Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Makan malam


__ADS_3

Happy reading.....


Sesuai dengan ucapan Leon tadi pagi, jika dia akan menjemput Tiwi di rumahnya tepat jam 19.00 malam, dan saat ini Leon sudah berada di depan rumah Tiwi.


Pria itu mengetuk pintu, dan tak lama pelayan datang dan menyuruh Leon untuk masuk, lalu dia pun menunggu di ruang tamu.


Sementara itu, di kamarnya, Tiwi merasa gugup. Dia sebenarnya senang diajak makan malam oleh Leon, tapi tetap saja, dalam hati Tiwi merasa sedikit nervous.


''Tiwi, udah siap belum, Nak? Itu Leon sudah menunggu kamu di bawah,'' ucap sang mama sambil mengetuk pintu kamar Tiwi.


''Ayo Tiwi, kamu jangan gugup! Nanti malah si lampu lampion kepedean lagi? Lagi pula, ini hanya makan malam biasa, gak usah geer deh,'' ucap Tiwi pada dirinya sendiri.


Kemudian dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di sana sudah ada sang mama yang sedang menunggu dirinya dan memintanya untuk turun, karena Leon sudah menunggu di bawah.


Tatapan pria itu terhenti saat melihat Tiwi berjalan ke arah ruang tamu, sambil memakai gaun berwarna biru muda tanpa lengan.


Dia benar-benar sangat cantik. Apakah ini si cewek berbulu, atau bidadari yang baru saja turun dari langit? batin Leon.


Tiwi merasa heran, saat melihat Leon yang hanya diam mematung sambil menatap dirinya. Kemudian dia mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan wajah Leon. Namun, pria itu tetap tidak berkedip sama sekali.


Terpaksa Tiwi pun memukul lengan Leon, hingga membuat pria itu terjingkat kaget dan tersadar dari lamunannya.


''Eh lampu lampion, terpesona lo sama gue? Iya, wajar sih, gue emang cantik,'' ucap Tiwi dengan nada yang PD.


''Heh cewek berbulu sapi. Enak aja kalau ngomong. Siapa yang terpesona sama lo, hah? Yang ada, mata gue kelilipan lihat lo,'' jawab Leon dengan ketus.


''Gaya lo, kelilipan? Jelas-jelas, lo tadi ngeliatin gue nggak kedip sama sekali? Itu mata untung gak gue colok!'' Tiwi berkata tak kalah ketus dari Leon.

__ADS_1


''Aduh ... sudah, sudah. Kalian ini sudah kayak Tom and Jerry aja? Mendingan, sekarang kalian pergi, keburu malam. Kalau nggak jadi, ya udah nggak usah pergi,'' ujar tante Salma menengahi pertengkaran mereka berdua.


''Jadi, kok Tante,'' jawab Leon dengan cepat. Kemudian dia melirik ke arah Tiwi. ''Ayo cewek berbulu kita berangkat!''


Tiwi menekuk wajahnya saat Leon menyebutnya cewek berbulu. Dia heran, kenapa Leon tidak ada romantis-romantisnya sekali terhadap cewek. Walaupun mereka tidak ada hubungan apapun.


Sementara tante Salma hanya menggelengkan kepalanya saja, melihat kelakuan putri dan juga temannya itu. Dia juga pernah muda dan pernah merasakan bagaimana berada di posisi putrinya.


*D*asar lampu lampion. Gak ada romantis-romantis yang amat sih sama cewek? Heran gue! gerutu Tiwi di dalam hati.


Saat berada di dalam mobil, Tiwi masih menekuk wajahnya. Dia masih merasa kesal dengan Leon, sebab pria itu sama sekali tidak memuji kecantikannya. Padahal Tiwi sudah berdandan dengan susah payah.


''Jangan ditekuk kayak gitu, wajahnya! Mirip ikan cucut tau,'' ledek Leon sambil menyetir mobil.


''Enak aja lo kalau ngomong! Eh, ikan cucut-cucut gini tuh, gue cantik tau nggak!'' jawab Tiwi sambil melengos ke arah samping.


