Suamiku Alergi WANITA

Suamiku Alergi WANITA
Bab 64


__ADS_3

Happy reading.......


Emil kali ini pulang lebih cepat, karena dia kepikiran terus-menerus soal keadaan istrinya. Tentu saja pria itu tidak tenang dalam bekerja, pikirannya selalu saja mengarah kepada Bintang, takut terjadi apa-apa dengannya.


Saat Emil masuk ke dalam kamar, dia melihat Bintang sedang duduk di atas ranjang sambil membaca novelnya dengan buah kedondong di atas nakas. Pria itu mengerutkan dahinya saat melihat Bintang begitu lahap memakan buah asam itu.


''Sayang, sejak kapan kamu doyan buah kedondong?'' tanya Emil kepada Bintang dengan heran.


''Sejak tadi pagi,'' jawab Bintang dengan singkat, sambil membaca novelnya. Sementara itu mulutnya terus saja mengunyah.


Emil segera mengambil piring yang ada di atas nakas dan menjauhkannya dari Bintang, membuat wanita itu menatap ke arahnya dengan tatapan tidak suka.


''Kok diambil sih, sayang? Itu 'kan belum habis?'' tanya Bintang dengan kesal.


''Ini asam, nanti perut kamu sakit. Lebih baik dibuang aja! Mendingan kamu makan buah apel atau jeruk, jangan buah kedondong. Kalau mau cari yang manis, jelas-jelas ini masih hijau.'' Emil berkata dengan nada yang tegas, karena dia tidak ingin jika nantinya Bintang sakit perut.


Bintang mencoba merebut buah itu kembali, akan tetapi Emil malah menjauhkannya dan menaikkannya ke atas, membuat seketika wanita hamil itu merasa kesal dan sedih. Bahkan air matanya sudah mengembun di kedua pelupuk mata, lalu dia pun menangis tersedu-sedu.


Melihat itu, tentu saja Emil merasa bingung. Tidak biasanya Bintang akan langsung menangis. ''Sayang, kamu kok malah menangis sih?'' tanya Emil dengan heran, sebab Bintang bukanlah wanita yang cengeng.


''Habisnya kamu ngambil kedondong aku. Aku 'kan, mau makan. Balikin! Mulut aku pahit kalau nggak makan asem-asem.'' Bintang berkata dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Emil akhirnya memberikan piring itu kembali kepada istrinya, dan seketika tangis Bintang berhenti, kemudian wajahnya kembali ceria. Dia seperti mendapatkan mainan yang baru saja dicuri oleh orang lain, lalu wanita itu duduk kembali di atas ranjang dan memakan buah kedondongnya sambil membaca buku novel kesukaannya.


Emil ternganga melihat sifat Bintang, dia seperti sedang bermimpi jika istrinya bisa berubah seperti itu. Biasanya Bintang akan mengoceh, mengomel bahkan memakinya. Tidak lupa, wanita itu juga pasti akan mengeluarkan jurus pamungkasnya, yaitu es kobokan piring, tapi kali ini tidak dia malah menangis.


'Aneh! Apa istriku kesurupan, ya?' batin Emil yang merasa aneh dengan tingkah Bintang. Kemudian dia mendekat ke arah istrinya dan menaruh telapak tangannya di kening wanita itu.


''Nggak panas kok, tapi sifatnya aneh ya?'' gumam Emil dengan suara yang lirih, tapi masih terdengar jelas di telinga Bintang.


wanita itu seketika menepis tangan Emil dengan kasar. ''Maksud kamu, apa? Aku kesurupan gitu?'' ketus Bintang dengan mata melotot ke arah Emil.


Pria itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada istrinya, tapi memang itulah kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Emil merasa aneh dengan tingkah Bintang yang tiba-tiba mendadak menjadi cengeng.


