Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Kejutan 2


__ADS_3

Happy reading....


Sesampainya mereka di restoran, Emil dan Bintang di sambut oleh pelayan dan langsung masuk ke dalam. Keduanya berjalan mengikuti pelayan itu, hingga tibalah mereka di sebuah pintu ruangan VVIP.


''Kita sudah sampai Nona, Tuan,'' ucap pelayan itu sambil menundukan kepalanya, setelah itu dia pergi dari sana.


Emil dengan perlahan membuka pintu tersebut, akan tetapi saat pintu itu terbuka, tiba-tiba saja sesuatu jatuh mengenai tubuhnya, sehingga membuat pria itu menggeram kesal.


''SURPRISE ...!'' teriak semua orang yang berada di dalam ruangan.


Emil menatap ke arah semua orang, dimana di sana sudah ada kedua orang tuanya, Leon, Jasper dan Tiwi.


Namun bukannya senang, Emil malah menatap semua orang dengan tajam, membuat senyum yang tadinya mengembang di wajah mereka berganti dengan raut kebingungan.


Dia mengusap wajah tampannya yang kotor oleh tepung terigu. Sementara itu Bintang malah terkekeh melihat penderitaan suaminya yang sudah macam ondel-ondel.


Namun saat Bintang sedang tertawa tiba-tiba dia merasakan jeweran di telinganya, dan ternyata Emil yang melakukan itu. ''Aduh, sayang. Aduh ... kamu apaan sih? Sakit tahu! Kenapa ngejewer telinga aku?'' tanya Bintang sambil menekuk wajahnya.


Kemudian Emil melepaskan jeweran di telinga istrinya lalu menatapnya dengan tajam. ''Senang ya kamu, melihat penderitaan suami kamu, hah? Oh jangan-jangan, ini ulah kamu ya cewek rantang? Kamu sengaja bikin kejutan seperti ini? Buat apa? Aku sudah mandi loh, sudah wangi, sudah keren dan tampan. Sekarang malah disiram sama tepung terigu? Kamu mau buat aku jadi pisang goreng?'' Emil berkata dengan nada yang kesal sambil menatap Bintang dengan tajam.


Wanita itu hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya. ''Hehe ... habisnya kamu lucu kayak ondel-ondel,'' celetuk Bintang yang malah membuat Emil bertambah kesal.


Sedangkan semua orang di sana tersenyum saat mendengar celotehan wanita somplak itu, lalu Mama Ria mendekat ke arah Emil dan mengusap pundak putranya yang kotor. ''Sudah, jangan ngambekan! Ayo duduk!'' ajak Mama Ria sambil menarik tangan Emil.


''Maksud Mama, apaan sih? Kenapa coba nyiapin acara kayak gini? Mana aku disiram sama tepung lagi,'' kesal Emil sambil duduk di sofa. Akan tetapi, dahinya mengkerut saat melihat sebuah kue di atas meja yang bertuliskan happy burthday Emillio.

__ADS_1


''Mah, ini ...'' pria itu menggantung ucapannya sambil menatap semua orang bergantian.


''Happy birthday anak Mama. Maaf ya, kami membuat kamu kesal, tapi berhasil bukan?'' ucap Mama Ria sambil mengecup pipi Emil, lalu memeluk tubuh putranya dengan erat.


''Jadi ini kejutan buat aku?'' tanya Emil pada sang Mama, dan langsung dibalas anggukan oleh wanita itu. ''Sebenarnya ini bukan Mama yang menyiapkan, tapi Bintang dan juga Tiwi,'' jelas Mama Ria sambil menatap ke arah Bintang dan Tiwi bergantian.


''Tetap saja, ini semua tidak lucu. Masa aku disiram sama tepung? Kalau mau kasih kejutan itu yang bagus dan dikit, udah kaya anak SMA aja!'' gerutu Emil yang masih merasa kesal karena tubuhnya kembali kotor.


Leon yang melihat kemarahan sahabatnya seketika mendekat ke arah Emil dan merangkul pundak lelaki itu. ''Sudahlah, jangan ngambekan. Udah kayak emak-emak jemurannya nggak kering. Sebaiknya lo tiup lilin aja! Gue udah laper nih mau makan,'' ujar Leon sambil terkekeh kecil dan itu berhasil membuat dia mendapatkan pukulan di lengannya.


Acara pun berlangsung, di mana Emil meniup lilin dan memotong kue. Untuk kue pertama dia berikan kepada Mamanya lalu Papanya dan terakhir kepada Bintang. Semua orang tentu saja merasa bahagia melihat keharmonisan keluarga Emil.


Setelah acara potong kue selesai, mereka pun makan malam bersama. Akan tetapi Emil merasa heran, sebab dia mendapatkan kado dari kedua orang tuanya dan juga sahabatnya, tetapi tidak dari Bintang.


