
Happy reading......
Emil dan juga Bintang pulang ke rumah dalam keadaan perut kekenyangan. Lebih tepatnya, Emil yang berjalan dengan sedikit gontai, karena dia merasa perutnya begitu begah, sebab harus menghabiskan makanan yang dipesan oleh istrinya.
Saat sampai di dalam rumah, Emil segera berlari meninggalkan Bintang ke arah kamar, kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Sejujurnya pria itu sudah menahannya sejak di dalam mobil. Namun saat sampai di rumah, dia sudah tidak bisa lagi. Sehingga Emil langsung berlari meninggalkan istrinya, tidak peduli dengan tatapan kedua orang tuanya.
''Sayang, itu Emil kenapa? Kok tiba-tiba lari kayak gitu ninggalin kamu? Perutnya juga agak buncitan?'' tanya mama Ria kepada Bintang.
''Itu Mah, tadi mas Emil habis ngabisin makanan yang aku pesan,'' jawab Bintang sambil duduk di sofa.
''Ngabisin makanan? Maksudnya?'' tanya mama Ria dengan heran.
Kemudian Bintang pun menjelaskan tentang kejadian di restoran, di mana Emil harus menghabiskan makanan yang dia pesan. Tentu saja mama Ria yang mendengar itu malah tertawa.
Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana penderitaan anaknya yang harus menuruti keidaman sang istri.
Setelah memuntahkan seluruh isi perutnya, Emil membersihkan diri. Dan saat Bintang masuk ke dalam kamar, pria itu sudah selesai dengan kegiatannya.
''Sayang, kamu mandi gih! Ini sudah malam, mandi air hangat saja ya!'' ujar Emil kepada Bintang.
Wanita itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan di tempat lain, Leon baru saja mengantarkan kekasihnya pulang ke rumah, tetapi Tiwi masih saja khawatir dengan luka di kepala Leon.
''Sayang, apa nggak sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu.'' Tiwi berkata dengan raut wajah yang sudah cemas.
Leon menggenggam tangan Tiwi. Dia tahu, jika wanita itu sangat khawatir terhadap keadaannya. Dan Leon menyukai itu. Setidaknya dengan terlukanya Leon, dia yakin calon istrinya begitu sangat mencintainya.
__ADS_1
''Tidak usah, sayang. Ini hanya luka kecil saja. Sudah, sebaiknya kamu masuk sekarang! Karena hari juga sudah mulai malam. Nanti kalau mama kamu marah, gimana? Siap-siap ya, lusa aku akan melamar kamu. Dan besok aku akan mempersiapkan semuanya dulu,'' jawab Leon.
Tiwi mengangguk, kemudian dia pun turun dari mobil Leon dan melambaikan tangannya ke arah pria itu. Setelahnya Leon mulai pergi meninggalkan kediaman Tiwi.
.
.
Pagi hari sekali, tidur Bintang sedikit terganggu, karena suara muntah-muntah di kamar mandi. Bintang pun bangun dari tidurnya, kemudian dia berjalan dan melihat jika suaminya tengah mengeluarkan isi perutnya.
''Sayang, kamu lagi ngapain? Ini masih pagi, ngapain muntah-muntah? Belum juga kita naik mobil, masa udah mabuk duluan?'' celetuk Bintang sambil mengucek matanya.
Selesai membersihkan mulutnya, Emil menatap ke arah sang istri dengan kesal. Bukannya perhatian terhadap dirinya, tetapi Bintang malah meledeknya.
''Kamu itu benar-benar keterlaluan ya, Markonah! Suami lagi muntah-muntah, bukannya diperhatiin? Malah diledekin. Lagian, siapa juga yang mabuk? Tiba-tiba perutku mual pengen muntah,'' jawab Emil dengan wajah yang pucat.
''Perasaan aku yang hamil? Tapi kenapa kamu yang mual-mual sih? Atau jangan-jangan, bayiku sekarang pindah lagi ke perut kamu?'' Lagi-lagi ucapan Bintang membuat Emil semakin kesal.
