
HAPPY READING
Setelah mengetahui masa lalu tentang Emil yang begitu kelam, Bintang semakin yakin jika dia akan membuat Emil sembuh. Bahkan mereka sekarang tidur pun selalu berpelukan, karena Emil sudah tidak merasakan sesak sama sekali bila berdekatan dengan Bintang.
Pria itu mulai bisa mengontrol perasaannya bila berdekatan dengan istrinya.
Beda halnya di negara Indonesia. Saat ini Tiwi sedang berada di restoran, dia sedang makan malam sekalian meeting dengan klien. Karena selain dia membantu Mamanya di bakery, Tiwi juga punya perusahaan kecil yang berdiri di bidang makanan.
Saat Tiwi akan beranjak dari duduknya, dia melihat seorang pria yang tengah minum tak jauh dari mejanya. Se-ukir senyum pun terlukis di wajah Tiwi saat melihat pria itu, kemudian dia mengambil minumnya dan duduk di hadapan pria itu.
''Halo Tuan tiger,'' sapa Tiwi sambil duduk di hadapan Leon.
''Kamu ngapain ada di sini? Dan nama saya bukan tiger, tapi Leon,'' tanya Leon dengan heran saat tiwi duduk di hadapannya.
Wanita itu terkekeh. ''Saya tadi habis meeting bersama klien, eh pas mau pulang lihat Tuan di sini. Ya sudah, saya samperin aja deh,'' jawab Tiwi dengan enteng.
Leon hanya diam saja, kemudian dia membereskan berkas-berkas yang ada di meja, karena dia juga habis meeting. Tiwi yang melihat itupun beranjak dari duduknya juga, lalu dia mengikuti Leon keluar dari restoran.
''Kenapa kamu mengikuti saya?'' tanya Leon pada Tiwi.
''Dih, PD banget sih Tuan. Siapa juga yang ikutin, anda? Saya juga mau pulang, tadi saya gak sengaja soalnya ngelihat Tuan. Nggak enak 'kan, kalau saya itu nggak nyapa?'' ujar Tiwi sambil menggelengkan kepalanya.
Dia merasa heran dengan pria itu yang terlalu PD, karena memang Tiwi tidak mengikuti Leon. Dia juga ingin pulang, tetapi sampai di luar ternyata hujan begitu deras, membuat keduanya berhenti di depan pintu restoran.
''Yah, kenapa hujan sih. Gimana coba aku manggil taksinya?''gumam Tiwi sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. ''Mana hp-ku lowbet lagi?'' sambung Tiwi menggerutu dengan kesal.
Sedangkan pria yang ada di sampingnya hanya diam saja tanpa perduli dengan ucapan Tiwi. Dia juga bingung, bagaimana mungkin dia menuju ke mobil sedangkan di luar hujan deras. Mau tidak mau, keduanya masuk kembali ke dalam restoran.
__ADS_1
''Kenapa kamu terus mengikuti saya?'' tanya Leon saat Tiwi duduk di hadapannya.
''Haduh, kembarannya harimau denger ya! Siapa juga yang ngikutin kamu? Ini restoran 'kan bukan milik kamu? Semua juga boleh kali untuk duduk di manapun. Lagian di luar masih hujan,'' kesal Tiwi sambil menatap kearah lain.
Leon menghembuskan nafas saya dengan kasar, karena setiap kali bertemu dengan Tiwi, wanita itu selalu mengatakan jika dia kembarannya harimau. Padahal namanya adalah Leon, namun pria itu enggan untuk berdebat dengan Tiwi, jadi dia hanya diam saja.
Saat Tiwi sedang menatap kearah lain, seorang wanita tengah berjalan mendekat kearahnya. Karena saat tadi wanita itu mengantarkan pesanan, dia tidak sengaja melihat Tiwi yang sedang duduk bersama dengan seorang pria.
''Tiwi ...'' ucap wanita itu mengagetkan Tiwi.
Merasa dipanggil, Tiwi pun menengok ke arah samping, dan dia kaget saat melihat wanita yang tengah menatap dirinya, kemudian Tiwi berdiri.
''Sasa!'' kaget Tiwi sambil menatap kearah Sasa.
''Tiwi, aku senang banget kita bisa bertemu lagi. Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali bisa bertemu kamu, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin--''
Loh, dia bukannya sahabat Nona Bintang, ya? Dia kan yang pernah bertemu dengan Nona bintang di Resto ini? Ya ampun, kenapa aku baru ingat. batin Leo saat mengingat tentang Sasa.
''Tiwi, aku tahu kamu marah sama aku tapi,---''
''Cukup Sasa! Aku tidak ingin mendengar apapun dari kamu. Sudahlah, aku malas membahas masa lalu,'' jawab Tiwi dengan kesal, kemudian wanita itu pergi ke arah luar restoran. Dan Sasa yang melihat itu tentu saja mengejar Tiwi.
