
Happy reading.....
Pqgi hari, Bintang sudah siap dengan setelan kantornya, karena mereka akan pergi untuk bekerja. Masalah semalam masih terngiang di kepala Bintang. Akan tetapi, wanita itu berusaha untuk tegar. Dia tidak ingin terlihat lemah, walaupun pada dasarnya hatinya sangat rapuh saat ini.
Sekuat apapun Bintang bertahan, sekuat apapun Bintang berusaha untuk terlihat baik-baik saja, nyatanya dia tidak bisa. Air mata kembali berembun di ke 2 pelupuk netra indah milik wanita itu saat dirinya tengah merias wajah di depan cermin.
isakan kecil mulai terdengar. Nyatanya bintang memang tidak bisa melupakan rasa sakit yang begitu dalam di hatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan orang tuanya saat itu, masuk ke dalam jurang dan terpanggang di dalam mobil.
Emil yang melihat Bintang sedang menangis kemudian memeluk tubuh istrinya. Dia tahu jika wanita itu sedang tidak baik baik saja hari ini.
''Kamu jangan ke kantor dulu ya, sayang!'' ucap Emil sambil mengecup pucuk kepala Bintang.
''Tapi 'kan, hari ini kita ada meeting?'' jawab Bintang dengan suara yang serak.
Emil berjongkok di hadapan istrinya, kemudian dia menggenggam tangan Bintang lalu menatap kedua netranya. Sedangkan satu tangannya menghapus air mata Bintang yang membasahi pipi.
''Aku bisa handle bersama dengan Leon, tidak usah dipikirkan. Sekarang kamu dirumah aja! Kamu butuh menenangkan diri, 'kan?'' tanya Emil dengan suara yang lembut.
Dia tahu jika perasaan istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan Emil tidak mau jika nantinya Bintang tidak konsen dalam bekerja. Maka kenapa, Emil menyuruh Bintang untuk tetap stay di rumah. Walaupun sebenarnya Eil khawatir akan keadaan Bintang, tapi setidaknya jika di dalam rumah masih ada mama Ria yang mengajaknya untuk berbicara dan berbagi rasa.
Mendengar itu, Bintang pun menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Tidak ada pembicaraan di sana, karena Bintang juga hanya diam saja. Bahkan sarapannya sejak tadi hanya diaduk-aduk tidak jelas, rasanya selera makan Bintang sudah hilang.
''Sayang, kok makanannya nggak dihabisin sih?'' tanya Mama Ria dengan bingung, karena melihat Bintang tidak memakan sarapannya sama sekali.
__ADS_1
''Bintang tidak lapar Mah. Kalau gitu Bintang ke kamar dulu ya,'' ucap Bintang dengan wajah yang sendu. Kemudian dia beranjak dari kursi dan meninggalkan meja makan.
Papa Ezra dan juga Mwma Ria saling menatap satu sama lain, kemudian mereka melihat ke arah Emil dengan tatapan penuh tanda tanya. ''Emil, Bintang kenapa? Kamu nyakitin dia ya?'' tuduh Mama Ria dengan tatapan yang tajam.
''Mama ini sukanya nuduh anaknya sendiri? Aku nggak nyakitin Bintang, Mah. Mana mungkin aku nyakitin istriku sendiri? Daripada disakiti, mendingan aku cium,'' celetuk Emil sambil meminum kopi nya.
Mama Ria yang kandung geram, mengambil centong nasi yang ada di atas meja, kemudian dia memukul jidat Emil hingga membuat pria itu meringis.
''Dasar anak semprul. Ditanya apa, jawabnya apa? Mama lagi serius, tidak lagi bercanda ini!'' kesal Mama Ria sambil menatap kearah Emil dengan tatapan sebal.
Papa Ezra terkekeh saat melihat wajah tersiksa anaknya. ''Memangnya enak. Makannya kalau pagi-pagi itu jangan cari gara-gara sama singa. Kamu kenal 'kan jurus centong ala emak, kayaknya apa?'' ucap Papa Ezra sambil memakan rotinya
Emil mengerucutkan bibirnya saat mendengar ledekan dari sang Papa. Kemudian dia mengelap mulutnya dan menyudahi sarapan paginya. Emil tidak tahu, kenapa Mamanya senang sekali memukul dirinya dengan centong sedari dulu. Padahal lebih enakan juga dikasih duit segepok.
'Emang dasarnya emak-emak, tidak jauh jauh dari centong, panci dan wajan. Untung masih centong yang di getok ke jidat ku. Kalau wajan atau panci, jika kedua benda itu gosong, di pukul ke jidat ku? Waduh ... tambah tampan diriku?' batin Emil menggerutu sambil membayangkan jika Mamanya membawa panci yang belakangnya sudah hitam, lalu dipukulkan ke jidat Emil.
''Astaghfirullahaladzim ... ini anak, ditanya malah diem? Kalau mau kesambet jangan pagi-pagi Emil, ini masih jam 07.00. Nanti aja kesambetnya kalau sudah maghrib,'' ujar Mama Ria dengan kesal, sambil menatap Emil dengan tatapan heran.
