
Happy reading.....
Tiwi terus melajukan mobilnya untuk menuju bakery sang Mama. Akan tetapi, saat di tengah jalan, tiba-tiba saja satu buah mobil berhenti menghadang jalannya, dan seketika Tiwi mengerem secara mendadak.
Dua orang pria pun turun menggunakan topeng. Tiwi yang melihat itu benar-benar ketakutan, satu orang dari mereka menggedor pintu kaca mobil Tiwi, meminta gadis itu untuk keluar.
"Ya Allah, mereka siapa? Kenapa mereka menghadang jalanku? Aduh, aku harus gimana ini? Mana mereka mau pistol lagi," gumam Tiwi dengan takut.
Keringat dingin seketika membasahi kening perempuan itu, dia benar-benar ketakutan saat melihat senjata yang selama ini dia lihat dalam film-film..Namun saat ini dia melihatnya secara live di depan mata.
Dengan cepat Tiwi mengambil ponselnya, lalu menelpon Leon. Sedangkan pria itu sedang ada meeting bersama dengan Emil.
Satu kali tidak diangkat, hingga Tiwi terus menelepon, karena pria tersebut terus saja menggedor kaca mobilnya. Dan itu membuat Tiwi semakin panik.
Leon merasa heran, tidak biasanya Tiwi menelpon dia ampai berulang-ulang. Akhirnya Leon pun mengangkatnya.
"Halo sayang," ucap Leon di seberang telepon.
"Halo, Leon, tolong aku! Leon, ada yang mencegat ku di jalan. Mereka menggunakan topeng. Leon tolo--- Aaagh!" jerit Tiwi saat kaca mobilnya di pecahkan.
"Halo sayang, kamu kenapa? Sayang!" teriak Leon, tetapi Tiwi tidak menyahut, karena ponselnya jatuh ke bawah.
Orang tersebut berhasil membuka pintu mobil Tiwi, kemudian menyeretnya keluar. "Tidak, tolong lepaskan saya Tuan! Jangan sakiti saya! Leon, tolong aku!" teriak Tiwi.
"Diam kau!" bentak pria itu sambil terus menyeret Tiwi ke luar, kemudian dia membawa Tiwi ke tepi jurang yang berada di pinggir jalan.
Leon yang mendengar Tiwi sedang menjerit, seketika menjadi panik. Dia takut terjadi apa-apa dengan calon istrinya, kemudian Leon pun segera melacak keberadaan Tiwi.
"Kembaran singa, lo mau ke mana?" tanya Emil saat melihat Leon masuk ke dalam lift dengan terburu-buru.
"Tiwi dalam bahaya. Aku harus segera ke sana," jawab Leon. Setelah itu dia pun turun ke lantai bawah.
Emil yang mendengar hal itu pun menjadi panik. Dia takut jika anak buah musuhnya malah menyakiti Tiwi, kemudian dia menelpon Jasper untuk meminta bantuan sahabatnya.
"Gawat! Jangan-jangan anak buahnya Excel melukai Tiwi, tapi kenapa mereka melakukan itu? Bukan harusnya yang mereka incar adalah Bintang, atau keluargaku? Jangan-jangan, mereka salah sasaran?" tebak Emil, kemudian dia segera masuk ke dalam lift menyusul Leon.
Sedangkan di sisi lain, Tiwi sedang berontak. Dia memohon dengan air mata yang sudah mengalir deras, saat melihat jurang yang begitu dalam di hadapannya.
"Tidak! Saya mohon, jangan sakiti saya! Siapa kalian? Jangan sakiti saya! Aku tidak mengenal kalian. Tolong, lepaskan saya!" pinta Tiwi dengan raut wajah yang sudah ketakutan.
Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak, saat melihat wajah ketakutan Tiwi. Mereka berpikir, yang saat ini berada di tangannya adalah Bintang, istrinya Emil. Namun ternyata mereka salah sasaran
"Diam kau! Sebaiknya kau ucapkan kata-kata terakhir, sebelum mati. Bilang kepada suamimu itu, Emil, jangan pernah bermain-main dengan bosku!" ancam salah seorang pria yang memakai topeng.
__ADS_1
"Emil?" bingung Tiwi, namun seketika dia mengingat jika saat ini keluarga Ferdinand memang sedang dalam bahaya. "Kalian salah sasaran. Aku bukan istrinya Emil!" bantah Tiwi.
