
HAPPY READING
Emil menghela nafasnya, kemudian dia menatap ke arah Bintang. ''Sebenarnya dulu ....''
Sejenak pria itu menghentikan ucapannya, sedangkan Bintang yang mendengar itu merasa gemas. Karena sedari tadi Emil terlihat ragu untuk menceritakan semuanya kepada Bintang, dan wanita itu tidak sesabar istri-istri yang ada di dalam film.
Bintang bangun dari pangkuan Emil dengan wajah yang cemberut, kemudian dia membelakangi Emil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Emil yang melihat Bintang kesal pun segera berdiri. ''Kamu kenapa?'' tanya Emil saat sudah berada di samping Bintang.
''Jika kamu memang belum siap, maka aku tidak akan memaksa. Jika kamu memang masih ragu untuk menceritakannya kepadaku, maka jangan diceritakan,'' ujar Bintang dengan kesal.
Emil tersenyum melihat kekesalan istrinya, kemudian dia memeluk tubuh Bintang dari samping.
''Jangan ngambek! Semua juga butuh waktu, bukan? Baiklah, ayo kita duduk kembali. Aku akan menceritakan semuanya, tapi jangan lepaskan genggaman tanganku ya! Karena hanya dengan menggenggam tanganmu, aku merasa kuat,'' pinta Emil kepada Bintang, dan wanita itu langsung mengangguk kemudian mereka duduk kembali.
Mereka duduk kembali di bawah pohon kelapa, lalu Emil meminta Bintang untuk duduk di hadapannya. Kemudian Bintangmenyandarkan tubuhnya di dada Emil, sedangkan pria itu memeluk tubuh Bintang dari belakang sambil menggenggam tangannya.
''Dulu waktu aku berusia lima tahun, tanteku datang dari Swedia. Dia adalah seorang janda, dan aku cukup dekat dengannya. Dia wanita yang cantik dan perawakannya juga sangat ideal. Saat itu aku baru saja berulang tahun yang kelima, dan kami sekeluarga berada di villa untuk merayakannya.''
Sejenak Emil menghentikan ucapannya, pria itu menarik nafas yang dalam untuk menetralkan degup jantungnya.
__ADS_1
''Malam semakin larut, dan saat itu aku tidak bisa tidur. Sedangkan kedua orang tuaku sudah tertidur lelap. Aku berjalan ke lantai bawah untuk mengambil air minum, tapi di ruang tamu aku mendengar suara seperti orang merintih. Aku yang penasaran pun berjalan ke sana, dan aku kaget saat melihat tanteku sedang disetubuhi oleh lima orang pria.
Akan tetapi, tanteku sama sekali tidak kesakitan. Dia malah keenakan. Aku terus memperhatikan, karena aku tidak tahu mereka sedang apa. Dan salah satu dari mereka menyadari keberadaanku, dan kamu tahu? Salah satu dari pria itu adalah tukang kebun di villa. Mereka pun menarikku ke sofa dan mengancamku untuk tidak berbicara kepada siapapun.''
Emil lagi-lagi menghentikan ucapannya, dan Bintang yang mendengar itu tentu saja sangat bingung.
''Tunggu dulu! Kamu bilang, tante kamu diperkosaa oleh lima orang? Tapi kenapa kamu yang trauma sama wanita? Ini sungguh tidak masuk di akal?'' tanya Bintang dengan wajah heran.
''Dengarkan dulu, gadis rantang. Jiika kamu tidak mendengarkanku, bagaimana mungkin bisa kamu mengambil kesimpulan?'' ujar Emil sambil mencubit kedua pipi Bintang, membuat wanita itu merengut kesal.
Kemudian Emil melanjutkan kembali ceritanya.
''Setelah kejadian itu, aku tidak menceritakannya kepada Papa maupun Mama. Walaupun mataku sudah ternoda, tapi seiring berjalannya waktu umurku berusia 8 tahun dan saat itu tanteku baru saja pulang dari Jepang, lalu dia menginap beberapa hari di rumah.
