
Happy Reading.....
''Sebenarnya, ini ada masalah dengan mantan Bintang yang bernama Orlando.'' Tiwi Mencoba membuka pembicaraan, walaupun dia bingung harus memulainya dari mana.
''Mantannya Bintang? Apa hubungannya dengan Sasa?'' tanya Leon dengan penasaran.
Tiwi menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia memejamkan matanya sejenak, lalu Tiwi membuka matanya kembali dan menatap lurus ke arah depan. Tersirat gurat kekecewaan yang begitu dalam di wajah wanita itu dan semua tidak lepas dari pandangan Leon.
''Malam itu adalah hari ulang tahun Bintang yang ke-22. Dia mempunyai pacar bernama Orlando Fernandez. Mereka sudah berpacaran selama satu tahun, dan Bintang juga sudah kenal dengan orang tuanya Orlando, tapi---'' Tiwi menggantung ucapannya, membuat pria yang ada di sampingnya menatap wanita itu dengan penasaran.
''Tapi apa?'' timpal Leon dengan nada tidak sabar.
''Tapi pada suatu hari, Sasa tidak masuk ke kampus. Aku yang kebetulan habis berbelanja dari supermarket dan mampir ke apartemen Sasa. Dan Tuan tahu apa yang aku lihat di sana? Aku melihat Sasa dan juga seorang pria tengah bercinta, dan Tua
an tahu siapa pria itu? Dia adalah Orlando, pacarnya Bintang.'' Sejenak Tiwi menghentikan ucapannya, wanita itu memejamkan mata, meredam emosi yang saat ini tengah membuncah di dalam hati.
Sejujurnya Tiwi tidak sanggup menceritakan itu semua, karena bagi Tiwi Itu adalah sebuah luka yang besar. Akan tetapi, semua sudah terlanjur. Dia harus menceritakan kepada Leon tentang apa yang terjadi antara mereka bertiga.
''Dari sana aku marah. Jelas aja, bagaimana mungkin aku tidak marah ketika melihat sahabat sendiri malah menikung sahabatnya. Hingga aku meminta agar Sasa lebih baik pergi dari kehidupan Bintang, karena aku takut jika Bintang akan terluka, hingga dua bulan kemudian aku mengetahui jika Sasa sedang hamil dan aku yakin itu adalah anaknya Orlando.''
Wanita itu lagi-lagi terdiam, seperti berat untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Leon.
__ADS_1
''Tunggu dulu! Kamu bilang, wanita itu tidur dengan mantannya Bintang? Apakah Bintang mengetahui ini? Lalu, jika wanita itu tidak mengetahui tentang perselingkuhan mereka, kenapa kamu tidak memberitahukannya? Bintang 'kan juga wajib untuk tahu!'' tanya Leon dengan penasaran, kenapa Tiwi menyembunyikan tentang perselingkuhan Orlando dan juga Sasa.
''Apa anda sudah gila, Tuan? Jika Bintang mengetahuinya, sudah pasti dia akan sakit hati. Sudah pasti dia akan hancur. Saya tidak mau jika Bintang sampai terluka, karena mengetahui jika sahabatnya telah menusuk dia dari belakang. Itu kenapa saya meminta Sasa untuk pergi. Akan tetapi, takdir malah membawa mereka bertemu kembali.'' Tiwi berucap dengan nada yang lesu.
Sementara Leon mengerti apa yang dibicarakan oleh Tiwi. Dia paham akan perasaan wanita itu, memang apa yang dikatakan oleh Tiwi ada benarnya jika Bintang mengetahui semuanya sudah pasti wanita itu akan terluka. Karena walau bagaimanapun Sasa adalah sahabat mereka, dan ditikung oleh sahabat sendiri itu sangatlah sakit.
''Ya sudah, kalau begitu saya turun dulu ya, Tuan. Sekali lagi saya mohon, jangan bicarakan ini kepada Bintang. Jika email mengetahuinya no problem, tetapi jangan Bintang. Kalau gitu saya permisi dulu, terima kasih untuk tumpangnya Tuan.''
