
Happy Reading.....
Tiwi tidak menghiraukan keberadaan Leon sama sekali. Dia masih tetap menatap ke arah depan dengan penuh kagum, sebab melihat bagaimana indahnya matahari terbenam.
Saat Tiwi sudah melihat keindahan ciptaan Tuhan, dia pun beranjak dari duduknya untuk masuk ke dalam hotel. Akan tetapi, Leon mencegah dirinya hingga membuat wanita itu menoleh ke arah samping dengan alis bertaut.
''Ada apa, Tuan?'' tanya Tiwi dengan bingung.
''Bisakah kamu temani aku berjalan-jalan sebentar di sini?'' tanya Leon sambil menatap sekilas ke arah Tiwi, kemudian dia menatap kembali ke depan.
Sebenarnya Tiwi merasa enggan, karena dia malas jika harus berdebat dengan Leon. Sebab dia tahu, jika sudah bersama dengan pria itu pasti akan tetap ada saja yang mereka ributkan, entah itu dari hal kecil ataupun yang besar.
Kemudian Tiwi pun mengangguk, dia melihat jika pria itu tengah ada masalah. Kemudian Tiwi kembali duduk di batu itu, hingga beberapa menit tidak ada obrolan di antara mereka. Keduanya sama-sama canggung dan tidak tahu apa yang harus mereka obrolkan.
''Oh ya, apa kamu hanya bekerja membantu orang tuamu saja di Bakery?'' tanya Leon membuka pembicaraan.
''Tidak! Sebenarnya aku mempunyai usaha kecil-kecilan,'' jawab Tiwi sambil menatap lurus ke arah depan.
''Usaha apa, itu?'' tanya Leon yang mulai penasaran dengan pribadinya Tiwi. Selama ini dia mengenal Tiwi dengan cewek yang bar-bar dan suka ceplas-ceplos.
''Aku mempunyai butik kecil-kecilan, ya memang tidak besar sih, tapi semoga saja suatu hari nanti butiku bisa terkenal seperti butik-butik desainer yang lain. Karena aku ingin seperti mereka,'' jelas Tiwi dengan tatapan penuh harap.
Leon tidak menyangka jika Tiwi mempunyai butik. ''Apakah kamu mengambil jurusan desainer?'' tanya Leon dan langsung dibalas anggukan oleh Tiwi.
__ADS_1
Keduanya pun mengobrol cukup panjang, Tiwi juga menjelaskan tentang usaha kecil-kecilannya itu. Dia memang mengambil jurusan desainer, karena Tiwi ingin sekali mempunyai usaha butik dan itu sudah dikabulkannya, walaupun tidak masih butik yang kecil.
Leon tidak menyangka jika Tiwi adalah wanita yang mandiri. Dia pikir, wanita seperti Tiwi hanya seorang yang bersifat manja, keras kepala dan juga hanya mengandalkan orang tua saja. Akan tetapi, ternyata Leon salah. Tiwi bahkan mempunyai usaha dari hasil kerja kerasnya.
Sepertinya Leon memang akan membuka hatinya kembali, tetapi sebelum itu dia harus memastikan pribadi Tiwi terlebih dahulu. Dia ingin mengenal wanita itu lebih dalam, walaupun terkadang omongan Tiwi sering menyakiti dirinya.
''Tuan, ini sudah maghrib. Sebaiknya kita masuk ke dalam hotel, karena saya juga mau melaksanakan shalat maghrib,'' ujar Tiwi sambil bangkit dari duduknya.
Leon mengangguk, kemudian mereka pun masuk kembali ke dalam hotel. Akan tetapi dari arah berlawanan ada seseorang yang berlari ke arah Tiwi tanpa melihat kanan dan kiri, hingga wanita itu menubruk badan Tiwi dan hampir membuatnya jatuh. Untung saja ada Leon yang sigap menahan tubuh wanita yang ada di sampingnya, dan membawanya ke dalam pelukan.
Tatapan mereka bertemu satu sama lain untuk beberapa saat. ''Sorry, sorry ... aku tidak sengaja,'' ucap wanita itu dengan nada bersalah kepada Tiwi dan juga Leon.
Tiwi yang sadar pun segera melepaskan pelukannya, kemudian dia merapikan pakaiannya kembali dan berdehem kecil untuk menghilangkan kegugupan yang ada di dalam dirinya. Karena saat ini jantung Tiwi benar-benar berdebar dengan kuat, begitupun dengan Leon.
''Iya nggak papa, Mbak,'' jawab Tiwi sambil tersenyum canggung. Kemudian wanita itu pun pergi, sedangkan Tiwi mengalihkan pandangannya dia masih gugup atas kejadian tadi.
