
Happy reading....
Pqgi hari saat Bintang baru saja membuka matanya, dia merasakan sesuatu yang tengah menggerayangi tubuhnya. Membuat wanita itu terusik dalam tidur lelap dan juga mimpi indahnya. Kemudian matanya sedikit terbuka dan menatap ke arah bawah.
''Aduh, kamu ngapain sih? Ini masih pagi, aku masih ngantuk.'' Bintang berkata dengan suara yang purau, saat merasakan Emil yang sedang melakukan ritual paginya.
Pria itu memang sudah terbangun setengah jam yang lalu, dan saat melihat Bintang tidur dengan pakaian yang sedikit terbuka, membuat hasraatnya kembali bangun. Lalu seketika ide jail pun muncul di kepala pria itu. Dia mulai melakukan sedikit pemanasan di atas tubuh Bintang, hingga mengusik tidur lelap istrinya.
Bintang menggelinjang geli dengan mata terpejam, saat Emil sedang melakukan sesuatu di atas tubuhnya. ''Geli, sayang. Nanti aja! Ini masih pagi.'' Lagi-lagi Bintang berkata dengan mata tertutup.
Dia bukannya tidak mau melayani Emil, akan tetapi tubuhnya masih terasa lelah, dan itu masih terlalu dini untuk melakukan olahraga yang panas di atas ranjang. Wanita itu bahkan tidak membuka matanya sama sekali, walaupun sedari tadi Emil terus aja mengganggu tidurnya.
''Sayang, 'an kamu sudah janji akan memberikanku kesempatan untuk membuat mahakarya di ketiakmu?'' ucap Emil sambil mencium leher Bintang.
Wanita itu ingat, kemudian dia tersenyum dengan mata tertutup. Lalu dia mengangkat kedua tangannya, Bintang yakin jika saat ini keteknya sudah bau asam. Sebab semalam Bintang tidak memakai deodoran, dia sengaja melakukan itu supaya Emil tidak jadi membuat mahakarya di ketiaknya.
''Eeumm ... nih keteku, silakan kamu buat mahakarya sebanyak mungkin di sana,'' jawab Bintang sambil memejamkan matanya, karena dia benar-benar sangat mengantuk.
Emil tersenyum, kemudian dia mulai mendekat dan mencium ketiak istrinya. Akan tetapi, seketika Emil mundur dan bangkit dari atas tubuh Bintang dengan tangan menutup hidung.
Bintang yang merasakan itu, seketika membuka matanya dan menatap Emil dengan bingung. ''Kenapa? Katanya mau membuat mahakarya yang banyak di ketiak aku? Kok malah bangun?'' tanya Bintang yang pura-pura tidak tahu.
''Sayang, apa semalam kamu tidak pakai deodoran?'' tanya Emil, dan Bintang hanya menggeleng dengan acuh.
''Tidak! Malas. Lagi pula, tidak ada bedanya bukan? Ayolah ... aku sudah menantikan mahakarya kamu di sin.'' Bintang bangkit dari tidurnya sambil menarik Emil agar pria itu melanjutkan aksinya kembali.
Akan tetapi Emil menggeleng dengan cepat, hasrat yang tadinya menggebu-gebu di dalam dirinya seketika lenyap begitu saja, tapi Bintang tidak tinggal diam. Dia menarik lengan suaminya, dan mengusap telapak tangannya ke hidung Emil, yang telah dia usap ke ketiak terlebih dahulu.
''Ayolah sayang ... katanya mau membuat mahakarya? Ini aku udah pasrah loh.'' Bintang terus saja memaksa Emil. Namun, pria itu menggeleng dengan cepat.
''Iya, tadinya aku pikir akan membuat Mahakarya di sana, tapi sepertinya tidak cocok jika mahakarya itu berada di ketiak. Euum ... aku akan membuatnya di tempat yang lain saja, tapi saat ini badanku gerah. Jadi aku mandi dulu ya.'' Setelah berkata seperti itu, Emi langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Dia takut jika Bintang terus saja memaksa dirinya dan malah memberikan ketek yang bau asem itu kepadanya. Setelah sampai di kamar mandi, pria itu pun bergidik dengan geli, membayangkan bau yang baru saja dia cium.
