Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Perusuh


__ADS_3

Happy reading...


Setelah mengantarkan Tiwi ke toko bakery milik Mamanya, wanita itu pun turun, tetapi lengannya langsung dicekal oleh Leon hingga membuat Tiwi menengok ke arahnya.


''Ada apa sih? Aku mau turun!'' tanya Tiwi dengan heran.


''Apakah di dalam ada kue ulang tahun?'' tanya Leon kepada Tiwi.


Wanita itu mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Leon, kemudian dia menganggukkan kepala. ''Tentu saja ada, namanya juga toko bakery sudah pasti ada kue ulang tahun. Memangnya kamu mau pesan kue ulang tahun untuk siapa? Untuk pacar kamu?'' tebak Tiwi.


''Bukan! Kebetulan orang tuaku berulang tahun. Lebih tepatnya ulang tahun anniversary orang tuaku yang ke 29 tahun. Apakah bisa?'' tanya Leon sambil menatap ke arah Tiwi.


Sejenak Tiwi terpesona dengan tatapan Leon, wajah tampan dengan rahang yang tegas serta wangi tubuh yang maskulin, membuatnya sebagai wanita terlena. Akan tetapi, Tiwi langsung sadar dan dia mencoba untuk menutupi keterpesonaannya.


''Tentu saja ada, Tuan. Kalau begitu ayo masuk dulu! Biar nanti anda bisa memilih.''


Leon mengangguk, kemudian mereka pun turun dan masuk ke dalam bakery sang mama. Kebetulan di sana sedang ada Mama Sinta yang sedang menghias kue. Saat dia melihat anaknya datang bersama dengan seorang pria, wanita yang berusia 40 tahun itu pun mengerutkan dahinya.


''Assalamualaikum Ma,'' ucap Tiwi sambil mencium tangan sang Mama.


''Waalaikumsalam, kamu datang sama siapa, Nak?'' tanya Mama Sinta sambil menatap ke arah Leon.


''Oh, kenalin Mah ini namanya Pak Leon, dia itu asisten pribadi dari suaminya Bintang,'' jelas Tiwi kepada sang Mama.


Mendengar penjelasan putrinya, Mama Sinta pun mengangguk kemudian dia menjabat tangan Leon. Lalu pria itu pun menyampaikan maksudnya untuk memesan kue anniversary untuk kedua orang tuanya, dan tentu saja Mama Sinta sangat senang.


''Jadi, kuenya akan diambil kapan Nak Leon?'' tanya Mama Sinta kepada Leon.


''Lusa ya Tante, bisa kan?''

__ADS_1


''Insya Allah bisa,'' jawab Mama Sinta.


Setelah memesan kue, Leon pun pamit kepada Tiwi dan juga Mama Sinta karena dia harus kembali ke kantor. Kemudian dia keluar dari toko bakery tersebut dan menaiki mobilnya.


***********


Sementara itu, Emil dan juga Bintang baru saja selesai makan siang, dan saat ini mereka sedang berada di dalam mobil untuk menuju kantor. Sebenarnya Bintang ingin pulang ke rumah, akan tetapi Emil memaksanya untuk ikut ke kantor karena dia sangat merindukan wanita itu.


''Baru juga pisah setengah hari, masa udah kangen? Dasar bucin!'' ledek Bintang sambil memakai sabuk pengaman.


''Bucin? Bucin itu apa, temennya micin?'' tanya Emil dengan dahi mengkerut, karena sebenarnya dia tidak tahu arti dari bucin itu apa.


''Ya ampun, kamu ini alergi wanita sih boleh, tapi masa bahasa gaul kayak gitu aja nggak tahu sih? Bucin itu singkatan dari budak cinta. Dan kamu itu calonnya,'' kekeh Bintang sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.


Dia tidak habis pikir, kenapa suaminya itu sampai tidak tahu hal yang menurutnya sangat sepele. Bahkan kata-kata bucin itu sudah lama sekali viral, dan semua orang pun sudah tahu termasuk anak-anak muda zaman sekarang.


Akan tetapi, Bintang merasa jika Emil ini kelahiran zaman purba dan dia masih menggunakan metode zaman purba, sehingga dia tidak tahu bahasa bucin itu apa dan artinya pun apa.


''Kamu sebenarnya ngapain sih nyuruh aku ke kantor? Aku tuh capek, mau istirahat tahu!'' tanya Bintang dengan wajah cemberut.


