
Happy reading
Setelah makan malam yang memalukan itu, Bintang berjalan menyusuri pesisir pantai. Dia menatap ke arah lautan yang gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa kapal yang berlayar di malam hari dengan lampu-lampu yang meneranginya.
Sebenarnya Bintang masih merasa malu tentang kejadian tadi. Apalagi saat melihat wajah Emil yang cuek saja, seakan tidak peduli dengan ledekan dari Mama Ria, Leon dan juga Tiwi. Pria itu benar-benar berwajah tembok.
''Sayang, kamu ngapain di sini? Anginnya sangat besar,'' ucap Emil sambil memeluk Bintang dari belakang.
Bintang melepaskan pelukan Emil dengan kesal, kemudian dia pergi meninggalkan pria itu. Emil yang merasa bingung dengan sikap Bintang, mengejar istri tercintanya lalu menarik tangan Bintang hingga wanita itu menghentikan langkahnya dan menatap Emil dengan tajam.
''Apa sih!'' ketus Bintang sambil membuang pandangannya ke arah lain.
''Kamu kenapa? Kok ninggalin aku?'' tanya Emil dengan bingung.
''Kamu tanya aja sama diri kamu sendiri, pakai nanya lagi!'' Bintang berkata dengan nada yang ketus. Setelah itu dia menghempaskan tangan Emil, lalu pergi meninggalkan pria itu dan masuk kembali ke dalam hotel.
Emil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Dia merasa heran dengan sikap istrinya, kemudian pria itu pun menyusul Bintang masuk ke dalam hotel, dan saat dia sampai di kamar, Bintang tengah duduk di tepi ranjang membelakangi pintu sambil menekuk wajahnya.
Emil benar-benar tidak peka dengan perasaan Bintang saat ini yang sedang kesal kepada dirinya. Kemudian dia berjongkok di hadapan Bintang, dan menatap wajah cantik wanita itu. Akan tetapi, lagi-lagi Bintang membuang pandangannya ke arah lain.
''Sayang, kamu kenapa sih kok dari tadi kayak kesel gitu sama aku? Memangnya aku salah apa?' tanya Emil yang tidak peka.
''Dasar es kobokan piring. Emang udah dasarnya wajah kamu tuh Da tar kayak tembok, ditambah sekarang nggak peka lagi,'' gerutu Bintang dengan wajah yang ditekuk kesal.
Emil semakin bingung saat mendengar ucapan Bintang, yang mengatakan jika dia berwajah datar dan tembok. Pria itu pun duduk di samping Bintang, kemudian menggenggam tangan wanita itu, lalu satu tangannya memegang dagu Bintang agar menghadap ke arahnya.
''Katakan! Apa salahku? Jangan membuatku bingung. Kamu 'kan tahu, aku selama ini tidak pernah berhubungan dengan wanita? Jadi, aku tidak tahu salahku di mana?'' tanya Emil dengan tatapan memohon kepada Bintang.
__ADS_1
Wanita itu menghela napasnya dengan kasar, dia baru sadar jika Emil memang tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, bahkan tidak pernah bersentuhan dengan mereka. Jadi wajar saja, jika Emil tidak peka dengan perasaan Bintang saat ini.
Kemudian Bintang mengikat rambutnya ke atas, hingga leher jenjangnya yang penuh dengan stempel kepemilikan Emil terpampang jelas dan indah. Emil tersenyum saat melihat tanda yang dia buat di kulit putih milik istrinya.
''Kenapa senyum-senyum kayak gitu?'' tanya Bintang sambil mengangkat satu alis dengan heran, saat melihat Emil yang sedang tersenyum sambil menatap ke arah lehernya.
''Aku tidak menyangka, ternyata aku bisa membuat maha karya yang begitu indah di tubuh istriku sendiri. Sepertinya, aku ingin membuatnya lebih banyak lagi. Bahkan mungkin di ketiakmu juga perlu aku tambahkan,'' ucap Emil sambil mengetuk dagunya, memikirkan bagaimana dia membuat maha karya di ketiak Bintang.
PLAK!
Bintang yang mendengar ucapan Emil seketika menggeplak lengan pria itu dengan kesal, hingga membuat Emil seketika mengaduh dan menatap Bintang dengan bingung. ''Sayang, kok kamu malah mukul aku sih?'' tanya Emil.
''Otakmu benar-benar harus dicuci ya! Sepertinya sudah kotor dengan cucian piring. Masa iya di ketek pun kamu bikin stempel, sih? Aku itu malu tahu! Leherku udah banyak banget stempel dari kamu. Masa kamu mau bikin lagi? Sekujur tubuh aku tuh udah banyak bentol-bentol!'' kesal Bintang sambil membalik tubuhnya membelakangi Emil.
Wanita itu tidak habis pikir dengan cara berpikirnya Emil, tentang membuat stempel di ketiaknya. Jika dipikir secara logika, mana bisa stempel berada di sebuah ketiak. 'Apakah dia tidak merasa bau asam, sama sekali?' batin Bintang, kemudian senyum jahil pun terbit di wajah cantiknya.
