
Happy reading....
Tiba-tiba saja ponsel Emil berdering, dan ternyata itu panggilan dari papanya. Dengan luka-luka yang ada di tubuhnya, Emil mengangkat telepon tersebut, dan seketika matanya membeliak kaget saat mendengar bagaimana kondisi Bintang saat ini.
"Apa! Bintang di rumah sakit? Iya pah, Emil ke sana sekarang!" ucap pria itu dengan nada yang sangat panik.
"Ada apa, Mil?" tanya Jasper.
"Istri gue di rumah sakit,ngue harus ke sana sekarang. Leon, gue mau lo habisi pria ini! Dia berani menyentuh istri gue, dan melukainya. Setelah itu lo panjang kepalanya di markas, paham!" Setelah mengatakan itu, Emil pergi dari sana setengah berlari, karena dia begitu takut kehilangan Bintang.
Terlebih wanita itu tengah mengandung anaknya, dan dia takut terjadi apa-apa dengan Bintang. Dengan kecepatan tinggi Emil pun mengendarai mobilnya, dia bahkan seperti seorang pembalap.
Sedangkan di tempat lain, Leon sedang menatap ke arah Excel dengan tatapan bringas. Dia membawa pistol di tangannya, kemudian menembak kaki Excel hingga pria itu mengaduh.
"Mana talinya? Berikan kepadaku!" pinta Leon kepada Jasper.
Pria itu langsung memberikan tali tambang kepada Leon, dan dengan gerakan cepat Leon segera mengikat tubuh Excel.nSetelah itu dia mengeluarkan pisau yang berada di balik punggungnya.
"Mau ngapain lo, hah?! Jangan berani macam-macam ya sama gue!" bentak Excel.
"Bukankah lo udah tahu sifat gue seperti apa? Luka harus dibalas dengan luka, dan lo udah mencelakai calon istri gue, orang yang amat sangat gue cintai, sampai membuat dia trauma dan kritis di rumah sakit. Sekarang lo harus membayarnya dengan nyawa!" Leon berkata dengan sorot mata yang tajam.
Auranya begitu sangat menyeramkan, seperti seorang iblis yang siap menerkam korbannya. Jasper hanya menatap di ambang pintu, sebab anak buah Excel juga sudah di babat habis oleh anak buahnya beserta markas satu.
Dengan aura yang gelap, tatapan mematikan, Leon berjalan mendekat ke arah Excel, dan tanpa menunggu aba-aba dia langsung menancapkan pisau tersebut di dada pria itu, hingga terdengar jeritan yang begitu memilukan. Lalu Leon pun mencabutnya kembali, hingga darah segar pun keluar membanjiri tempat tidur.
"Inni tidak terlalu sakit, kita akan bermain-main sebelum kepalamu kupenggal," ucap Leon dengan begitu menyeramkan.
Dia terus menghunuskan pisau tajam tersebut ke dada, perut, leher bahkan ke seluruh tubuh milik Excel. Hingga darah sudah menutupi tubuhnya, bahkan beberapa kali menyiprat ke arah wajah Leon, tapi pria itu tidak peduli.
Hingga pada tusukan terakhir yang berada di jantungnya, Excel tidak bisa lagi menahan rasa sakit tersebut, hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya, dan Leon yang melihat itu pun tentu saja sangat senang.
"Benar-benar menyusahkan!" geram Leon. Kemudian dia mulai memutilasi tubuh Excel di hadapan Jasper, sedangkan pria itu hanya menegak ludahnya dengan kasar saat melihat aksi sahabatnya.
"Heh lampion! Emangnya lo nggak bisa apa mutilasi dia di tempat lain aja? Di markas kek, jangan di hadapan gue. Yang ada, makanan yang baru gue makan dikeluarin lagi!" gerutu Jasper.
__ADS_1
Leon menengok ke arah samping, dengan wajah yang sudah berlumuran darah. "Kau pergi saja dari sini, jika memang tidak ingin melihatnya!" geram Leon.
"Ya sudah, cepat selesaikan! Aku tunggu di bawah, tapi sebelum itu, bersihkan dulu tuh badanmu! Baunya aku tidak tahan!" gerutu Jasper, kemudian dia beranjak dari kamar tersebut meninggalkan Leon dengan pekerjaan barunya.
Sedangkan di tempat lain, Emil baru saja sampai ke rumah sakit dan dia langsung menuju IGD, di mana saat ini Bintang tengah ditangani oleh Dokter. Emil melihat sang papa yang sedang mondar-mandir dengan wajah yang begitu khawatir.
"Pah, bagaimana keadaan Bintang? Dia baik-baik aja kan?" tanya Emil dengan nafas terengah-engah.
"Papa juga tidak tahu, kita tunggu Dokter sebentar lagi," ujar papa Ezra.
Tak lama Dokter pun keluar, Emil yang melihat itu pun segera memberondong Dokter tersebut dengan pertanyaan. "Bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik aja 'kan? Tidak terjadi apapun dengan anak dan juga istri saya bukan Dok?" tanya Emil.