***************
Saat ini semua sudah kumpul di meja untuk melakukan makan malam, mereka memesan beberapa makanan yang spesial di hotel itu sambil duduk dengan pemandangan pesisir pantai yang begitu indah saat di malam hari, karena dihiasi banyak lampu.
Akan tetapi, Emil dan juga Bintang belum terlihat sama sekali. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.00, tapi pasangan pengantin itu masih juga belum menunjukkan batang hidungnya.
''Emil sama Bintang, ke mana sih? Telepon Mama juga malah nggak diangkat,'' ucap Mama Ria dengan nada yang lirih sambil melihat ke arah ponselnya.
__ADS_1
Tiwi yang sedang duduk di sebelah Mama Ria pun seketika menengok ke samping. ''Ya wajar aja, Mah. Mereka 'kan pengantin baru? Pasti lagi bikin adonan. Lagi pula, mereka ke sini 'kan juga sekalian untuk bulan madu?'' ujar Tiwi pada Mama Ria.
Wanita itu menepuk jidatnya saat mendengar ucapan Tiwi, dia baru sadar jika Bintang dan Emil memang pengantin baru walaupun sudah beberapa bulan menikah. Akan tetapi, Emil dan juga Bintang baru saja merasakan surga dunia. OWajar saja jika mereka telat untuk makan malam, sebab Mama Ria juga pernah berada di posisi mereka saat ini.
Tak lama makanan pun datang, lalu mereka bertiga memulai untuk makan, tidak menunggu pasangan suami istri yang sedang membuat adonan di kamarnya. Bahkan Leon tidak mengangkat suara sama sekali, dia hanya fokus pada ponselnya untuk mengecek email, tapi sebenarnya itu adalah pengalihan agar dia tidak terus-menerus memperhatikan Tiwi.
Saat mereka tengah makan, tiba-tiba Bintang dan juga Emil datang ke sana dan ikut bergabung untuk makan malam. Tiwi, Mama Ria dan juga Leon hanya cuek saja. Mereka tidak memperdulikan tentang keterlambatan pasangan pengantin itu.
Akan tetapi saat Tiwi menatap ke arah Bintang, seketika dia tersedak makanannya, dan Leon yang berada di samping Tiwi segera memberikan minum kepada wanita itu dan langsung ditegak habis oleh Tiwi.
''Ya ampun sayang, kamu kalau minum hati-hati. Sampai kesedak kayak gitu,'' ucap Mama Ria sambil mengusap punggung Tiwi.
Tiwi terbatuk sambil menatap ke arah Bintang, membuat wanita yang ada di hadapannya menatap sahabatnya dengan bingung. ''Kenapa lo liatin gue kayak gitu, Jubaedah?'' tanya Bintang dengan tatapan heran.
Setelah rasa sakit di tenggorokannya mereda, kemudian Tiwi menatap ke arah Bintang sambil menggelengkan kepalanya dengan heran, membuat Emil, mMama Ria dan juga Leon seketika melihat ke arah Tiwi.
''Aku tahu kalian ini pasangan baru, masih anget-angetnya kayak ubi yang baru diangkat dari penggorengan, tapi ya itu tanda cinta ditutup kali? Jangan dipamerkan. Maksudnya apa coba? Lo mau pamer sama gue, Markonah? Kalau lo itu adalah miliknya Emil? Heran gue, stempel nggak cukup satu. Banyak amat, sampe full seleher?'' sindir Tiwi sambil kembali mengaduk jusnya dan menahan tawanya.
Seketika Mama Ria dan juga Leon menatap ke arah Bintang, dan benar saja. Lehernya begitu penuh dengan stempel kepemilikan Emil, bahkan rambut yang Bintang tadinya ikat seketika dia gerai untuk menutupi tanda berwarna merah tersebut.
Pipinya merona malu, bahkan Bintang rasanya ingin nyelup ke dalam gentong, karena melihat tatapan Mama Ria dan juga Leon yang sedang menahan tawanya . Dia merutuki suaminya sendiri, karena terlalu bersemangat untuk membuat stempel di lehernya. Bahkan jika dibuka seluruh pakaian Bintang, 80% tubuhnya penuh dengan stempel kepemilikan Emil.
'Ini semua gara-gara si es kobokan piring. Lagian dia bikin stempel di atas rata-rata. Aku 'kan jadi malu,' batin Bintang menggerutu sambil menatap ke arah Emil dengan tajam. Sedangkan yang ditatap hanya cuek saja sambil meminum es jeruk yang ada di hadapannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....