__ADS_1
''Rasanya kemarin-kemarin, keteknya tidak sebau itu? Kenapa sekarang bau sekali? Iiih ... aku jadi geli. Klau tidak di situ, lalu aku buat di mana mahakarya ciptaanku?'' Emil bergumam sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Sementara itu, Bintang terkekeh di dalam kamar, sebab dia berhasil mengerjai suaminya. Lagi pula, Bintang tidak habis pikir, kenapa Emil sampai berpikiran untuk membuat mahakarya di tempat itu. Padahal dari zaman purba pun, tidak ada yang membuat stempel di ketiak.
Akhirnya wanita itu pun menutup matanya kembali dan melanjutkan tidur, menyelam ke alam mimpi bertemu dengan Oppa kesayangannya. Walau Emil sangat tampan. Tetap saja, bagi Bintang Oppa Song Joong Ki itu adalah suami pertama dalam khayalannya, sedangkan Emil suami pertama di dalam dunia nyata.
...******************...
Saat ini Bintang, Emil, Tiwi, Leon dan juga Mama Ria sedang duduk untuk sarapan pagi di tepi pantai, sambil menikmati keindahan yang menyejukkan mata. Di mana di Jakarta, tidak ada pemandangan seperti itu. Yang ada hanyalah kebisingan kendaraan dan juga polusi.
''Rasanya Mama ingin mempunyai villa di tepi pantai. Apa Mama minta Papa untuk belikan ya?'' gumam Mama Ria sambil menatap lurus ke arah lautan.
''Nah Tante, Tiwi setuju. Kalau Tante punya villa di tepi pantai, Tante bisa setiap hari bermain di laut, refreshing otak. Bahkan hidup pun akan jauh lebih tenang,'' sahut Tiwi yang tiba-tiba saja mengagetkan Mama Ria. Dia bahkan berkata dengan nada yang semangat.
Bintang yang melihat itu pun seketika menggelengkan kepalanya, ''Hei Jubaedah, lo berkata seperti itu bilang aja biar lo bisa gratisan ke pantai, 'kan?'' celetuk Bintang sambil mengunyah sarapannya.
Tiwi menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, kemudian dia tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. ''Hehehe ... 'kan enak kalau punya villa di tepi pantai, lagi pula biasanya kalau orang-orang kaya ya, mempunyai Pulau itu sudah hal biasa bukan? Bukan hal aneh lagi,'' ujar Tiwi sambil menaik turunkan alisnya dan menatap ke arah Bintang.
Setelah sarapan selesai, Emil mengajak Bintang untuk berjalan-jalan di Bali. Sedangkan Mama Ria bertemu dengan sahabatnya yang tinggal di sana, dan Tiwi tidak tahu harus ke mana. Dia ingin ikut bersama dengan Bintang, akan tetapi dia mengurungkan niatnya, oarena tidak ingin mengganggu bulan madu antara pasangan suami istri itu.
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebab di sana Tiwi tidak punya pasangan dan juga tidak punya teman. Saat dia tengah duduk sendiri, tiba-tiba seorang pria menghampirinya. ''Halo,'' ucap pria itu sambil duduk di hadapan Tiwi.
''Iya halo,'' jawab Tiwi dengan tatapan bingung ke arah pria tersebut.
''Kamu sendirian?'' tanya pria itu kembali dan Tiwi langsung menganggukkan kepalanya.
''Bolehkah aku menemanimu di sini? Kebetulan aku juga sendirian, tidak mempunyai teman,'' ucap pria itu mencoba untuk mendekati Tiwi.
Sejenak Tiwi terdiam, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya, ''Boleh,'' jawab Tiwi. Lalu pria itu mengulurkan tangannya ke arah Tiwi. ''Namaku Rehan, nama kamu siapa?''
''Namaku Tiwi,'' jawabnya sambil menjabat tangan pria itu.
Kemudian mereka pun mulai saling bercerita satu sama lain, dan lama-lama Tiwi juga merasa enjoy berbicara dengan Rehan. Pria itu tidak kaku, juga terlihat begitu asik dan humoris, bahkan sesekali Tiwi terkekeh karena lelucon Rehan.
