Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Bab 62


__ADS_3

Happy reading...


Emil sampai di rumah, dia pun masuk ke dalam kamarnya tapi tidak menemukan istrinya sama sekali. Kemudian pria itu pun berjalan ke lantai bawah, dia pikir Bintang ada di sana. Akan tetapi, saat dia sampai di dapur tidak ada orang yang dicarinya.


''Mah, Bintang ke mana ya? Kok di kamar nggak ada, di dapur juga nggak ada?'' tanya Emil pada Mama Ria.


''Oh, tadi istri kamu itu lagi ke supermarket, belanja buah. Mama sih sudah nyuruh pelayan, tapi dia ngotot. Katanya mau cari udara segar sekalian,'' jawab Mama Ria sambil menuang air ke dalam gelas.


''Udara segar? Memangnya udara kemarin di Bali, belum cukup? Kenapa masih mencari udara segar di luar?'' celetuk Emil sambil duduk di meja makan.


''Bali, ya Bali. Ini Jakarta Emil, beda lagi.'' Mama Ria tidak habis pikir dengan putranya itu, kemudian dia duduk di hadapan Emil sambil mengupas buah.


Tak lama Bintang masuk dan menuju ke meja makan, dia melihat di sana sudah ada Emil. Kemudian wanita itu menaruh barang belanjaannya di atas meja, dan duduk di sebelah suaminya.


''Kamu habis dari mana? Kenapa, keluar nggak bilang-bilang? Alesan nyari udara segar. Emangnya kemarin di Bali belum puas, dengan udara segar yang masuk ke dalam paru-paru, kamu? Tau gitu mah, kamu kantongin aja udaranya dibawa ke sini. Jadi kamu nggak usah tuh keluar-keluar nyari udara segar, tinggal buka aja kantong plastiknya terus kamu hirup deh.'- Emil berkata dengan sompralnya membuat Bintang merasa kesal.


Belum reda rasa amarahnya bertemu dengan Azkia, saat sampai di rumah dia malah harus bertengkar pula dengan Emil. Mood-nya benar-benar hancur, kemudian wanita itu menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang begitu kesal.


''Iya, kamu benar. Kalau bisa nih, aku terbang ke Jerman, ke Korea, ke Jepang, ke Cina. Nah, aku ambil botol terus aku masukin deh udaranya. Aku bawa ke Indonesia buat stok!'' kesal Bintang sambil bangkit dari duduknya, kemudian dia pergi melangkah ke kamar meninggalkan Emil yang masih terpaku dengan ucapan istrinya itu.


''Dih, malah pergi. Aku kan belum selesai bicara! Kamu mau ke Cina, mau ke Jerman? Ayo kita ambil udara di sana lalu bawa ke sini!'' Emil berkata sambil sedikit berteriak. Akan tetapi, Bintang tidak perduli. Dia tetap melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Sedangkan Mama Ria yang melihat Putra dan juga menantunya itu hanya menggelengkan kepala saja. Entah sampai kapan mereka berdua akan akur, setiap hari ada saja yang didebatkan, entah itu hal sekecil apapun.


Akan tetapi, walau begitu Mama Ria merasa terhibur, sebab rumah terasa sepi jika keduanya tidak bertengkar. ''Emil, Emil ... lagian kamu ada-ada aja! Mana iya udara dimasukin ke toples? Kalau udara dimasukin ke toples, sekarang udah ke pasti kamu tuh pakai selang buat bernapas. Udara udah dikasih gratis, nggak bayar lagi,'' timpal Mama Ria sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.


Emil pun menyusul Bintang ke atas, dia merasa istrinya itu sedang kesal. Dan benar saja, saat dia sampai di kamar pria itu melihat Bintang sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menatap sebuah foto ketiga penghianat itu di ponselnya


''Kenapa? Kamu merindukan mereka?'' tanya Emil sambil memeluk tubuh Bintang dari belakang.


Wanita itu langsung menaruh ponselnya, kemudian melepaskan pelukan Emil. Dia masih merasa kesal dengan pria itu, karena sudah membuat mood-nya hancur. Tanpa menjawab apapun, Bintang masuk ke dalam kamar.


''Sayang, kamu kenapa sih? Ada apa?'' tanya Emil dengan bingung. Namun Bintang malah membuang pandangannya ke arah lain sambil merengut kesal.


