
Happy reading
Tidak terasa Bintang dan juga Emil sudah dua minggu berada di Prancis, dan mereka saat ini tengah berada di dalam pesawat untuk pulang ke Indonesia. Karena sesuai dengan permintaan dari Papa Ezra, dan juga Mama Ria jika mereka harus pulang setelah Emil berhasil menjebol gawang.
Setelah penjebolan gawang itu berhasil, Emil dan juga Bintang semakin dekat. Bahkan mereka sangat lengket bak permen karet, lebih tepatnya bukan Bintang yang melekat, tetapi Emilah yang terus saja menempel kepada Bintang.
Pria itu seakan tidak mau berjauhan dengan istrinya, karena bagi Emil berjauhan sebentar saja dengan Bintang membuat hidupnya hampa.
Di kelas VVIP, saat ini Bintang tengah duduk sambil membaca novelnya. Sementara Emil memejamkan mata sambil menggenggam tangan Bintang.
Tepat di hadapan mereka, duduk seorang pria bule yang sejak tadi terus aja memperhatikan Bintang. Bahkan sejak tadi, pria itu sesekali mengedipkan matanya ke arah Bintang, mencoba menggoda wanita itu. Akan tetapi, Bintang tidak peduli. Dia hanya menganggap pria itu kurang waras.
Akan tetapi lama-kelamaan Bintang merasa tidak nyaman, karena pria itu terus aja memperhatikan dirinya. 'Itu cowok ngapain sih, merhatiin gue terus? Pengen di colok apa matanya?' batin Bintang dengan kesal.
Karena perasaannya tidak bagus, Bintang tidak sadar, jika dia meremas tangan Emil yang sedang menggenggam tangannya. Sampai membuat pria itu tersentak kaget dan membuka matanya, kemudian dia menatap kearah Bintang dengan tatapan bingung.
''Sayang, kamu ngapain meremes tangan aku? Sakit tahu!'' tanya Emil sambil menatap Bintang dengan tatapan heran.
Bintang yang mendengar ucapan Emil pun segera melihat ke arah tangannya, kemudian dia tersenyum menampilkan deretan giginya yang putihnya. ''Maaf ya, aku nggak sengaja. Habisnya aku kesel!'' jawab Bintang dengan wajah cemberut.
''Kesal? Kamu kesal kenapa?'' tanya Emil dengan tatapan menyipit ke arah istrinya.
''Tuh si bule Depok, ngapain sih liatin aku terus? Gak jelas banget! Pakai ngedip-ngedipin mata lagi. Sakit mata kayaknya dia deh?'' gerutu Bintang sambil kembali membaca novelnya, dan menutup wajahnya dengan buku itu. Karena Bintang tidak ingin pria yang ada di hadapannya itu terus memperhatikan ke arahnya.
__ADS_1
email kemudian menatap ke arah bule yang dimaksud oleh Bintang dan seketika Emil merasa tidak suka Entah kenapa hatinya seakan terbakar melihat tatapan pria Bule itu yang terus saja memperhatikan istrinya
''Benar-benar cari gara-gara dia. Ternyata dia belum pernah kena bogeman!'' gumam Emil dengan geram, sambil beranjak dari duduknya, tetapi ditahan oleh Bintang.
''Kamu mau ngapain, es milo?'' tanya Bintang.
''Ya mau ngasih pria itu bogeman lah, ngapain lagi. Enak aja dia main merhatiin kamu! Kalau mau ngeliatin kamu tuh harusnya bayar dulu, nggak ada yang gratis!'' celetuk Emil dengan tatapan twjam mengarah kepada pria itu.
Pria bule itu yang ditatap oleh Emil dengan kesal merasa tidak enak, kemudian dia menundukkan kepalanya dan pura-pura melihat ke arah lain. Setelah itu dia kembali mencuri-curi pandang ke arah Bintang.
Emil benar-benar tidak suka jika istrinya di perhatikan oleh pria lain, sementara itu Bintang merasa kesal dengan jawaban Emil. Kemudian dia mencubit perut suaminya dengan gemas, hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
''Aawwh ... sakit tahu! Kamu kenapa nyubit-nyubit aku sih, cewek rantang? Dasar kembaran alien!'' gerutu Emil sambil mengusap perutnya yang terasa sakit.
