Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Sama Sama Gengsi


__ADS_3

Happy reading.....


Emil mengerutkan dahinya saat melihat Bintang menutup kembali koper itu, dan dia malah melamun. Emil heran sebab Bintang belum juga memakai baju.


''Kenapa kamu belum memakai baju?'' tanya Emil sambil menatap kearah istrinya.


Bintang kaget saat mendengar suara Emil, kemudian dia pun menjadi gelagapan, karena tidak mungkin Bintang bilang jika isi di dalam koper itu semuanya lingerie, tidak ada baju satupun.


''Emm ... Itu ... anu ... aku ...'' Bintang menggaruk kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia ucapkan kepada Emil.


Sedangkan pria yupi itu hanya menatap Bintang dengan tatapan bingung. Dia tidak tahu bahasa apa yang Bintang ucapkan. ''Jika ditanya, jawab yang bener. Jangan itu ... anu ... bahasa alien mana itu?'' tanya Emil sambil mendengkus dengan kasar, kemudian dia kembali menatap kearah laptopnya.


''Apa ora kebalik ya? Seharusnya yang Alien itu kamu, bukan aku. 'Kan kamu pria setengah yupi,'' gerutu Bintang sambil menatap Emil dengan kesal.


''Sudah, pakai bajumu jika tidak ingin masuk angin. Kecuali, kamu memang ingin menggoda aku. Atau kamu memang tidak ingin memakai apapun seperti waktu itu?'' ledek Emil mengingatkan Bintang pada kejadian di mana dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang polos.


Ucapan Emil mampu membuat Bintang membulatkan matanya dengan tatapan menyipit. Bahkan wajahnya sudah merah merona saat mengingat kejadian itu.


''Sudah diamlah! Tidak usah mengungkit masalah itu. Anggap saja itu sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Anggap saja, aku lagi bersedekah untuk mencuci matamu!'' ketus Bintang sambil duduk di tepi ranjang dan membelakangi Emil.

__ADS_1


''Mencuci mata? Yang ada mata suciku ternoda oleh pemandangan yang tidak Berfaedah,'' gumam Emil. Namun masih terdengar jelas di telinga Bintang.


Wanita itu tidak terima saat Emil mengatakan hal itu, kemudian dia mengambil bantal dan berjalan ke arah Emil. Dengan cepat Bintang memukul tubuh Emil. ''Kamu pikir, aku ini kotoran? Enak aja main ngatain orang noda. Kalau memang mata suci-mu ternoda, sono rendam pake rinso biar tambah kinclong, biar tambah glowing!'' kesal Bintang sambil melempar bantal ke arah Emil, lalu menghentakan kakinya dengan kesal.


Dia keluar dari kamar dengan hati yang gondok tanpa memperdulikan ringisan Emil, karena pukulan darinya. Sudah 'mah hatinya kesal karena tidak ada baju ganti, bahkan dalaman sekalipun. Yang ada hanya lingerie saja.


''Dasar pria yupi. Es kobokan piring. Dia bilang ternoda? Dia pikir, mata dia suci apa? Au yakin kok, dia pasti sudah sering melihat adegan 21+ di hp-nya, Jika dia itu normal,'' gerutu Bintang sambil ke berjalan ke arah dapur dan mengambil air dingin di kulkas.


Dia masih merasa kesal kepada Mama mertuanya, karena Mama Ria sama sekali tidak menyelipkan satu baju pun. Dan Bintang bingung harus memakai apa untuk tidur. Tidak mungkin dia harus memakai baju lacknat itu di hadapan Emil, karena belum tentu juga Emil akan tergoda.


Emil merasa heran saat melihat Bintang tidak memakai baju ganti, kemudian dia berjalan ke arah koper Bintang lalu membukanya. Seketika mata Emil membulat kaget dengan mulut sedikit mengangga. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat di dalam koper, kemudian dengan cepat Emil menutup kembali koper itu.


