Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Kenyataan Pahit


__ADS_3

HAPPY READING....


Waktu yang ditunggu Bintang pun telah tiba, di mana semua kebenaran akan terbongkar, yaitu tentang kematian orang tuanya. Dengan perasaan yang berdebar Bintang duduk di tepi ranjang sambil meremas tangannya. Dia sedang menunggu Emil yang pergi ke ruang kerja untuk mengambil sesuatu yang berharga.


Memang tadi sepulang dari kantor, Emil tidak langsung memberitahukan tentang kematian orang tuanya Bintang. Karena dia ingin membuat wanita itu tenang terlebih dahulu. Mereka membersihkan diri dan makan malam, setelah itu Emil meminta Bintang untuk menunggu di kamar. Sedangkan dia akan mengambil surat-surat dan bukti-bukti yang dikasih Jasper kepadanya.


Pintu kamar terbuka, dan Emil pun masuk dengan sebuah map coklat di tangannya. Bintang yang melihat itu pun semakin berdebar dengan keras. Entah kenapa, dadanya serasa sesak. Dia takut kenyataan yang akan diketahuinya begitu menyakitkan, dia tidak yakin jika akan kuat menghadapi kenyataan yang pahit.


''Sayang, apa kamu yakin ingin mengetahui kebenarannya?'' tanya Emil memastikan, dan wanita itu langsung mengangguk dengan pasti.


''Iya, aku ingin mengetahui kebenarannya,'' jawab Bintang dengan tegas.


Emil mengangguk, kemudian dia menarik nafasnya dengan dalam lalu mulai membuka map tersebut, kemudian dia menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Bintang. Sangat terlihat jelas jika istrinya seakan ragu untuk menerima surat itu.


Dia paham, karena pasti untuk menghadapi sebuah kenyataan yang menyangkut orang tersayangnya, apalagi orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini sangatlah berat. ''Kamu harus kuat! Karena walau bagaimanapun, aku tidak mungkin menyembunyikan ini terus-menerus dari kamu. Ingat! Ada aku di sini,'' ujar Emil sambil memegang tangan Bintang.


Wanita itu mengangguk, kemudian dia mulai membaca satu persatu berkas yang ada di tangannya. Namun seketika tatapan Bintang merasa heran, sebab dia membaca berkas yang pernah dia baca sebelumnya. Kemudian Bintang menatap ke arah Emil, dan pria itu hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


''Baca bagian lembar berikutnya! Maka kamu akan mendapatkan jawaban,'' jelas Emil.

__ADS_1


Bintang mengangguk, kemudian dia membaca lembar selanjutnya. Seketika mata Bintang membulat, netranya berembun dengan dada yang mulai sesak. Dia merasa nafasnya seakan sudah tercekat di tenggorokan dan tidak ada di paru-paru.


Air mata Bintang mengalir tanpa bisa dihentikan kembali. Kenyataan yang begitu pahit dan mengejutkannya, membuat wanita itu merasa jika tubuhnya seperti tidak bertulang. Kepalanya menggeleng mencoba menampik sebuah kenyataan yang tidak pernah dia duga-duga sebelumnya.


''Tidak! Ini tidak mungkin. Bukti ini salah 'kan? Tidak mungkin Bunda sama Ayah yang membunuh orang tuaku, 'kan? Tidak mungkin, mereka?'' Bintang berkata dengan suara tertahan dan serak. Air matanya benar-benar sudah mengalir membasahi sebagian baju tidurnya.


Dia membaca isi surat tersebut, di mana tante Emma dan juga om Primalah yang telah menyabotase mobil orang tua Bintang, hingga mereka kecelakaan dan masuk ke dalam jurang. Hati Bintang hancur, bahkan lebih hancur saat mengetahui kenyataan jika tante Emma dan juga om Prima selama ini bukan orang tuanya.


Emil yang melihat istrinya begitu rapuh, seketika memeluk tubuh Bintang. Mendekapnya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Dia tahu, apa yang dirasakan istrinya saat ini. Tidak akan mudah untuk menerima sebuah kenyataan, di mana selama ini Bintang hidup bersama dengan seorang pembunuh.


