepan orang lain, gunakan rok atau celana panjang."


"Iya, bajunya masih boleh yang pendek tangan kan?"


"Besok abang maunya setelah kita menikah Zia hanya memakai baju pendek untuk abang."


"Iya Zia tahu, berdandan hanya untuk suami, pakai baju seksi juga untuk suami."


"Pintar, besok praktekkan ya." ucap Zaid


Ali datang menghampiri mereka.


"Ternyata disini? apa yang mau di praktek kan?"


"Mau apa kesini?" tanya Zaid.


"Mau minta tambahan pekerjaan sama Pak Zaid."


"Maksudnya?"


"Biar saya yang jadi fotografer dihari penting bapak, hasil jepretan saya lumayan bagus. silahkan bapak lihat."


Ali menyerahkan kamera Zaid yang dari tadi dipegangnya. Zaid melihat hasil jepretan Ali, lumayan bagus dalam pengambilan gambarnya.


"Baiklah, kamu pegang kamera ini dengan baik. besok setelah kita kembali ke kota kita, saya akan bayar gaji mu sebagai fotografer."


"Yes,. oke. saya pegang janji bapak dan saya akan bekerja secara profesional. Neng Zia nya jangan dicicipi terus, kasian nanti jadi kurus."


Zaid dan Zia kaget mendengar ucapan Ali.


"Maksud mu?" tanya Zaid.


"Saya lihat apa yang bapak dan Zia lakukan tadi siang di dapur."


Zia batuk setelah mendengar ucapan Ali.


"Tadi siang aku hanya memberikan Zia obat." jawab Zaid.


"Mana ada memberikan obat seperti itu. tadi saya pikir bapak dan Zia melakukannya lagi. habisnya saya tidak lihat bapak diruang besar, di dapur, saya sampai keliling mencari bapak dari belakang rumah, ternyata bapak duduk santai disini. maaf ya, tadi sempat berfikiran negatif."


Zia bersyukur malam ini aib mereka tidak diketahui Ali, Zia melirik Zaid dan merasa malu karena hampir saja mereka ketahuan untuk yang kedua kalinya.


Zaid memberikan kode agar Zia tetap tenang. mereka sudah sepakat tidak akan berbuat seperti itu lagi sampai mereka halal.


Semua yang mereka lakukan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka, yang akan mereka ingat sampai kapan pun.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2