
Happy reading......
Hari ini Emil masuk ke kantor, dan seperti biasanya, Bintang selalu ngintil di samping pria itu. Dia tidak bisa jauh-jauh dari Emil, karena entah kenapa, mencium bau badan suaminya membuat Bintang candu.
''Sayang, nanti saat di kantor, aku mau kamu minta Tuan Leon untuk membelikan aku buah kiwi yah!'' pinta Bintang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Emil.
''Iya, nanti aku minta si kembaran singa buat membelikan kamu buah kiwi,'' jawab Emil sambil mengacak rambut istrinya dengan gemas.
Sesampainya di kantor, Emil langsung meminta Leon untuk masuk ke dalam ruangannya. Dan tak lama pintu ruangan tertutup, lalu masuklah Leon ke dalam.
''Iya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya Leon sambil menundukkan kepalanya saat melihat Bintang tengah duduk di pangkuan Emil.
Benar benar pasangan gak ada akhlak! Gak bisa apa, kalau bermesraan di rumah aja? Gak kasian apa sama gue yang jauh sama ayang? Hiiikss ... nasib, nasib.
''Leon, kamu tolong belikan buah kiwi ya ke pasar! Istriku ngidam ingin buah itu!'' titah Emil kepada Leon.
''Hah! Buah kiwi, Tuan?!'' kaget Emil saat mendengar jika Bintang menginginkan buah kiwi.
''Iya, buah kiwi. Masa kamu tidak tahu sih? Jangan pura-pura bodoh! Mentang-mentang sekarang pacarmu itu buah kiwi,'' ledek Emil sambil terkekeh kecil.
Leon menekuk wajahnya saat mendengar ledekan dari sahabatnya tersebut. Dia memutar bola matanya dengan malas. Leon tahu, jika itu pasti akan terjadi. Dia akan menjadi bulan-bulanan dari Jasper dan juga Emil.
''Tentu saja buah kiwiku berbeda. Kalau dia sangat spesial,'' jawab Leon dengan nada sedikit rendah. Namun mampu terdengar oleh Emil dan juga Bintang.
''Oh iya, Kak Leon, nanti tolong suruh Tiwi ke sini ya! Aku mau dia di sini temenin aku. Soalnya sebentar lagi 'kan kalian akan meeting? Tapi sebelum itu, beli dulu buah kiwinya dulu, nanti pulangnya ke sini sama Tiwi. Jangan sampai ketuker, pacar sendiri sama buah! Masa ketuker?'' ledek Bintang sambil terkekeh kecil.
''Iya, iya ... aku belikan buah kiwinya. Mau yang berbulu, yang berduri apa yang berotot?'' jawab Leon, ''Oke, aku pergi dulu, assalamualaikum.'' Setelah mengucapkan itu, Leon langsung kabur dari ruangan Emil saat melihat tatapan tajam pria itu.
Sedangkan Emil merengut dengan kesal saat mendengar jawaban Leon. Dia tahu arti dari perkataan sahabatnya itu, tetapi Bintang tidak mengerti sama sekali.
__ADS_1
''Es milo, emangnya ada ya buah kiwi yang berotot? Kok tadi kak Leon bilangnya begitu?'' tanya Bintang sambil menengadahkan wajahnya menatap ke arah Emil.
''Tentu saja ada. Bahkan yang berbatang dan bertelur pun ada!'' celetuk Emil.
Bintang memberikan jarak, sehingga kepalanya tidak lagi bersandar di bahu Emil. Dia berpikir dengan keras, sebab seumur-umur dia tidak pernah melihat buah kiwi yang bertelur apalagi berbatang. Karena setahu Bintang, buah kiwi itu hanya ada bulunya walaupun halus.
''Tunggu! Tunggu! Emang ada, buah kiwi yang bertelur dan berbatang? Setahuku buah kiwi itu hanya ada bulunya, sayang? Mana ada buah kiwi bertelur? Emangnya kambing?'' heran Bintang.
PLETAK!
Emil menyentil kening wanita itu, membuat Bintang sedikit merengut dengan kesal. Namun setelahnya Emil mengusap kening yang tadi disentil olehnya, kemudian mengecupnya dengan lembut.
''Sudah jangan dipikirkan! Aku ingin bekerja dulu, kamu jangan mengganggu konsentrasiku. Atau kamu mau aku gendong ke kasur?'' goda Emil, tetapi Bintang segera menggeleng.
Dia tidak ingin di bawa ke kasur. Karena Bintang tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya ingin bersandar di bahu Emil saja. Entah kenapa, wanita itu tidak bisa jauh-jauh dari bau badan milik suaminya. Karena sedikit saja Bintang berjauhan dengan Emil, pasti dia akan mual.