Leon merasa heran dengan masalah antara Tiwi, Sasa dan juga Bintang. Dia juga ingat, jika Bintang waktu di dalam mobil pernah membicarakan bertemu dengan Sasa, dan Tiwi terlihat tidak suka saat Bintang mengatakan itu.
Dahinya mengkerut saat melihat reaksi Tiwi tadi.
Sasa mencoba menahan tangan Tiwi saat sudah berada di luar restoran. Dia mencoba untuk berbicara kepada wanita itu, karena selama ini Sasa selalu dihantui rasa bersalah. Jadi dia ingin sekali bertemu dengan Tiwi dan membicarakan masalah mereka.
__ADS_1
''Tiwi, aku tahu mungkin aku salah. Aku minta maaf, tapi Wi, dengerin dulu penjelasan aku,'' ucap Sasa mencoba menjelaskan kepada Tiwi sambil menggenggam tangan wanita itu.
Tiwi tersenyum sinis, dia berdecih mengejek kepada Sasa. Kemudian di menghempaskan tangan Sasa yang berada di lengannya dengan kasar. Leon yang baru saja keluar dan melihat itu tentu saja sangat heran dengan perlakuan Tiwi kepada Sasa.
Wanita itu menatap Sasa dengan tajam, lalu menunjuk wajah Sasa yang sudah berlinang air mata. ''Tidak akan pernah ada maaf untukku, padamu. Dan seharusnya, bukan padaku kamu meminta maaf, tetapi pada Bintang. Dia yang sudah kamu jahati, dia yang sudah kamu sakiti. Sungguh melihat wajahmu, membuatku sangat muak!'' kesal Tiwi.
Setelah mengatakan itu Tiwi mulai menuruni tangga untuk keluar dari restoran, dia tidak tahu jika Sasa bekerja di sana. Mungkin jika Tiwi tahu, dia tidak akan pergi ke sana dengan malas untuk bertemu dengan Sasa.
Akan tetapi Sasa tidak putus asa, dia terus mengejar Tiwi. ''Wi, aku mau kamu mendengarkan dulu penjelasan aku. Aku tidak pernah menggoda Orlando, dia yang menggoda aku terlebih dahulu. Kamu tahu kan kalau aku---''
PLAK!
''Seharusnya tamparan itu aku layangkan saat aku mememrgoki kalian. Kau bilang apa tadi? Orlando yang menggoda kamu? Heh, denger ya! Seekor kucing tidak akan pernah tergoda, jika tidak diberikan asin, kamu paham 'kan! Sudahlah, kamu itu sangat menjijikkan tau gak sih? Dan aku harap, gak usah deh kamu perlihatkan wajah memelasmu itu di hadapan Bintang. Dia tidak tahu apa-apa,'' geram Tiwi dengan sorot mata yang begitu tajam.
Kemudian dia menghempaskan tangan Sasa, hingga wanita itu jatuh ke lantai. Namun Tiwi tidak perduli, kemudian dia menerobos hujan keluar dari restoran untuk mencari taksi.
Leon benar-benar tidak menyangka jika Tiwi bisa semarah itu. Wanita yang selama ini bar-bar, ternyata bisa ngamuk juga, tapi Leon merasa heran ada masalah apa antara Bintang, Sasa dan juga Tiwi. Dia merasa telah terjadi sesuatu yang besar antara mereka bertiga, yang membuat Tiwi sangat murka kepada Sasa.
Seketika pria itu merasa iba saat melihat Tiwi menerobos hujan. Kemudian dia pun berlari dengan cepat masuk ke dalam mobil, walaupun bajunya sedikit basah.
''Aku harus mencari wanita itu, aku harus tahu ada masalah apa antara dia, Nona Bintang dan juga wanita tadi. Aku yakin, jika telah terjadi sesuatu antara mereka. Walau bagaimanapun, Bintang adalah istrinya yang Emil, dan siapa tahu ini bisa menjadi informasi penting bagi Emil,'' gumam Leon sambil melajukan mobilnya keluar dari restoran.
Saat dia melewati gerbang restoran, Leon tidak sengaja melihat Tiwi yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi. Kemudian dia pun memberhentikan mobilnya di hadapan Tiwi dan menyuruh gadis itu masuk.
''Masuklah! Ataukan kau akan masuk angin karena hujan!'' titah Leon kepada Tiwi.
Wanita itu yang sudah merasa kedinginan pun terpaksa masuk ke dalam mobil Leon. Setelah itu mereka meninggalkan restoran, tetapi Tiwi hanya diam saja. Namun sangat terlihat jelas jika wanita itu tengah menangis dalam diam.
__ADS_1
BERSAMBUNG