''Ya Allah, Mama kalau ngomong itu yang bener dikit napa sih? Masa anaknya disuruh kesurupan? Udah ah, lebih baik Emil ke kantor aja! Lama-lama di sini, bisa kena darah rendah aku,'' jawab Emil sambil mengambil jasnya di kursi, kemudian memakainya lalu berjalan meninggalkan meja makan.
Akan tetapi, lagi-lagi Mama Ria menarik jas putranya, hingga membuat langkah Emil mundur dan menatap Mamanya dengan heran. Lalu satu tangan Mama Ria menjewer telinga Emil, hinggamembuat pria itu mengaduh kesakitan
''Aduh, duh ... aduh Mah ... aku kenapa di jewer sih? sakit tahu! Aduh ... lepasin Ma!'' pinta Emil sambil mengaduh.
__ADS_1
''Jawab dulu pertanyaan Mama, malah pergi. Itu Bintang kamu apain?'' Mama Ria berkata sambil menarik telinga Emil.
''Ya udah aku jawab, tapi lepasin dulu ini jewerannya! Sakit tahu! Emangnya kelinci, main jewer-jewer aja!'' gerutu Emil dengan kesal. Kemudian Mama Ria pun melepaskan jewerannya di telinga pria tampan itu.
Emil mengusap telinganya yang merah dan juga panas, akibat jeweran Mamanya yang sedikit keras. Dia tidak habis pikir, kenapa sedari kecil Mamanya senang sekali menjewer telinganya. Padahal cowok setampan Emil tidak etis jika harus dijewer.
''Bintang itu lagi sedih Mah, Pah. Sebab mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, tentang kedua orang tuanya yang dibunuh oleh tante Emma dan juga om Prima,'' jelas Eil dengan wajah ditekuk.
Mama Ria yang mendengar itu tentu saja sangat kaget. Satu tangannya menutup mulut dengan mata membuat ke arah Emil. Dia tidak menyangka, jika Emil sudah menceritakan semuanya kepada Bintang. Padahal Mama Ria meminta agar rahasia itu tidak diberitahukan dulu kepada menantunya.
Sebab jika di beritahu, pasti Bintang akan terpukul. hatinya akan hancur jika mengetahui bahwa selama ini orang yang telah disayangi nya, mereka yang membunuh kedua orang tua Bintang.
''Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu memberitahukan kepada Bintang!?'' bentak Mama Ria tidak habis pikir kepada Emil.
Kemudian pria itu pun menceritakan tentang kejadian kemarin, di mana tante Emma datang ke kantor dan marah-marah, lalu mengancam Bintang. Emil juga menceritakan tentang rasa penasaran Bintang akan ucapan tante Emma, dan terpaksa dia pun harus membuka semuanya.
''Makanya, hari ini aku tidak membolehkan dia untuk ke kantor. Sebab aku tahu Mah, perasaan dia sedang tidak baik-baik saja,'' ujar Emil sambil memegang tangan sang Mama. Emil mohon, Mama ajak bicara Bintang ya! Buat perasaannya jauh lebih baik. Karena Emil tahu, saat ini dia butuh sosok seorang ibu di sisinya,'' pinta Emil dengan wajah memohon.
Mama Ria mengganggukkan kepalanya. ''Iya, Mama akan berbicara dengan Bintang. Saat ini dia pasti sedang terluka hatinya, kamu berangkat saja biar Mama yang menenangkan perasaan Bintang. Kalau kamu yang nenangin, Mama tidak yakin. Yang ada menantu Mama makin kesal ngelihat wajah kamu yang asem.''
Setelah mengatakan itu, Mama Ria beranjak untuk menuju kamar Emil. Sedangkan yang dikatakan dengan asem hanya menganga dengan wajah kaget. ''Ya Allah, kenapa aku mempunyai seorang ibu yang ucapannya begitu makjleb sekali ke jantung?'' ujar Emil dengan suara yang meninggi, agar terdengar oleh sang Mamah.
Mama Ria yang mendengar itu hanya terkekeh kecil, sedangkan Papa Ezra sedari tadi terus aja menahan tawanya. Namun pada akhirnya pecah juga. ''Sudah, sudah ... jangan hiraukan Mama kamu. Seperti tidak tahu saja, kalau ucapan Mama kamu itu suka asao nyeletuk. Jadi sekarang kamu bernagkat ke kantor gih! Papa juga sebentar lagi mau berangkat,'' ucap Papa Ezra sambil menghabiskan kopinya.
__ADS_1
Emil benar-benar bahagia, dilahirkan dari keluarga yang humoris. Setiap masalah dibahas dengan serius, akan tetapi diselingi dengan canda tawa. Jadi membuat Emil sedikit banyaknya menjadi pribadi yang tidak kaku. Walaupun terkadang dia harus tegas dan berwajah dingin di hadapan semua orang, tapi aslinya di dalam, Emil sangat humoris dan sangat lucu.
BERSAMBUNG