Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Ceritakan Padaku


__ADS_3

Happy reading


Tiwi diam saja selama di dalam mobil, dia menatap ke arah luar dengan tatapan kosong . Tersirat raut kesedihan di wajah Tiwi, bahkan air matanya terus aja mengalir. Wanita itu menangis dalam diam.


Leon dapat melihat jika saat ini wanita yang sedang duduk di sebelahnya tengah terluka, karena sesuatu hal, tapi dia enggan untuk bertanya kepada Tiwi. Karena Leon tidak mau membuat wanita itu marah.


Sejujurnya Tiwi merasa kedinginan, karena tadi dia sempat kehujanan, tapi rasa sakit di hatinya mengalahkan rasa dingin di tubuhnya. Pikirannya kembali ke masa dimana huru hara sedang terjadi antara dia dan Sasa.


Jalanan malam ini terlihat macet, lama-lama Tiwi juga sedikit menggigil. Dan Leon yang melihat itu merasa tidak tega, kemudian dia akan membuka jas-nya dan memberikannya kepada Tiwi.


''Ini untuk apa?'' tanya Tiwi dengan suara yang purau, saat melihat Leon memberikan jas miliknya kepada dirinya.


''Ini buat kamu makan!'' ketus Leon dan langsung mendapat tatapan tajam dari Tiwi. Padahal saat ini mata Tiwi sudah merah, karena terus aja menangis. Walaupun dia tidak menangis tersedu-sedu, akan tetapi isak tangisnya terdengar lirih di telinga Leon.


''Aku sedang tidak ingin bercanda, Tuan!'' jawab Tiwi sambil memalingkan wajahnya ke arah samping. Dia tidak mau Leon melihatnya dalam keadaan seperti itu.


''Ya lagian kamu, sudah tahu ini jas buat dipakai. Memangnya jika kamu memakannya, kamu sanggup? Kalau kamu sanggup, berarti kamu itu keturunan kuda lumping?'' Leon berkata dengan acuh, sambil menaruh jas itu di atas pangkuan Tiwi.


Sejujurnya Tiwi enggan untuk menerima jas pemberian dari Leon. Akan tetapi, rasa dingin di tubuhnya tidak bisa lagi menampik semua rasa itu. Akhirnya Tiwi pun mengambil jas milik Leon dan memakainya, setidaknya tubuhnya sedikit rasa hangat.


''Terima kasih,'' ucap Tiwi dengan lirih tanpa menengok ke arah Leon sedikitpun.


''Hm ...'' leon hanya menjawab dengan gumaman saja, sambil menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Tak berselang lama, tangan Leon mengambil tisu yang ada di sampingnya. Kemudian dia memberikan kepada Tiwi. ''Elap ingusmu, dan juga air matamu!'' ucap Leon sambil memberikan tisu kepada Tiwi, dan wanita itu langsung menerimanya dengan mendengkus sebal.


''Terimakasih!'' Tiwi berucap dengan nada yang ketus, kemudian dia menghapus air matanya serta ingus nya. Bahkan wanita itu sengaja mengeluarkan ingusnya dengan keras, hingga membuat Leon bergidik geli.


''Ya ampun, ternyata wanita sepertimu itu sangat jorok ya? Memangnya tidak bisa apa secara halus,'' ujar Leon sambil menatap jijik ke arah Tiwi dari sudut ekor matanya.


Tiwi tersenyum menyeringai saat mendengar ucapan Leon. Kemudian dia melempar tisue bekas ingus dan juga air matanya ke atas pangkuan pria itu, hingga membuat Leon mendelik tajam ke arah Tiwi. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tipis, sambil menatap kearah samping.


''Iiihh ... kau ini benar-benar jorok sekali ya! Kenapa kau lemparkan kepadaku?'' kesal Leon sambil melempar tisue itu kembali ke arah Tiwi dengan geli.


''Itu adalah sedekah untuk dirimu,'' jawab Tiwi dengan acuh.


''Dasar gadis tidak waras! Dasar buah berbulu. Enak saja! Kalau mau bagi itu janda bohay, jangan tisue bekas ingus kau begitu padaku? Mana enak, yang ada rasanya asin!'' gerutu Leon sambil menyetir mobil nya kembali.


''Terserah ... jangankan makan ingus, makan hati aja aku dah biasa,'' jawab Leon dengan tatapan kesal ke arah Tiwi.