"Kau pikir, kami ini bodoh Nona? Ayo cepat lempar dia!" titah salah seorang pria, kemudian dia mendorong Tiwi hingga tubuh wanita itu jatuh ke jurang.
"Aaahhhhhh!" Tiwi menjerit saat tubuhnya terhempas dan terpentok dahan kayu, seketika dia tidak sadarkan diri.
"Sepertinya dia sudah mati. Tubuhnya sudah jatuh ke bawah. Lagi pula, jurang itu juga dalam. Ayo kita pergi dari sini! Ini akan menjadi pelajaran bagi si brengseek, Emil," ujar salah satu pria, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tak lama mobil Leon pun sampai di sana, berbarengan dengan Emil. Karena tadi pria itu menelpon Leon, menanyakan tentang keberadaan Tiwi. Akan tetapi, mereka melihat mobil Tiwi namun tidak ada orangnya.
Seketika Leon menjadi panik, dia takut terjadi apa-apa dengan kekasihnya. Wajah pria itu nampak sangat cemas, dia sampai memukul kap mobil beberapa kali, merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menjaga calon istrinya.
"Di mana Tiwi? Apa dia sudah diculik oleh mereka? Ya ampun, sayang. Maafkan aku, betapa bodohnya diri ini! Sampai tidak memberikan penjagaan kepadamu!" geram Leon sambil menjambak rambutnya dengan kuat.
"Tenanglah! Kita pasti akan menemukan Tiwi. Coba periksa mobilnya! Siapa tahu ada bukti," ucap Emil.
Namun tidak ada bukti sama sekali, hingga Emil menemukan satu buah sandal di tepi jurang, kemudian dia pun memanggil Leon.
"Yon, lihat ini! Bukannya ini sandal Tiwi yang dipakai tadi pagi? Aku ingat sekali, dia memakainya saat berkunjung ke rumahku. Jangan-jangan ..." Ucapan Emil terhenti dengan wajah membulat menatap ke arah jurang.
Seketika Leon pun menatap ke arah jurang yang begitu dalam. Dadanya berdetak dengan kencang, takut jika terjadi apa-apa dengan Tiwi. Kalau memang kekasihnya dilempar ke sana, sudah pasti kemungkinan tidak akan selamat.
"Tidak! Tidak mungkin! Aku harus menyelamatkannya, jika memang dia dijatuhkan ke sana. Aku harus turun, Mil," ucap Leon dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipi, karena dia begitu takut kehilangan Tiwi.
"Bagaimana aku akan berpikir dengan jernih? Sementara kekasihku ada di sana? Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan dia? Emil, apa kau mau bertanggung jawab? Pikir!" bentak Leon yang sudah tidak bisa lagi menahan ketakutannya.
"Tiwi sayang, kamu bisa mendengar aku tidak?! Tiwi!" Leon terus meneriaki nama kekasihnya ke dalam jurang.
Tak lama mobil Jasper dan anak buahnya pun datang. Dia melihat Leon sudah frustasi sambil memegangi pembatas jalan.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan Tiwi?" tanya Jasper tiba-tiba.
"Sepertinya mereka melemparnya ke jurang? Itu kemungkinan saja, belum jelas," jawab Emil.
Sementara Leon terus aja meneriaki nama Tiwi. Dia berharap, kekasihnya itu selamat, jika memang didorong ke dalam jurang . Jasper dan Emil yang melihat itu segera merangkul pundak Leon.
Mereka tahu jika Leon begitu mencintai Tiwi, walaupun pria dingin tersebut tidak pandai dalam mengungkapkan perasaannya, namun kini Emil dan juga Jasper dapat melihat bagaimana besarnya cinta Leon kepada Tiwi.
Sedangkan di bawah sana, Tiwi mengerjapkan matanya. Dia merasakan badannya begitu remuk, apalagi saat ini kakinya terasa begitu sakit, sehingga sulit sekali untuk digerakkan.
Sayup-sayup Tiwi mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, dan dia sangat yakin jika itu suara Leon.
"Leon, tolong aku, sayang," ucap Tiwi dengan suara yang lirih.
__ADS_1
'Ya Tuhan, badanku terasa remuk sekali. Apakah aku sudah mati, atau aku masih kau beri kesempatan untuk hidup? Tolong aku Tuhan!' batin Tiwi sambil menangis.
Sedangjan di atas sana, Leon terus saja meneriaki nama Tiwi. Dia yakin, jika kekasihnya ada di bawah sana. Kemudian Leon mencengkram kerah baju Jasper, agar dia menyiapkan tali untuk membawa Leon turun ke bawah.