''Iya, siapa tahu 'kan? Lagi pula, kamu aneh. Tidak biasanya kamu jadi cengeng kayak gitu? Sudahlah, lebih baik aku mandi aja. Males kalau debat sama kamu.'' Emil pun mengalah, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bintang terdiam mendengar ucapan Emil, kemudian dia pun berpikir bahwa memang apa yang dikatakan suaminya itu ada benarnya. Bahwa dia tidak biasanya cengeng, akan tetapi kali ini Bintang malah gampang menangis.

__ADS_1


''Apa ini yang dinamakan pembawaan ibu hamil, ya?'' lirih Bintang sambil menatap langit-langit kamarnya.


**************


Sore hari Tiwi sedang berada di jalan, dia habis mengantarkan roti bakery pesanan pelanggan. Dia juga berencana untuk ke butik, karena sudah beberapa hari ini wanita itu tidak mengecek butiknya.


Dia memang sengaja tidak membawa mobil, karena mobilnya dipakai oleh sang Mama untuk pergi arisan. Jadi mau tidak mau, Tiwi pun memesan ojek online. Akan tetapi, sudah beberapa lama dia menunggu tidak ada taksi yang lewat, sedangkan untuk memesan ojek online lagi ponselnya habis baterai.


Saat Tiwi sedang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depannya, dan saat helm itu dibuka ternyata dia adalah Reyhan. Memang tadi pria itu lewat sana untuk pergi ke restorannya, tiba-tiba dia melihat Tiwi yang sedang berdiri di pinggir jalan seperti sedang menunggu taksi.


''Reyhan,'' ucap Tiwi dengan kaget saat melihat pria itu.


''Hai, kita bertemu lagi. Kamu sedang apa di sini?'' tanya Reyhan kepada Tiwi, saat sudah berada di sampingnya.


''Ini, aku sedang nunggu taksi buat ke butik, tapi belum lewat-lewat. Sekalinya lewat malah udah ada penumpangnya,'' jawab Tiwi dengan nada yang lesu.


Dari kejauhan sebuah mobil hitam melihat ke arah Tiwi yang sedang bercengkrama dengan Reyhan. Pria yang ada di dalam mobil itu pun merasa geram, kemudian dia mendekat ke arah Tiwi dan mengklakson mobilnya, sehingga mengagetkan dua orang itu.


Baru saja Rehan akan mengajak Tiwi untuk ikut bersamanya, dan akan mengantarkannya ke butik. Akan tetapi, sebuah mobil mengagetkannya dan juga wanita yang ada di sampingnya, sehingga ucapan Reyhan terhenti.


''Aku mau ke butik, tapi dari tadi nunggu taksi nggak lewat-lewat,'' jawab Tiwi dengan singkat.


''Ya sudah, kalau begitu kamu ikut aku!'' Leon pun menarik tangan Tiwi, akan tetapi ditahan oleh Reyhan. Membuat pria itu menatap ke arah Reyhan dengan tatapan tajam.


''Saya 'kan datang lebih dulu, sudah pasti Tiwi ikut saya,'' ujar Rehan tidak mau kalah. Sebab dia yang datang lebih dulu menemui Tiwi.


''Kamu ke sini bawa motor, yakin mau bawa Tiwi? Lihatlah! Langit itu sudah mendung, sebentar lagi akan hujan. Ini aja gerimis sudah mulai turun, kalau nanti Tiwi ikut kamu dia akan kebasahan,'' jawab Leon dengan nada yang sarkas dan terkesan tidak suka kepada Reyhan.


Tiwi dan juga Rayhan pun menatap ke arah langit, memang benar gerimis mulai berjatuhan. Kemudian Rehan pun menghela nafasnya dengan pelan. Dia membiarkan Tiwi ikut bersama dengan Leon, karena dia juga tidak mau jika wanita itu kebasahan karenanya.


'Baru ini, aku dikalahkan,' batin Rehan sambil menatap Tiwi yang masuk ke dalam mobil Leon.