''Ini pasti kerjaan Mama. Dia sengaja tidak memberikan Bintang baju ganti, malah menggantinya dengan saringan kelapa kayak gini. Kalau wanita itu yang memakainya, otomatis aku akan melihat tubuhnya yang polos. Karena saringan ini begitu tipis dan sangat menerawang, seperti tidak memakai baju saja,'' ujar Emil dengan lirih, sambil memijit pelipisnya yang terasa begitu pusing.


''Sebaiknya kamu kenakan saja saringan ampas kelapa itu. Daripada kau tidak menggunakan apapun?'' ujar Emil dengan cuek saat berada di meja makan.


Bintang tersedak makanannya saat mendengar penuturan Emil, dia tidak menyangka jika pria itu tahu isi di dalam koper milik dirinya.


''Kau ...'' Bintang menatap Emil sambil menggantung ucapannya, dan pria itu langsung mengangguk. ''Ya, aku tahu isi dalam koper-mu. Tadi aku mengecek nya, sebab aku penasaran kenapa kamu tidak memakai baju,'' jawab Emil dengan acuh sambil memakan makanannya.

__ADS_1


''Apa jika aku memakai pakaian itu, kau tidak akan tergoda?'' tanya Bintang sambil mengangkat satu alisnya dengan tatapan menyipit ke arah Emil.


''Untuk apa? Melihat tubuhmu saja tidak membuatku berselera sama sekali. Tubuh bak triplek saja bangga,'' bohong Emil dengan acuh.


Bintang merasa terhina dengan ucapan Emil, kemudian dia menyudahi makannya. ''Baiklah, jika itu mau kamu. Aku akan mengenakan pakaian itu setiap hari. Karena aku lihat, Mama Ria menaruh pakaian itu sekitar 20 pcs, dan aku harap kamu memang tidak tergoda. Iya kecuali ... kamu memang tidak normal? Kalau kamu normal, mungkin tongkat Jaka Tarub-mu itu akan berdiri,'' ledek Bintang sambil berjalan meninggalkan meja makan.


Kini gantian Emil yang tersedak makanannya saat mendengar jawaban sompral dari Bintang. ''Dasar kembaran kaleng rombeng. Ternyata dia bukan hanya somplak, tapi perkataannya juga vulgar. Enak aja main nyamain punyaku dengan Jaka Tarub? Punyaku itu lebih tepatnya Naga berbulu,'' gumam Emil sambil mengingat barang miliknya.


Emil masuk ke dalam kamar dan matanya langsung membulat, tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali saat melihat seorang wanita yang tengah menonton televisi di atas ranjang, dengan pakaian yang begitu terbuka.


GLUK...


Dengan susah payah Emil menelan ludah nya dengan kasar, dia tidak menyangka jika Bintang begitu sangat seksi saat menggunakan lingerie berwarna merah menyala. Dia seperti seorang wanita malam yang siap untuk melayani pelanggan nya.


'Ya ampun ... kenapa dia terlihat begitu menggoda dan begitu sangat cantik. Bahkan tubuhnya bak gitar spanyol. Ada apa ini? Kenapa naga berbulu ku mulai bangun? Astaga Emil, tahan ... tahan Emil. Jangan sampai kau tergoda dengan wanita itu. Bisa bisa kau di ledek habis-habisan oleh dia,' batin Emil sambil menahan sesuatu yang mulai bergejolak di dalam tubuhnya.


Emil berdehem untuk menetralkan degup jantungnya yang saat ini berdebar dengan kencang. Sedangkan Bintang acuh saja sambil menonton drama korea kesukaannya. Apalagi saat Emil duduk di sampingnya, dia sama sekali tidak perduli.


Padahal siapa yang tahu, jika sebenarnya Bintang juga malu. Bahkan dia merutuki kebodohan nya sendiri karena telah memakai pakaian lacknat itu di hadapan Emil, tapi mau bagaimana lagi dia tidak mempunyai baju ganti.

__ADS_1


'Tahan Bintang, tahan. Jangan sampai wajahmu memerah dan terlihat pria setengah yupi ini. Bisa bisa aku diledeknya. Lagi pula, dia tidak akan tergoda dengan tubuhku. Da bilang 'kan, tubuhku seperti triplek?' batin Bintang sambil melirik ke arah Emil dari sudut matanya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2