''Sayang, aku lagi bicara. Kok malah ditinggalin?'' Bintang berkata dengan wajah yang sudah ditekuk kesal, tetapi Emil tidak peduli.
Emil lagi males untuk berdebat dengan Bintang, apalagi jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Pria itu berjalan ke arah ranjang dan langsung menelungkupkan tubuhnya.
Bintang yang melihat itu pun merasa kesal, kemudian dia berjalan keluar kamar, meninggalkan Emil yang sedang tidur kembali. Wanita hamil itu berjalan ke arah dapur untuk meminum susu.
Namun saat tangannya membuka kulkas, dia melihat jeruk nipis. Kemudian mengambil satu buah,.lalu memotong-motongnya dengan kecil.
''Nona mud, sedang apa? Biar kami saja yang melakukannya. Nona duduk saja di meja makan!'' ucap salah satu pelayan.
''Tidak usah! Saya bisa sendiri. Oh ya, apa ada kecap?'' tanya Bintang dan pelayan itu mengangguk lalu mengambilkan kecap.
__ADS_1
Kemudian Bintang menuangkannya di piring dicampur dengan irisan jeruk nipis. Setelah itu dia membawanya ke meja makan, lalu mulai menghisap jeruk nipis yang diirisnya tipis-tipis.
''Nona muda, ini masih pagi. Kenapa Anda makan jeruk nipis? Nanti kalau sakit perut bagaimana?'' ucap salah satu pelayan di sana, merasa khawatir karena Bintang pagi-pagi malah memakan buah yang asam.
''Tidak apa-apa, Bi. Aku sedang ingin makan yang asem-asem,'' jawab Bintang sambil menghisap sari asam dari jeruk nipis tersebut.
Beberapa pelayan yang berada di sana meneguk ludah, saat melihat Bintang begitu menikmati jeruk nipis beserta dengan kecap. Mereka tidak bisa membayangkan asamnya seperti apa, apalagi dipadukan dengan manisnya kecap. Mereka yang melihatnya saja sudah mual.
Mama Ria berjalan ke arah meja makan membuatkan kopi untuk papa Ezra, tapi dahinya mengkerut, saat melihat menantu kesayangannya sedang duduk di meja makan sambil menikmati sebuah irisan yang dicampur dengan kecap.
''Sayang, kamu makan apa pagi-pagi kayak gini?'' tanya mama Ria sambil duduk di samping Bintang.
''Ini Mah, aku mulutnya asem banget. Tadi lihat jeruk nipis, kayaknya enak dicampur sama kecap,'' jawab Bintang sambil terus menghabiskan buah asam tersebut.
Mama Ria hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja. Dia tahu, jika itu memang bawaan bayi. Setiap orang hamil beda-beda pembawaannya.
Saat ini semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Papa Ezra dan juga mama Ria menatap ke arah Emil, sebab pria itu wajahnya sangat pucat.
''Emil, apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu sedang tidak sehat? Wajah kamu pucat sekali?'' tanya papa Ezra dengan khawatir.
''Aku baik-baik aja kok, Pah. Cuma nggak tahu, dari pagi mual terus bawaannya,'' jawab Emil sambil mengaduk-aduk sarapannya.
''Lalu, kenapa sarapannya tidak dimakan?'' tanya mama Ria.
''Entahlah Ma. Rasanya aku tidak mood untuk sarapan. Sebaiknya aku ke kantor saja. Sayang, kamu jangan dulu ke kantor ya, di rumah aja! Ingat, nanti siang kita akan USG. Jadi kamu jangan kemana-mana!'' ujar Emil sambil mengacak rambut Bintang.
''Iya sayang,'' jawab Bintang sambil memakan sarapannya.
Saat Emil akan berangkat, tiba-tiba ada seorang pelayan yang berlari tergopoh-gopoh dan mengatakan jika ada seseorang yang sedang mengamuk di depan gerbang, memanggil nama Emil dan juga Bintang.
__ADS_1
Papa Ezra, mama Ria, Emil serta Bintang pun akhirnya keluar dari rumah untuk melihat siapa yang sudah membuat keributan di pagi hari.
BERSAMBUNG......