''Sayang, kamu nggak kasih kado sama aku?'' tanya Emil di sela-sela makannya.


Seketika Bintang menyalakan TV tersebut, dan menayangkan tentang hasil USG bayi yang saat ini berada di dalam kandungannya. Akan tetapi, semuanya di luar dugaan. Dia pikir Emil akan senang, tapi ternyata pria itu malah membuatnya menjadi kesal.


''Sayang, itu gambar apaan? Kok hitam putih begitu sih? Nggak jelas banget!'' tanya Emil yang merasa heran dengan gambar yang diputar di dalam televisi tersebut.


''Kamu nggak tahu Itu gambar apaan?'' tanya Mama Ria kepada Emil, dan pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


Lalu Bintang berjalan ke arah sofa dan mengambil sesuatu di tasnya, kemudian dia menyerahkannya kepada Emil, tapi lagi-lagi pria itu malah membuat Bintang semakin merasa geram.


''Sayang, ini apa lagi? Benda apa ini? Kenapa ada dua garis merah, terus ini gunanya buat apa? Oh, atau jangan-jangan buat mengukur suhu badan, ya?'' tanya Emil dengan bingung sambil membolak-balik benda tersebut.

__ADS_1


Semua yang berada di sana seketika menepuk jidat. Mereka tidak menyangka jika Emil sama sekali tidak mengetahui bahwa yang saat ini berada di tangannya adalah sebuah tespek kehamilan.


''Es kobokan, kamu beneran nggak tahu itu benda apaan?'' tanya Tiwi yang merasa kesal dengan reaksi Emil, dan pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja.


''Bintang, Bintang ... lo punya laki bukan hanya alergi, tapi lo punya laki kelewat kuper. Terlalu banyak bergaul dengan para terong, sampai benda seperti itu aja nggak tahu!'' celetuk Tiwi yang merasa heran sambil menggelengkan kepalanya.


Leon yang sedang berada di sebelah Tiwi seketika menyentil kening wanita itu, hingga membuat Tiwi menatapnya dengan tajam. ''Heh, lampu lampion. Ngapain sih nyentil kening aku? Sakit tahu!'' ketus Tiwi sambil memanyunkan bibirnya.


''Gimana gue nggak sentil tuh jidat? Masih mending jidat lo yang gue sentil. Gimana kalau otak lo, hah? Lagian kalau ngomong nggak disaring dulu, wajarlah kalau Emil berkumpulnya dengan para terong. Emangnya dia doyan sama kue cucur,'' ujar Leon sambil menatap ke arah lain.


''Sudah, sudah. Kok kalian malah berantem sih? Bukannya jawab, ini benda apaan? Gue nggak tahu Bener 'kan ini pengukur suhu tubuh?'' tanya Emil kembali yang masih heran dengan benda yang berada di tangannya.


Bintang yang kadung kesal seketika mengambil tasnya kemudian memukul tubuh Emil dengan geram, hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan. ''Benar-benar ya, es kobokan piring. Masa benda kayak gitu aja nggak tahu, sih! Itu tuh alat tes kehamilan!'' kesal Bintang sambil duduk di sofa dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah di tekuk.


''Apa! Alat tes kehamilan?'' ulang Emil yang masih tidak mengerti.


Mama Ria memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia duduk di samping putranya lalu mengambil benda itu dari tangan Emil.


''Dengarkan Mama ya! Ini adalah alat tes kehamilan, dan saat ini Bintang tengah mengandung anak kamu. Sebentar lagi kamu akan menjadi ayah, E-m-i-l.'' Mama Ria berkata sambil menekan kata Emil, karena dia merasa kesal dengan putranya yang kelewat lemot.


''Apa! Bintang hamil!?'' seru Emil dengan kaget, dan ?Mama Ria hanya menganggukkan kepalanya lalu pria itu menatap kearah Bintang dengan wajah berbinar.


''Sayang, kamu serius? Saat ini kamu sedang hamil?'' tanya Emil dengan antusias, dan Bintang hanya menganggukkan kepalanya saja. Melihat itu Emil langsung mendekap tubuh Bintang dengan erat, lalu mengecup pipinya beberapa kali, hingga membuat seketika rona merah terpancar di wajah wanita itu.


''Yeeay ... akhirnya aku akan jadi ayah. Lihat nih, Pah! Terong ku nggak sia-sia 'kan, nanam benihnya?'' celetuk Emil sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Mama Ria yang melihat itu malah memukul Emil dengan bantal yang ada di sofa. Dia tidak habis pikir dengan putranya, karena bisa-bisanya Emil berkata semprontal itu di hadapan semua orang.


BERSAMBUNG......


__ADS_2