Sedangkan Tiwi sedang mengumpulkan tenaganya untuk memanggil Leon. "Aku harus bisa untuk memberitahu, jika aku ada di sini," ucap Tiwi dengan suara yang lemah.
Dengan sisa tenaga, dia menarik napasnya dalam-dalam. Dadanya bahkan terasa begitu sesak, tapi Tiwi harus melakukan itu. Kemudian dia pun berteriak, "LEON AKU DI SINI!" teriak Tiwi.
Seketika ketiga pria itu pun menampilkan wajah yang kaget, saat mendengar sebuah suara dari dalam jurang, dan Leon sangat yakin jika itu adalah suara Tiwi
"Kalian dengar! Itu adalah suara kekasihku. Aku harus benar-benar turun ke sana. Cepat siapkan tali!" teriak Leon kepada anak buah Jasper.
Untung saja di dalam mobil Jasper ada satu tali tambang, kemudian mulai mengikatkannya ke pembatas jalan, lalu Leon segera mengikatnya ke perutnya, dan dia hendak turun ke bawah.
"Sayang bertahanlah! Aku akan turun ke bawah!" teriak Leon yang mampu didengar oleh Tiwi.
"Leon, apa kau yakin akan turun ke bawah?" tanya Jasper memastikan.
"Aku sangat yakin. Kekasihku di sana sedang terluka, dan kau malah menanyakan keseriusanku? Di mana takmu, Jasper?!" bentak Leon. Kemudian dia mulai menuruni jurang itu dengan perlahan sambil membawa senter. Sebab di sana lumayan gelap, karena tertutup oleh pohon yang rindang.
"Sayang, kamu di mana? Tiwi!" teriak Leon. Sedangkan Jasper dan juga Emil menanti harap-harap cemas di atas sana.
Tiwi melihat sebuah cahaya senter, dia tersenyum akhirnya Leon sebentar lagi akan menemukannya, tetapi pusing dan juga rasa nyeri di dalam tubuhnya tidak bisa lagi ditahan oleh Tiwi. Apalagi saat ini dia sedang berpegangan pada dahan kayu untuk menopang tubuhnya, agar tidak jatuh terlalu dalam.
"Leon, aku di sini," ucap Tiwi dengan suara tertahan, namun suaranya cukup menggema di sana.
Leon menyorot ke arah bawah, dan dia melihat Tiwi sedang tersangkut di dahan pohon. Pria itu pun segera turun sambil berpegangan pada tali tambang. Namun Tiwi benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi.
Hingga dengan perlahan, tangannya mulai terlepas dari dahan pohon tersebut. Leon yang melihat itu pun segera menarik tangan Tiwi, kemudian langsung memeluknya. Dia melihat luka di kepala Tiwi dan sebagian bajunya juga robek, karena tersangkut oleh dahan pohon.
"Sayang, aku di sini. Bangunlah!" ucap Leon dengan suara yang bergetar ketakutan, saat melihat keadaan Tiwi.
"Ka-mu da-ta-ng, lam-pu lam-pion ku," ucap Tiwi dengan suara yang lirih, kemudian dia pun tidak sadarkan diri.
"Bertahanlah sayang, kita akan pergi dari sini. Emil! Japer! Tarik talinya!" teriak Leon di bawah sana.
Kemudian Jasper memerintahkan anak buahnya untuk menarik tambang tersebut, sementara Leon terus mendekap tubuh Tiwi agar tidak terjatuh kembali. Dia yakin, kekasihnya pasti merasakan sakit yang luar biasa.
Air matanya benar-benar tidak bisa terbendung lagi, karena rasa ketakutan yang begitu dalam di hati Leon, sehingga saat sampai di atas, dia tidak peduli tangannya terluka karena tergores dahan yang cukup tajam di bawah sana.
"Tiwi! Jadi benar dia dilempar ke jurang?!" panik Emil. Kemudian Leon langsung memasukkannya ke dalam mobil, sedangkan Jasper yang menyetirnya. Mereka membawa Tiwi ke rumah sakit.
"Bertahanlah sayang! Aku yakin, kamu kuat." Leon terus saja mengusap darah yang keluar dari kepala kekasihnya, karena tadi saat Tiwi terjatuh, kepalanya terbentur dahan pohon cukup keras.
__ADS_1
BERSAMBUNG......