
HAPPY READING......
Tiwi berada terus di sisi Bintang, sebab dia tahu jika wanita itu tengah terluka. Jadi sebisa mungkin Tiwi terus menghibur nya. Dan benar saja, dengan kehadiran Tiwi perasaan Bintang sudah jauh lebih baik, bahkan sekarang gadis itu sudah bisa tersenyum.
Saat ini Tiwi, Mama Ria dan juga Bintang sedang berada di dapur untuk memasak makan siang. Sebab Emil akan datang dan makan di rumah atas permintaan Mama Ria.
Mereka bertiga memasak sambil bercanda ria, sedangkan para pelayan hanya berdiri dan mengamati saja, untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti Nyonya mereka butuh sesuatu dan mereka ada di sana.
''Wahh .... Mama nggak nyangka loh, kalau kamu jago masak sayang,'' ucap Mama Ria memuji kepintaran Bintang dalam hal memasak. Setelah makanan jadi dan tersedia diatas meja makan.
''Aah, Mama bisa aja. Bintang masih belajar kok, belum terlalu pandai banget,'' jawab Bintang sambil mencuci tangannya di wastafel.
Kemudian Mama Ria mencicipi kue buatan Tiwi dan dessert yang dibuat oleh gadis itu. Seketika matanya terpejam menikmati setiap rasa yang ada di dalam mulutnya.
''Euuumh, kamu juga ternyata jago ya sayang buat kue? Ini enak sekali lho,'' puji Mama Ria sambil menghabiskan dessert yang ada di piring kecil.
''Tante bisa aja,'' jawab Tiwi.
Tak lama suara klakson mobil pun terdengar di depan rumah, dan mereka yakin jika itu Emil. Saat bintang tengah menata dan merapikan makanan yang ada di atas meja, kemudian Emil datang bersama dengan Leon.
''Sayang, gimana perasaan kamu sudah jauh lebih baik?'' tanya Emil sambil memeluk tubuh Bintang dari belakang. Dia bahkan tidak perduli banyak pelayan dan juga Mamanya di sana. Karena saat ini yang Emil khawatirkan hanyalah perasaan dan keadaan istrinya.
''Sudah jauh lebih baik kok, udah sih lepasin! Malu tahu di sini ada Mama sama Pelayan,'' bisik Bintang merasa risih saat hamil memeluk tubuhnya di hadapan banyak orang.
Sedangkan Mama Ria hanya tersenyum saja melihat tingkah putranya itu, tapi di dalam hatinya dia benar-benar bahagia. Sebab Emil sudah tidak alergi lagi sesaat bersentuhan dengan wanita. Walaupun hanya Bintang saja yang bisa disentuh.
''Haduh ... mata suciku kenapa ternoda. Kayaknya ada yang otw bucin nih,'' ledek Tiwi yang baru saja keluar dari kamar kecil yang ada di dapur
__ADS_1
Leon kaget saat melihat jika Tiwi ada di sana, dia pikir wanita itu tidak ada di kediaman Fernandez. Ternyata dia salah, tapi ada segurat senyuman tipis di bibir Leon saat melihat wanita itu.
''Orang kalau udah bucin itu nggak nggak lihat tempatnya. Di mana aja main sosor, udah kayak bebek sowang!'' sindir Tiwi sambil berdiri di samping Mama Ria.
Mama Ria yang mendengar ucapan Tiwi hanya terkekeh saja, sedangkan Emil dan juga Bintang malam menekuk wajahnya. ''Alaaah ... lo kalo iri bilang aja, Jubaedah. Lebih baik lo cari calon gih! Jangan jomblo terus, atau lo sama Pak Leon saja tuh,'' ucap Bintang sambil melirik ke arah Leon.
Leon yang sedang meminum kopi di atas meja seketika tersedak, saat mendengar ucapan Bintang. Kemudian dia menatap kearah Tiwi, dan gadis itu juga menatap ke arahnya.
''Hah, maksud lo, gue sama si lampu lampion gitu? Ogah! Orang kaku, dingin dan datar gitu? Yang ada nih, makan hati terus,'' timpal Tiwi sambil pergi di saat melihat ke arah Leon.
Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika dia harus bersanding dengan Leon, pria kaku dan juga datar. Bahkan senyum saja jarang, bisa dibilang tidak pernah. Ditambah Leon pria yang menyebalkan selalu membuatnya kesal.
Mama Ria menengahi perdebatan antara Leon dan juga Tiwi. Karena dia tahu, mereka pasti akan bertengkar. ''Sudah, sudah. Sebaiknya kita makan! Baru nanti kita ngobrol di ruang tamu,'' ujar Mama Ria.
Setelah makan siang selesai, semua berkumpul di ruang tamu atas permintaan Mama Ria. sebab wanita itu ingin Emil tidak berangkat ke kantor dulu, karena dia yakin Bintang saat ini tengah memerlukan dirinya sebagai seorang suami.
Dia yakin, tingkah somplak dan juga gaya pecicilan Tiwi bisa melengkapi hidup Leon yang terkesan dingin dan kaku, karena pasangan itu harus saling melengkapi satu sama lain. Jika yang satunya api, maka yang satunya air. Jika yang satunya kaku, maka yang satunya harus bisa mencairkan.