''Hei lampu lampion! Enak aja kalau ngomong . Semua cewek juga berbulu kali, dari ketek, hidung dan badan. Emang gak ada bulunya, hah? Kalau nggak ada bulunya, nggak ada pori-pori dong? Atau jangan-jangan ... lo tuh yang nggak ada bulunya? Dari mulai ketek, hidung sampai yang bawah?'' Tiwi berkata dengan nada yang sewot.


''Maksudnya yang bawah, yang mana? Eh, lo tuh masih gadis, pikiran tuh jangan travelling dulu! Direndam sono sama pemutih, biar bersih!'' tukas Leon sambil tertawa kecil.


''Iihh, siapa juga yang piktor? Yang ada lo, tuh? Emangnya yang bawah itu apanya? Lo pikir, pisang ambon? 'Kan yang bawah itu bisa kaki, telapak kaki, masa iya kepala lo udah di bawah? 'Kan nggak mungkin Paijo!'' gerutu Tiwi.


Leon meremas tangannya sendiri di hadapan Tiwi. Dia benar-benar geram pada wanita yang selalu menguji kesabarannya, tapi seketika Leon mengusap dadanya. Dia benar-benar harus sabar menghadapi Tiwi yang bar-bar.


Tidak bisa Leon bayangkan, bagaimana jika dia harus jadian bersama dengan Tiwi. Sedangkan mereka terus saja bertengkar seperti Tom and Jerry.


Sesampainya mobil di restoran, Leon langsung membukakan pintu mobil Tiwi. Kemudian mereka masuk ke salah ke salah satu ruangan VVIP, yang sudah dipesan oleh Leon. Dan kebetulan ruangan itu menghadap langsung keluar, di mana kota Jakarta terlihat indah di malam hari.

__ADS_1


''Waaah ... gue baru tahu, restoran ini ternyata bisa menyajikan pemandangan seindah ini ya?'' gumam Tiwi sambil menatap ke arah depan.


''Iya, memang sangat indah,'' jawab Leon saat berada di samping wanita itu.


Kemudian Leon mengajak Tiwi untuk makan malam, sebab makanan juga sudah tersedia di sana. Wanita itu pun mengangguk, lalu duduk sambil melihat pemandangan di luar.


Sesekali Leon mencuri pandang ke arah Tiwi. Sebab dia benar-benar terpesona dengan kecantikan wanita itu. Namun entah kenapa, gengsi Leon terlalu tinggi untuk mengatakan yang sebenarnya, jika Tiwi malam ini benar-benar sangat cantik.


Setelah makanan selesai, saat ini pelayan menyediakan dessert yang sudah dipesan oleh Leon. Kebetulan dessert itu pula kesukaan Tiwi, namun ada yang aneh.


Saat Tiwi memakan dessert tersebut, ada sesuatu yang keras tergigit di giginya. Dan saat dia mengambilnya, ternyata itu adalah sebuah cincin.


''Ya ampun, pelayan di sini jorok-jorok banget sih! Masa cincin aja sampai masuk ke dalam dessert? Entar kalau ketelen gue, gimana? Ampun deh!'' heran Tiwi sambil mengelap cincin tersebut dengan tisu.


Leon menepuk jidatnya dengan pelan. Dia tidak menyangka, jika wanita yang berada di hadapannya ini tidaklah peka.


''Itu bukan cincin pelayan,'' ujar Leon.


''Lalu cincin siapa? Miss kun-kun?'' jawab Tiwi dengan jutek.


''Ambillah kertas yang ada di bawah mangkuk dessertmu! Maka kamu akan tahu!'' titah Leon kepada Tiwi.


Tiwi yang mendengar ucapan Leon, segera mengangkat mangkuk dessert tersebut, dan ternyata di bawahnya ada sebuah kertas. Dia pikir, tadinya itu adalah tisu. Kemudian dengan alis bertaut heran, Tiwi membukanya.


Seketika mata Tiwi terbelalak kaget, saat melihat tulisan yang berada di kertas putih tersebut. Kemudian dia menatap ke arah Leon.


''Lampion, ini ...'' Tiwi tidak meneruskan kata-katanya, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2