''Elly Sugigi? Memangnya gigi aku tonggos? Kamu kalau ngomong itu yang bener. Pria tampan kayak gini kok disamain sama Elly Sugigi?'' Emil benar-benar tidak terima saat Bintang menamakannya dengan Elly Sugigi.
''Terus siapa dong? Kiwil atau Tukul Arwana?'' timpal Bintang sambil terkekeh kecil.
Emil benar-benar dibuat geram oleh istrinya, kemudian dia duduk menghadap ke arah Bintang dengan tatapan tajam. Lalu satu tangannya memegang dagu Bintang agar menghadap ke arahnya, dan wanita itu saat ini tengah menatap wajah tampan Emil.
''Sekarang kamu lihat! Apakah wajah setampan ini mirip dengan Tukul Arwana, ataupun Kiwil l? Yang benar saja!'' Setelah mengatakan itu Emil melepaskan tangannya di dagu Bintang.
Entah kenapa, Bintang merasa senang jika membuat suaminya begitu kesal. Karena jika dia tidak menggoda Emil satu hari saja, membuat Bintang kesepian. Bahkan wajah kesal Emil membuatnya seperti candu.
__ADS_1
Saat Emil sedang kesal karena ucapan Bintangx hatinya semakin dibuat gondok. Karena pria bule itu terus saja memperhatikan Bintang, dan Emil sudah tidak bisa lagi menahan ke-kesalannya. Lalu dia menarik tengkuk Bintang dan mencium wanita itu di hadapan banyak orang.
Semua orang terdiam sejenak saat melihat Emil mencium Bintang, sedangkan wanita itu malah tersentak kaget dengan mata membulat saat Emil dengan berani menciumnya di hadapan banyak orang di dalam pesawat. Bahkan ada beberapa orang yang bertepuk tangan karena kejadian itu.
Setelah beberapa menit, ciuman itu pun terlepas. Dan Emil langsung mengusap bibir Bintang yang basah karena ulahnya, sementara istrinya merasa malu. Bahkan saat ini wajah Bintang sudah merah karena sejak tadi banyak orang yang tengah memperhatikan mereka.
''Are you crazy? Kenapa kamu mencium-ku di hadapan banyak orang?'' bisik Bintang dengan kesal kepada pria yang ada di sampingnya.
Sementara Emil hanya mengangkat bahunya saja, dia tidak peduli dengan ucapan Bintang. Karena saat ini hatinya tengah tertawa dengan puas. Dia sudah berhasil membuat pria bule itu tidak menatap ke arah Bintang lagi.
Emil memang mencium Bintang di hadapan banyak orang karena tujuannya, dia ingin membuktikan kepada pria bule itu, jika Bintang adalah milik seorang Emilio.
''Bukannya menjawab, malah cengar-cengir sendirian. Kamu kenapa nyium aku di hadapan semua orang? Nggak enak tahu diliatin kayak gitu.'' Bintag terus mendesak Emil, meminta jawaban dari pria itu. Karena tidak dia sangka jika Emil sangat berani.
Kemudian Emil memiringkan badannya, lalu berbisik di telinga Bintang. ''Memangnya kenapa, kalau aku mencium istri sendiri di hadapan umum? Biar pria buletok itu tahu, kalau kamu hanyalah milik seorang Emilio. Jadi, tidak ada yang bisa merebut kamu dari aku,'' jawab Emil dengan tersenyum menyeringai.
Bintang terpaku mendengar jawaban Emil. Dia tidak menyangka jika pria itu begitu sangat posesif, tetapi tidak Bintang pungkiri ada rasa bahagia di hatinya saat melihat ke-posesifan Emil kepadanya.
''Dasar es Milo posesif,'' gerutu Bintang dengan pelan. Namun masih terdengar oleh Emilio.
Sekarang mungkin Emil akan lebih posesif kepada Bintang, karena saat ini Bintang sudah sepenuhnya menjadi milik Emil. Dan dia tidak ingin wanita itu dilirik atau dinikmati kecantikannya oleh pria lain, selain dirinya.
'Aku bahkan bisa menghabisi orang, jika dia berani untuk mendekatimu!' batin Emil sambil tersenyum tipis, dan melihat Bintang yang sedang membaca novelnya kembali.
__ADS_1
BERSAMBUNG