__ADS_1
Dari kejauhan seorang pria menatap Tiwi dengan tatapan tidak suka, saat melihatnya tersenyum bersama dengan seorang pria. Ada rasa panas di hatinya, bahkan saat ini kedua tangannya terkepal dengan kesal. Lalu dia pun berjalan menghampiri dua orang yang sedang tertawa tersebut.
Entah kenapa, dia merasa tidak ikhlas saat melihat Tiwi bisa tersenyum dengan pria lain. Leon berdehem, dan seketika Tiwi bersama dengan Rehan menengok ke arah samping.
Akan tetapi, Tiwi tidak peduli dengan keberadaan Leon. Sebab Tiwi pikir, Leon di sana untuk menikmati indahnya pantai. Lalu dia pun melanjutkan obrolannya bersama dengan Rehan kembali.
Dia sama sekali tidak memperdulikan keberadaanku? Benar-benar keterlaluan! batin Leon dengan kesal, saat Tiwi tidak memperdulikan dirinya.
Lalu Leon tiba-tiba duduk di tengah antara Tiwi dan juga Rehan, membuat wanita itu mengeryit heran dan menatap ke arah pria yang ada di sampingnya dengan bingung. ''Maaf Tuan, tempat duduk masih lega noh di sebelah sana. Kenapa,.Anda mojok-mojok ke saya?'' tanya Tiwi dengan tidak mengerti.
''Di sana ada ee kucing, makanya aku duduk di sini,'' ujar Leon dengan cuek.
''Kotoran kucing? Perasaan sedari kemarin saya di sini, tidak ada kucing deh?'' gumam Tiwi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Dia siapa?'' tanya Leon sambil menatap ke arah Rehan dengan tatapan tidak suka.
''Saya Rehan, kebetulan tadi saya melihat Tiwi sendiri di sini. Jadi saya mengajak ngobrol dirinya,'' ujar Rehan sambil mengulurkan tangannya . Akan tetapi Leon melengos menatap ke arah lain, tidak memperdulikan tangan pria itu.
Melihat sambutan yang kurang baik dari Leon, Rehan tersenyum kecut. Kemudian dia menarik tangannya kembali. Pria itu dapat melihat jika Leon tidak suka dengan kehadirannya yang mendekati Tiwi.
''Oh ya, Tiwi. Kalau gitu aku pergi dulu ya! Ini kartu nama aku, nanti jika Tuhan berkenan, kita pasti bertemu lagi,'' ucap Rehan sambil menyerahkan kartu nama kepada Tiwi dan wanita itu dengan senang hati menerimanya.
''Iya, terima kasih.'' Tiwi berkata dengan senyuman manis di bibirnya, membuat Leon benar-benar kesal. Karena dia tidak pernah melihat senyuman itu untuk dirinya, yang ada jika dekat dengannya Tiwi malah terus marah-marah.
''Jangan terlalu dekat dengan pria lain. Kau tidak tahu, dia baik atau tidak,'' ucap Leon dengan nada yang dingin saat Rehan sudah meninggalkan tempat itu.
Tiwi mengerutkan dahinya dengan bingung, dia tidak mengerti kenapa Leon sepertinya tidak suka kepada Rehan. Sebab dari nada bicaranya, bahkan saat Rehan mengulurkan tangannya, pria itu tidak menyambut sama sekali. ''Apa Anda ada masalah, dengan Rehan?'' tanya Tiwi.
Bukannya menjawab, Leon malah beranjak dari duduknya. Kemudian dia menatap lurus ke arah depan lalu pergi menjauh dari Tiwi.
Melihat itu Tiwi tentu saja sangat bingung.
Dia benar-benar dibuat frustasi dengan sikap Leon yang kadang baik, kadang humoris, kadang hangat, dan lebih banyak menyebalkannya. ''Itu orang kenapa sih? Tiba-tiba baik, tiba-tiba nyebelin? Kayak bunglon tahu nggak sih sifatnya. Heran aku,nada orang seperti itu?'' Tiwi menggerutu dengan tatapan bingung mengarah kepada Leon yang mulai menjauh.
__ADS_1
BERSAMBUNG......