Tiwi yang mendengar itu tentu saja terkekeh kecil, setidaknya mood-nya sudah jauh lebih baik karena Leon. Sedangkan pria yang ada di sampingnya menggerutu dengan sebal. Karena Tiwi sudah memberikan tisue yang begitu menjijikkan, ditambah wanita itu mengatakan jika Leon sering memakan ingus.


Setelah sampai di depan rumah Tiwi, wanita itu langsung membuka sabuk pengaman nya, kemudian di hendak turun dari mobil Leon. Akan tetapi, pria itu menahan tangan Tiwi, hingga membuat wanita itu menengok ke arah Leon dengan dahi mengkerut.


''Ada apa, Tuan?'' tanya Tiwi dengan penasaran.


''Aku ingin berbicara empat mata denganmu! Sangat penting,'' jawab Leon dengan tatapan memohon dan tatapan serius mengarah kepada Tiwi.

__ADS_1


Wanita itu terdiam, menimbang nimbang apakah dia akan berbicara dengan Leon atau tidak. Kemudian dia melihat jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. ''Baiklah kita bicara, tetapi tidak lama ya Tuan, sebab ini sudah malam,'' ujar Tiwi menerima permintaan Leon.


Leon terdiam sejenak, kemudian dia menatap kearah wanita yang ada di sampingnya. Sedangkan Tiwi melipat kedua tangan di depan dada, mencoba untuk menghangatkan tubuh yang sedikit tidak enak.


''Aku ingin bertanya soal wanita tadi. Wanita yang kau tampar di depan restoran. Aku yakin, ada hubungannya dengan Bintang, iya 'kan?'' tanya Leon kepada Tiwi.


Wanita itu kaget saat Leon bertanya tentang Sasa. Kemudian Tiwi menatap Leon dengan tatapan menyipit dan penuh tanda tanya. ''Kenapa Tuan ingin sekali mengetahui tentang dia? Dan jika memang ada urusannya dengan Bintang ataupun tidak. Saya rasa, itu semua tidak ada hubungannya dengan, Tuan?'' jelas Tiwi dengan tatapan serius kepada Leon.


''Jelas ada dong! Sangat malah. Bintang itu adalah istri dari sahabatku, sekaligus bos-ku. Jadi, apapun yang berhubungan dengan Bintang, aku harus melaporkannya kepada Emil. Kamu tidak mau 'kan, jika sampai terjadi apa-apa sama Bintang? Setidaknya kalau aku mengetahui semuanya, aku bisa melaporkannya kepada Emil. Dan dia bisa berjaga-jaga,'' jelas Leon sambil menatap kearah Tiwi dengan tatapan dalam.


Wanita itu terdiam saat mendengar ucapan Leon, dia menimbang nimbang dan memikirkan, apakah harus menceritakan tentang masalah dia, Sasa dan juga Bintang kepada Leon.


Akan tetapi, saat dia fikir-fikir yang diucapkan Leon ada benarnya. Jika Tiwi memberitahukan kepada Emil tentang apa yang terjadi, dan apa masalah antara dia, Sasa dan juga Bintang. Mungkin saja Emil bisa bertindak saat nanti Bintang bertemu dengan Sasa. Karena jujur, Tiwi tidak ingin Sasa berdekatan lagi dengan Bintang.


''Baiklah, saya akan menceritakan semuanya kepada Tuan. Akan tetapi saya mohon, tolong jangan pernah bicarakan ini kepada Bintang. Karena dia tidak tahu menahu soal ini. Dan hanya saya saja. Saya tidak ingin dia terluka, walaupun itu hanyalah masa lalu!'' pinta Tiwi kepada Leon, dan pria itu langsung mengganggukkan kepalanya.


''Aku berjanji, tidak akan memberitahukan apapun kepada Bintang. Dan hanya akan memberitahukan nya kepada Emil. Dan aku pastikan, Emil juga tidak akan memberitahukan nya kepada Bintang. Akan tetapi, satu hal. Sepandai-pandai-nya bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga bukan?'' jawab Leon.


Tiwi mengangguk setujux kemudian dia menarik napas yang dalam. Sejujurnya dia enggan untuk menceritakan masa lalu itu, karena bagi Tiwi hanya akan membuka lembaran yang menyakitkan tentang persahabatan mereka. Akan tetapi, itu harus Tiwi lakukan. Sebab walau bagaimanapun, Emil adalah suami Bintang, dan dia bertugas untuk menjaga Bintang lahir dan batin.


''Sebenarnya, dulu ....''


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2