''Hei ...'' panggil Emil, tapi Bintang tidak menyahut. Dia malah berjalan ke arah kamar mandi kemudian mengunci pintunya, tidak membiarkan suaminya masuk. Sedangkan Emil benar-benar dibuat bingung dengan sikap Bintang.

__ADS_1


''Heran aku sama wanita, susah banget ditebaknya. Dikit-dikit romantis, dikit-dikit baik, dikit-dikit ngambe. Maunya kayak gimana sih? Benar-benar kayak bunglon, suka gonta-ganti warna!'' gerutu Emil sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


**************


Tepat jam 07.00 malam, Leon sudah sampai di depan rumah orang tua Tiwi, dan saat ini dia sedang berada di ruang tamu menunggu Tiwi untuk turun. Bahkan Leon juga sudah berpamitan kepada orang tua Tiwi, jika dia akan mengajak gadis itu untuk keluar makan malam.


Tiwi menggunakan dress selutut berwarna hitam dengan rambut disanggul, membuatnya terlihat begitu cantik. Bahkan Leon tidak berkedip sama sekali. Dia tidak menyangka jika gadis sebar-bar Tiwi, bisa seanggun itu bahkan membuatnya terpana.


''Maaf ya,.kalau nunggu lama,'' ucap Tiwi saat berada di hadapan Leon.


''Tidak apa-apa,'' jawab Leon. Kemudian mereka pun pamit kepada orang tuanya Tiwi, lalu berangkat menuju ke sebuah restoran yang sudah di boking oleh pria itu.


''Sebenarnya kita mau ke mana sih?'' tanya Tiwi saat sudah berada di tengah jalan. Namun, Leon hanya membalasnya dengan senyuman, ''Nanti juga kamu akan tahu,'' jawab Leon dengan singkat.


Tiwi yang mendengar itu segera melengos ke arah lain, dia benar-benar penasaran ke mana Leon akan membawanya pergi. Akan tetapi, Tiwi mencoba untuk bersabar. Karena pada akhirnya wanita itu juga akan


tahu, kemana dia akan dibawa oleh pria tampan itu.


Mobil terparkir di sebuah area restoran yang mewah, Tiwi melirik ke arah Leon, sedangkan pria itu keluar dari mobil lalu mengitari dan membuka samping pintu mobil gadis itu, kemudian dia mengulurkan tangannya.


''Ayo masuk!'' ajak Leon.


Sebenarnya Tiwi merasa deg-degan, jantungnya berdetak kencang saat Leon menggenggam tangannya. Akan tetapi, wanita itu mencoba untuk bersikap biasa saja, seakan dia tidak merasakan sesuatu. Padahal jika digambarkan jantungnya sedang berdebar dengan sangat keras.


Leon membawa gadis itu duduk di di sebuah kursi,.di mana hanya ada satu meja di sana. Karena Leon sudah menyiapkan semuanya untuk Tiwi, sebab malam ini dia akan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu.


Tiwi terdiam sejenak, dia tidak menyangka jika Leon sudah menyiapkan semuanya. Bisa dikatakan itu adalah dinner makan malam mereka. Kemudian Leon menarik kursi dan mempersilahkan Tiwi untuk duduk.


''Sebenarnya, dalam rangka apa Tuan mengajak saya makan malam seperti ini?.Apalagi suasananya begitu romantis?'' tanya Tiwi dengan tatapan menyelidik ke arah Leon.


''Habiskan dulu makanannya! Nanti baru aku akan mengatakan sesuatu kepadamu,'' ujar Leon menyuruh Tiwi untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu, dan wanita itu pun hanya menurut walaupun sebenarnya dia sangat penasaran.


Saat makanan sudah habis, Leon berjalan ke arah Tiwi kemudian memintanya untuk berdiri. Kemudian pria itu pun berjongkok di hadapan Tiwi, membuat gadis itu seketika terpaku dengan mulut sedikit menganga.


''Tuan, apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda jongkok? Bangun Tuan! Tidak enak dilihat orang,'' ucap Tiwi saat melihat Leon berlutut di hadapannya.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan ucapan Tiwi, Leon menggenggam tangan gadis itu, kemudian dia mengeluarkan sebuah bunga mawar dibalik jasnya. Membuat Tiwi menutup mulutnya dengan salah satu tangan, dia tidak menyangka jika Leon seromantis itu.


''Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, sejujurnya aku--''


''Nona Tiwi.'' Ucapan Leon terhenti saat ada seorang pria yang memanggil Tiwi. Kemudian wanita itu pun menengok ke arah pintu dan tak jauh darinya ada Reyhan.


''Tuan Reyhan,'' gumam Tiwi dengan lirih.


Kemudian Leon bangkit dan menatap Reyhan dengan tatapan tidak suka, lalu pria itu mendekat ke arah Tiwi dan juga Leon.


''Nona Tiwi, apa kabar? Wah ... tidak menyangka ya, kita bertemu di sini?'' ujar Rehan sambil mengulurkan tangannya ke arah Tiwi, dan wanita itu langsung menjabatnya.


''Alhamdulillah, saya baik. Lalu Anda sendiri kenapa ada di sini?'' tanya Tiwi balik.


''Oh, kebetulan saya pemilik restoran ini,'' jawab Reyhan sambil melirik ke arah Leon yang tengah menatapnya dengan kesal. Kemudian dia melirik ke arah tangan Tiwi, di mana setangkai bunga mawar merah yang dipegang oleh gadis itu.


Reyhan pun mengerti jika saat ini Leon tengah menyatakan perasaannya kepada Tiwi. Dia merasa tidak enak, karena telah mengganggu moment romantis mereka berdua.


''Maafkan saya! Sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat, ya. Kalau gitu saya permisi dulu. Semoga malam kalian menyenangkan,'' ucap Reyhan sambil berlalu pergi dari sana.


Leon menghela naasnya dengan kasar, dia terus menggerutu di dalam hatinya. Karena gara-gara Reyhan, dia gagal untuk menyatakan perasaannya kepada Tiwi. 'Benar-benar pria sialan! Aku 'kan jadi gagal mengungkapkan perasaanku,' batin Leon merasa kesal sambil menatap punggung Reyhan yang semakin jauh.


''Tuan, Anda tadi ingin bicara apa?'' tanya Tiwi saat melihat Leon diam saja.


''Tidak ada! Sebaiknya kita pulang,.ini sudah larut malam. Mood-ku sudah hancur!'' jawab Leon dengan ketus, kemudian dia pun berlalu meninggalkan Tiwi yang terbengong melihat tingkah anehnya.


''Iiih, aneh banget sih? Tadi ngajakin makan malam, udah gitu berlutut di hadapan gue. Sekarang dia main pergi gitu aja! Dasar bunglon!'' gerutu Tiwi dengan kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


Padahal Tiwi sudah penasaran, apa yang akan diucapkan oleh Leon, sampai pria itu harus berlutut di hadapannya. Dia pikir, mungkin saja pria itu akan menembak dirinya dan menjadikannya sebagai kekasih, tapi Leon malah mengajaknya pulang.


Bahkan selama di dalam mobil tidak ada pembicaraan sama sekali, keduanya diam membisu. Leon juga enggan untuk mengajak ngobrol Tiwi, karena dia masih kesal dengan kejadian tadi. Gara-gara Reyhan, Leon tidak bisa mengungkapkan apa yang harusnya diungkapkan kepada Tiwi.


'Seharusnya malam ini, adalah malam terindah bagiku, tapi malahan menjadi malam tersial. Benar-benar menyebalkan!' batin Leon merasa geram, kemudian dia memukul setir beberapa kali hingga Tiwi yang berada di sebelahnya menengok ke arah Leon dengan bingung.


'Ini hewan bunglon satu, kenapa sih? Bentar-bentar romantis, nanti berubah lagi jadi ketus? Heran gue. Kayaknya perlu diformalin biar romantis mulu,.kagak berubah-rubah tuh sifat,' batin Tiwi sambil menatap ke arah samping dengan rasa kesal di hatinya.

__ADS_1


Padahal dia berharap tadi Leon menembaknya, menyatakan sebuah kata cinta kepadanya. Akan tetapi, mungkin itu hanya khayalan Tiwi saja. Dia terlalu banyak berharap tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


BERSAMBUNG.........


__ADS_2