**************


Sementara itu di kediaman Sebastian, Azkia baru saja pulang dengan wajah yang ceria, lalu dia langsung duduk di tengah-tengah antara Ayah dan juga Bundanya


''Kamu kenapa, kok kayak senang gitu sih?'' tanya Tante Emma kepada putri tercintanya itu.

__ADS_1


''Bunda, Ayah. Kalian tahu nggak? Tadi aku tuh ketemu sama cowok ganteng banget, tubuhnya juga bagus. Apalagi nih, pakaiannya mahal. Aku yakin deh, kalau dia itu bukan orang sembarangan,'' jawab Azkia sambil tersenyum malu.


''Lalu ...'' Om Prima mengangkat satu alisnya dan menatap ke arah putri tercintanya itu dengan bingung.


Kemudian Azkia mengeluarkan kartu nama milik pria itu yang diberikannya tadi saat di cafe, dan Om Prima pun membaca nama yang tertera di sana. ''Jasper Mathew,'' ucap lirik pria itu.


Dia melihat nama perusahaan milik Jasper, kemudian Om Prima segera meng-google-ing tentang perusahaan itu, dan ternyata benar perusahaan milik Jasper sangatlah kaya dan sangat besar.


''Kamu tidak boleh menyia-nyiakan pria seperti dia. Demi Perusahaan kita, supaya bangkit lagi. Karena 'kan kamu tahu, perusahaan Ayah itu sudah mau bangkrut gara-gara si Bintang. Sekarang kamu gaet dia, supaya Perusahaan kita membaik lagi. Gimana, setuju nggak Bunda?'' tanya Om Prima sambil menatap ke arah istrinya.


''Iya, Bunda setuju. Kamu harus menggaet pria itu, supaya dia mau membantu perekonomian perusahaan Ayah,'' timpal Tante Emma sambil tersenyum miring.


Setelah itu Azkia masuk ke dalam kamarnya, dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Memikirkan cara bagaimana harus menjerat Jasper agar jatuh dalam pelukannya, karena selain untuk membantu perusahaan sang ayah, Azkia juga sudah tertarik dengan pria tampan itu


''Kalau untuk perusahaan ayah, aku kira itu hal yang terakhir. Karena hal yang pertama adalah, aku mendapatkan pria tampan itu, lalu aku bisa belanja sesuka hati, kalau aku sudah menjadi kekasihnya. Pokoknya, aku harus membuat dia bertekuk lutut di hadapan aku!'' Askia berkata dengan nada yang begitu semangat, jika dia bisa meluluhkan hati Jasper.


Padahal siapa yang tahu, jika itu adalah awal neraka baginya. Karena bukan Jasper yang akan luluh kepadanya, akan tetapi Azkialah yang akan masuk ke dalam perangkap pria itu.


Sedangkan di tempat lain, Jasper sedang berbalas chat dengan Leon dan juga Emil, karena mereka mempunyai grup.


Jasper: Gue udah mulai menjalankan misi. Pokoknya, kalian akan lihat! Gadis itu akan bertekuk lutut di hadap**an gue😈**


Emil: Good, gue suka gaya lo. Ingat! Jangan sampai lo yang luluh sama pesona dia🤣


Leon: Si buaya cap kaleng, gak akan luluh sama buaya betina yang baru menetas. But, apapun itu. Lo jangan sampai ke makan sama permainan lo sendiri.


Jasper: No! Gak akan pernah! Lihat aja, gue akan buat keluarga mereka menderita😈Lo gak usah cemas Mil, gue akan balaskan rasa sakit istri lošŸ˜Ž


Emil: Ya, thanks Bro. Kalau begitu gue pamit dulu. Mau bikin adonanšŸ˜›


Leon: Adonan mulu, jadinya kapan🤣Bisa dower tuh punya bini lo, es cucian piring. Kabuuurrr🤣


Jasper: Janga lupa bagi gue dikit🤣 Kabuuuurrrr


Emil: Gue bogem kalian dengan janda bohay satu-satu😈


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2