Tiwi pun turun dari mobil Leon, dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara itu Leon pergi meninggalkan rumah Tiwi dengan perasaan berkecamuk. Dia tidak menyangka, jika ada orang ketiga. Padahal Bintang adalah wanita yang baik, walaupun Leon tidak mengenalnya dengan dekat.
************
''Cewek rantang! Kamu itu suka baca novel, memangnya kamu tidak ingin menjadi penulisnya langsung?'' tanya Emil sambil memainkan jari-jari tangan Bintang yang dia genggam.
Mendengar pertanyaan suaminya, Bintang menghela nafas dengan kasar. Kemudian dia menutup novel itu lalu menatap Emil dan mencubit hidungnya dengan gemas, hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan dan menatap kearah Bintang dengan kesal.
''Kamu ini apa-apaan sih? Sakit tau nggak! Kok malah dicubit, orang mah dicium!'' kesal Emil sambil mengusap hidungnya yang terasa sakit.
''Ya lagian kamu, sampai kapan sih nama-in istri sendiri tuh cewek rantang? Nama aku tuh Bintang, ada baiknya kamu tuh sebut aku bulan, jangan cewek rantang. Dasar es kobokan piring!'' gerutu Bintang sambil menatap kearah lain dengan wajah cemberut.
Emil tersenyum mendengar ocehan istrinya, kemudian dia mengecup tangan Bintang sekilas, hinnga membuat wanita itu menatap kembali ke arahnya.
__ADS_1
''Itu adalah panggilan kesayanganku,'' jawab Emil, tetapi Bintang malah semakin kesal.
''Lagian, nama cewek rantang tidak ada manis manisnya. Seperti tidak ada panggilan lain saja yang lebih enak didengar?'' protes Bintang dengan wajah yang makin ditekuk.
''Kalau menurut kamu itu tidak cocok, dan tidak enak didengar. Lalu apa kabar denganku? Kamu menyebut ku es kobokan piring, es milo dan es batang kocok. Emangnya kamu pikir itu enak didengar? Tentu saja tidak! Daripada kamu menamakan aku seperti itu, ada baiknya kamu tuh panggil aku dengan Hubby, sayang, cintaku, pangeran ku, raja ku.''
Bintang malah terkekeh mendengar ucapan suaminya, dia sampai tertawa terbahak-bahak dan memegangi perutnya. Sedangkan Emil malah menatap heran ke arah Bintang, karena dia merasa tidak ada yang lucu dari ucapannya.
''Kamu kok malah ketawa sih? Emangnya ada yang lucu ya dari ucapanku?'' tanya Emil dengan heran.
''Ya jelas ada dong! Kamu itu nggak cocok tahu gak, disebut pangeran. Aku rasa, terlalu lebay banget. Gak usah deh. Kamu tuh cocoknya es kobokan piring sama es batang kocok. Itu sudah sangat cocok sekali denganm!'' kekeh Bintang sambil kembali tertawa.
''Baiklah, kalau itu mau kamu. Maka aku juga akan menyebut kamu cewek rantang terus. Oh, sekarang apa ganti julukan kembarannya alien dari planet mars aja?''
Suami istri itu terus aja berdebat dengan panggilan kesayangan mereka. Tidak ada yang mau mengalah satupun, dan dari nama-nama yang mereka sebutkan tidak ada yang enak sama sekali untuk didengar.
Biasanya jika kita memberikan panggilan kesayangan kepada pasangan itu, pasti akan romantis dan juga seewt. Akan tetapi beda dengan mereka berdua, Emil dan Bintang malah saling meledek satu sama lain dengan nama panggilan mereka. Padahal keduanya mempunyai nama yang bagus dan juga indah, akan tetapi malah menjadi bahan ledekan.
Jauh di dalam lubuk hati Emil, dia benar-benar bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan Bintang kepadanya. Emil merasa hidupnya berwarna, karena ada Bintang di sisinya. Karena semenjak kehadiran gadis itu, Emil jadi sering tertawa dan alergi dia juga mulai membaik, bahkan sebentar lagi mungkin akan sembuh total.
BERSAMBUNG
__ADS_1