"Tenang dulu Tuan, istri Anda memang pendarahan, tapi untunglah cepat dibawa ke sini. Jadi kandungannya bisa diselamatkan. Sekarang beliau hanya butuh istirahat saja," jelas Dokter tersebut.
Emil yang mendengar itu tentu saja sangat bahagia, begitupun dengan papa Ezra. Keduanya bisa bernafas dengan lega, dan setelah itu Bintang dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Pah, mamah bersama siapa di rumah?" tanya Emil.
"Mama dijaga sama pengawalnya Jasper, kalau begitu papa pulang duluan ya, takut terjadi apa-apa sama mama. Oh iya, bagaimana dengan Excel?" tanya papa Ezra.
"Ya, sepertinya iblisnya mulai bangkit kembali. Ya sudah, kalau gitu Papa pulang dulu ya. Kamu jaga Bintang! Jangan tinggalkan dia!" Setelah mengatakan itu papa Ezra pun pamit untuk pulang.
.
.
Sudah beberapa hari Bintang dirawat di rumah sakit, dan dia sudah diperbolehkan untuk pulang, begitupun dengan Tiwi. Wanita itu juga sudah pulang dan mereka saat ini sedang berkumpul di kediaman Ferdinand.
Tiwi memang merasa trauma, akan tetapi dengan kehadiran Leon di sampingnya, membuat Tiwi melupakan rasa itu dan berganti dengan rasa yang nyaman.
Namun Tiwi dan juga Bintang tidak tahu, jika Leon memutilasi tubuh Excel. Sebab tidak ada yang ingin membicarakan itu, hanya menjadi rahasia antara Emil, Jasper, Leon dan juga papa Ezra.
Tidak terasa kandungan Bintang sudah memasuki 7 bulan, dan dua hari lagi acara pernikahannya Leon dan juga Tiwi akan dilangsungkan.
"Sayang, apa sebaiknya kamu tidak usah datang dulu ke pernikahan mereka? Aku takut kamu nanti kecapean," ucap Emil sambil mengusap perut Bintang yang saat ini tengah tertidur di kamarnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja kok, Mas. Lagian 'kan cuma duduk aja di sana, nggak mondar-mandir nggak lari-larian juga," jawab Bintang.
Hingga hari bahagia itu pun tiba, di mana saat ini Tiwi dan juga Leon mengadakan pernikahan. Pria itu sedang mengucapkan ijab qobul di hadapan semua orang, dengan satu kali tarikan nafas Leon berhasil mempersunting Tiwi menjadi istrinya.
"Selamat ya, akhirnya lampion dan juga buah kiwi bersatu juga. Jangan lupa cepet nyusul, biar nanti anak gue ada temennya," ucap Bintang saat berada di pelaminan.
"Aamiin ... lo doain ya, semoga perut gue cepet belendungnya," jawab Tiwi.
"Bro, jangan lupa spil malam pertama ya. Kalau lo mau kuat, minum jamunya Mang Kasim!" kekeh Emil dibarengi oleh tawa Jasper.
Namun tiba-tiba saja perut Bintang terasa sakit, dia meremas lengan kekar milik Emil. "Sayang, kamu kenapa?" panik Emil saat melihat istrinya sedang kesakitan.
"Aku nggak tahu, sayang. Perutku sakit banget. Aduh ... aduh!" ringis Bintang sambil memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.
"Kayaknya istri lo mau lahiran deh!" seru Jasper.
"Eh Markonah, istri gue 'kan baru hamil 7 bulan, ?mana mungkin bisa lahiran?" Emil semakin panik saat mendengar ucapan Jasper.
"Sebaiknya kalian bawa ke rumah sakit! Sepertinya memang Bintang akan melahirkan." Tiwi pun tidak kalah paniknya saat melihat keadaan sahabatnya.
Akhirnya Emil pun menggendong tubuh Bintang ke mobil, sedangkan Jasper yang menyetirnya. Mereka akan langsung membawa Bintang ke rumah sakit.
"Aduh, sayang, sakit! Perut aku sakit!" teriak Bintang sambil menjambak rambut Emil, hingga rontok beberapa helai.
"Aku juga sakit, sayang. Kenapa kamu malah jambak rambut aku? Aduh!" Emil pun menahan rasa sakit, saat Bintang menarik rambutnya.
Kemudian dia juga menarik rambut Jasper yang sedang mengemudi mobil.
"Astaga es kobokan! Kenapa lo jambak rambut gue woi! Sakit!" teriak Jasper.
"Biar kita impas sakitnya. Nggak cuma gue aja yang ngerasain, tapi lo juga harus!" celetuk Emil.
"Kagak mau! Istri lo yang lahiran, kenapa gue juga harus yang merasa sakit? Lepasin!" Jasper l melepaskan tangan Emil di rambutnya, kemudian dia mengusap kepalanya yang terasa sakit karena dijambak oleh sahabatnya.
NERSAMBUNG.......
__ADS_1