
Happy reading.....
Emil terdiam dan terpaku saat Bintang duduk di pangkuan nya. Ada rasa sesak yang mulai mengalir di dada Emil, tapi dengan sekuat tenaga dia mencoba meredam rasa itu. Dan Emil berhasil. Rasa itu perlahan mulai hilang berganti dengan rasa nyaman.
Bintang menatap Emil dengan tatapan bingung, sebab dia melihat jika suaminya tidak merasakan sesak saat dia duduk di atas pangkuan pria itu. ''Kamu tidak merasakan sesak sedikitpun?'' tanya Bintang dengan tatapan menyipit.
Emil tersenyum menyeringai, kemudian dia melingkarkan tangannya di pinggang Bintang, membuat wanita itu tersentak kaget. ''Bukankah aku sudah bilang kepadamu, aku akan membuatmu mengandung sepuluh anak?'' bisik Emil tepat di telinga Bintang.
Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar. Kemudian dia melepaskan diri dengan cepat dari pangkuan Emil, lalu berjalan masuk ke dalam villa dengan dada yang sudah berdebar. Sedangkan Emil, menatap Bintang sambil terkekeh kecil.
Dia begitu senang menggoda istrinya, apalagi Emil dapat melihat jelas rona malu di kedua pipi milik Bintang.
''Ya ampun ... gawat kalau si pria setengah yupi itu sudah tidak alergi. Berarti penjebolan gawang akan segera berhasil?''gumam Bintang saat berada di dapur dan mengambil air, kemudian meneguknya hingga tandas.
Bintang memegang jantungnya yang terus saja berdetak kencang, kemudian dia berjalan ke samping Villa dan duduk di tepi kolam renang sambil memasukkan kakinya ke dalam air.
Rasanya Bintang tidak betah berada di sana, sebab tidak ada siapapun dan hanya ada mereka berdua. Tidak ada tempat untuk bercerita, karena Emil juga sering membuat Bintang merasa kesal. Jadi dia bingung, harus berbagi curhatan dengan siapa.
Emil masuk ke dalam villa dan langsung menuju ke kamar, tetapi dia tidak menemukan keberadaan kemana wanita itu. ''Kenapa tidak ada di kamar?'' gumam Emil sambil kembali keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah.
Tujuan Emil saat ini adalah dapur, tapi sebelum dia sampai di dapur, Emil melihat kearah pintu samping yang menuju kolam renang terbuka, dan dia sangat yakin jika Bintang ada di sana.
'Ternyata benar, dia ada di sini,' batin Emil saat melihat Bintang tengah duduk di tepi kolam. Seketika pikiran jail pun muncul di benak Emil. Dengan senyum seringai, dia berjalan perlahan mendekat kearah Bintang lalu menepuk pundak istrinya itu.
''Dooorr ....''
__ADS_1
Bintang kaget saat merasakan tepukan di pundaknya dengan suara teriakan. Dia langsung loncat ke dalam kolam renang. Dan Emil malah tertawa melihat Bintang yang kaget sambil nyembur ke dalam kolam.
'Dasar es kobokan puring. Lihat aja ! Gue kerjain lo balik ya,' batin Bintang dengan kesal saat melihat Emil sedang tertawa.
Kemudian Bintang berpura-pura jika dia tidak bisa berenang. ''Tolong ... Tolong ... aku aku tidak bisa berenang ...!'' teriak Bintang sambil mengeluarkan tangannya dari air dan meminta tolong kepada Emil, kemudian kepalanya masuk timbul keluar dari dalam air.
Emil yang sedang tertawa seketika berhenti saat melihat Bintang tidak bisa berenang. Dia pun menjadi panik, kemudian Emil langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam dan menyelamatkan Bintang.
Namun saat Emil meraih pinggang Bintang untuk dibawa ke tepi kolam, tiba-tiba wanita itu terbahak sambil memegangi perutnya. Dia begitu terhibur melihat wajah panik Emil.
''Kamu ngerjain aku?'' tanya Emil dengan kesal dan menatap Bintang dengan tajam.
''Aku nggak ngerjain kamu. Lagi pula, siapa yang mulai duluan? 'Kan kamu yang mendorong aku? Sekarang lihat bajuku jadi basah. Jadi biar impas, kamu juga harus nyebur ke dalam kolam,'' ejek Bintang sambil mengeluarkan lidahnya.