Dua jam telah berlalu namun, Leon masih juga belum kembali, dan itu membuat Bintang semakin kesal. Sebab dia merasa lidahnya sudah asam, dan ingin memakan buah kiwi.
''Iya juga ya, udah dua jam masa belum balik-balik? Jangan-jangan, mereka pacaran dulu? Awas aja, aku potong gajinya 80% baru nyaho!'' geram Emil sambil mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja.
Tak lama pintu terbuka, lalu Leon pun masuk, tetapi Bintang tidak melihat adanya Tiwi di sana. Wanita itu pun menjadi sedih. Namun seketika seseorang dengan suara yang cempreng memanggil namanya.
''Markonah!'' teriak Tiwi dari belakang tubuh Leon.
''Jubaedah!'' jawab Bintang sambil berdiri dari duduknya, kemudian dia menghampiri Tiwi dan memeluk tubuh sahabatnya.
Emil dan juga Leon saling melirik satu sama lain melalui kode mata, sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan dua wanita yang kelewat barbar tersebut.
Ya Tuhan, kenapa bisa aku jatuh cinta kepada kaleng rombeng seperti dia? Suaranya benar-benar memekikan telinga. batin Emil.
__ADS_1
*As*taga naga! Bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada cewek sebar-bar buah kiwi ini? Jika saja bukan karena cinta, rasanya ingin kukarungi dan kubuang ke laut. batin Leon.
''Kalian ini, sudah seperti Rhoma dan Ani saja yang tidak bertemu bertahun-tahun? Baru juga semalam tidak bertemu, masa sudah seperti itu reaksinya?'' heran Emil sambil menggelengkan kepalanya.
''Aduh Abang Rhoma. Kita ini 'kan bestie forever. Sudah sejantung, jadi tidak bertemu semalam saja, membuat kami rindu. Iya nggak Markonah?'' jawab Tiwi sambil menatap ke arah Bintang.
''Kalau kamu se jantung sama Bintang, berarti kalau Bintang meninggal, kamu ikutan juga dong?'' celetuk Leon.
Namun tiba-tiba saja pulpen mendarat di kening pria itu, hingga membuat Leon sedikit meringis. Dan dia menatap ke arah Emil yang sedang menatapnya dengan tajam.
''Heh, lampu lampion! Enak aja lu nyumpahin istri gue meninggal. Kalau mau, ya lo aja sana duluan, jangan ngajak-ngajak orang!'' geram Emil.
Leon menggaruk keningnya yang tidak gatal. Melihat bagaimana sikap Emil yang mulai terlihat barbar karena ketularan oleh istrinya. Kemudian dia menaruh buah kiwi di atas meja.
''Ini buah kiwi pesanan Anda, Nyonya. Silakan! Saya sudah beli tiga kilo, jika masih kurang, nanti pedagangnya aki-aki tua akan saya bawa juga ke sini,'' ujar Leon. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan Emil.
''Tunggu Paijo! Lo mau ke mana? Main pergi-pergi aja, belum gue izinin keluar juga!'' Emil mencegah Leon agar dia tidak keluar dari ruangannya.
''Kan tugas saya sudah selesai, Tuan? Apalagi yang dibutuhkan?'' jawab Leon dengan heran.
''Kak Leon, aku mau kamu sama Tiwi nyanyi ya! Itu gitarnya udah disiapin. Aku nonton sambil makan buah kiwi.'' Bintang berkata sambil tersenyum ke arah Leon dan juga Tiwi bergantian.
''Hah! Menyanyi?!'' kaget Tiwi dan Leon serempak.
''Iya, please ya, kalian nyanyi. Nanti kalau nggak nyanyix anakku ileran gimana?'' Bintang berkata dengan wajah yang sudah ingin menangis.
Akhirnya mau tidak mau, Tiwi dan juga Leon pun bernyanyi untuk Bintang, tetapi sebelum itu, Emil mengambil tisu lalu menyumpal telinganya. Sebab dia tahu, suara Tiwi pasti tidak akan enak. Memanggil istrinya saja sudah seperti kaleng rombeng, apalagi jika bernyanyi.
Astaga! Gue berharap nanti kalau hamil jangan kayak Bintang deh. Bener-bener nyusahin orang. Kalau bisa nyusahin suami sendiri aja, nggak apa-apa. Ini mah gue juga kena batunya. Tau gitu, gue gak usah ikut? Sialun! batin Tiwi menggerutu dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG.
Sabar ya 2 pasangan somplak yang baru jadian😂😂