Malam itu aku tengah tertidur pulas, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku. Yaitu tepatnya pada senjata milikku. Aku membuka mata dengan perlahan, dan saat penglihatanku sudah sempurna. Aku sangat kaget, karena melihat tanteku sedang bermain di bawah sana. Tepatnya, sedang bermain dengan senjataku, dan dia tidak mengenakan apapun. Aku menjerit, tetapi dia segera membekap mulutku dan mengancamku untuk tidak berteriak.
Dia terus melakukan apa yang dia mau, hingga aku yang sudah tidak kuat lagi menggigit tangannya. Aku merasa sesak, hingga keringat bercucuran dan membasahi tubuhku saat itu. Kemudian aku berteriak hingga Mama dan Papaku bangun, lalu mereka masuk ke dalam kamar dan melihat tante ku yang sedang bertelanjang tanpa sehelai benang pun. Kemudian aku pun menceritakan tentang kejadian yang baru saja aku alami, dan itu membuatku trauma sampai sekarang
Aku sering merasakan sesak saat berdekatan dengan seorang wanita, itu kenapa setiap kali wanita menyentuhku, alergiku kumat. Tepatnya adalah trauma aku. Dan aku juga harus berurusan dengan Psikiater selama beberapa tahun.''
Emil berbicara dengan nada yang mulai terengah, degup jantungnya mulai berdebar dan pegangan di tangan Bintang pun semakin kuat.
__ADS_1
Bintang yang mendengar itu pun segera membalik badannya dan memeluk tubuh Emil. Dia mencoba membuat suaminya itu jauh lebih tenang. Dia tahu apa yang dirasakan oleh suaminya tidak mudah.
Bintang tidak menyangka, jika Emil pernah mengalami sesuatu yang begitu berat. Bahkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan, tantenya sendiri tega menodai Emil, keponakannya sendiri.
''Tenanglah! Di sini ada aku. Maaf jika karena aku kamu harus membuka masa lalu yang kelam, tapi kamu harus melawan itu semua. Sekarang aku adalah obat kamu. Jadi jangan pernah kamu merasa sendiri,'' ujar Bintang sambil menatap kedua mata Emil.
Terlihat jelas raut ketakutan di kedua mata Emil, dan tugas Bintang adalah membuat pria itu nyaman dan juga jauh lebih tenang.
Bintang langsung mengalungkan tangannya di leher Emil, kemudian dia menyatukan bibir mereka. Bintang rasa, Emil membutuhkan itu untuk menenangkan hatinya. Hingga beberapa menit kemudian, tautan itu terlepas dan Bintang langsung menyatukan kening mereka.
''Apa sudah jauh lebih baik?'' tanya Bintang kepada pria yang ada di hadapannya, dan Emil langsung menganggukkan kepala.
''Iya, terima kasih ya. Aku tidak menyangka jika obatku seorang gadis rantang, kembarannya kaleng rombeng,'' ledek Emil sambil mengeratkan pelukannya.
Bintang merengut kesal saat mendengar ucapan Emil, kemudian dia mencubit perut pria itu dengan gemas. ''Dasar es kobokan piring. Sudah dikasih kesembuhan, malah ngeledek. Gini-gini, aku itu obat kamu tahu nggak! Kalau nggak ada aku, mana bisa kamu nyium cewek? Mana bisa kamu merasakan gimana manisnya bibir seorang wanita, ya 'kan?'' ledek Bintang dengan tatapan mengejek ke arah Emil.
''Iya, aku rasa begitu. Dan kamu orang pertama dan yang terakhir,'' ujar Emil sambil menjawil hidung Bintang.
Kemudian Bintang menyandarkan kepalanya di pundak Emil. Dia tidak menyangka jika Emil harus melalui sesuatu yang begitu berat, dan dia sangat yakin jika itu membuatnya sangat tersiksa selama bertahun-tahun.
''Lalu, di mana tante kamu sekarang?'' tanya Bintang dengan penasaran.
__ADS_1
''Dia sudah dipenjara seumur hidup oleh Papa di sebuah pulau, karena Papa tidak terima,'' jawab Emil sambil menatap lurus ke arah depan.
BERSAMBUNG