Mereka saling mengejar satu sama lain di dalam kolam renang, hingga Emil menarik tangan Bintang dan wanita itu langsung menabrak tubuhnya. Kemudian Emil mengunci tubuh Bintang di dinding kolam renang, hingga membuat tatapan mereka terkunci satu sama lain.
Bintang merasa gugup saat Emil mengungkung tubuhnya. Apalagi sangat terlihat jelas di kaos putih milik Emil, otot-otot pria itu begitu sangat menggoda dan juga sangat mempesona.
Tatapan Emil mengarah ke dua buah gunung kembar milik Bintang. Lingrie yang dipakai Bintang pun sudah basah, dan itu sangat terlihat jelas menampakan tubuh Bintang yang sangat indah dan mulus.
''Jangan seperti ini! Nanti kamu akan sesak nafas,'' ucap Bintang dengan lirih, memperingatkan Emil sambil membuang wajahnya ke arah lain. Padahal saat ini dada Bintang sedang berdebar dengan keras.
Emil tersenyum tipis, kemudian dia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Bintang. Membuat wanita itu tersentak kaget dan menatap kedua mata tegas milik Emil. ''Apa ya-ng ka-mu laku-kan?'' tanya Bintang dengan gugup.
Emil menatap Bintang dalam diam, kemudian dia memegang pinggang Bintang agar wanita itu tidak bisa kabur. ''Bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu. Aku pasti akan membuatmu terkapar lemas,'' bisik Emil di sebelah telinga Binang sambil meniup nya dengan pelan.
__ADS_1
Dia sengaja melakukan itu, dia ingin melawan trauma nya. Jadi dia memberanikan diri, walaupun Emil sejujurnya gugup dan takut.
Bintang menggigit bibir bawahnya saat merasakan hembusan nafas Emil di telinganya. Dia merasakan desiran yang aneh di dalam tubuhnya, karena bagian telinga adalah yang paling sensitif tubuh setiap wanita.
Emil tidak pernah melihat kegugupan di wajah Bintang, dan baru kali ini dia melihatnya . Kemudian Emil mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit. Bintang yang melihat itu pun, semakin berdebar dengan kuat. Satu tangannya di bawah air meremas lingerie yang sedang dia pakai.
Emil memberanikan diri untuk menciium Bintang. Dan saat wajahnya semakin mendekat, Bintang memejamkan matanya dan Emil yang melihat itu pun segera menyatukan bibirnya dengan Bintang, tetapi hanya menempel saja. Sebab selama ini, Emil tidak pernah berciumaan dengan siapapun, dan dia hanya melihat lewat film saja.
'Ternyata begini rasanya jika berciumaan dengan seorang wanita?' batin Emil merasakan kenyalnya bibir Bintang. Sedangkan wanita itu mengerutkan dahinya saat Emil hanya menempelkan bibirnya saja, tanpa melakukan gerakan apapun.
'Apakah dia tidak pernah berciumaan?' batin Bintang bertanya-tanya, saat merasakan Emil tidak menggerakkan bibirnya sedikit pun. Kemudian, dia membuka matanya dan menjauhkan wajahnya di bibir Emil.
''Kamu tidak pernah berciumaan?'' tanya Bintang kepada Emil.
Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja. Padahal harusnya Bintang tahu, jika Emil pasti belum pernah berciumaan.
Pria itu langsung menggeleng dan melepaskan pelukannya di pinggang Bintang. Dia merasa malu sebab sudah berani dan lancang mencium wanita yang ada di hadapannya.
''Maaf ...'' cicit Emil sambil menjauhkan tubuhnya.
Bintang yang melihat Emil melepaskan pelukannya, seketika mengalungkan tangannya di leher Emil. Lalu menahan tengkuk pria itu, kemudian dia mulai menyatukan bibirnya kembali dengan Emil, dan kali ini Bintang yang bekerja lebih dulu.
Emil tentu saja kaget dengan perlakuan Bintang. Dia terpaku dengan mata membulat, tapi dia tidak membalas ciumaan Bintang sama sekali. Namun wanita itu tidak tinggal diam. Dia mulai melakukan olahraga bibir dengan gerakan lembut. Walaupun Bintang tidak pernah melakukannya, tetapi Bintang sering melihat di film Drakor.
BERSAMBUNG
__ADS_1