Dia sebenarnya lelah dan ingin sekali membaringkan tubuhnya di atas kasur, karena setengah hari tadi dia terus berjalan-jalan bersama dengan Tiwi untuk membeli baju dan juga yang lain-lain. Bintang merasa badannya perlu diistirahatkan, akan tetapi Emil malah memintanya untuk ikut ke kantor.


''Wanita itu ingin menolak, tapi Emil memaksa. Akhirnya dia pun terpaksa untuk ikut ke kantor suaminya, padahal hari ini Bintang libur.''


Namun saat mereka baru saja sampai di kantor, tiba-tiba mereka disuguhkan dengan pemandangan yang membuat mata keduanya membulat heran. Lalu seketika Emil menatap ke arah Bintang, dan Bintang pun tidak tahu dia hanya mengedipkan kedua bahunya.


''Untuk apa wanita itu ke sini? Dan sepertinya sedang ada masalah?'' tanya Emil kepada Bintang dengan bingung.


''Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita turun!'' ujar Bintang sambil membuka pintu mobil. Kemudian mereka berdua pun turun dan menghampiri seseorang yang sedang mengamuk di depan kantor.

__ADS_1


''Kalian harus menyuruh Bos kalian untuk keluar dari kantor ini, Cepat! Aku Ingin bertemu dengannya. Di mana Emil?'' ucap seorang wanita yang sedang mengamuk di luar kantor Emil sambil dipegangi oleh satu security.


''Bunda,'' ucap Bintang saat sudah berada di samping wanita itu.


Wanita yang sedang marah-marah itu pun menengok ke arah Bintang, dan seketika matanya menatap tajam. Lalu dia berjalan mendekat ke arah Bintang dan menampar wajah gadis itu.


PLAK!


Emil sama sekali tidak menduga jika wanita itu akan menampar Bintang. Kemudian dia menarik Bintang dan menyembunyikannya di balik punggung, lalu Emil menatap wanita setengah paruh baya yang ada di hadapannya dengan tatapan dingin dan datar.


''Berani sekali Anda menampar istri saya, ya!?'' geram Emil dengan suara yang menggelegar.


''Itu pantas untuk dia. Kenapa kalian begitu jahat, hah! Kenapa kamu menghancurkan perusahaan suami saya? Benar-benar keterlaluan!'' teriak wanita itu dengan nada membentak.


Bintang yang sedang bersembunyi di balik punggung Emil seketika menatap wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya, sambil memegangi pipinya yang terasa masih panas akibat tamparan wanita itu.


''Apa yang Bunda maksud? Siapa yang menghancurkan perusahaannya Ayah? Tidak ada yang menghancurkan,'' bantah Bintang dengan wajah yang bingung. Sebab ia memang tidak tau apa-apa.


''Halah ... nggak usah pura-pura nggak tau deh! Kamu menyuruh suami penyakitan ini untuk menghancurkan perusahaan suami saya, 'kan? Jangan pura-pura bego kamu!'' geram tante Emma sambil menunjuk wajah Bintang.


Wanita itu cukup terkejut saat mendengar ucapan tante Emma. Sebab selama ini dia tidak pernah melihat tante Emma berkata sekasar dan sebrutal itu kepadanya. Ada rasa sakit di hati Bintang, saat wanita yang sudah dianggap sebagai ibu kandungnya sendiri mencaci dan memakai dirinya.


Padahal selama ini Bintang tidak pernah dendam kepada mereka. Bahkan setelah mengetahui semuanya Bintang masih berusaha untuk memaafkan mereka, tapi ternyata hati tante Emma sudah dipenuhi oleh dendam


''Jaga ucapan Anda ya! Berani Anda menghina istri saya!'' bentak Emil dengan suara yang tinggi dan sorot mata yang begitu tajam mengarah kepada tante Emma.


Wanita setengah paruh baya itu terjngkat kaget saat mendengar bentakan dari Emil. Bahkan beberapa karyawan yang berada di sana pun ikut merinding saat melihat kemarahan Emil.


''Seharusnya bukan perusahaan kamu saja yang saya hancurkan! Kalian sekeluarga seharusnya jadi gembel, agar kalian tahu rasanya bagaimana di terlantarkan. Berani Anda menghina istri saya lagi, maka saya tidak akan pernah segan-segan untuk merobek mulut Anda!'' geram Emil dengan rahang mengeras tangan terkepal dan wajah yang sangat marah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2