
Happy reading.....
Anak buah Jasper sudah datang di kediaman Emil, mereka langsung berjaga, bahkan pria itu memerintahkan 15 anak buahnya untuk stand by di sana. Sedangkan papa Ezra tanpa bertanya pun sudah tahu, kenapa ada banyak sekali pengawal di rumahnya.
"Sayang, kenapa sih di luar sekarang banyak pengawal? Tidak biasanya seperti ini?" tanya Bintang saat berada di kamar.
Emil yang mendengar pertanyaan istrinya seketika langsung tiduran, sedangkan kepalanya dipangku oleh Bintang. Pria itu menatap ke arah perut sang istri, di mana saat ini sudah mulai membuncit.
Ada rasa takut yang begitu dalam di hati pria tampan tersebut, saat mengingat kehamilan Bintang yang semakin membesar.
"Hanya untuk berjaga-jaga saja, sayang. Tidak ada apa-apa kok," jawab Emil, tetapi Bintang tidak percaya. Dia yakin ada yang disembunyikan oleh suaminya.
"Jangan membohongiku! Pasti ada yang kamu sembunyikan, bukan? Apa itu? Apakah ada bahaya atau ada ancaman, sehingga harus mengerahkan beberapa pengawal untuk berjaga di rumah?" tanya Bintang sambil mengusap rambut Emil.
Pria tampan tersebut tersenyum sambil menatap ke arah Bintang, dia mengusap lembut pipi istrinya sambil tersenyum. Memang benar apa kata pepatah yang dikatakan oleh sang mama, jika insting seorang istri dan perempuan itu sangat kuat. Jadi tidak bisa dibohongi, walaupun pria tersebut sudah menyimpannya secara rapat-rapat.
"Kenapa diam sayang? Ayo jawab!" desak Bintang.
Emil menganggukkan kepalanya. "Iya, memang ada sesuatu hal yang besar. Bisa dibilang memang sebuah ancaman. Itu kenapa, aku meminta anak buah Jasper untuk berjaga di sini. Karena mereka sudah ahli, dan aku mohon kepada kamu, sebelum situasinya aman, jangan pernah keluar dari rumah ini ya! Kamu mau 'kan untuk beberapa waktu?" pinta Emil sambil menggenggam tangan Bintang.
"Apakah separah itu? Sampai aku tidak boleh keluar rumah?" tanya Bintang memastikan.
Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, jika hatinya merasa sedikit khawatir. Bukan untuk keselamatannya, tapi calon bayinya, sekaligus keselamatan keluarga dari Ferdinand.
__ADS_1
"Ya, bisa dibilang seperti itu. Hanya berjaga-jaga saja, kamu mau 'kan menurut dengan ucapanku? Ini semua demi kebaikan kamu dan juga anak kita," jelas Emil.
Bintang pun menganggukkan kepalanya, kemudian mereka melanjutkan untuk tidur, karena hari juga sudah semakin larut.
Pagi telah menyapa, saat ini Emil tidak merasakan apapun, bahkan dia tidak muntah-muntah. Mungkin karena kandungan Bintang juga sudah memasuki bulan ke-4, dan sebentar lagi mereka akan melakukan syukuran.
Tidak banyak yang dilakukan oleh Bintang, saat pagi hari wanita itu hanya Yoga dan menghirup matahari yang baru saja muncul, karena itu sangat bagus untuk daya tahan tubuhnya. Apalagi saat ini cuaca juga tidak menentu.
"Sayang, kamu jadikan melakukan syukuran nanti, buat empat bulanannya anak kalian?" tanya mama Ria saat berada di meja makan.
"Jadi Mah, tapi apa tidak sebaiknya kita tunda dulu saja? Untuk situasinya sekarang, tidak memungkinkan. Aku takutnya itu akan dimanfaatkan oleh mereka," jawab Emil yang sedikit khawatir akan keselamatan anak dan istrinya.
"Kalau Papa sih setuju dengan usulnya Emil. Kita sebaiknya jangan mengadakan acara syukuran dulu. Walaupun dengan penjagaan yang ketat, tetapi musuh bisa saja menyelinap. Ada baiknya, lebih baik panggil Ustadz ke sini untuk melakukan syukuran dengan beberapa pelayan saja yang ada di Mansion. Setelah itu, kita suruh pelayan untuk membagikan di kolong jembatan atau pada panti asuhan. Aau bisa juga, langsung kasih donasi saja ke panti asuhan," tutur papa Ezra memberi saran.
"Ya kalau aku sih terserah gimana baiknya aja, ini semua juga 'kan demi kebaikan anak kita," jawab Bintang.
"Assalamualaikum!" seru seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam kediaman Ferdinand.
"Waalaikumsalam, eh, Nak Tiwi. Tumben pagi-pagi ke sini? Jangan-jangan, bawa cake ya?" tebak mama Ria sambil tersenyum ke arah Tiwi.
Wanita itu langsung mencium tangan mama Ria serta papa Ezra, kemudian dia menaruh paper bag di atas meja. Namun kali ini bukan cake yang dibawa oleh Tiwi, melainkan salad buah.
"Tidak Tante! Kali ini Tiwi tidak membawa cake. Tadi pagi ada pelanggan yang memesan salad buah, jadi Tiwi pikir, sekalian saja buat untuk Bintang. Siapa tahu dia mau 'kan?" jawab Tiwi sambil mengeluarkan salad buah dan memberikannya kepada Bintang.
__ADS_1
"Waah ... thank you so much. Lo tau aja apa yang gue mau," ujar Bintang sambil mencoba salad buah tersebut.
"Gimana? Enak gak?" tanya Tiwi.
"Dnak dong. Emang ya, tangan lo itu ajaib. Selalu enak dalam membuat kue dan makanan. Gue yakin, pasti nanti kak Leon akan betah di rumah, kalau mempunyai istri yang pinter masak kayak lo?" kekeh Bintang.
"Iya, memang bakal gue kekepin terus dia di rumah, biar nggak diambil pelakor," timpal Tiwi.
Lalu mereka pun sarapan, setelah selesai Emil pergi ke kantor dan di sana Tiwi juga berpamitan, karena dia harus pergi ke bakery mamanya, sebab hari ini banyak kue yang harus diantar.
Sedangkan di tempat lain, seseorang sedang mengintai kediaman Ferdinand melalui kamera jarak jauh. Lalu mereka melihat seorang wanita yang keluar dari rumah Ferdinand menggunakan mobil berwarna merah berbarengan dengan Emil.
"Bagaimana? Apakah ada kabar?" tanya seseorang di seberang earphone.
"Seorang wanita memakai mobil berwarna merah keluar dari kediaman Ferdinand, Bos. Sepertinya dia istri dari Emil?" seru pria yang sedang mengintai menggunakan teropong.
"Suruh anak buah untuk mengikuti dia! Berikan wanita itu pelajaran, untuk pengingat kepada Emil, jika kita mulai beraksi, paham!" perintah seseorang di seberang earphone.
"Paham Bos."
Tiwi melajukan mobilnya sambil mendengarkan musik kesukaannya, tetapi ada yang dia heran, sebab banyak orang yang berjaga di kediaman Ferdinand. Tiwi berpikir, mungkin itu adalah anak buah dari Jasper yang diperintahkan untuk menjaga Bintang.
"Ternyata apa yang Leon katakan benar, semoga saja Bintang dan keluarganya baik-baik saja. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayi dan juga sahabatku," gumam Tiwi sambil terus menyetir mobilnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......