''Katakan kepadaku! Ini semua tidak benar, 'kan? Bunda sama Ayah bukan pembunuh orang tuaku, 'kan? Ini pasti rekayasa?'' Bintang masih membantah bukti yang ada di tangannya sambil menatap Emil dengan deraian air mata.


Bintang tidak bisa lagi berkata-kata, hatinya benar-benar sakit. Dia tidak menyangka, jika selama ini dia telah menyayangi seorang pembunuh. Dia telah tinggal dan menghormati orang yang telah membunuh kedua orang tuanya. Bintang merasa dia begitu bodoh, karena mudah dibohongi dan mudah dikelabui.


Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan orang tuanya di atas sana. Melihat anaknya yang selama ini tinggal dan menghormati, serta menyayangi dua orang pembunuh yang begitu jahat. Hancurnya hati Bintang, tidak bisa digambarkan lagi.


''Kamu ingin mereka mendapatkan balasannya, Sayang? Jika itu yang kamu mau, maka aku akan dengan senang hati membuat mereka menjadi gembel. Atau kamu ingin aku membunuh mereka?'' tanya Emil sambil memeluk tubuh wanita itu.


Bintang menggelengkan kepalanya dengan lemah dalam dekapan Emil. Dia memang sakit, dia memang hancur, tetapi Bintang tidak mungkin meminta Emil untuk membunuh mereka. Karena Bintang tidak mau jika dia dicap sebagai seorang pembunuh.

__ADS_1


''Kenapa sayang? Aku bisa menghabisi mereka!'' tanya Emil dengan heran.


Bintang melepaskan pelukannya, kemudian dia beranjak dari duduk dan membelakangi Emil. ''Tidak! Aku tidak ingin kamu menghabisi mereka. Jika itu kamu lakukan atas permintaanku, bukankah sama saja jika aku jahat dan menjadi seorang pembunuh?''


Emil memeluk tubuh Bintang dari belakang, menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu. Dia tahu jika Bintang wanita yang lemah lembut, dia tidak setega itu untuk menghukum seseorang. Akan tetapi, Emil sudah bertekad di dalam jiwa dan hatinya, jika dia akan membalas perbuatan jahat mereka.


''Sayang, orang seperti mereka itu tidak bisa kita kasih ampun. Setidaknya biar mereka jera.'' Tapi lagi-lagi Bintang menggelengkan kepalanya, menolak usulan Emil.


Kemudian dia membalik tubuhnya sambil menundukkan wajah. ''Berikan mereka pelajaran, tetapi jangan menghabisi mereka.'' Setelah mengatakan itu Bintag pergi dari hadapan Emil dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Emil benar-benar khawatir, karena melihat Bintang yang begitu terpukul. Kemudian dia menelpon Leon untuk mengajaknya bertemu besok.


Setelah mencuci wajahnya, Bintang keluar dari kamar mandi. Kemudian dia berjalan ke arah ranjang, tapi sekuat apapun Bintang menahannya. Akan tetapi, air mata tetap saja mengalir, karena cairan itu menandakan hati Bintang yang saat ini sedang terluka.


Emil terus saja mengusap rambut Bintang, mencoba menenangkan istrinya. Dia memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Rasanya hati Emil begitu sakit saat melihat air mata yang terus saja mengalir, bahkan saat Bintang menutup matanya.


'Aku berjanji sayang, akan membalaskan rasa sakitmu kepada mereka. Tidak akan kubiarkan mereka hidup bahagia, karena penjahat seperti mereka harus diberi pelajaran yang setimpal!' batin Emil dengan tekad yang kuat. Kemudian dia pun ikut memejamkan mata sambil memeluk tubuh Bintang.


Bahkan isakan kecil masih saja terdengar di telinga Emil, padahal saat ini Bintang tengah tertidur. Wanita itu benar-benar terluka dengan kenyataan pahit yang baru saja dia ketahui.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2