Dia ingin membalas perbuatan Emil yang sudah membuatnya malu, kemudian dia membalik tubuhnya dengan semangat dan menatap suaminya. ''Kamu beneran, mau bikin stempel di ketiak aku? Yakin?'' tanya Bintang memastikan, kemudian Emil yang mendengar itu pun mengangguk dengan semangat.
''Baiklah, tapi stempelnya bikinnya besok pagi ya, bagaimana?'' tanya Bintang kepada Emil. Namun pria itu menggeleng dengan cepat, ''Tdak mau, Sayang! Aku maunya sekarang!'' pinta Emil dengan wajah memelas. Namun Bintang segera menahan bibir Emil yang hampir saja mencium dirinya.
''Kamu sudah menggempurku dari siang. Emangnya kamu pikir, tubuh aku ini Robot? Tidak mempunyai rasa sakit. Besok pagi saja! Sudah, aku mau tidur,'' ucap Bintang sambil merebahkan dirinya lalu menarik selimut untuk menjemput alam mimpi.
Sedangkan di bawah, Tiwi masih duduk di sebuah kursi sambil memandangi lautan. Meresapi semilir angin yang menerpa tubuhnya, bahkan sweater yang dipakai wanita itu pun seakan mampu menembus dinginnya malam.
Sebenarnya Tiwi kedinginan, tetapi dia malas untuk kembali ke kamar. Akhirnya wanita itu pun hanya diam sambil memperhatikan orang-orang yang sedang berpacaran, berlalu lalang di hadapannya.
Saat Tiwi tengah melamun, tiba-tiba sebuah jaket melingkar di tahunya, membuat wanita itu seketika menoleh ke arah samping dan ternyata itu adalah Leon. ''Tidak baik angin malam untuk tubuh. Kamu bisa masuk angin,'' ucap Leon sambil duduk di sebelah Tiwi.
__ADS_1
''Kenapa belum tidur?'' tanya Tiwi tanpa menatap ke arah Leon sedikitpun.
''Aku belum mengantuk. Kamu sendiri, kenapa belum tidur?'' tanya Leon balik.
''Aku juga belum mengantuk,'' jawab Tiwi dengan singkat. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka.
Leon juga bingung harus berkata apa kepada Tiwi, dan akhirnya dia pun hanya diam sambil menatap lurus ke arah depan. Bahkan Tiwi tidak mengucapkan apapun tentang jaket yang melingkar di bahunya, sebab wanita itu tidak memintanya. Akan tetapi, Leon yang mempunyai inisiatif sendiri.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, Tiwi pun beranjak dari duduknya lalu melepas jaket Leon.
''Aku permisi dulu, ini jaketnya. Terima kasih,'' ucap Tiwi sambil berlalu meninggalkan Leon dan mulai melangkah menyusuri pesisir pantai dengan kaki polosnya.
Sejenak Leon terdiam, kemudian dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Tiwi dan berjalan beriringan dengan wanita itu. Tiwi hanya menoleh sekilas ke arah Leon, lalu kembali menatap lurus ke arah depan tanpa memperdulikan pria yang ada di sampingnya itu.
'Ternyata wanita ini sangat kaku. Aku sampai bingung mau bicara apa,' batin Leon sambil melihat ke arah Tiwi dari sudut ekor matanya.
Dia merasa bingung, karena harus memulai pembicaraan dari mana. Sebab Tiwi juga dari tadi banyak diam.
'Haduh ... kaku banget sih nih cowok! Mbok ya ngomong sih, apa gitu. Apa kesukaan kamu? Minuman favorit kamu, atau sendal kamu nomornya berapa?' batin Tiwi yang merasa kesal dengan sikap dingin Leon.
Dia juga merasa bingung apa yang harus diucapkannya, karena tidak ada bahan pembicaraan sama sekali dengan pria itu. Tiwi yang merasa jenuh pun melangkahkan kakinya untuk menuju hotel, dan lagi-lagi Leon mengikuti langkah wanita itu.
''Aduh Pak ... Anda ini kenapa sih, ngikutin saya terus? Aneh! Dari tadi ngikutin terus, tapi nanya aja nggak! Kayak Bodyguard saya aja,'' celetuk Tiwi sambil menatap Leon dengan bingung.
Pria itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sampai mengikuti langkah Tiwi? Padahal Leon sama sekali tidak tahu, kenapa kakinya ingin mengikuti langkah wanita itu.
''Siapa juga yang ngikutin kamu, pede banget. Saya juga mau masuk ke hotel, bukan mau ngikutin kamu,'' alibi Leon sambil berdehem kecil, kemudian dia berjalan mendahului Tiwi.
__ADS_1
Tiwi ternganga mendengar ucapan Leon, kemudian dia mencebik dengan kesal, ''Dasar kembarannya Harimau! Masih untung tuh orang nggak nanya tentang daleman gue ya, tapi kalaupun dipikir, boleh sih. Daripada gue beli lagi?'' kekeh Tiwi sambil berjalan masuk ke dalam hotel.
BERSAMBUNG....