''Oh iya, es milo. Aku kan udah bikin istrimu ketawa tuh, sekarang mana bayaran ku?'' ucap Tiwi sambil menengadahkan tangannya ke arah Emil sambil menaik turunkan alisnya.
Leon dan Emil sama-sama melempar pandangan satu sama lain saat mendengar ucapan Tiwi. ''Maksudnya gimana? Bayaran apa?'' tanya Emil dengan bingung.
''Heh, es kobokan piring. Emangnya kamu pikir, ngelawak sama bikin mood istri kamu bagus itu gak pakai materi? Nggak ada yang gratis kali! Gue minta bayaran sini!'' tagih Tiwi kepada Emil. Sedangkan Mama Ria dan juga Bintang hanya menahan tawanya saja dan melipat bibir mereka ke dalam.
Emil terlihat bingung, tapi pada akhirnya dia menuruti keinginan Tiwi. Lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang merah. Akan tetapi Tiwi menolaknya, dia membalikkan uang itu kembali ke arah Emil, membuat kedua pria yang ada di hadapannya menatap Tiwi dengan tatapan bingung.
''Eh Jubaedah, tadi kamu minta bayaran. Sekarang saya sudah kasih kamu uang, kenapa kamu balikin lagi?'' bingung Emil saat melihat Tiwi menolak uangnya.
__ADS_1
''Aku mau minta tiket ke Bali, plus hotelnya satu minggu, plus biaya di sana. Jadi aku cuma bawa badan sama pakaian saja, gimana?'' pinta Tiwi sambil menyilangkan kakinya, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap kearah Emil.
Pria itu mengangga saat mendengar permintaan Tiwi. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba Mama Ria menimpali permintaan Tiwi. ''Jangan lupa, Mama juga mau,'' timpal Mama Ria sambil mengangkat tangannya.
Emil dan Leon seketika menatap kearah Mama Ria. Saat Emil akan menjawab ucapan Mamanya, tiba-tiba Bintang juga menimpali. ''Aku juga mau sayang, ke Bali. Pokoknya semua ditanggung kamu ya! Dari mulai tiket, hotel, terus kebutuhan di sana juga. Jadi kita bertiga cuma bawa badan aja, iya nggak Mah, Tiwi?'' tanya Bintang kepada kedua wanita yang ada di hadapannya.
Wajah Emil terlihat begitu lucu saat mendengar permintaan ketiga wanita yang saat ini berada di ruang tamu bersama dengan dirinya . Dia merasa itu adalah permintaan yang konyol, walaupun Emil bisa mengabulkan itu. Akan tetapi, dia merasa jika dirinya tengah dipermainkan.
''Tunggu dulu! Ini maksudnya bagaimana?.Kalian lagi morotin aku?'' tanya Emil sambil menunjuk dirinya sendiri. Sedangkan Leon sedari tadi hanya menahan tawanya, jika dia membuka mulutnya sedikit saja, maka mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak.
''Sayang, jangan kayak gitu dong. Masih untung kamu cuma di porortin. Kalau colormu yang di peloroti, bagaimana?'' timpal Bintang dengan gaya somplak nya.
Emil yang mendengar ucapan somplak sang istri kemudian menutup mulut Bintang, membuat wanita itu menatap Emil dengan bingung. Sementara Tiwi dan juga Mama Ria saling melirik satu sama lain, dan melipat bibir mereka ke dalam. Karena saat ini mereka berdua ingin sekali tertawa.
''Kalau mau pelorotin, lebih baik kamu aja. Masa si Jubaedah juga ikutan?'' bisik Emil di telinga Bintang. Namun masih terdengar jelas di telinga Leon, Mama Ria dan juga Tiwi.
''Pokoknya kamu harus siapin tiket untuk kita bertiga ke Bali, dan kami mau besok lusa sudah berangkat ke sana!'' pinta Mama Ria dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Emil menatap ke-3 wanita yang ada di hadapan nya dengan wajah kaget. Dia pikir, itu hanyalah prank semata. Akan tetapi, ternyata ke-3 wanita itu benar-benar ingin liburan ke Bali.
''Kalian serius?'' tanya Emil memastikan.
''Serius lah, emangnya Anda pikir kami ini bercanda? Ingat ya! Nnggak mudah lho balikin mood orang yang lagi sedih,'' ucap Tiwi sambil menaik turunkan alisnya, dan mengangkat salah satu sudut bibirnya alu tersenyum miring ke arah Emil.
''Ya tuhan!'' Emil menepuk jidatnya sendiri, sementara Leon terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak bisa membayangkan berada di posisi Emil saat ini. Pria itu sedang di poroti oleh ketiga wanita yang ada di hadapannya.
'Benar-benar kasihan menjadi dia. Untung saja kayak raya, jika tidak sudah bangkrut total?' batin Leon menertawakan sahabatnya yang sedang dalam kesusahan.
__ADS_1
BERSAMBUNG